The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 12 - Aku Kembali



Next day,


Los Angeles Internasional Airport


Seorang perempuan tengah bersandar pada tiang penyanggah di bandara Los Angeles ini dengan sembari memainkan kakinya. Sudah hampir 1 jam ia berdiri di tempat itu untuk menunggu temannya yang akan tiba.


"Kata dia sebentar lagi, kenapa dia sangat lama?!" Gerutu perempuan itu dengan mengerucutkan bibir mungil itu. Ia menunduk dan melihat kakinya yang sengaja ia mainkan untuk menghilangkan rasa bosan.


Tidak jarang perempuan itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan berulang kali. Kemudian ia membuang nafas kasar dan melipat kedua tangan sambil melihat pintu kedatangan.


Perempuan itu mengambil ponsel miliknya dari saku celana saat merasakan getaran disana. "Halo?" Ucap perempuan itu membuka pembicaraan.


"Ya. Dia belum datang juga. Aku sudah menunggu di bandara selama 1 jam," ujar perempuan itu kepada seseorang yang menghubunginya. "Dia bilang jika dia sebentar lagi akan tiba, namun apa kenyataannya? Aku bahkan tidak bisa melihatnya hingga sekarang."


"Mungkin saja sewaktu dia berangkat, penerbangannya terlambat." Perempuan itu berdeham sebagai balasan dari seseorang yang menghubunginya.


"Well, sepertinya dia sudah tiba. Aku baru melihat pesawatnya baru mendarat." Kata perempuan itu sambil melihat ke papan informasi jadwal penerbangan untuk keberangkatan atau pesawat yang baru mendarat.


"Jess, aku nggak bisa berlama-lama berbicara denganmu. Aku harus kembali bekerja, kau tau bukan managerku ini sangat-sangat bawel dan-" Jess memotong ucapann temannya itu.


"Ya ya. Aku tau. Lanjutkan sana. By the way, kita harus makan bersama hari ini atau lusa untuk perayaan kembalinya teman kita." Ucap Jess.


"Biar aku hubungimu kembali, hmm, nanti biar aku tanya Hanna juga."


"Baiklah, Mel! See ya!" Jess menutup telpon dan mendekat ke pintu kedatangan. Ia memegang tiang yang membatasi pintu kedatangan dengan orang yang akan menjemput.


Tangan Jess yang masih memegang ponsel, ia gunakan untuk menuliskan nama seseorang yang akan ia jemput.


Setelah menunggu kurang lebih selama 15 menit, akhirnya orang yang ia tunggu pun tiba. Orang tersebut memakai hoodie hitam dengan kaca mata berwarna hitam, serta celana panjang berwarna putih dan terakhir adalah sepatu berwarna hitam dan memiliki garis hitam.


Jess tersenyum senang saat melihat orang yang ia tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. "Ya, kau tau aku sudah menunggumu selama 1 jam!" Jess kembali menggerutu. Orang tersebut tertawa dan mencubit pipi Jess.


"Aku lapar. Ayo cari makan, kau tau bukan, makanan di pesawat tidak enak." Jess mencubit pinggang orang itu sehingga orang itu berteriak kesakitan.


"Seharusnya aku yang berkata itu. Aku bahkan harus melewatkan makan siangku hanya untuk menjemputmu disini. Kurang baik apa lagi aku, kau yang harus mentraktirku makanan."


"Ya! Kita sudah hampir 2 tahun atau 3 tahun tidak bertemu dan begini kau memperlakukan teman lamamu ini, huh?"


"Masih beruntung aku ingin menjemputmu, sudahlah aku sedang malas berdebat denganmu." Orang tersebut tertawa dan menarik koper miliknya.


•••


Di dalam mobil, mereka berbincang tentang masa sekolah. Dimulai dari keributan yang pernah mereka buat, bahkan hal lucu yang membuat semua orang geleng-geleng dengan tingkah mereka.


"Yang penting dulu aku adalah cowok yang tertampan disekolah setelah Kakakku." Jess hanya memutarkan kedua mata dengan malas dan kembali fokus mengemudi.


"Hais. Tingkat kepedeanmu memang tidak pernah hilang."


"Hmm, Jess. Kau masih sendiri atau sudah ada pasangan?"


"Kenapa?"


"Tidak, hanya bertanya. Bagaimana keadaan Hanna?"


"Kau tidak bertanya keadaanku terlebih dahulu? Dari pertama kita bertemu di bandara saja, kau menyambutku dengan cubitan pipi." Lelaki itu tertawa renyah mendengar penuturan dari Jess.


