The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 22 - Just Like Nicotine



Hanna bersandar pada sofa yang empuk di kamar hotelnya. Ya, mereka akhirnya sampai di Saipan setelah menghabiskan kurang lebih hampir 24 jam, sehari bukan?


Hanna memutuskan langsung mengistirahatkan tubuhnya karena duduk terlalu lama di pesawat serta betapa tidak nyaman ia duduk bersama dengan Arthur. Maksudnya, ia tidak bisa bergerak dengan bebas dan jantungnya juga seperti berdisko di dalam.


Terlebih dengan ucapan lelaki itu yang begitu tidak cocok untuk di dengar antar atasan dengan pegawai. Bagaimana jika saya memilih melihat kamu karena jauh lebih menarik untuk di lihat?


Apa aku sebegitu menariknya? Ia tidak merasa dirinya cantik. Seharusnya lelaki sukses seperti dirinya lebih memilih Charlotte sebagai orang yang menarik bagi Arthur, lalu kenapa harus dirinya yang dipilih?!


Hooh, Hanna hampir lupa jika lelaki itu membenci Charlotte. Hanna bisa melihatnya saat lelaki itu memarahi dan bersikap dingin serta cuek pada perempuan secantik dia—Charlotte.


Hanna memejamkan mata dan berusaha mengingat apa yang belum lama terjadi antara dirinya bersama dengan Arthur.


"Kau pasti bercanda, Pak. Bagaimana bisa saya menarik di mata Pak Arthur?" Hanna tertawa canggung.


"Saya tidak bercanda. Kau akan tau alasannya nanti, dengan sendirinya." Hanna semakin dibuat bingung oleh lelaki di sampingnya. Jawaban macam apa yang dia berikan, ini namanya pertanyaan!


"Bagaimana saya akan tau alasannya? Saya bahkan baru kenal Pak Arthur belum lama, baru beberapa bulan."


Arthur tersenyum. "Apa yang harus saya jawab. Jika saya jawab maka tidak akan menjadi spesial."


Spesial? Batin Hanna.


"Jika ini sebuah cerita, maka judul apa yang tepat?"


"Entahlah, Pak. Jika saya merupakan penulis cerita di dalam cerita ini, saya pun tidak mengerti alur apa yang tepat untuk ceritanya, dan pada akhirnya juga saya tidak melanjutkan alur cerita ini." Jelas Hanna yang membuat Arthur menyunggingkan bibirnya. Seakan lelaki itu bilang jika hal itu tidak akan terjadi. Ia akan menemukan sebuah alur yang akan membuat cerita itu tetap berlanjut.


"Bagaimana jika kita minum dan memesan beberapa makanan yang cocok menemani kita?"


Kita? Hanna membatin. "Saya tidak bisa minum." Tolak Hanna.


"Minum sedikit tidak akan membuat kau mabuk, Hanna. Lagi pula masih ada waktu sebelum kita sampai di Saipan." Hanna ingin menolak kembali namun apa untungnya jika pada akhirnya lelaki di sampingnya ini tetap kekeh dengan keinginannya. Siapa yang bisa menahan Arthur dengan keinginan nya?


Tidak ada.


Hanna menganguk sebagai jawaban. Entah apa yang dipikirkan lelaki ini, dia tersenyum dengan senangnya. Seakan mendapat hadiah dari lotre, padahal hanya minum bersama. Lagi pula, Hanna yakin Arthur sudah sering minum bersama wanita lain.


Arthur tidak bisa berhenti tersenyum. Ia tahu betul, perempuan seperti Hanna tidak akan kuat minum atau bahkan mereka tidak pernah minum. Jika begitu akan mudah bagi mereka yang tidak kuat minum akan mabuk.


Ini adalah taktik Arthur untuk lebih dekat dengan Hanna tanpa gadis itu ketahui. Seharusnya mereka tidur karena langit di luar sudah gelap dan hari berganti malam, sedangkan perjalanan pesawat ini masih sangat lama.


Tidak lama kemudian, minuman akhirnya datang. Arthur mulai mencari materi untuk bahan pembicaraan dengan Hanna. Sebenarnya ia tidak pandai untuk membuat pembicaraan karena ia tidak suka banyak omong dan lebih suka bertindak.


Mungkin saja ia tidak pandai dalam berbicara namun ia pandai dalam menggoda perempuan dan mungkin hebat di tempat tidur? Haha, bisa jadi itu keahlihan Arthur.


Hanna mengambil minuman pertamanya. Ia tidak begitu suka dengan rasanya, setelah beberapa kali meminumnya ia mulai menyukai minuman ini. Tubuhnya mulai panas dan mulai mengantuk seiring pembicaraan dirinya dengan Arthur. Dimulai dari pembicaraan tentang perusahaan, hobi, kesukaan dan lainnya.


Bahkan di section first class ini, hanya mereka saja yang masih sadar. Seperti tidak ada yang bisa menganggu mereka karena mereka asik berbicara. Disini mulai kedekatan antara Hanna dengan Arthur, meskipun begitu Hanna masih menganggap Arthur adalah atasannya, dan sebagai pekerja, ia masih mementingkan kehormatan.


"Hanna bilang pada saya apa first impression-mu terhadap saya?" Tanya Arthur dengan mata yang masih terang. Ia tidak sama sekali mabuk meskipun sudah minum banyak sekali. Arthur memang sangat kuat minum karena sudah dari dulu ia minum bersama dengan temannya.


