
Hanna menghela nafas melihat setumpuk kertas yang perlu ia periksa. Terlebih ia masih harus mengurus tentang pariwisata yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan sudah jam 7 malam.
Kenapa aku harus terjebak dengan tumpukkan kertas ini.
-Hanna.
Hanna merasakan getaran di atas meja kerja dan ia melihat nama Kenzo di layar ponsel miliknya. Ia mengangkat dan membuka pembicaraan. "Kenz, ini aku. Bagaimana dengan makan malamnya?"
"Aku sudah bertanya kepada mereka—Melly dan Jess—. Mereka bisa kapanpun, jadi kita hanya menunggu kamu bisa kapan, Han."
"Aku berharap bisa minggu ini, Kenz. Coba aku lihat jadwalku dulu sampai minggu depan, kalau ada waktu kosong, kita bisa pergi makan malam."
"Tentu kau tidak punya waktu kosong, Hanna." Hanna pun langsung menjauhkan ponsel dari telinga dan menutup dengan tangannya. Ia tidak tau sejak kapan Arthur berdiri di hadapannya dan apa dia menguping sepanjang pembicaraan dirinya dengan Kenzo?
"Sejak kapan, Pak Arthur di meja saya?" Tanya Hanna. Arthur menatap ponsel milik Hanna yang ditutupi dengan tangan milik gadis itu.
"Sejak kau bilang menjawab panggilan dari adikku. Hanna, kau tau bukan jika mereka yang sedang bekerja tidak diperbolehkan untuk menggunakan ponsel. Kau tidak mau bukan jika aku bilang kau tidak profesional?"
Ini bahkan baru pertama kali aku menggunakan ponsel selama aku bekeja disini.
-Hanna.
Gadis itu menggerutu tidak terima. "Tapi saya baru menggunakannya selama sekali. Ini pun untuk menghubungi-"
"Tidak, ini sudah menjadi peraturanku, Hanna. Bukannya semua peraturan dibuat untuk dipatuhi?"
"Tapi saya baru tau jika ada peraturan tersebut, Pak."
"Oleh karena itu, saya baru membuatnya. Dan ini hanya berlaku untukmu." Arthur tersenyum kecil dan kembali ke meja kerja. Hanna membulatkan mata dan tidak terima dengan peraturan yang ditujukan hanya untuk dirinya. Ini tidak adil!
"Hanna?" Sahut Kenzo dari ponsel yang masih tersambung dengannya. Hanna masih bergelut dengan pikiran yang berpikir jika ini tidak adil. Tidak lama sambungan itu pun terputus oleh Kenzo.
Dilain sisi, Kenzo menghela nafas setelah ia menekan tombol warna merah pada layar ponsel. Ia menoleh ke samping kanan yang disana seorang gadis berambut pirang sedang menatap kearahnya. Kenzo menggeleng dengan menampilkan raut wajah kecewa.
Kecewa? Kenzo tidak seharusnya merasakan hal itu. Ia harus mengerti keadaan Hanna yang benar-benar tidak bisa lepas dari Arthur, sang Kakak yang keras kepala.
"Kenz, kau sudah mencoba berbicara dengan kakakmu?" Tanya Jess.
"Sudah ku coba, bagaimanapun kerasnya batu miliknya tidak bisa hancur walau sudah ku coba berapa kali pun."
"Terkadang aku bingung, kenapa ada orang semacam kakakmu. Padahal ini hanya acara kumpul bersama teman tapi kenapa kakakmu seakan mencoba untuk menjauhkan Hanna dari ini?" Jess bersandar pada sofa panjang milik keluarga Harrison. Kenzo pun begitu dan ia menatap lampu besar yang tergantung di ruang tamu ini.
"Aku pun tidak tau. Sudahlah, akan ku coba lagi nanti. Aku terlalu pusing dengan sifat keras miliknya, bahkan Mom and Dad tidak bisa menghancurkan sifat itu. Aku tidak tau dari mana sifat itu berasal." Keluh Kenzo. Jess menolehkan kepala dengan ke Kenzo.
"Kau tau bukan kalau sifat sudah bawaan dari lahir dan tidak bisa di ubah. Kecuali ada orang yang benar-benar bisa mengendalikan sifat Kakakmu itu."
"Dan siapa orang itu, aku yakin siapapun tidak tahan dengan sifatnya."
"Tidak, buktinya kau tahan dengan sifat dia." Kenzo menghembuskan nafas kesal. Ia menoleh ke arah Jess dan mata mereka bertemu.
"Bagaimanapun aku harus menerima kenyataan ini, Jess. Dia dan aku bersaudara, sebesar apapun kemarahan dan kejengkelan dia, dia tetap Kakakku." Kenzo tersenyum kecil.
