
Pada akhirnya Melly dan Hanna bersama dengan Arthur duduk di First Class dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Saipan. Namun mereka akan seharian di dalam pesawat karena letak Saipan yang jauh dari Los Angeles.
Mereka juga akan transit di salah satu negara sehingga perjalanan mereka bisa dibilang seharian sampai ke Saipan. Sebelumnya mereka pergi pada bulan Juni sehingga seharusnya di Saipan sedang musim kemarau.
Ya, Saipan memiliki iklim tropis sehingga hanya mempunyai 2 musim, seperti Indonesia. Bedanya, Saipan memiliki musim kemarau yang di mulai pada bulan Desember hingga Juni dan musim hujan pada bulan Juli hingga November.
Well, hanya sekedar tau tentang Saipan yang terletak di kepulauan Mariana Utara. Hanna sebenarnya menginginkan Malta tetapi ia ingat jika Malta ada di bagian benua Eropa dan disana lebih banyak semacam bangunan daripada Pantai. Maybe.
Sehingga ia lebih memilih Saipan untuk destinasi pariwisata perusahaan ini. "Kau tidak tidur?" Tanya Arthur yang duduk di sebelahnya.
Disini Arthur dan Hanna bersebelahan, sedangkan Melly mendapat kursi sendiri yang berada di dekat jendela pesawat. Bukankah ini sama saja? Dengan ada atau tidak ada Melly, Hanna memang akan selalu dekat dengan Arthur.
"Mungkin sebentar lagi. Saya masih ingin menonton sampai habis film ini sebelum Saya tidur." Arthur mengangguk mengerti dan setelahnya ia melepas kaitan pengaman dari kursi lalu berjalan pergi ke toilet.
Hanna menghela nafas dan cepat-cepat mematikan televisi kecil di hadapan lalu menutup dirinya dengan selimut. Ia juga memposisikan tubuhnya bertolak belakang dengan Arthur.
Tidur, tidur, tidur. Masih ada beberapa jam lagi sebelum transit! Kau harus tidur, lupakan siapa yang ada di sebelahmu!
-Hanna.
Well, sebelumnya, ada sekat yang membatasi Hanna dan Arthur. Tidak lama kemudain, terdengar suara di sebelah Hanna. Arthur melihat sebentar ke Hanna yang menutup seluruh tubuhnya sehingga terlihat seperti kepompong dan memunggunginya.
Arthur tersenyum kecil bahkan orang lain tidak bisa menyadari jika dia sedang tersenyum. Sepertinya pariwisata perusahaan ini untuk pertama kalinya, Arthur tersenyum untuk perempuan.
Biasanya, Arthur akan memakai pesawat pribadi miliknya dan pergi duluan. Namun ini kali pertama ia pergi tanpa pesawat pribadinya. Sebenarnya karyawan lainnya juga bingung dengan Arthur, tetapi mereka tidak menampilkannya atau bertanya kenapa kepada Arthur.
•••
Hanna dan Melly berpisah dengan karyawan lainnya, begitupun dengan Arthur setelah mereka tiba di salah satu bandara untuk melakukan transit.
Mereka memiliki waktu sekitar 3 jam sebelum kembali ke pesawat lainnya yang akan mengantar mereka ke Saipan. "Hanna ayo makan, aku sudah lapar."
"Aku kenyang! Kau tidak tau jika selama kau tidur, aku sudah mendapatkan ice cream, nasi ayam, dan apa itu yang tidak ku tahu. Aku lupa namanya."
"Sekarang aku menyesal kenapa memilih tidur."
"Terlebih kau tidur seperti kerbau, tidak bangun-bangun dari awal pesawat kita terbang." Melly cengengesan mendengar ocehan Hanna. Setelah ini Melly tidak akan tidur sebelum makanan di pesawat ia dapatkan!
"Kalau begitu, temani aku makan di foodcourt, aku lapar." Melly menarik tangan Hanna dan membawanya ke tempat yang menjual berbagai macam makanan.
Hanna mencari tempat duduk dan menunggu Melly mendapatkan makanan. Ini pertama kalinya, ia melakukan perjalanan jauh dan ia tidak suka. Ini terakhir kalinya karena ia merasakan bokongnya terasa sakit karena terlalu lama duduk.
Sebenarnya, bisa saja ia mengubah tempat duduknya menjadi tiduran, tetapi tetap saja ia berdiam disana selama beberapa jam.
Melly kembali dengan senampan makanan di tangan dan ia letakkan di meja. "Hanna." Panggil Melly.
Hanna menaikkan dagunya. "Kenapa?"
"Tumben Boss kesayanganmu tidak mencarimu?"
"Bagus! Kalau bisa dia tidak selalu di dekatku, kau tau aku bosan. Kemanapun aku berada pasti selalu ada dia disana! Dan tolong hilangkan kata 'kesayangan' itu." Hanna membuang nafas dengan kasar.
Setidaknya ada waktu dimana tidak harus selalu berada di dekat Arthur. Bagaimana jika kalian yang membaca cerita ini menggantikan Hanna?
"Eh, Jennie!" Panggil Melly kepada salah satu karyawan perusahaan Harrison. Dia satu pekerjaan dengan Melly sehingga bisa di bilang cukup dekat. Hanna juga mengenal Jennie.
"Hi, Melly, Hanna." Jennie duduk di sebelah Hanna dan meletakkan nampan makanan di meja.
