
Setelah puas bermain air dengan teman perempuan lainnya. Hanna dan yang lain duduk di atas pasir putih bersih ini dengan badan yang lelah karena terlalu bersemangat bermain air.
Melly yang berada dekat dengan Hanna langsung menyenggolkan bahunya pada Hanna dengan sengaja. Yang di senggol pun menengok ke Melly dan mengerutkan dahinya seakan bertanya 'kenapa?'.
Melly tersenyum jahil. "Hanna, kau kira apa yang sedang ku pikirkan sekarang?" Tanya Melly dengan cengengesan. Hanna semakin di buat bingung karena dia benar-benar tidak mengerti maksudnya.
"Bagaimana aku tau apa yang aku pikirkan, Melly?! Kau kira aku cenayang yang mampu membaca pikirkan orang lain?" Melly tertawa mendengarnya. Ia kira gadis disebelahnya langsung tau tapi ternyata tidak! Dia sangat tidak peka.
"Hanan...Hanna. Kau ini tidak peka atau memang tidak mengetahuinya? Aku saja tau jika sedari tadi kita bermain air, Arthur itu menatap kamu terus-menerus," Hanna memutarkan matanya karena malas membahas Arthur. "Ini bisa di bagaikan kau itu adalah mangsa dan Arthur adalah elangnya. Dia tidak bisa berhenti memperhatikan kamu meski kamu bergerak satu detik saja." Lanjutnya.
Hanna menbuang nafas kasar, sungguh ia tidak ingin memikirkan lelaki sialan itu. Mendengar namanya saja membuat ia mengingat tentang ciuman yang masih menghantuinya. Ia bahkan tidak merasa jika ia benar-benar berciuman dengan lelaki itu. Tetapi bayangan selalu berkata jika Hanna mencium Arthur.
"Kenapa pipimu memerah?" Tanya Melly. Hanna langsung memegang kedua pipinya yang memanas, tidak mau ketahuan karena telah memikirkan Arthur, ia mencari alasan yang logis untuk membuat temannya—Melly—dapat menutup mulut dan tidak membahas Arthur sialan itu.
"Kau tidak lihat betapa teriknya matahari? Dan betapa panasnya sekarang? Jadi tidak heran jika pipiku bisa memerah seperti ini, kau seperti tidak mengenalku saja." Hanna tersenyum dan menepuk serta memainkan kedua pipi Melly.
Melly menepis kedua tangan Hanna yang setia bermain di kedua pipinya. "Sakit, Hanna. Tapi seingatku pipimu tidak mudah memerah, Hanna."
"Kalau begitu kau tidak begitu memperhatikanku." Balas Hanna tidak kalah. Ia ingin benar-benar membuat temannya ini tutup mulut.
Setelah membuat Melly tidak berbicara lagi, Hanna menghela nafas lega. Namun kelegaan itu tidak bisa menghentikan jantungnya yang berdetak begitu kencang, seperti jantungnya ingin keluar dari tempatnya.
Dengan perlahan Hanna menggerakkan kepalanya dan menajamkan penglihatannya untuk mencari seorang Arthur. Ia berharap jika lelaki itu tidak berada di dekatnya lagi, ia menginginkan lelaki itu untuk tidak ada disini. Jika bisa menjauh darinya.
Sebelum puas mencari keberadaan Arthur, bahunya sudah di tepuk oleh Melly. Perempuan itu tersenyum penasaran. "Cari siapa, Ibu Hanna? Mencari elangnya ya? Haha" Setelah itu Melly tertawa puas sedangkan Hanna hanya memutar kedua matanya.
"Ihhh, MELLY!!! Bisa berhenti bicarain si LELAKI SIALAN ITU GAK?!!!" Melly mendadak menghentikan tawanya meskipun sangat sulit, sehingga ia hanya menahan ketawanya yang ingin ia keluarkan. Teriakan Hanna memancing teman perempuan lainnya yaitu Jennie, Jisoo, Lisa, dan Rose.
"Kenapa-kenapa kok tiba-tiba teriak?" Tanya Jennie mendekat ke Hanna dan Melly. Tidak lama kemudian di susul oleh Rose serta yang lain.
"Tadi kayaknya aku denger ada yang bilang lelaki sialan, itu siapa Hanna? Jelasin ke kita dong." Kata Rose kemudian Lisa ikut mengangguk dengan cepat.
"Melly bilang ke kita dong, ini kenapa, kita penasaran. Siapa tau bisa jadi bahan gosipan perusahaan kan, haha." Ujar Lisa kepada Melly dengan rasa penasaran yang tidak terhingga. Melly menatap Hanna terlebih dahulu yang sudah menatapnya dengan tajam, seakan sekarang Hanna adalah elang dan Melly adalah santapan.
Dari tatapannya bisa diartikan seperti 'kalo ngomong berarti entar mati di tanganku, Melly'. Pada akhirnya Melly tidak berani mengungkapkannya padahal ia benar-benar menginginkannya. Mungkin saja jika ia mengungkapkannya maka di detik ini juga dia bukan teman Hanna lagi.