"Kau juga menyambutku dengan cubitan di pinggang bukan sebuah pelukan."


"Kau yang memulainya dulu. Kau mencubit pipiku, kau kira itu tidak sakit?"


"Sudahlah kalau begitu nilai kita sama, okay. Nah sekarang bagaimana keadaan kau dan Hanna?"


"Aku baik saja seperti yang kau lihat, dan Hanna, dia baik namun ada beberapa masalah dengan atasan yang membuat dia tersiksa, katanya."


Lelaki mengangguk-anggukan kepala. "Dimana Hanna bekerja?"


"Dia bekerja di tempat Melly bekerja. Perusahaan Harrison." Lelaki itu kembali mengangguk-anggukkan kepala.


"Jess, antarkan aku ke tempat Hanna bekerja. Aku ingin bertemu dengannya," Jess mengangguk pelan.


"Tapi kita pergi makan dahulu. Aku sudah lapar." Tambah lelaki itu.


•••


Harrison Company at Night


"Kenapa Mom?" Tanya Arthur setelah menggeser tombol berwarna hijau itu pada layar ponselnya.


"Sorry, Mom. Aku tidak bisa. Sekarang aku sedang mengurusi sesuatu yang lebih penting." Kata Arthur sambil menekan kata 'lebih'. Selagi lelaki itu bertelpon, Hanna datang dengan sejumlah kertas yang harus Arthur tanda-tangani.


Arthur menaikkan telunjuk untuk meminta Hanna meletakkannya ke meja kerja lelaki itu. "Sudah dulu, Mom. Aku harus mengurusi dokumen dulu. Bye."


"Hanna tinggal beberapa bulan lagi, kita akan memasuki pertengahan tahun. Aku minta kau bisa mengurus tentang kegiatan jalan-jalan yang biasa kita adakan," Hanna mengangguk mengerti. Ia mencatat pada sebuah jurnal.


"Kau tidak perlu memusingkan berapa biaya tiket transportasi, penginapan, makanan, atau apapun. Kau hanya perlu mem-booking dan berikan data tersebut padaku." Tambah lelaki itu tanpa melihat ke Hanna karena ia sedang memeriksa dokumen yang harus ia tanda tangani.


"Baik, Pak."


"Hmm, Hanna. Untuk masalah makam malam bersama keluargaku kemarin malam, tidak perlu kau pusingkan. Ibuku memang selalu berbicara kasar kalau ia tidak suka."


Hanna mengangguk pelan. "Iya, Pak. Saya juga tidak mengambil hati. Ibu anda sayang kepada anda, sehingga beliau tidak mau pasangan Pak Arthur nanti bermasalah atau-" Arthur memotong.


"Ah baiklah. Jika kau tidak bermasalah. Kau bisa kembali bekerja, Hanna."


"Maaf Pak Arthur. Boleh saya bertanya?"


"Ya, silakan. Kau tidak perlu meminta izin jika kau ingin bertanya padaku."


"Bagaimana dengan janji Pak Arthur untuk memberikan saya dan Melly tidak bekerja selama sehari? Seharusnya janji tersebut dilakukan hari ini, tapi anda membatalkannya karena ada urusan mendesak-"


"Hmm, Hanna. Kau tau bukan perusahaan kita sedang sibuk-sibuknya. Bagaimana jika kita tunda perjanjian itu dan jika kau bisa melakukan apa yang kusuruh, akan ku pastikan hadiah kerja liburmu akan bertambah." Hanna tergiur dengan penawaran yang lelaki itu berikan. Well, bayangkan bagaimana jika Hanna tidak melihat Arthur selama seminggu atau dua minggu atau mungkin lebih.


"Ku yakin kau akan menerima penawaranku. Bagaimana Hanna?"


"Maaf Pak Arthur. Jika anda sudah membuat janji seperti itu, baiklah, saya akan terima."


"Jika begitu, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu besok pagi. Sekarang sudah hampir malam dan seorang gadis tidak baik untuk pulang larut malam." Hanna membenarkan ucapan Arthur tersebut. Memang sudah sejak tadi ia menginginkan ucapan itu karena ia merindukan Mogi dan Moka.


"Ini dokumen yang harus Pak Arthur baca untuk keperluan rapat yang diadakan besok pagi." Arthur mengambil dan meletakkannya di samping berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.


"Ayo, biar saya antar pulang."


"Tidak perlu, Pak."


Suara pintu terbuka terdengar tiba-tiba. Tatapan mata Arthur sekarang terahlikan menuju pintu terbuka tersebut sama seperti Hanna lakukan.


