The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 21 - Bersama Arthur



"Melly, biar Hanna bersama Saya. Kamu bisa bergabung dengan yang lain." Ujar Arthur dan mengambil Hanna dari Melly. Gadis itu mengangguk dengan senyuman usil di wajahnya, Hanna tau betul arti senyuman itu dan ia benar-benar ingin menghajar wajahnya.


"Tentu bisa anda ambil Hanna sampai kapanpun, kerumah juga gak papa, Pak. Eh...maaf. Yaudah Pak, Saya duluan," pamit Melly pada Arthur lalu beralih ke Hanna.


"Bye Hanna, have fun!" Tambah Melly dengan senyuman usil di wajahnya. Hanna menatap balik Melly dengan sinis. Melly menjulurkan lidahnya sambil melambaikan tangan kepada Hanna.


"Kamu ikut saya."


•••


Untuk kedua kalinya Hanna dan Arthur pergi ke sebuah toko pakaian. Terakhir kali ia pergi membeli sebuah dress dan pakaian yang memiliki harga yang fantastis untuk sebuah pakaian. Untuk dress mungkin Hanna maklumi.


Hanna mencari pakaian biasa yang murah karena ia tidak membeli banyak mata uang asing. Ia berpikir hanya membawa sedikit karena ia tidak ingin membeli barang yang mahal. Mungkin hanya souvenir untuk keluarganya.


"Pilihlah pakaian lain, jangan memilih pakaian seperti itu! Pilihlah yang bagus." Kata Arthur. Hanna mencoba berkeliling dan mencari yang bagus.


"Itu bagus, ambil dan coba. Kalau cocok denganmu katakan padaku." Arthur menaikkan dagunya untuk menyuruh gadis itu pergi ke kamar ganti. Hanna tau apa maksud dari perkataan Arthur, ia pasti akan membayar semua ini.


"Hanna coba kau ambil ini." Pinta Arthur dengan memberikan dress berwarna merah yang ia pilihkan sendiri. Hanna mengangguk saja dan mengambil dress yang di berikan oleh Arthur.


Tidak lama kemudian, Hanna keluar dengan menggunakan dress merah yang di pilih oleh Arthur. Sebenarnya ia tidak begitu menyukai dress yang berwarna merah karena ia akan begitu mencolok jika di kerumunan.


Arthur menatap Hanna dari bawah hingga ke atas. Ia seperti mengintimidasi Hanna dengan dress merah menggoda itu. "Ambil dress merah itu dan apa pakaian gantimu cocok denganmu?"


"Saya belum mencobanya. Kalau begitu saya coba memakainya dulu." Ujar Hanna dan kembali masuk ke kamar ganti.


30 minutes later


Hanna membawa dua plastik belanjaan di tangannya. Lelaki itu membayar semua jumlah belanjaan yang Hanna beli di toko tadi. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan yang baru sebelumnya.


"Kenapa kita ke toko sepatu?" Tanya Hanna bingung. Ia tidak membutuhkan sepatu saat ini, apa mungkin Pak Arthur menginginkannya? Tidak mungkin! Toko yang mereka datangi adalah toko sepatu untuk perempuan.


"Kau membutuhkannya." Jawab Arthur singkat. Lelaki itu berjalan duluan memasuki toko yang menjual sepatu berhak tinggi nan cantik dan beberapa tas disana.


Hanna mengikuti Arthur dari belakang dan menyesuaikan langkahan kaki lelaki itu yang begitu cepat. "Tapi Pak saya tidak membutuhkannya." Arthur mengubris ucapan Hanna.


"Bawakan saya sepatu terbaik kalian untuk perempuan di sebelah saya." Pinta Arthur kepada pegawai toko sepatu ini. Selanjutnya para pegawai dengan cepat mengambil sejumlah sepatu dan Arthur duduk di sofa disana.