"Oh enggak ada apa-apa kok, cuman kita lagi ngomongan mantan Hanna yang brengsek. Sampe sekarang juga gitu, malah lebih parah." Jennie serta yang lain langsung tidak tertarik mendengar dan memilih menjauh.
"Thanks to Melly." Melly tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya berkali-kali. Hanna langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Melly serta yang lain yang masih setia duduk di pasir bersih itu.
"Hanna mau kemana?" Tanya Melly.
"Cuman mau jalan bentar, nanti langsung ke hotel aja. Kita ketemu di hotel ya." Melly langsung mengangguk padahal dalam hatinya dia cemas karena ia merasa bersalah. Ia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya sehingga seorang Melly bilang Arthur adalah lelaki sialan.
•••
Sekarang jam 1 siang dan Hanna memilih untuk beristirahat di batang pohon untuk duduk. Dibawah pohon yang mampu menghalangi cahaya matahari untuk masuk, Hanna merasakan kesejukan disana.
Matanya tidak lelah melihat pemandangan yang begitu indah di hadapannya. Ia tidak mengira akan sebagus ini pemandangannya dan senyumannya tidak bisa berhenti untuk memberikan pujian atas keindahan pantai ini.
Namun senyumnya kembali menghilang saat ia melihat seorang lelaki yang ingin ia jauhi sedang berbicara dengan seorang perempuan yang merupakan bukan pegawai Harrison.
"Oh lihatlah betapa brengseknya lelaki itu, tidak di kantor, tidak di tempat lain. Selalu bersama dengan wanitanya. Apa ia menyewa satu wanita di setiap tempat?" Hanna berbicara sendiri sambil melontarkan kekesalannya terhadap Arthur.
"Sekarang tersenyum, aku yakini pasti nanti malam mereka akan melakukannya. Beruntungnya aku yang tidak berada di lantai yang sama dengan lelaki sialan itu."
Kenyataannya semua ocehan Hanna mampu di dengar oleh Arthur. Lelaki itu diam-diam tersenyum mendengar kekesalan dari Hanna.
"Hmm, yaudah nanti aku kabarin ke Kenzo. Aku harus mengurus sesuatu sekarang." Arthur tersenyum singkat sebelum meninggalkan Sarah.
"Oh baiklah, bye!" Arthur melambaikan tangan tanpa melihat kebelakang. Sarah tersenyum melihatnya dan berjalan berlawanan arah dengan Arthur.
Hanna yang masih setia di tempat yang sama melipat kedua tangannya dan menggelengkan kepala. "Wah setelah melakukan perjanjian pasti. Haruskah aku bersyukur karena tidak perlu mendengar suara desahan mereka?"
"Kau tidak tau jika setiap kamar di tempat hotel kita itu kedap suara?" Hanna langsung membalikkan badan kebelakang dan terkejut jika Arthur sudah berada di belakangnya. Alhasil ia terjatuh dari batang pohon tempat duduk dan bokongnya bertemu dengan pasir putih bersih di pantai.
Arthur menertawainya tapi ia kembali berdiam karena merasa kesian. Tapi bukankah begitu? Biasanya jika teman kita terjatuh dari bangku pasti bukan menolong tapi yang pertama kita lakukan adalah tertawa lebih dulu baru menolongnya.
Arthur mengulurkan tangannya ke Hanna tapi perempuan itu menghiraukannya. Ia memilih bangkit sendiri dengan wajah kesal sambil membersihkan bokongnya dari pasir. "Kalau Pak Arthur ingin tertawa, silakan. Saya akan pergi."
Baru saja Hanna ingin pergi namun pergelangan tangan perempuan itu tertahan oleh tangan Arthur. "Hanna...tunggu sebentar. Ada yang ingin saya tanyakan padamu."
Hanna menatap pergelangan tangannya yang masih di genggam oleh Arthur, saat lelaki itu menyadarinya baru ia melepaskannya. "Silakan, Pak. Biasanya jika Pak Arthur ingin bertanya langsung bertanya pada Saya tanpa harus meminta izin."
Arthur berdeham sebentar. "Kemarin malam apa kau ingat apa yang telah terjadi? Selama di pesawat?" Tanya lelaki itu perlahan. Hanna terbatuk mendengarnya.
Apa yang ia maksud dengan ciuman? Tapi ia tidak begitu yakin jika ia benar-benar ciuman. Sialan! Jangan sampai bayangan yang menghantuinya itu berkata kebenarannya!
"Tepatnya saat kita minum berdua? Dan setelahnya apa kau mengingatnya?"
Jika Hanna berkata 'iya' nanti malam akan menjadi sesuatu yang tidak biasa Arthur lakukan. Lalu apa jawaban Hanna sekarang?
TO BE CONTINUE