The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 28 - 143



"Hanna...." panggil Arthur lembut. "Apa aku masih kurang menyakinkanmu?" Tanyanya. Hanna masih diam. Ia ingin menggelengkan kepala. Tidak, Arthur sudah sangat sempurna. Namun ia masih belum yakin dengan sikap Arthur yang selalu bermain dengan wanita. Kesan pertama ia bertemu saja sudah membuat ia tidak suka.


"Saya disini hanya sekretaris, Pak. Saya tau batasan apa yang harus saya lewati dan tidak," kata Hanna, ia berusaha tegas agar Arthur juga tau posisinya. Lagi pula mana mungkin ia bisa bersandang dengan Arthur dan apa yang akan publik lihat nanti?


"Kalau begitu, biar aku yang melewati batasan itu. Kamu hanya perlu diam, dengan begitu semua akan benar." Balas Arthur, ia menangkup kedua tangan Hanna dan meremasnya sedikit. Ia ingin membuat gadis itu menyadari ketulusannya.


Hanna menatap Arthur dan kemudian ia melepaskan tangan lelaki itu. Rasanya ini tidak benar. Meskipun Arthur berkata tidak dengan Charlotte, namun dalam hal resmi, Arthur dan Charlotte sudah bertunangan. Hanna tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan mereka. Mereka sudah sangat cocok dan dirinya hanya akan menjadi hama dalam hubungan mereka.


"Maafkan saya, Pak." Hanna kemudian meninggalkan Arthur sendiri di tempat penuh lilin yang indah itu. Ia kembali ke hotel. Ia berdiam diri disana dan hatinya sangat perih. Rasanya ia tidak bisa melewati batasan itu.


•••


Sekembalinya dari Saipan, Hanna benar-benar menghindari Arthur. Arthur merasakan sikap Hanna yang menjadi jarang tersenyum dan hanya mengangguk ketika ia memberi perintah, lalu berbicara jika ada yang diperlukan. Ia menyukai sikap Hanna sebelum kembali dari Saipan! Ia rindu dengan senyuman indah milik gadis itu dan juga sekarang, Hanna tidak menuruti dirinya untuk tidak menguncir rambutnya.


Tidak lama pintu terbuka tanpa ketukan, disana ada Charlotte dengan pakaian dress hitam menggodanya. Bentuk tubuh S-line dan juga V-line pada rahang wajah perempuan itu, membuatnya menjadi sempurna. Tatapan mata Charlotte mendadak tajam dan juga mendominasi ke Hanna, ia meminta Hanna untuk keluar tanpa perlu ia keluarkan suara.


"Han, kau tetap disini. Siapa yang menyuruhmu keluar? Siapa pimpinanmu?!" Gertakan Arthur membuat Hanna cukup memandang ngeri. Ia kembali ke tempat duduk dan menunduk menatap kaki. Ia mengigit bibir bawahnya dan memainkan jarinya.


"Sayang, kenapa kamu ga minta dia keluar aja? Kamu mau aktivitas kita dilihat orang lain?" Tanya Charlotte, ia berdiri di samping Arthur dan menundukkan tubuhnya dan membiarkan dadanya terlihat dengan jelas. Tangannya terarah ke dada bidang lelaki itu dan mengusapnya lembut. Arthur berdecak kesal dan menjauhkan diri. Ia memegang tangan Charlotte yang tadi bermain di dadanya. "Jangan menyentuhku! Aktivitas sialan apa yang kau inginkan, tidak akan terjadi! Persetan dengan itu!" Celetuk Arthur kesal.


Hanna melihat kemarahan Arthur dan ia menelan saliva. Maksudnya apa ini? Mereka bertunangan dan akan ke jenjang pernikahan. Jenjang yang lebih tinggi. Arthur menyeringai dan menatap Charlotte. "Kita batalkan pertunangan kita, lagi pula aku tidak pernah setuju dengan pertunangan gila ini. Siapa yang setuju menikahi wanita sepertimu? Kau bahkan lebih buruk daripada Hanna," kata Arthur. Hanna melihat Arthur dan saat ini Charlotte memandang benci kepadanya.


"Terserah apa yang akan kau lakukan. Aku tidak peduli. Jika memang sampai membuat kerja sama dengan perusahaan Ayahmu gagal, aku tidak akan pernah menyesal. Masih ada perusahaan lain yang akan berinventasi di tempatku." Ucap Arthur kembali.


"Aku tidak setuju! Kamu milikku, Arthur! Wanita sialan seperti Hanna tidak akan membuatnya pantas! Aku lebih cocok bersanding denganmu, sayang. Pikirkan kembali ucapanmu! Bulan depan kita akan menikah!" Kata Charlotte. Hanna benar-benar menyaksikan pertengkaran pasangan ini dan ia tidak ingin dijadikan sumber masalah. Jujur, bisakah hentikan semua ini. Rasanya ia ingin menangis dan keluar dari ini. "Apa yang akan keluarga kita katakan jika pertunangan ini batal? Publik akan berkata apa, Arthur?! Sayang?!" Celetuk Charlotte lagi.


"Sayang, kau menolak, bukan? Hanya bercanda, bukan?"


"Keluar!" Bentak Arthur.


"Saya-"


"Keluar!" Charlotte menghentakkan kaki dan nafasnya tidak bisa terkontrol. Semuanya menjadi berantakan. Ini semua karena Hanna! Hanna sialan! Liat saja apa yang akan ia lakukan nanti. Ia keluar dengan emosi yang menggebu-gebu. Arthur menjatuhkan diri ke kursi kerja dan memijit dahinya yang pening. Ia merasa perlu diluruskan. Ia meminta Hanna tidak keluar juga karena agar perempuan sadar, jika dia serius dengan ucapannya.


"Han, sini." Panggil Arthur.


Hanna bangun dari tempat duduknya. Ia tidak menolak apapun karena kemarahan Arthur tadi cukup membuat ia bergidik ngeri.


"Sini disampingku." Kata Arthur. Hanna menghampiri lebih dekat dan kemudian pinggangnya ditarik oleh Arthur. Dan berakhir duduk di pangkuan lelaki itu. Jantung Hanna mendadak ingin keluar dan tubuhnya kaku. Kepala Arthur diletakkan di bahu Hanna dan tangan kekar itu memeluk Hanna dengan erat. Ia butuh kekuatan dari perempuan yang ia sayangi.


Nafas deru dan hangat dari Arthur di leher jenjang Hanna mampu membuat perempuan itu merinding. "Sebentar saja." Ucap Arthur, matanya terpejam dan ia menghirup wangi Hanna yang mampu membuat dirinya tenang.


Hanna tau kalau harusnya ia tidak melakukan ini. Namun pikiran dan hati tidak berjalan sinkron saat ini. Ia ingin memeluk Arthur dan mengatakan, "Semua akan baik-baik saja." Atau, "Kau akan bisa melakukannya." Namun bibirnya merasa keluh dan tidak mau berbicara hal itu. Padahal ugkapan itu bisa membuat Arthur lebih baik.


Ini menyulitkan.


TO BE CONTINUE