
Seusai membaca surat yang ia ketahai pengirimnya adalah seorang lelaki yang membuat ia pernah jatuh ke lingkaran bodoh karena dia tidak mencintai Hanna. Hanna seharusnya tau jika lelaki itu jelas-jelas tidak akan membalas perasaan miliknya. Namun jika lelaki itu meminta perasaan itu kembali hanya karena ia menyesal telah melepas kesempatan itu, mungkin Hanna tidak akan memberikan kesempatan itu kembali.
Tidak selalu kesempatan akan diberikan untuk kedua kalinya pada orang yang salah. Mungkin ada, tapi tidak bagi Hanna yang memiliki prinsip untuk tidak menghadap kebelakang kembali. Ia tidak ingin menjadi keledai yang terjatuh pada lubang yang sama karena kesalahan yang ia lakukan dahulu.
Hanna mengernyitkan dahi. Ia masih bingung untuk apa lelaki itu merindukan dirinya? Apa lelaki itu merindukan ia dalam artian merindukan kedekatan mereka dulu atau tidak?
Hais. Hanna tidak ingin membahas ini dahulu, masih banyak hal yang bisa ia bahas untuk masa depannya. Mungkin seperti meratapi nasib kehidupan kerjanya karena memiliki atasan seperti Arthur atau mencari uang untuk menghidupi kehidupan keluarga dan juga dirinya. Bukankah diatas itu sangat penting dari pada melihat ke masa lalu?
"Mogi, apa yang harus ku lakukan sekarang." Tanya Hanna sambil mengambil Mogi dan mengangkatnya sembari menatap anak anjing miliknya itu.
Tidak lama kemudian Moka jalan mendekat ke Hanna dan naik ke pangkuan Hanna dan tidur disana. Hingga hari semakin malam dan Hanna tertidur di lantai ruang tamu dengan tubuh bersandar di sisi sofa. Mungkin besok badannya akan sakit-sakit.
•••
Monday Morning.
Setiap habis bangun tidur, ia selalu merutuki kecerobohan 2 hari yang lalu. Dua hari yang lalu, ia terbangun dalam keadaan ia tertidur di sofa dengan Mogi dan Moka berada di pangkuannya. Alhasil, bagian leher Hanna sakit jika di gerakan ke samping kiri. Sedari tadi ia meringis nyeri pada bagian leher. Ia menghiraukan rasa nyeri itu dan bergegas merapihkan diri.
Selesai bersiap-siap, Hanna mengambil roti tawar dan selai coklat untuk menjadi sarapan pagi. Ia tidak memiliki banyak waktu karena seingatnya, pagi ini Arthur akan ada rapat bersama kolega penting.
"Bye Mogi, bye Moka. Jaga rumah ya, love you." Kata Hanna sembari melangkahkan kaki mendekat ke pintu keluar. Kedua anak anjing itu tidak membalas karena mereka masih bermalas-malasan di atas bantal milik mereka.
•••
Siang hari yang terik, Hanna baru saja kembali dari sebuah toko yang menjadi langganan setiap ia membeli kopi untuk Arthur. Bahkan pemilik toko tersebut sudah mengenal betul bentuk wajah Hanna. Ini disebabkan Arthur yang hanya menyukai kopi dari toko tersebut, tidak yang lain, padahal menurut Hanna semua toko sama saja. Hanya berbeda merek.
Bunyi deringan telpon pun berbunyi dari saku celana Hanna. Ia menemukan nama Melly tercantum pada layar handphone miliknya.
"Kenapa?" Tanya Hanna langsung. Ia tidak berada dalam mood untuk menyapa dengan kata 'hi' terlebih dahulu.
"Pemilik perusahaan sedang datang kesini. Kau tidak ingin menyaksikan bagaimana ekspresi Papa dan Mama Arthur saat mereka masuk dan keluar ruangan?" Terdengar kekehan dari sana. Hanna memutar kedua matanya.
"Aku sudah kembali dari beberapa menit yang lalu, sehingga aku sudah melihat mereka. Lagi pula untuk apa kau peduli dengan ekspresi saat mereka masuk atau keluar?" Tanya Hanna.
"Hais. Hanya saja menarik untuk di gosipkan saja. Kau tau bukan, setiap mereka-orangtua Arthur-datang ke Perusahaan, pasti mereka tidak jauh membahas pertunangan dengan teman bisnis mereka," Melly menahan tawa dan mengambil nafas.
"Dan kau tau juga bukan, Arthur selalu menolak. Aku juga tidak tau, tapi ekspresi mereka-orangtua Arthur-selalu antara marah dan kecewa."
