The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 50 - Honeymoon



Dia di depanku bersama seseorang yang ku kenal.


15 June 2004


"ARTHUR!!! CEPETAN!!! Penerbangan kita bentar lagi, masih aja lama, kalau masih lama beneran di tinggal aku tinggal ya!" Hanna pagi-pagi sudah di buat kesal oleh tingkah Arthur yang masih berleha-leha di atas tempat tidur. Padahal jam penerbangan ke London sudah hampir telat.


"Gampanglah, sayang. Kalau kita telat, kita bisa cari tiket penerbangan lainnya." Ujar Arthur dengan sangat santai. Disaat itu, Hanna sudah kesal setengah mati dan ia menghela nafas kasar.


Arthur memejamkan matanya dan ingin kembali ke alam mimpinya. Namun disaat itu, Hanna habis keluar dari kamar mandi dan ia membawa sebotol air yang baru ia isi.


BYURR!!


"Oh god!!" Ucap Arthur yang langsung bangun dan mengelap wajahnya yang basah.


"Masih ingin aku siram atau pergi mandi?" Kata Hanna dengan nada kesal. Arthur hanya menyengir dan ia langsung pergi ke kamar mandi. Masih juga pengantin baru sudah mendapat kekerasan seperti ini. Haduh. Mau marah tapi sayang. Istri kesayangan gini. Seram juga, Hanna.


•••


-Los Angeles Internasional Airport-


Arthur membawa trolley yang berisikan koper-koper milik mereka. Penerbangan mereka mengalami delay yang di haruskan mereka menunggu sekitar 1 jam. Tadi kepergian ke bandara diantar oleh Kenzo dan Jess. Arthur habis-habisan menghasut Kenzo untuk cepat-cepat menikah agar bisa honeymoon.


"Arthur, aku lapar..." kata Hanna sambil memegang perutnya dan mengerucutkan bibirnya.


"Kau minta aku cium ya." Hanna langsung memukul lengan Arthur dan Arthur tertawa kecil.


"Baiklah, kau ingin apa?" Hanna berpikir sebentar dan ia tahu apa yang ia inginkan.


"Aku ingin burger." Arthur mengangguk lalu membawa Hanna pergi ke tempat makan yang menyediakan Burger.


Singkat cerita, penerbangan mereka akhirnya tiba dan mereka langsung masuk ke pesawat lalu duduk di business class. Kedua kalinya Hanna duduk di business class dan juga pergulatan panas di pesawat karena mabuk. Sayang sekali dirinya tidak sadar saat itu. Bisa di ulang lagi tidak, ya?


Mereka melakukan penerbangan ke London sesuai keinginan mereka sebelum menikah, mereka akan mengunjungi Steven untuk melihat keadaannya yang katanya mulai membaik.


Perjalanan yang panjang mereka habiskan dengan tidur atau bahkan menonton film yang maskapai penerbangan persiapkan. Arthur memilih menonton dan Hanna memilih tidur.


•••


-London Internasional Airport-


Hanna langsung menghirup udara di kota London ini sejak kakinya keluar dari pintu bandara. Arthur di belakang perempuan itu sambil mendorong trolley berisikan koper mereka.


"Kita ke hotel dulu, okay. Setelahnya baru kita ke rumah sakit." Kata Arthur yang di jawab anggukan oleh Hanna. Perempuan itu lalu mendekat ke Arthur dan mencium pipinya sekilas.


Arthur tersenyum. "Aku ingin lebih dari ini, bagaimana?"


"Kau akan mendapatkannya nanti, tapi tidak sekarang." Kata Hanna sambil tersenyum manis, sedangkan Arthur ia menghela nafas sedih namun senyum di wajahnya tidak dapat dihilangkan.


Singkat cerita, akhirnya mereka sudah di rumah sakit. Mereka langsung mendatangi ruangan pasien bernama Steven. Hanna langsung berlari dengan senangnya saat ia membuka pintu ruang Steven.


"HANNA!!! LONG TIME NO SEE!! I MISS YOU SO BAD, HANNA!!" Teriak Steven dengan senangnya sambil menerima pelukan Hanna. Perempuan itu memeluk Steven dengan erat untuk melepas rindunya.


Arthur, dia tidak cemburu karna ia tahu perempuannya itu hanya sebatas sahabat dengan Steven, lagi pula Hanna sudah menjadi miliknya seutuhnya. Garis bawahi 'seutuhnya'.


"Steven, bagaimana keadaanmu?" Tanya Hanna sambil tersenyum. Steven mengangguk dan tersenyum sehingga matanya terbentuk bulan sabit.


"Aku semakin hari semakin baik, kau tau, aku semakin baik karena ada seseorang yang membuatku semangat. Bisa di bilang dia adalah penggantimu." Kata Steven sambil tersenyum senang.


