
Seattle,
15 July 1995
[14 Years old]
[SMP 2]
Waktu itu adalah pertama kalinya ia masuk ke sekolah di musim panas. Cuaca yang terik dan juga betapa bodohnya ia memakai jaket di musim panas.
Sekolah masih sepi. Gadis itu tidak tau kemana ia harus pergi. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke kantor kepala sekolah.
Ia menaiki beberapa anak tangga dan sampailah ia di depan pintu kepala sekolah. Namun pintunya terkunci dan ia melihat satu ruang yang menyala.
Kakinya ia langkahkan dan ia melihat seorang lelaki dan perempuan sedang bercumbuh. Tidak disengaja tas yang ia berada di punggungnya menyentuh vas di sampingnya dan membuatnya terjatuh.
"Siapa disana?!" Teriak seorang dari dalam ruang. Gadis itu langsung berlari namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang dan membawanya ke area rooftop.
"Baru saja aku menyelamatkan gadis ceroboh sepertimu." Ujar lelaki yang menyelamatkan gadis itu.
"Tetaplah disini sampai sekolah ini sudah ramai." Kata lelaki itu sambil tersenyum dan pergi.
•••
Seattle,
01 December 1997
Hari demi hari dan bahkan sudah berganti tahun, gadis itu lewati. Ia tidak pernah melihat lelaki yang menolongnya lagi dan bahkan itu sudah menjadi bagian kecil di ingatannya sekarang.
Ia sudah lupa dengan bagaimana rupa lelaki yang menolongnya dan sampai di awal bulan desember, ia menerima surat dari orang misterius.
Surat pertama diterimanya pada tahun 1996, dan sekarang ia menerima surat kedua di tahun 1997.
Dear Hanna,
Aku tau kau pasti penasaran denganku. Padahal kita sudah pernah bertemu dan salahmya kita tidak berkenalan waktu itu. Aku akan mengirim beberapa surat di awal bulan desember setiap tahunnya.
Kita tidak bisa bertemu sekarang, tapi aku selalu memantaumu dari jauh. Oh kau pasti mengira aku penguntitmu, bukan?
Mungkin aku adalah Secret Admirer-mu.
Love,
Someone.
•••
Saat itu adalah hari pertama musim semi di mulai. Rasa dingin masih terasa di kulit namun tidak seperti dinginnya musim kemarin. Cahaya matahari mulai terlihat dan membuat tubuhnya menghangat.
Ia merapatkan jaket di tubuhnya dan berjalan hingga ke toko buku dekat rumahnya. Tinggal beberapa hari, sekolah kembali di mulai dan ia harus membeli kebutuhan sekolahnya.
Hanna pergi bersama dengan anjing kesayangannya bernama Chocolate namun ia memanggilnya dengan Choco. Ia belum lama membelinya, sekiranya 4 bulan yang lalu. Chocolate merupakan anjing Siberian Husky.
Ia langkahkan kakinya yang di temani dengan penerangan jalan yang membuat ia jelas untuk melihat ke jalan. Sesering kali ia mengelus bulu Choco yang baru saja ia ambil dan menaruhnya dalam dekapannya.
Beberapa langkah lagi, Hanna sampai di toko buku. Suara gantungan lonceng terdengar saat ia membuka pintu toko. Harum dari toko buku tercium dan ia tersenyum.
Seorang pemilik toko buku mengucap salam dan Hanna tersenyum sembari mengangguk. Di sana tidak terlalu ramai, melihat sekarang sudah cukup malam dengan cuaca yang lumayan dingin walaupun ini sudah masuk ke hari pertama musim semi.
Hanna menyusuri ke bagian alat tulis dan mengambil beberapa yang ia butuhkan.
"Oh! Sorry..." kata Hanna saat ia berbalik ingin berjalan ke kasir dan ia bertabrakan dengan seorang lelaki yang memiliki paras masih muda.
"No problem, Miss." Balas lelaki itu dengan tersenyum manis dan dengan smirk kecil.
Hanna langsung pergi ke arah kasir namun ia kurungkan niatnya dan pergi ke bagian buku tulis. "Kenapa dia sangat tampan? Aish, apa yang kau pikirkan, Hanna?! Kau masih kecil untuk mengetahui itu." Kata Hanna bermonolog.
Tanpa perempuan itu ketahui, lelaki yang menabrak dirinya itu sedari tadi mendengar ucapannya. Ia tersenyum di balik pembatas yang memisahkan dirinya dengan Hanna. Maksudnya, seperti ini.
Hanna—pembatas—Dia.
Lelaki itu langsung cepat-cepat bersembunyi saat Hanna melewatinya. Lagi-lagi, lelaki itu tersenyum karena melihat dirinya untuk kedua kalinya, walaupun kali ini Hanna tidak mengetahui namanya.
•••
Hanna kembali ke rumahnya dengan jalan yang ia gunakan untuk ke toko buku. Di tengah perjalanan, ia selalu merasa ada yang mengikutinya, namun saat ia berbalik untuk melihatnya, tidak ada seorangpun yang mengikutinya. Mungkin hanya perasaan.
Hanna mulai mempercepat langkahannya namun tiba-tiba, sebuah tangan mengambil tangan miliknya.
"AHHH!!!!" Hanna berteriak dengan dirinya yang masih memegang Choco di dekapannya. Choco langsung menggonggong.
"Sorry, karena aku mengagetkanmu." Kata lelaki itu.
"Oh, okay. Jadi dari tadi kau yang mengikutiku?"
"Yeah, karena...kita jalurnya sama." Lelaki itu berbohong. Hanna mengangguk-anggukan kepalanya.
Lelaki itu hanya ingin menemani Hanna sampai ke rumahnya. Karena sangat berbahaya jika seorang perempuan berjalan sendiri di malam hari.
"Oh rumahmu di lingkungan sini, ya?" Ujar Hanna.
"Hmm..yeah."
"Kalau begitu, aku masuk dulu ya, bye. By the way, thankyou." Ujar Hanna sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah.
"Dia benar-benar tidak mengingatku, but it's okay ini salahku juga karena waktu itu tidak memiliki waktu yang lama bersamanya."
|TO BE CONTINUE