"Ya dia tetap kakakmu. Dan bagaimana jika kau mengajakku berkeliling rumah ini karena aku sudah mulai bosan membahas tentang Kakakmu bersama dengan sifatnya yang menjengkelkan." Ujar Jess sambil beranjak dari sofa panjang dan empuk ini.
"Oh ayolah, Kenz. Aku bosan dirumah, dan-"
"Alasan itu tidak masuk dalam daftarku, Jess," Kenzo berjalan kebelakang Jess dan meletakkan kedua tangannya di bahu milik Jess lalu mendorongnya ke pintu keluar. "Sekarang sudah malam, dan seorang gadis tidak baik untuk pulang malam atau berada di rumah lelaki." Tambah Kenzo.
Terdengar helaan nafas Jess. "Biar aku pulang sendiri. Aku membawa mobilku dan terima kasih karena telah membawaku masuk ke kerajaanmu ini, Kenzo."
"Ya apapun itu, lebih baik aku antar kau pulang. Aku akan meminta supirku untuk mengikutiku nanti."
"Tidak, itu artinya kau sudah menganggu waktu istirahat supirmu itu. Sudahlah, aku pulang sekarang. Bye, Kenz."
Kenzo tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Jangan lupa kabari aku saat kau sampai di rumah nanti." Jess menaikkan ibu jarinya sambil tersenyum sebelum mobilnya meninggalkan kawasan Harrison.
•••
Harrison's Company
Hanna merentangkan kedua tangan setelah ia menyelesaikan tumpukan kertas yang ingin ia robek lalu membakarnya itu. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan hampir jam 9 malam. Ia melupakkan jam makan Mogi dan Moka akhir-akhir ini karena kesibukkannya.
"Kau sudah selesai, Hanna?" Tanya Arthur yang mengambil jas kerja yang tergantung di sebelahnya. Lelaki itu meletakkannya pada lengan kanan dan berjalan ke arah Hanna.
"Sudah, Pak. Besok Pak Arthur hanya perlu memeriksanya kembali sebelum dibahas untuk rapat nanti." Arthur mengangguk mengerti.
"Saya tunggu kamu di bawah, dan saya tidak mau menunggu lama, Hanna." Peringat Arthur dan berlalu dari hadapan Hanna.
"Jika Pak Arthur ingin mengantar saya pulang, terima kasih. Tapi saya bisa pulang sendiri, Pak. Lagi pula ini masih belum terlalu malam." Arthur berhenti dan menoleh ke Hanna. Lelaki itu tersenyum. "Apa yang aku minta, akan kau turuti, Hanna. Kau ingat dengan perjanjian kita."
Hanna menghela nafas pelan. "Persetan dengan perjanjian itu. Aku membencinya namun aku menyukai perjanjian itu juga," ia mengucapkan dengan pelan dan hanya dia yang bisa mendengar. "Terlebih perjanjian ini membuat dia semakin keras kepala." Tambah gadis itu yang menggerutu kesal.
•••
Mobil milik Arthur meninggalkan kawasan perusahaan Harrison. Mereka—Hanna dan Arthur—seakan mengunci mulut mereka dan membiarkan rasa canggung mengelilingi mereka. Hanna pun tidak tau apa harus dia memulai pembicaraan tapi ia tidak mungkin melakukannya karena seperti tidak sopan. Mungkin.
Arthur hanya berdiam sembari memainkan ponsel miliknya. "Kau lapar?" Tanya Arthur tanpa melihat Hanna. Lelaki itu masih setia melihat ribuan tulisan yang terdapat dalam dokumen online.
Sekarang selain dia seorang yang keras kepala, ternyata dia seorang yang pekerja keras. Tepatnya dia seorang penggila kerja padahal jam kerjanya sudah habis. "Hanna, apa kau lapar?" Tanya Arthur kembali. Hanna tersadar akan lamunan yang kembali memikirkan Arthur.
"Tidak, Pak." Jawab Hanna. Namun sepertinya ucapan kali ini adalah kebohongan yang langsung diketahui oleh Arthur. Perut Hanna berbunyi seakan meminta untuk di isi. Arthur tersenyum kecil.
"Kita harus makan malam sepertinya." Kata Arthur sambil melihat ke Hanna sambil tersenyum. Tidak lupa ia menutup ponsel dan menyimpannya.
"Sebenarnya tidak perlu, Pak. Saya masih ada keperluan yang harus saya urus sekarang."
"Ingat perjanjian kita, Hanna. Mulailah untuk tidak selalu menolak."
Well, Mogi and Moka. Kau harus menunggu beberapa jam lagi.
-Hanna.
TO BE CONTINUE