"Tidak apa 'kan, aku makan disini?" Tanya Jennie.
"Tidak apa." Hanna tersenyum.
"Kalian tidak heran dengan boss kita? Arthur. Aku tidak menyangka Arthur akan ikut dengan pesawat yang sama dengan kita." Jennie mengucapkannya dengan nada seperti ia tidak percaya.
"Bukankah dari dulu dia memang selalu satu pesawat dengan kita?" Tanya Hanna. Melly dan Jennie memutar kedua matanya.
"Ya kalian taulah, aku bahkan tidak mengenal siapa pemimpin perusahaan saat pertama kali aku di pindahkan menjadi sekretaris Arthur." Jennie dan Melly semakin ingin menarik rambut saking gemasnya.
"Sekarang aku bingung kenapa Hanna yang biasa mendapat juara di sekolah dan bahkan lulus dengan cepat sewaktu kuliah, sekarang menjadi sangat bodoh?" Melly menggelengkan kepalanya setelah menyelesaikan ucapannya.
"Kau terlaku kasar, Melly." Timpal Jennie.
"Hei, hei! Kalian sedang membicarakan apa?" Sela seseorang dengan rambut berwarna pirang kecoklatan.
"Kemari, Lisa." Ajak Jennie dan Lisa duduk di sebelah Melly.
"I don't know. Mungkin karena aku tidak pernah mencari tau siapa pemimpin di perusahan dan lagi pula, Arthur itu tidak pernah tampil di publik!"
"Dan Arthur baru tampil pertama kali saat bersamamu, Hanna. Terlebih, dia keluar langsung dengan seorang perempuan! Itu kau Hanna." Kata Lisa.
"Lalu kau sukses membuat seluruh pegawai di perusahaan membicarakan kalian berdua. Beruntungnya tidak ada berita yang menyebar hingga ke televisi." Ujar Melly.
"Kenapa aku tidak tau tentang ini?"
"Karena kau selalu bersama Arthur. Sehingga gosip apapun yang tersebar pasti ada di bawah. Kau tidak pernah turun ke bawah dan bahkan kau jarang menemuiku." Jawab Melly. Hanna membenarkan.
"Sudahlah, kau tidak perlu menanggapi ini dengan serius. Lagi pula berita ini juga sudah menghilang. Mereka hanya menganggapmu sebagai sekretaris setelah melihat betapa sibuknya kau." Timpal Jennie.
Hanna tersenyum kecil menanggapinya. Iya, tidak perlu di pikirkan. Ia tidak menganggap ini dengan serius, lebih baik menikmati perjalanan ini.
"Ya, apa aku ketinggalan sesuatu?"
"Kau selalu terlambat Jisoo." Jawab Lisa. Jisoo adalah orang korea yang bekerja di Los Angeles di Perusahaan Harrison.
"Ceritakan padaku!" Jisso mengatakan dengan semangat dan penuh penasaran.
"Tidak, aku malas." Ucap Jennie, Melly, Lisa, dan Hanna bersamaan. Jisoo cemberut.
"Hanna, kau tadi di cari oleh Arthur." Ucap seseorang yang namanya Suga. Hanna menghela nafas berat. Memang tidak ada hari tanpa Arthur. Jika ia mempunyai tenaga seperti Hulk, mungkin ia akan menendang Arthur hingga ke ujung dunia. Atau tidak jika ia bisa menjadi seperti Thor, maka ia akan menghilang dan pergi ke Asgard.
"Sudah ku duga, Boss kesayanganmu itu akan mencarimu." Ledek Melly. Hanna memutar kedua matanya sedangkan yang lain tertawa.
"Ekhm! Kesayangan, apa ada yang tidak ku ketahui?" Tanya Rose yang berdiri di sebelah Jennie. Dia si rambut berwarna merah dengan suara yang indah.
"Boss kesayangan Hanna. Mereka pasti selalu berdua dimanapun dan kapanpun." Kata Melly.
"Kalian tidak usah meledekiku. Aku pergi. Aku tidak mau kena omel oleh Arthur keras kepala itu!"
"Sepertinya kau sudah hafal dengan karakter Arthur." Jennie, Melly, Lisa, Rose tertawa bersama sedangkan Jisoo yang tidak mengerti, ia hanya ikut tertawa.
•••
Hanna langsung menemui Arthur dekat gate penerbangannya. Setelah mendengar panggilan dari pemberitahuan yang mengumumkan hingga satu bandara ini, akhirnya Hanna datang dengan kesal dan perasaan malu.
Arthur akan melakukan apapun. Apa dia tidak tau malu?
Hanna yakin pasti pegawai dari Harrison akan tertawa setelah mendengar namanya dari pemberitahuan tersebut. Ia seperti barang hilang yang sedang di cari oleh pemiliknya. Wait, wait, kalian yang membaca ini jangan menyalah artikan maksudnya.
"Pak Arthur, saya disini. Untuk apa anda mencari saya hingga nama saya di ketahui oleh seluruh orang yang ada di bandara ini?"
"Jika baterai handphone saya tidak habis, maka tidak mungkin saya melakuan hal itu. Sekarang kau ikut saya." Arthur menarik tangan Hanna.
"Kita mau kemana Pak?" Arthur berbalik menghadap Hanna.
"Temani saya nonton di teater. Katanya disini ada teater yang buka 24 jam." Arthur tersenyum kembali dan sebabnya karena Hanna.
TO BE CONTINUE