Hanna mengambil nafas dan menbuangnya pelan. "Aku tidak tertarik dengan itu. Aku lebih tertarik untuk menemukan cara bagaimana aku bisa menyelesaikan setumpuk kertas di hadapanku ini. Sudah aku tutup, bye!" Hanna mendengus kesal di akhir.
Sekarang Hanna menyesal untuk mengangkat telpon Melly dan menganggu pekerjaan yang sibuk ini. Sebelumnya, Arthur membawa orangtuanya ke satu tempat khusus sehingga hanya Hanna yang berada di ruangan CEO ini.
Dilain sisi, Arthur tengah menahan sabar dengan keinginan kedua orangtua mereka yang tidak ingin mundur. Sudah hampir 30 menit ia berada di ruangan ini bersama Keyna dan Vincent.
"Jadi, apa yang ingin kalian katakan padaku? Kita disini sudah hampir 30 menit."
"Apa kau begitu kepada kedua orangtuamu, Arthur?" Peringat Keyna menengur. Arthur membenarkan posisi duduk.
"Sorry, Mom, Dad." Keyna menghela nafas kesal.
"Ya, siapa yang mau menikahi perempuan sepertinya."
"Charlotte juga bilang jika kau lebih memilih menikahi seorang sekretaris dari pada dia?" Tanya Keyna dengan nada menahan amarah.
Arthur tersenyum sambil mengangguk. "Iya, benar. Apa wajahku ini tidak menjawab pertanyaan kalian?"
"Persetan sekretarismu, Arthur! Apa penglihatanmu tidak bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak?!," ujar Keyna menggebuh-gebuh. "Apa kau tidak bisa melihat jika keluarga Charlotte sudah berperan besar kepada keluarga dan perusahaan kita?! Pikir itu, Arthur!" Tambahnya.
"Mom, perusahaan ya perusahaan. Perusahaan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah percintaan milikku. Jika begitu kenapa Mom tidak jodohkan saja Charlotte dengan Kenzo?!," balas Arthur dengan nada tertahan amarah. "Sejak dulu kau selalu saja memintaku untuk melakukan apa yang kau suka. Sekali saja untuk ini biar aku yang memutuskan! Aku bukan robot yang bisa melaksanakan apa yang majikan minta, tapi aku adalah anak Mom, Anak pertama Mom, Arthur Harrison." Tambah Arthur panjang lebar.
"Sabar Arthur. Dad tau jika kau pasti akan menolak pertunangan yang diadakan oleh Mommu. Tapi Mommu hanya ingin kau bisa memulai hidup baru dengan kehidupan rumah tanggamu," kata Vincent. "Mom-mu sudah lama menginginkan cucu. Butuh waktu berapa lama lagi, kau ingin membuat Mom-mu menunggu jika sekarang saja kau tidak memiliki pasangan." Tambah Vincent.
"Bagaimana bisa aku memiliki anak yang dua-duanya sampai saat ini masih menyendiri. Semua lebih memilih kepada pekerjaan masing-masing. Ini semua karenamu, Vincent. Mereka mengikuti kamu." Vincent menarik nafas dan bersabar.
"Sudahlah, Mom. Aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal ini. Tunggu saja sebelum umurku menyentuh 30 tahun, aku pasti sudah menikah."
"Jika ucapanmu tidak menjadi kenyataan, kau akan tetap menikah dengan Charlotte. Dan perkenalkan wanita milikmu padaku dalam 1 bulan."
Arthur memejamkan matanya. "Kenapa kau tidak bisa?" Tanya Keyna saat melihat Arthur memejamkan mata dan menghela nafas.
"Tenang saja Mom." Arthur berdiri dan meninggalkan tempat lalu kembali ke ruangan miliknya.
•••
Keyna dan Vincent masih di ruangan tersebut.
"Aku yakin jika Anak itu akan membawa sekretaris itu." Ujar Keyna.
"Siapa nama sekretaris itu? Apa itu Hanna?"
"Iya. Coba kau lihat apa istimewanya Hanna itu. Anakmu memang salah memilih."
"Kudengar jika Hanna dipindahkan oleh Arthur dari divisi keuangan menjadi sekretaris miliknya."
"Iya, aku tidak tau apa yang dipikirkan anakmu itu. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Padahal seperti yang ku dengar, dia suka melakukan hal aneh-aneh dengan sekretarisnya yang pertama. Oh tidak, dengan semua wanita," Keyna menghela nafas.
"Apa yang Hanna lakukan pada Arthur hingga anak itu bisa seperti itu."
Sebegitu istimewanya Hanna di mata Arthur daripada Charlotte?
-Keyna
TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
2020.09.08