
Mendengar desiran ombak laut yang biru serta angin yang lumayan kencang meniup rambut panjang Hanna agar berlambai-lambai. Menutupi wajah Hanna yang sesekali gadis itu singkirkan dan menariknya ke belakang telinga.
Masih terjebak dalam pertanyaan, ia ragu untuk mengiakan. Ia tidak tau apa bayangan itu benar atau tidak, tapi dalam pikirannya mengatakan jika itu hal yang benar, namun hatinya menolak.
Katanya harus mengikuti hati daripada pikiran, bukan?
"Memangnya setelah minum ada kejadian apa? Saya...tidak mengingatnya." Jawab Hanna pelan-pelan. Arthur menyipitkan matanya sedikit dan menatap Hanna dengan tatapan yang tidak bisa di baca oleh Hanna. Sial! Apa yang di pikirkan Arthur?
"Kau yakin?" Tanya Arthur dengan wajah yang sedikit serius. Hanna mengangguk ragu. Lelaki itu langsung menghela nafas dan kemudian berjalan mendekati Hanna. Hanna memudurkan satu langkah ke belakang.
"Ada hal yang kau ingat setelah kau bangun...tidur?" Tanya Arthur kembali. Hanna mengernyitkan dahi dan menggigit bibir bawah bagian dalam. Ia menatap kearah lain dan mencoba agar matanya tidak bertemu dengan mata Arthur.
"Tatap orang yang sedang kau ajak bicara." Celetuk Arthur sambil menarik dagu Hanna denga halus ke arahnya. Mata mereka bertemu dan Hanna bisa melihat salah satu sudut bibir Arthur naik satu.
Setelahnya lelaki itu menghela nafas sebelum tersenyum. "Saya...tidak tau, Pak." Ucap Hanna pelan. "Apa kau mau saya membantumu mengingat?" Tanya Arthur dengan tangan yang mulai menarik pinggang Hanna.
"Maksud Pak Arthur apa?" Hanna mendorong dada Arthur agar tubuhnya menjauh, namun tangan Arthur masih di pinggangnya. "Kau pikir apa yang bakal saya lakukan?"
Hanna langsung mendorong dengan keras Arthur agar menjauh. "Maaf pak, tapi perlu saya ingatkan, anda dan saya hanya sebatas boss dan sekretaris." Ujar Hanna dengan nama kesal, ia langsung pergi setelah selesai berbicara.
Ia tidak akan diam lagi mulai sekarang. Ia ingin menjauh jika perlu ia keluar dari pekerjaan. "Kenapa bisa aku ketemu orang semacam dia?!" Celetuk Hanna setelah cukup menjauh dari tempat Arthur berada.
Arthur memasukkan kedua tangan di saku celana dan menyunggingkan bibir.
•••
Dewi malam pun muncul beberapa jam yang lalu setelah menggantikan pekerjaan matahari. Dengan di temani bintang-bintang yang bertebaran di langit malam, tidak ada yang perlu di takutkan untuk melewati gelapnya malam karena sinar mereka yang menerangi.
Hembusan angin dingin yang menusuk kulit dan suara desiran pantai yang begitu tidak asing di telinga setelah seharian di pulau Saipan ini. Banyak orang yang berlalu lalang di pinggiran jalan, ada juga tempat makan serta tempat seperti club di sepanjang jalan hotel.
"Siapapun yang memilih, tempat ini sangat bagus!" Ujar Melly sembari melempar pandangan ke setiap toko yang mereka lewati. Hanna tersenyum bangga karena Saipan adalah pilihannya. "Kau harus berterima kasih padaku." Balas Hanna.
"Jadi kau yang memilih? Oh my god, Hanna, thankyou! Darimana kau bisa mengetahui tempat seperti ini?!" Hanna hanya membalas dengan menyunggingkan bibirnya. Ia merasa bangga atas pilihannya.
Malam ini mereka akan pergi ke salah satu tempat makan yang sudah Hanna pesan sebelum keberangkatan mereka ke Saipan ini. Arthur tidak ikut dalam rombongan ini karena memilih untuk memakai mobil. Hanna merasa senang karena tidak harus melihat dia untuk sesaat.