"Bisa kau ketuk pintu sebelum masuk ke dalam, Karlie?" Arthur memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan memirkan sedikit kepala.


Wajah lelaki itu seakan menampilkan jika ia tidak suka di ganggu saat situasi tersebut. "Jika ada keperluan, cepat katakan sekarang. Aku menunggu." Ucap lelaki itu sambil berjalan ke sisi meja kerja dan bertumbuh di sana sambil melipat kedua tangan.


"Pak Arthur, sepertinya saya harus pulang sekarang dan terima kasih atas tawarannya tadi. Selamat malam, Pak." Hanna membungkuk sebentar sebelum berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Arthur menarik nafas kesal. "Saya menunggu tujuanmu, Karlie. Jika tidak ada, saya masih ada urusan penting."


"Kenapa Pak Arthur seperti ini. Apa mungkin karena Pak Arthur tidak merasa puas dengan tadi pagi?" Karlie menatap Arthur dan melangkahkan kaki perlahan mendekat. Ia meletakkan telapak tangan kepada dada Arthur dan meraba sambil menggodanya.


Sedangkan tangan kanan perempuan itu, ia gunakan untuk memeluk pinggang lelaki itu. Perlahan tangan kiri yang berada di dada perlahan turun hingga ke sleting celana.


Arthur langsung menjauhkan tangan itu dengan kasar. "Jangan karena saya selalu menggunakan kamu setiap pagi, tidak berarti kamu bisa menyentuh saya seenak kamu, Karlie!" Peringat lelaki itu dan menatap Karlie tajam.


"Lagi pula sepertinya tubuhmu sudah tidak bisa ku cicipi lagi." Tambah Arthur dengan tatapan sinis. Ucapan lelaki itu membuat Karlie langsung tertohok dan menyakiti hatinya.


"Maafkan saya, Pak Arthur. Saya tidak mengira jika anda sedang tidak dalam perasaan baik," Arthur tidak menanggapi ucapan perempuan itu. Ia melonggarkan dasi dan melipat kedua lengan kemeja hingga ke kedua sikutnya.


Dilain sisi, Hanna masih di dalam lift dan ia memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia meninggalkan ruangan kerjanya. Di sana hanya ada Arthur dan Karlie, well siapa yang tidak berpikir sama dengan Hanna?


Siapapun pasti akan mengira jika mereka akan bermain untuk memberi kepuasan masing-masing. Hanna langsung merinding saat membayangkan mereka. Kenapa ia harus memikirkan mereka bahkan sampai membayangkannya? Uh! Tidak penting sekali, Hanna!


Ting!


Hanna keluar dari lift setelah bunyi dentingan. Di sana pemilik sepasang mata coklat itu langsung tersenyum saat melihat seseorang disana. "Jess!" Panggil Hanna dengan teriakan.


"Oh, hai Hanna!"


"Untuk apa kau ke sini? Kau tidak berminat untuk bertemu atasanku, bukan?" Hanna tertawa kecil di akhir ucapan. Jess ikut tertawa. "Iya, bisa kau kenalkan padaku? Ku dengar atasanmu sangat tampan dan ia single. Okay, apa dia gay?"


"Hooh. Kau sangat-sangat salah, Jess. Sebenarnya aku tidak tahu kenapa si Arthur itu bisa hidup sendiri hingga sekarang dan ia selalu menolak calon yang sudah kedua orangtuanya pilihkan," Hanna mengucapkannya dengan semangat. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa bersemangat ini untuk membicarakan si Arthur itu. "Jess! Kau harus tahu ini. Aku terima jika dia memang tampan, tajir, dan pengusaha yang hebat lalu memiliki keluarga terpandang. But why? Dia melakukan sesuatu yang menjijikan itu?"


Jess tertawa mendengarnya. "Apa yang kau maksud 'menjijikan itu' adalah berhubungan intim itu adalah hal yang wajar. Okay, dia tajir dan terpandang. Siapapun mau dengannya, itu sudah hal yang biasa, Hanna. Ceritamu ini sudah biasa ada di cerita-cerita fiksi lainnya." Hanna mendengus kesal. Ia membenarkan apa yang dikatakan Jess padanya. Ini memang sudah biasa dan seharusnya Hanna menganggap ini hal yang wajar.


"Jadi bersikaplah biasa, Hanna. Kau terlalu berlebihan menanggapinya." Jess menepuk bahu Hanna sambil tersenyum.


"Hooh, baiklah. Sekarang bilang padaku sedang apa kau di sini dan untuk apa kau ke sini?"


