The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 11 - Miss You



Arthur kembali dengan dasi yang terlihat lebih longgar dan sedikit berantakan pada kemeja putih yang ia pakai. Bahkan jas hitam miliknya sudah dilepas dan ia gantung pada bagian lengan kiri.


Hanna bangkit berdiri dari kursi kerja dan membungkuk hingga Arthur melewatinya. Ini sudah biasa ia lakukan. Ia pernah membaca tentang Boss dan Sekretaris atau biasanya ia menonton drama korea tentang Boss dengan Sekretaris. Mereka akan melakukan hal ini untuk menghormatinya.


"Hanna, apa kegiatanku sekarang?" Tanya Arthur dari meja kerja diujung sana.


Hanna berdiri dan menghampiri Arthur. "Pak Arthur masih ada waktu satu jam sebelum kolega penting dari Perusahaan Berlin datang kemari untuk membicarakan tentang kerja sama anda dengan mereka."


"Lalu, apa ada yang penting lagi?"


"Tidak, Pak. Hari ini Anda tidak begitu sibuk namun besok hari anda akan sibuk dari pagi dan kemungkinan anda akan telat pulang kerja." Hanna tersenyum sebentar dan Arthur mengangguk mengerti dengan jadwal hari ini dan untuk besok.


"Jika begitu kau bisa kembali." Hanna membungkuk dan kembali ke meja kerja miliknya.


Hanna mengangkat gagang telpon di meja kerja. "Baiklah, Bu. Saya akan tambahkan." Setelahnya Hanna menutup sambungkan lalu kembali ke meja Arthur.


"Maaf, Pak. Barusan Ibu Anda menelpon untuk menambahkan jadwal anda pada malam hari dengan makan malam bersama keluarga Charlotte." Arthur memijit kening setelah selesai mendengar ucapan Hanna. Lelaki itu merasa jika 5 menit yang lalu ia bersorak gembira karena jadwal ia tidak sibuk namun sekarang untuk bernafas saja berat saat mendengar nama 'Charlotte'.


"Baiklah."


Bagaimana bisa Mom masih bersikeras dengan pertunangan ini padahal tadi kita baru membuat perjanjian.


-Arthur.


Hais. Aku baru ingat tentang hal yang itu. Bagaimana jika aku mengajak Hanna saja?


-Arthur.


"Hanna." Panggil Arthur.


"Iya, Pak?" Tanya Hanna yang sudah berdiri di depan meja kerja Arthur.


"Kau tidak ada acara malam ini bukan?"


Hanna berpikir sebentar. Ia tau apa yang lelaki ini akan ucapkan jika ia mengatakan 'iya'. Seingatnya barusan ia bilang jika malam ini lelaki itu akan makan malam bersama keluaga Charlotte. So, bagaimana mungkin ia akan ikut ke acara penting seperti itu?


Oh, apa mereka akan membahas pertunangan?


"Hanna?" Panggil Arthur membuyarkan lamunan perempuan itu.


"Tidak, Pak. Saya harus menemani Melly untuk pergi ke Mall." Arthur merubah posisi duduk.


"Melly dari divisi keuangan?" Hanna mengangguk.


"Iya, Pak. Saya sudah berjanji padanya untuk membuat dia senang karena dia baru putus sama pacarnya." Arthur terkekeh mendengarnya.


"Well, masalah milik temanmu itu tidak sebesar milik saya. Bagaimana jika kau dengan Melly pergi besok dan malam ini kau bersamaku."


"Tidak bisa, Pak. Bagaimana mungkin saya besok bisa meluangkan waktu sama Melly. Jika besok saja jadwal Pak Arthur padat?"


"Apa aku pernah memintaku ikut denganku? Aku akan menyuruh Jeremy untuk meliburkan Melly satu hari bersamamu." Hanna membulatkan mata dan bersorak senang dalam hati. Baru pertama kali lelaki ini membiarkan ia bernafas leluasa.


"Terima kasih, Pak." Hanna berbalik dan Arthur tersenyum melihat punggung mungil itu menjauhinya.


•••


Alfred merasakan getaran pada saku celana miliknya. Ia mengambil ponsel dan melihat nama 'Arthur's Mom' pada layar ponsel tersebut. Ia menggesel tombol hijau dan membuka suara.


