
Hanna langsung terjatuh saat selesai membacanya. Rasanya ia bukan menjadi sahabat yang baik, rasanya ia gagal menjadi sahabatnya. Ia ingin menyusul dan menyemangati sahabatnya yang sedang berjuang untuk kesembuhan penyakitnya, tetapi ia tidak tau dimana sahabatnya itu berada.
Pintu rumah langsung terbuka dan disana ada Arthur yang sedang membawa makanan pesanan Hanna. Lelaki itu langsung melepaskan kantung yang ia bawa dan berlari memeluk Hanna dengan erat.
"Arthur..Melly..Melly..dia hiks hiks." Hanna tidak sanggup melanjutkan kata selanjutnya dan rasanya ia tidak bisa berbicara.
Arthur langsung mengusap punggung Hanna dengan sesekali mengecup puncuk kepala dan berusaha menenangkannya. "Dia pasti bisa, Hanna. Melly bukan perempuan yang gampang menyerah, dia kuat."
Hanna mengangguk pelan dan ia masih sesegukan di pelukan Arthur.
Suara telpon milik Hanna berdering dan gadis itu langsung menjawab panggilannya.
Jess is calling you...
"HANNA!! Ini aku Kenzo."
"Kenapa Kenzo?" Balas Hanna dengan suara yang terdengar khas seperti habis menangis.
"Hanna kau habis menangis?"
"Cepatlah kenapa, sepertinya-"
"Sesuatu hal buruk terjadi, Jess..Jess...aku baru saja menerima kabar kalau dia kecelakaan saat ia sedang pergi."
"SEKARANG DI RUMAH SAKIT MANA?!"
"Rumah sakit xxx, Aku seda-"Disaat itu Hanna langsung menutup dan ia langsung lari ke atas untuk mengambil tasnya.
"Jess kecelakaan, Arthur..Hiks..kenapa semua harus seperti ini? Hiks..hiks..." Arthur langsung mengampiri Hanna dan memeluknya lagi.
"Kita harus cepat ke rumah sakit xxx, Arthur." Setelah itu mereka langsung bergegas ke rumah sakit.
•••
Disana Arthur dan Hanna berlari ke ruang operasi. Ia baru di beritahu Kenzo saat di perjalanan kalau Jess mengalami patah tulang dan pendarahan di kepala.
Di saat itu Hanna tidak bisa menahan tangisnya saat ia mengetahui kalau bukan hanya satu sahabat yang menderita tapi dua, dan semuanya parah.
"Arthur...aku gak mau di tinggal satu sahabat lagi hiks..please..." Hanna menangis sambil berjongkok dengan melipat kedua tangan di lututnya lalu memendam kepalanya di kedua tangannya.
Kenzo juga tidak hentinya menangis walaupun ia tahu perempuan yang ia sayangi itu kuat. Tapi bagimana lelaki itu bisa tenang saat perempuan yang ia sayang sedang berjuang di dalam sana?
"Kenzo, kamu sudah coba cek cctv?" Tanya Arthur.
"Belum kak-" Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan pakaian operasinya. Dia mendekati Kenzo dan Arthur serta Hanna yang masih menangis.
"Siapa keluarga dari Pasien?"
"Pasien membutuhkan banyak darah, pasien kehilangan darah cukup banyak. Golongan darah pasien AB, dan sekarang rumah sakit sedang tidak ada penyimpanan darah bergolongan AB. Siapa diantara kalian yang mempunyai golongan berdarah AB? Pasien membutuhkannya sekarang."
"Tapi kita tidak ada yang mempunyai darah AB...selain..selain..Charlotte." Lirih Kenzo sambil mengelap air mata yang menutupi penglihatannya.
"Kita bisa mencarinya yang lain-" Kenzo memotong ucapan Arthur.
"Tapi kak, Jess membutuhkannya! Sekarang!" Kenzo mulai meninggikan suaranya.
"Aku tidak yakin dia akan memperbolehkannya."
Disaat perdebatan Kenzo dengan Arthur, Hanna pergi dengan buru-buru ke rumah Charlotte. Hanna pergi dengan mengendarai mobil Arthur karna Arthur menitipkan kuncinya pada Hanna dan lupa ia ambil lagi.
"Hanna mana?"
•••
Dengan kecepatan lumayan tinggi, Hanna menyelap-nyelip satu per satu mobil di depannya. Bahkan saat lampu merah ia tidak melihatnya dan beruntungnya ia tidak tabrakan.
Dalam pikiran Hanna, ia harus cepat dan ia akan lakukan apapun untuk membuat sahabatnya itu sembuh. Ia hanya tidak ingin kehilangan temannya satu lagi.
Cukup hanya Melly yang pergi dan ia disini masih berdoa untuk kesembuhan dirinya.
"Jess bersabarlah, kau harus menungguku mendapatkan darah untukmu..hiks..ku mohon.." Hanna mengemudi dengan bergelinang air mata dan ia selalu menghapusnya.
Suara handphone Hanna berbunyi dan tertera nama Arthur di layarnya. Gadis itu mengambilnya dan ia mendengar teriakan kekasihnya itu yang khawatir terhadapnya.
"Sorry Arthur, aku akan lakukan apapun agar sahabatku tetap sembuh." Hanna langsung menutup panggilan dan menaikkan kecepatannya lagi.
Pikirannya tidak bisa berpikir jernih, dipikirannya hanya ada 'darah', 'Charlotte', 'Jess'.
Hingga akhirnya saat jalanan yang cukup sepi dan ia tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah, gadis itu tetap melajukan kendaraannnya dengan kecepatan tinggi.
Dari sisi jalan lainnya terlihat sebuah kendaraan dengan kecepatan yang cukup tinggi melaju ke Hanna, kendaraan itu tidak bisa di rem karna rem nya rusak. Hanna masih belum sadar kalau ada mobil yang sedang melaju ke arahnya.
Hingga saat klakson mobil itu semakin dekat dan dekat gadis itu tidak bisa menghindarinya lagi, lalu akhirnya....
BRAK!!!
•••
Permainan sudah di mulai.
TO BE CONTINUE