"Hanna...." panggil Melly. Hanna menolehkan kepala.
"Bagaimana hubunganmu dengan Arthur?"
"Persetan dengan Arthur, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan dia! Oh my god, Melly. Kenapa kau selalu membicarakan dia? Kenapa tidak kau saja yang berpacaran dengan Arthur," Hanna menghembuskan nafas kesal.
"Jangan ganti topik, Mel. Jangan bicarain si Arthur itu lagi." Hanna langsung berjalan lebih dulu dan Melly terkekeh gemas.
"Hanna! Tunggu aku!"
Akhirnya mereka sampai setelah setengah jam berjalan kaki ke tempat makan yang mereka tuju. Lampu gantung yang menghiasi atap tempat makan ini menambah kesan indah dan menjadi nilai tambah.
Tempat makan ini bukan tempat makan mahal, namun mereka memiliki makanan yang sangat enak. Ia melihat beberapa ulasan tentang tempat makan ini, dan sebagian dari mereka menyarankan untuk makan disini. Jadilah Hanna memutuskan untuk memesan tempat untuk malam ini.
Sebelumnya ia sanksi untuk memesan tempat ini karena bisa di lihat dari kebiasaan Arthur yang sering menghabiskan uang. Ia bisa membaca jika lelaki itu tidak akan suka tempat ini. Tapi saat waktu ia menanyakan apa lelaki itu mau untuk makan di tempat ini, ia hanya menganggukkan kepala tanpa memeriksa.
"Lakukan yang terbaik untuk liburan ini, tidak usah tanya tentang harga atau apapun. Biar saya yang urus tentang biaya." Begitu yang diucapkan oleh Arthur saat ia bertanya.
Setelah Hanna selesai berbicara dengan seorang pelayan di tempat ini, pelayan tersebut mengantar Hanna dengan yang lain pergi ke tempat pesanan mereka. Mereka harus menyebrangi jembatan yang di bawahnya adalah air.
Hanna bisa melihat ada seseorang di ujung sana, tepatnya, tempat yang akan mereka tuju sekarang. Ia menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan meskipun tidak akan membantu sama sekali.
Dalam pikirannya sudah bisa menebak jika dia adalah Arthur. Kenapa harus berpikir keras lagi. Lelaki itu memakai mobil untuk datang ke sini.
Akhirnya mereka sampai di tempat meja makan mereka. Hanna tidak mau menatap Arthur sama sekali, namun Arthur menatap tajam Hanna. "Hanna, kemari." Panggil Arthur.
"Kenapa lagi sih!" Umpatnya dalam hati.
"Kamu tau selera saya, kan?! Kenapa harus memesan tempat ini, kita bisa memesan tempat makan yang lebih bagus!" Arthur memarahi Hanna di depan semua orang. Hanna benar-benar kesal.
"Kamu tidak tau kalau ini sudah malam? Angin malam sangat tidak bagus, saya tidak mau kalau mereka semua akan jatuh sakit karena ini." Lanjut Arthur.
"Ikut saya sekarang." Tangan Hanna langsung di tarik menjauh dari tempat Melly dan semua pekerja berada. Hanna ikut saja karena ia tidak bisa berbicara apapun, meskipun ia ingin sekali memuntahkan semua emosi yang terpendam.
"Bukannya waktu itu saya sudah tanya Pak Arthur, tapi Pak Arthur menerimanya. Jadi saya memesan tempat ini, dan Pak Arthur menyerahkan semua kepada saya." Kata Hanna sepanjang perjalanan dengan tangan yang masih di tarik Arthur.
Hanna mulai berbicara panjang lebar dan meluapkan semua emosinya. Hingga ia tidak sadar jika mereka sudah sangat jauh dari lokasi tempat makan. Arthur melepas tarikan tangan dan disaat itu Hanna tersadar.
Damn! Dimana ini? Hanna membatin. Di depannya hanya ada hamparan laut dan semuanya gelap. Rasa dingin semakin menusuk kulit dan ia mengusapkan kedua tangan ke tubuh serta ke kedua tangan.
"Ini dimana, Pak?"
"Saya juga tidak tau."
TO BE CONTINUE