"Hi, Aunty. Ada keperluan apa Aunty menelpon Aku?" Tanya Alfred. Lelaki itu mendengarkan ucapan Keyna sambil berjalan ke sofa panjang di ruang kerja miliknya.


"Kenapa memintaku? Aunty tau jika Arthur itu dia keras kepala. Mau bagaimanapun aku tidak bisa melakukannya." Alfred kembali mendengar balasan Keyna.


"Hanna? Ya tentu aku tau perempuan itu. Kami cukup dekat walaupun tidak dekat juga. Ada apa dengannya?"


"Dia perempuan yang baik. Aku juga bingung kenapa dengan Hanna, Arthur bisa menjadi seperti itu," Alfred tersenyum saat membayangkan Hanna. "Dia bahkan menyebutkan jika Hanna adalah limited edision." Tambah Alfred dengan kekehan kecil di akhir.


"Mencari latar belakang Hanna? Well Aunty, kau tau jika keahlihan milikku tidak bisa dibandingkan dengan Arthur. Dia akan cepat mengetahuinya. Belum lagi, Arthur selalu membuat Hanna disampingnya." Alfred mulai bingung kenapa Keyna menanyakan tentang Hanna.


Apa Hanna sudah berbuat sesuatu yang salah kepada Keyna?


Alfred yakin Hanna tidak akan melakukan hal itu. "Baiklah Aunty. Bye Aunty." Lelaki itu menutup sambungan telpon tersebut dan memainkan ponsel itu dengan memutar-mutarkan dengan tangan kanan miliknya.


•••


London, England.


Sudah lama sejak kepergiannya menjauh dari rumah untuk mengejar impiannya. Sekarang lelaki itu sudah mencapai impian dan namanya dikenal hingga menjadi incaran atau ada yang menyainginya.


Lelaki itu berdiri di hadapan jendela yang menampilkan pemandangan perkotaan inggris ini. Gemerlap perkotaan dengan lampu-lampu yang menghiasinya dari lantai paling atas gedung yang ia tinggali ini. Gedung yang memiliki lantai sebanyak 72 ini.


Lantunan musik yang memenuhi ruangan bernuansa abu-abu dan putih terlihat sangat tenang tanpa ada yang membuka pembicaraan disana. Hingga seorang wanita memeluk lelaki itu dari belakang dengan memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek.


Lelaki itu tidak merubah posisi atau memindahkan tangan dari saku celana miliknya. Ia tetap menikmati pemandangan kota dengan lantunan musik jazz disini.


Tidak lama ia melepaskan pelukan itu dan beralih berjalan mendekat ke meja di dekat sofa yang akan ia duduki. Ia mengambil bingkai foto di atas meja itu dan mengusap foto tersebut.


Perempuan yang memeluknya kini duduk di samping lelaki itu dan menyandarkan kepala pada bahu lebar milik lelaki tersebut. "Kau masih menginginkannya?"


Lelaki itu mengangguk. "Kenapa? Butuh berapa ratusan hingga ribuan kali untuk membuatmu bisa menghafal jawabanku yang pernah ku berikan?"


Perempuan itu menggigit bibir dan memainkan rambut hitam lelaki itu. "Aku akan pergi. Mungkin ini pertemuan terakhir kita." Kata lelaki itu.


"Kau ingin meninggalkanku? Kau tidak kasihan padaku yang kesepian?"


"Ya. Ini salahmu kenapa kau tidak berusaha mencari teman atau siapa dan memilih dekat denganku kemanapun ku pergi. Lagi pula aku ingin membuat semua kembali seperti dulu, walaupun aku tidak yakin."


"Jika tidak yakin kenapa kau ingin membuat semuanya kembali ke semula?"


"Well, terkadang kita harus mencoba untuk mengetahui akhirnya." Kata lelaki itu dan beranjak dari sofa dengan membawa bingkai tersebut. Ia langkahkan kaki mendekat ke sebuah pintu berwarna putih untuk memasuki kamar tidur miliknya.


"Bagaimana jika kau gagal?"


Lelaki itu berhenti sebentar dan berbalik untuk membalas pertanyaan itu. "Biar ku coba." Ucapnya dengan senyuman dan kembali melangkahkan kaki ke dalam kamar.


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


2020.09.08