"Aku hanya mengantar Kenzo. Dia baru sampai tadi siang. Dia tadi mengharapkan kau datang Hanna. Bukankah kau tau jika dia akan kembali?"


"Ya aku tahu itu. Tapi atasanku itu membutuhkanku dan aku tidak bisa menolak karena sifat kerasa kepalanya." Jess mengangguk pelan dan mengerti. "Well, kalau begitu kau harus mengkosongkan jadwal besok malam. Kita harus reuni bersama."


"Baiklah, tapi aku tidak bisa berjanji. Aku harus bertanya pada atasanku. Bulan ini jadwal dia sangat padat." Jess menghela nafas. Ia sedikit kecewa namun ia tidak bisa sepenuhnya kecewa, ia harus mengerti dengan pekerjaan Hanna yang sangat padat.


"Tapi kami sangat mengharapkan kau datang, Hanna. Kita sudah sangat lama tidak bersama dan kita harus merayakan kedatangan Kenzo dari London."


"Ya aku menginginkan seperti itu juga. Aku akan berusaha." Hanna tersenyum namun dalam pikirannya ia mengingat perjanjian yang baru ia huat bersama Arthur.


"Hanna?"


"Akhirnya kau datang, Kenz! Kau memang selalu membuatku menunggu." Gerutu Jess kesal. Kenzo menjulurkan lidahnya pada Jess.


"Hi, Kenz. Long time no see, bagaimana keadaanmu?"


"Baik dan sepertinya kau sama. Well, setelah hampir 2 tahun kita tidak bertemu dan sekarang kau masih pendek dariku." Hanna memutarkan kedua matanya malas dan mendengus jengkel.


"Hmm, sebenarnya kalian berdua sedang apa disini? Kalian tidak sedang menungguku pulang bekerja, bukan?" Hanna tertawa kecil setelah menyelesaikan ucapannya.


"Kau lupa jika nama belakangku adalah Harrison, Hanna?" Sekarang Kenzo yang ikut tertawa. Hanna langsung menggaruk tengkuk yang tidak gatal itu. "Maaf, aku lupa. Terlalu banyak pekerjaan membuat aku lupa."


"Apa yang aku tinggalkan sekarang? Aku tidak tau kalau nama belakangmu adalah Harrison, Kenz! Oh my god!" Kenzo hanya menghela nafas dan tertawa ringan. Jess menatap Kenzo sedikit kesal karena selama ini ia berteman dengan pemilik nama Harrison.


"Kau tidak lupa masa kita dulu bukan?" Kenzo bertanya kembali.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan masa kita sekolah, Kenz. Kalau begitu aku harus buru-buru pulang. Bye!" Hanna meninggalkan mereka setelah melambaikan kedua tangan kepada Jess dan Kenzo.


"Well, dia tidak berubah." Ucap Kenzo dengan senyuman manisnya. Jess mengangguk dan membenarkan. Hanna tidak berubah dari yang mereka kenal, hanya saja sekarang ia bertambah sibuk.


"Bagaimana dengan makan malam besok, apa dia akan datang?"


"Dia tidak berjanji untuk datang tapi dia ingin datang. Kau harus membujuk kakakmu untuk membiarkan Hanna datang."


"Aku akan mencoba, tapi dia sangat susah untuk di bujuk."


"Kau kan adiknya, kau pasti bisa membujuknya. Coba kau memelas padanya."


"Damn! Kau kira aku akan melakukannya!" Kenzo dan Jess tertawa di sela candaan mereka. "Oh ya, Jess. Kau mau bertemu dengan Kakakku atau kau tunggu disini?"


"Lebih baik aku ikut. Aku tidak ingin dianggap jomblo karena menunggu disini." Kenzo kembali tertawa. Mereka berdua memang sangat cocok. Terkadang bertengkar dan terkadang tertawa bersama.


Baru mereka melangkah setidaknya 10 langkah, Kenzo berhenti dan menarik baju Jess untuk ikut berhenti. "Kita perlu berjalan lagi. Dia sudah datang dengan sendirinya."


"Dimana dia?" Jess celingak-celinguk melihat kesekitar. Kenzo menoyor kepala Jess dan memegang kepala Jess untuk mengarahkan ke Arthur.


"Oh my god! Kenapa kalian sangat mirip dengannya?"


"Pertanyaan bodoh. Kita berdua bersaudara, bagaimana mungkin kita tidak mirip." Jess baru menyadari jika ia memang bodoh. Bagaimana bisa ia menanyakan pertanyaan seperti itu. Otaknya memang terkadang tidak bisa diajak kerjasama.


"Miss me, brother?"


"No, i'm not."


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


2020.09.08