"Siapa dia, aku yakin dia sangat cantik sehingga kau bisa semangat begitu." Ujar Hanna dengan nada menggodanya.


"Ah tidak..eh benar dia cantik, tapi aku tidak tau, hanya saja ketika aku bersamanya membuat aku semangat." Hanna tertawa mendengar tutur kata Steven.


"Kau pasti menyukainya, lihat saja sekarang, saat kita membicarakannya wajahmu mulai memerah." Steven langsung memegang kedua pipinya dengan tangannya.


"Hanna, aku harus memperkenalkannya denganmu. Oh ya..waktu itu aku pernah melihat foto dia dengan temannya, tapi kenapa aku melihat fotonya mirip denganmu?" Hanna mengerutkan dahinya karna ia mengingat saat-saat bersama dengan Melly sahabatnya.


"Siapa namanya?" Tanya Hanna.


"Aish waktu itu aku sudah memberitahumu bukan? Aku tidak tau namanya, aku selalu memanggil dia 'Apple'." Jawab Steven.


"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Steven mengangguk.


"Kau bisa, tunggu saja, sebentar lagi dia juga akan datang. Biasanya jam 2 siang dia akan datang ke sini." Hanna mengangguk namun hatinya tidak sabar menunggu orang yang di maksud oleh Steven.


Srett.


Suara pintu terbuka terdengar dan di saat itu semua mata tertuju ke arah suara berasal. Seorang perempuan disana dengan baju rumah sakitnya.


"Apple! Apa itu kau?" Tanya Steven karna ia tidak bisa melihat karna tertutup oleh dinding putih.


"Iya." Jawab perempuan itu. Disaat perempuan itu mulai terlihat, disaat itu juga Hanna membulatkan matanya. Perasaannya langsung tercampur aduk saat mengetahui siapa perempuan itu. Ia langsung menangis karena dia adalah orang yang sudah ia tunggu kabar sejak lama.


"Melly..." lirih Hanna dan perempuan itu langsung mendekat lalu memeluknya dengan erat.


"Hanna...bagaimana bisa kau disini?" Tanya Melly dan membalas pelukan Hanna. Arthur yang melihat adengan sekarang ini, tidak tau perasaanya. Kaget, senang seakan tercampur aduk. Ia tau istrinya pasti akan sangat senang. Sebab dari dulu, dia selalu menanyakan kabar Melly yang tidak pernah ia tau.


Sedangkan Steven dia terlihat bingung. "Kalian saling kenal?" Tanya lelaki itu.


"Sebenarnya dia adalah perempuan yang ada di foto yang kau lihat waktu itu, Steven." Kata Melly dengan tersenyum kecil.


Melly langsung mengangguk, sedangkan Hanna tertawa. "Akhirnya ku mengetahuinya, aku sudah menggunakan berbagai cara untuk mengetahui namamu, dan sekarang baru aku mengetahuinya." Ujar Steven dengan helaan nafas dan senyum di akhirnya.


"Melly, kau tau betapa sedihnya saat ia tahu kau pergi untuk berobat." Kata Arthur yang sekarang sudah berdiri di samping Hanna.


Melly tersenyum. "Sorry, Hanna. Aku hanya tidak ingin membuatmu sedih."


"Hanna! Kamu udah menikah?" Tanya Melly saat ia melihat sebuah cincin melingkar di jari manis. Hanna langsung tersenyum sambil mengangguk. "Iya, aku menikah dengan Arthur belum lama ini. Kamu sih tidak di sana, jahat banget kamu. Sama sekali tidak bertukar kabar." Balas Hanna.


"Aku cuman gak mau buat kamu sedih," ucap Melly lirih.


"Sudah. Sekarang ayo kita senang-senang!" Seru Steven mengalihkan suasana.


Akhirnya selanjutnya mereka lanjutkan dengan candaan hingga hari mulai gelap. Hanna dan Arthur memutuskan untuk kembali ke hotel setelah makan malam di restaurant dekat hotel mereka tinggali.


Hanna merenggangkan tubuhnya saat ia tiba di kamar hotelnya. "Kau ingin mandi duluan atau aku?" Tanya Hanna yang mulai bersiap-siap.


"Aku ingin mandi bersama." Kata Arthur sambil menyengir. Hanna langsung memukulnya dengan baju yang baru ia keluarkan dari koper.


"Ayolah tidak apa, lagi pula kita sedang berbulan madu." Ucap Arthur sambil memohon dengan muka yang di buat imut.


"Tidak, tidak!"


"Ayolah."


"Tidak, Arthur!"