"Menjijikan, pengganggu, dan...keras kepala." Arthur tersenyum menyunggingkan bibirnya, seakan ia sedang mendengar jawaban dari pertanyaan miliknya. Meskipun apa yang di lontarkan oleh bibir kecil itu bukanlah pujian melainkan keburukan dari seorang Arthur, ia tetap menyukai jawabannya.


"Bagian mana yang menjijikan? Apa aku selalu bau badan, kotor atau apa?" Tanya Arthur kembali. Ia benar-benar penasaran tentang apa yang gadis di depannya mendeskripsikan 'menjijikan' bagi Arthur."


Hanna tersenyum konyol. Ia menumpuh kepala pada tangan kanan dan menatap Arthur dengan mata setengah sadar. Meskipun begitu Arthur tidak mungkin menghilangkan kesempatan berharga ini untuk melihat begitu lucu nya gadis ini saat dalam keadaan mabuk.


Hanna menunjuk Arthur dengan telunjuk kiri dan mulai menunjukkan mimik wajah kesal ala anak kecil yang tidak diberikan permen lolipop oleh orangtuanya. "Kau...," Arthur cukup kaget mendengar kata pertama yang gadis ini panggil untuknya. Biasanya ia akan memanggil 'Pak'.


Jika saja ponsel Arthur masih full baterai, mungkin moment ini akan ia abadikan dan menjadi lelucon baginya. "Kau...Arthur! Apa kau tidak tau betap menjijikkannya dirimu. Biar ku jabarkan semua hal yang menjijikkan apa yang ku lihat dan dengar darimu." Hanna bertingkah sangat aneh dan sangat berbeda dari Hanna biasanya.


Memang minum alkohol akan menghilangkan alam bawa sadar sehingga apa yang di lontarkan dari mulut seorang yang sedang mabuk tidak di saring kembali, antara lain selalu berbicara ceplas-ceplos.


Arthur masih setia mendengar celotehan dari bibir kecil yang selalu bergerak melontarkan sebuah 'pujian' terhadap dirinya. "Pertama! Setiap jam 6 pagi aku selalu mendengar suara desahan yang membuat telingaku sakit. Itulah mengapa aku selalu malas untuk datang ke kantor pagi hari." Jelas Hanna dengan tingkah yang benar-benar sangat lucu. Mungkin ketika gadis ini bangun dan mengingat semua kelakuan yang terjadi sekarang, ia tidak akan mau melihat wajah Arthur lagi saking malunya.


"Kedua!," Hanna menaikkan jari telunjuk dan jari tengah lalu mendekatkan ke wajah Arthur hingga lelaki itu memundurkan sedikit wajahnya. "Kau se-la-lu menggoda perempuan! Apa kau tidak tau betapa menjijikannya itu?! Aku bahkan ilfeel tapi bagaimanapun aku masih bekerja sebagai sekretaris."


Arthur tidak menyalahkannya jika ia selalu menggoda perempuan atau melakukan adengan sexsual dengan sekretarisnya, tapi semua berubah ketika ia melihat Hanna yang berbeda.


"Hanna, cukup atas 'pujian'mu itu. Saya menghargainya dan kau bisa memberi pujianmu yang lain setelah kita sampai di Saipan nanti." Persetan dengan pujian itu, Arthur sebenarnya tidak tahan melihat Hanna sekarang. Bagaimana tingkah laku yang terlihat seperti anak kecil, melihat perempuan kesal atau marah, membuat Arthur gemas dengan Hanna.


Muka yang mulai memerah, dan mata yang setengah tertutup dan jika sedang kesal atau marah, mata itu akan kembali terbuka lebar. Rambut Hanna yang mulai berantakkan karena Hanna yang beberapa kali memainkannya. Bagaimana Hanna yang ia kenal bisa dalam sekejap berubah menjadi Hanna lainnya ketika mabuk?


Semua terlihat aneh sekaligus gemas. Arthur sedari tadi menahan untuk tidak mencium Hanna karena melihat betapa lincahnya bibir kecil itu terus bergerak melontarkan kalimat 'pujian' terhadap dirinya.


"Tidak usah aku katakan nanti, sekarang bisa ku katakan beberapa kalimat pujian untukmu, Arthur." Ujar Hanna dengan senyuman cengegesannya itu.


Arthur sedari tadi memperlihatkan gerak-gerik itu dan seakan mengundang dirinya untuk mencium gadis itu sekarang. Jika ia melakukannya tidak akan ada yang tahu karena semua sudah tidur. "Aku harap kau mengingat ini, Hanna." Ujar Arthur dengan senyuman kecil, oh, jangan lupakan dengan kata 'aku' yang sudah berubah dari 'saya'.


Arthur mengulurkan tangan menarik tengkuk gadis itu mendekat ke dirinya. Disaat itulah, bibir mereka bertemu dan Arthur mengulumkan seakan ini adalah candu baginya. Just like nicotine! Rasa minuman masih terasa di lidah mereka berdua. Mata terpejam dan menikmati setiap gerakan bibir mereka yang sedang berperang satu sama lain.


"Aku tidak benar-benar berciuman dengan Arthur sialan itu bukan?! Ah, kepalaku pusing mengingatnya, persetan dengan alkohol dan juga pujian sialan itu!"


TO BE CONTINUE