"Hanna kau duduk disebelah saya. Kau bisa memilih sepatu kesukaanmu dan pikirkan apa dress merah itu cocok dengan pilihanmu."


Hanna mengangguk mengerti. Ia tidak mengerti untuk apa ia harus membeli dress dan sepatu ini. "Pak jika boleh tau, untuk apa saya harus membeli dress dan sepatu ini?"


Hanna bahkan terhanyut dalam senyuman itu. Ia membenarkan jika ketika lelaki ini tersenyum maka waktu yang berjalan terhenti untuk sekedar ikut melihat senyum killernya itu.


Hal yang disayangkan untuk seorang Arthur adalah lelaki itu jarang tersenyum meskipun orang di sekitarnya sudah tertawa. Arthur memang aneh dan tidak bisa di duga dengan kelakuannya.


Pegawai toko kembali dengan sejumlah sepatu yang di letakan sebaris sejajar di hadapan Hanna dan Arthur. Lelaki itu menaikkan dagunya agar gadis di sebelahnya cepat memilih. "Hanna." Panggil lelaki itu sambil mendekatkan wajahnya.


Arthur sedikit tersenyum dan menyentuh tangan Hanna untuk menyadarkan gadis itu. "Hanna, kau tidak mau kita ketinggalan pesawat selanjutnya bukan? Kau bisa menatap wajahku dengan lama selama di perjalanan nanti." Ucap Arthur tanpa menghilangkan senyuman di akhir.


Hanna memejamkan matanya sebentar untuk menahan malu karena telah tertangkap basah. Dengan cepat ia melihat sepatu yang begitu banyak di hadapannya, ia tidak bisa memilih karena semua sepatu ini terlihat begitu cantik di matanya.


"Hanna, sampai kapan kau hanya melihatnya? Coba kau pakai, jika cocok langsung kita beli." Kata Arthur menyadarkan Hanna lagi.


"Kalau begitu saya pilih ini saja." Balas Hanna setelah melihat sepatu berhak tinggi berwarna hitam. Ia tidak memilih warna lain karena sepatu hitam akan cocok dengan warna lainnya.


Arthur mengangguk. "Kau tidak mencobanya?"


"Oh ini saya ingin mencobanya."


Setelah melakukan pembayaran, mereka pergi ke suatu tempat makan yang di sediakan oleh maskapai penerbangan. Hanna yang tidak tau hanya ikut kemana Arthur pergi, seperti seorang anak yang ikut kemana orangtuanya pergi.


"Kenapa kita tidak pergi ke foodcourt, Pak? Menyusul yang lain." Tanya Hanna.


"Untuk apa kita pergi kesana jika kita mendapat voucher untuk makan disini. Lagi pula makanan disini jauh lebih enak," jawab Arthur. "Mungkin," tambahnya dengan nada yang jauh lebih rendah, seperti ragu-ragu dengan jawaban yang pertama.


•••


Akhirnya mereka kembali ke dalam pesawat dan melanjutkan perjalanan yang cukup panjang. Hanna duduk di sebelah Arthur kembali dan Melly duduk di belakang Hanna karena ia mendapat nomor bangku disana.


"Kau bisa menatap wajahku dengan puas sekarang, Hanna." Kata Arthur dan menolehkan wajahnya ke arah Hanna. Gadis itu pertama bingung kenapa ia harus.


"Tadi kau di toko sepatu melamun melihat wajah saya, dan-" Hanna memotong ucapan Arthur.


"Baiklah, saya baru ingat. Kalau begitu silakan Pak Arthur melihat ke layar televisi kecil di hadapan Pak Arthur, dan tidak usah melihat ke arah saya." Balas Hanna dengan cengegesan. Ia tidak mungkin melakukan hal seperti itu hanya karena ia mengagumi senyuman Arthur.


Arthur tertawa dan kembali menoleh ke Hanna. "Bagaimana jika saya memilih melihat kamu karena jauh lebih menarik untuk di lihat?"


TO BE CONTINUE