The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 18 - First Class



A few months later


08.30 P.M


Hanna's House


"Astaga Melly! Nggak usah ribet deh bawa begituan. Percuma kalo bawa masker kesana, nanti pasti gak ada waktu buat pakainya."


"Yah, nanti kalo disana muka aku gak bagus buat foto gimana? Kan nanti gak ada foto yang bisa aku upload ke social media nanti." Hanna menghela nafas dan menggelengkan kepala.


"Oke terserah kau saja, Melly. Kita harus cepat-cepat packing lalu tidur. Besok kita penerbangan jam 8 pagi, dan Pak Arthur tidak menyukai orang yang terlambat."


"Oh ya, Hanna. Kau jangan lupa membawa pakaian renang. Kita harus bermain di pantainya! Terlebih kita disana harus bermain dengan lumba-lumba!" Ucap Melly dengan semangat tinggi.


"Tidak, aku tidak bisa berenang. Bagaimana jika aku memfoto kamu aja? Bukannya kau mau upload untuk social media?" Hanna memang tidak bisa berenang karena waktu kecil ia hampir meninggal di kolam renang karena kakinya kram.


"Aku tidak yakin dengan ucapanmu jika kau tidak akan berenang. Untuk jaga-jaga kau membawanya saja."


"Aku bahkan tidak memiliki pakaian renang, Melly."


"Kau memakai bikini saja, sudah bisa disebut pakaian renang, menurutku." Melly tersenyum dan kembali mengemas kebutuhannya di dalam koper besar tersebut.


"Bi-bikini?! Kau menyuruhku memakai pakaian seperti itu? Aku tidak mau!"


"Ya ampun, Hanna. Siapa yang akan mengomentarimu memakai bikini di pantai? Lagi pula di pantai pasti akan banyak yang memakai bikini atau ada yang lebih parah dari itu, maybe."


Hanna menggeleng cepat dan menutup koper lalu beralih ke tempat tidur. "Kau kabur lagi dari pembicaraan, Hanna. Kau harus mencoba hal yang baru," Melly pun ikut menutup koper dan menyusul Hanna di kasur.


"Lagi pula aku yakin, Si Arthur itu akan membuat sesuatu yang baru dihidupmu." Melly memejamkan mata namun ia masih berbicara.


Hanna masih mendengarnya walaupun matanya terpejam. Hingga lampu di matikan, baru ia memasuki alam tidurnya.


•••


Next Day,


06.00 A.M


Los Angeles Internasional Airport


Arthur baru saja sampai di Bandara Internasional Los Angeles. Ia keluar setelah pintu terbuka dan ia melirik jam di pergelangan tangan. Ia tidak terlalu cepat untuk datang jam segini.


"Kau tidak perlu menbantu saya membawa koper ini. Kembali dan aku menitip pesan untuk disampaikan ke Kenzo agar dia tidak membuat kondisi kamarku berantakan."


Well, terkadang Kenzo akan datang ke kamar Arthur untuk meminjam beberapa pakaian kerja seperti jas dan kemeja. Ia melakukannya bila ada pertemuan dengan seseorang yang penting yang mengharuskan Kenzo untuk berpakaian formal.


Sedangkan Kenzo hanya mempunyai banyak hoodie serta beberapa pakaian untuk bersantai karena memang ia mempunyai gaya pakaian yang seperti itu. Karena ia tidak suka maka ia hanya akan meminjam kemeja milik Kakaknya, bukankah ini terbilang hemat?


"Baik, Tuan."


"Dan boleh kau ambilkan satu trolley yang ada disana?" Arthur menunjuk sebaris trolley yang berada tidak jauh darinya. Orang yang di suruh pun menganggukkan kepala dan segera mengambilnya.


"Biar saya yang menaikkan koper ini ke trolley. Sekarang kau bisa pulang dan selama saya pergi, kau tidak perlu bekerja. Saya kembali kurang lebih 2 minggu." Kata Arthur lalu menaikkan koper besar hitam tersebut ke atas trolley.


"Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Tuan Arthur." Orang tersebut tersenyum senang dan membungkuk sebelum ia pergi meninggalkan Bandara ini.


Arthur mendorong trolley memasuki bagian dalam Bandara ini. Matanya menatap sekeliling dan mencari seseorang. Tidak lain adalah Hanna, Sekretaris miliknya. Miliknya?


Sebuah senyuman mengembang sesaat ia melihat seseorang di ujung kanan dari tempat ia berdiri. Disana ada dua gadis yang sedang duduk sambil bermain handphone.



Ps : hanya gaya pakaian bukan orangnya :)


Arthur mendekati dua gadis tersebut. Beberapa perempuan di sekeliling menatap Arthur yang berjalan dengan menawan, padahal di wajahnya ia tidak sedang tersenyum atau menebar pesona.


'Bukankah dia pemimpin perusahaan Harrison itu?'


'Dia sangat tampan!'


Beberapa bisikan lainnya yang memuji Arthur karena ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya. Arthur berdecih kecil dan mempercepat jalannya menuju Hanna.


Ia langsung duduk di sebelah Hanna dan matanya saling menatap dengan Hanna saat Hanna melihat siapa yang duduk di sebelahnya. Gadis itu langsung membulatkan matanya sesaat melihat Arthur, si pemimpin dan keras kepala itu duduk di sebelahnya.