Akhirnya Arthur menarik baju yang berada di genggaman Hanna dan membuangnya dengan asal. Setelahnya lelaki itu langsung menarik Hanna masuk ke kamar mandi, namun yang di tarik langsung melepaskan tangannya dan mendorong Arthur kuat hingga Arthur terjatuh di depan pintu.


Hanna menghela nafas lega saat ia berhasil mengeluarkan Arthur, sedangkan Arthur yang di luar hampir kesal namun ia menyadari kalau istrinya itu tidak membawa baju ganti.


Bukankah ini bagus?


-Arthur.


Damn, aku kelupaan baju ganti. Bagaimana cara aku keluar nanti? Kalau aku keluar pasti udah gak bisa masuk lagi. Ah...memang gak bisa lari lagi.


-Hanna.


Hanna baru selesai mandi dan ia memutuskan memakai handuk untuk menutupi dirinya. Pertama kepalanya ia keluarkan untuk melihat keluar dan ia tidak dapat melihat Arthur.


Mungkin ia keluar untuk membeli sesuatu.


-Hanna.


Tapi tidak mungkin, dari tadi aku tidak mendengar suara pintu tertutup.


-Hanna.


Akhirnya dengan keberanian, Hanna berjalan keluar untuk mengambil baju dan ia tidak dapat melihat Arthur. Perempuan itu menghela nafas dengan tenang lalu mengambil pakaian gantinya di atas ranjang.


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang kecil milik Hanna yang terlapis oleh handuk berwarna putih.


"AHH!" Hanna berteriak kala ia kaget dengan sikap tiba-tiba Arthur.


"Arthur, biarkan aku ganti baju dulu, bisa-bisa aku kedinginan."


"Biar aku yang menghangatkanmu." Ujar Arthur sambil mencium bahu mulus Hanna dengan sesekali ia menhirup wangi khas tubuh Hanna yang membuat dirinya mabuk. Arthur mencium leher Hanna dan menandakan kepemilikan disana. Ia akan membuat mahakarya paling indah dalam satu malam. Ia tidak bisa menahannya lagi! Hari ini akan menjadi malam pertama dan membuat Hanna mengingat semuanya!


"Ahh.." Hanna meloloskan desahannya untuk pertama kalinya hanya karna Arthur mulai mencium area leher. Arthur menyeringai senang saat ia mengetahui sangat mudah untuk membuat Hanna seperti ini.


"Maaf sayang, sepertinya aku tidak bisa menahannya sekarang." Kata Arthur lalu mendorong Hanna ke atas ranjang lalu menindihnya. Ia memimpin pergerakannya karena ia tau Hanna masih belum lihai, namun seiring berjalannya waktu ia akan membuat Hanna menjadi seorang professional. Dalam hal pergulatan di ranjang yang pasti!


Arthur mencium Hanna dengan lembut. Tidak lupa ia menggigit bagian bawah bibir Hanna agar memberikan akses lidahnya agar mengabsen semua gigi Hanna dan bermain dengan lidah miliknya.


Selesai dengan pergulatan panas, Arthur mengecup bibir Hanna dan berkata, "Terima kasih, sayang. Udah menjaga dan memberikannya kepadaku. Aku sangat mencintaimu!" Bisiknya.


Kemudian ia menyusul Hanna yang sudah tertidur. Arthur menaikkan selimut menutupi tubuh polos mereka dan menarik Hanna ke dalam pelukan. Posisi paling nyaman saat tertidur.


•••


2 month Later...


-Los Angeles-


-Beach-


Sudah dua bulan sejak honeymoon mereka di London. Sekarang mereka sedang duduk di atas pasir sembari melihat indahnya sunset. Hanna menyandarkan kepalanya pada bahu Arthur, sedangkan Arthur melingkarkan tangannya pada pinggang Hanna.


Semua menjadi sangat indah pada akhirnya. Kenzo sudah melamar Jess dua hari yang lalu. Dalam tiga bulan, Mereka akan menikah dan akan menetap di London. Sebab pekerjaan Kenzo berada di London, mereka tidak mungkin pisah setelah menikah. Hanna berharap setiap hari akan selalu seperti ini. Ia ingin mengukir kenangan indah bersama anaknya yang sekarang ada di perutnya.


Sebenarnya kalau ditanya apa aku beruntung memiliki Arthur, aku akan menjawab 'iya'. Apa kalian ingat bagaimana pertama kali aku mengetahui jika Boss ku selalu melakukan hal sexsual? Aku sangat illfeel dan bahkan merasa kesal saat ia mendekatiku, tapi aku tidak tau kalau rasa itu akan berubah menjadi rasa suka dan cinta. Apa aku terperangkap oleh ungkapan benci menjadi cinta? Sepertinya iya. Arthur..He's My Boss..and l'm falling in love with My Bad Boss.


-Hanna.


TBC