"Pagi, Pak Arthur. Maaf sebelumnya karena saya tidak menyadari kedatangan anda." Arthur melepas kaca mata hitam miliknya dan mengangguk.


"Tidak apa, tetapi setelah ini kau harus membawa trolley dan kau boleh menaruh koper milikmu disana." Hanna mengangguk dan menghela nafas. Bekerja maupun tidak, jika masih ada Arthur disana, maka ia tidak bisa membantah segala permintaan dia.


Arthur memperhatikan sedikit gaya pakaian Hanna yang tergolong santai. Dengan rambut yang di kuncir kuda sehingga menampilkan leher jenjang milik gadis itu.



"Apa semua orang sudah datang?" Tanya Arthur pada Hanna.


"Ya, Pak. Kita tadi sedang menunggu Pak Arthur disini." Arthur mengangguk mengerti. Setelah itu ia meminta Hanna untuk mengurus boarding pass semuanya.


Tidak lama kemudian Hanna membawa semua boarding pass kepada Arthur. "Kau berada di kelas economy? Cepat ganti menjadi first class!"


"Tapi pak-"


"Oh jika kau mau bersama Melly, maka kau boleh memindahkan Melly ke first class." Hanna menghela nafas sebentar dan mengangguk.


Well, tetapi tanpa ia pinta, lelaki itu sudah mengerti apa yang menjadi keinginannya tadi. "Baik, Pak."


Melly yang mendengar namanya disebut oleh Arthur membuat kepalanya mengarah ke Hanna dan Arthur disana. Disaat Hanna menjauh dari Arthur barulah Melly berjalan mendekati Hanna.


"Apa yang kalian bicarakan hingga menyebut namaku?" Tanyanya penasaran.


"Karena Arthur menginginkan aku untuk berada di tempat duduk yang sama, sehingga aku di pindahkan ke First Class. Sementara aku tidak ingin karena kau tidak ada, dan pada akhirnya, Arthur juga memindahkanmu ke First Class. That's it!"


Melly membuka mulutnya. Ia tidak habis pikir dengan Arthur. "Biaya untuk First Class tidaklah murah bukan? Kenapa kau tidak mau jika tidak ada aku? Padahal aku dan aku masih satu pesawat!"


"Aku tidak mau terjebak dalam kecanggungan dengan Arthur." Melly memutar kedua matanya dengan jengkel.


"Tanpa adanya aku, pasti Arthur sudah bisa mengambil situasi disana. Sekarang kau tidak perlu mengganti tiketku. Berikan padaku!" Pinta Melly dan Hanna tidak memberikannya.


"Ini sudah menjadi perintah oleh Arthur. Bagaimanapun jika lelaki itu sudah berbicara maka harus di lakukan. Dia mempunyai banyak cara untuk membuat bibir kita tertutup." Ujar Hanna dan memberikan tiket ke petugas maskapai penjual tiketnya.


"Biar aku yang bicara dengan Arthur. Lagi pula bukan awalnya, Arthur hanya ingin bersamamu? Jikapun aku ikut, maka aku hanya akan menjadi nyamuk!"


"Hei! Kau kira aku dan dia memiliki hubungan spesial? Hubunganku hanya sebatas sekretaris dan boss."


"Ya ya ya, apapun yang kau bilang. Tetapi aku yakin pasti tidak lama lagi kalimat itu akan hilang." Melly tertawa kecil di akhir ucapan.


"Tidak mungkin hilang. Perbedaan kita bagai langit dan bumi. Dia seperti seorang bangsawan yang dibanggakan oleh semua orang, memiliki kekayaan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan, sedangkan aku hanyalah-"


"Kau merendahkan dirimu lagi. Hanna, ingat umurmu! Jika kau terus menerus menutup hati kepada orang lain yang ingin memasukimu, kapan kau akan mendapat pasangan?" Melly memegang kedua pundak Hanna.


"Katanya kau sudah melupakan dia dan maka oleh karena itu, coba kau buka hatimu untuk orang lain lagi." Tambah Melly dengan senyuman. Hanna menatap Melly.


"Tapi perbedaan dia dan aku-"


"Sekali lagi kau berbicara untuk membandingkan kekayaaan milik dirimu dengan orang lain, aku tidak akan menjadi temanmu lagi."


"Iya iya, aku janji. Hehe. Aku akan coba." Ujar Hanna dengan senyuman.


"Meskipun dia sudah kembali dengan status yang berbeda, kau jangan terjebak dengan masa lalu." Hanna mengangguk mendengar nasihat dari Melly.


Seseorang mendengar percakapan Hanna dan Melly dan ia tersenyum. Tidak perlu di tebak untuk siapa seseorang yang tersenyum itu karena sudah pasti mudah di jawab. Dia adalah Arthur Harrison.


Namun senyum itu seakan lenyap saat ia teringat jika ada seseorang dari masa lalu Hanna datang kembali dan ia penasaran dengan sosok tersenyum.


Well, jika Arthur sudah bertindak maka apapun bisa ia dapatkan dengan apapun.


TO BE CONTINUE