The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 5 - Pertama Kali Melihat



Hanna mengaduk kopi dan meletakannya di atas nampan. Ia membawa kopi itu dengan hati-hati hingga ke ruang Arthur. Ia benar-benar terlihat seperti pesuruh daripada menjadi sekretaris.


Jika saja waktu bisa berputar kembali, Hanna lebih memilih pekerjaannya yang dulu daripada pekerjaannya yang sekarang menjadi sekretaris. Belum lagi ia harus menerima kenyataan jika 2 hari ia bekerja tidak menyenangkan, ia tidak bisa bebas seperti dulu yang tidak terikat oleh Arthur untuk mengambil ini dan itu.


"Hanna! Bagaimana bekerja menjadi Sekretaris?" Tanya Melly yang tidak sengaja bertemu di lift. Hanna menghela nafas lemas. Ia menggelengkan kepala jika ia tidak suka dengan pekerjaannya sekarang. Jika ada banyak waktu dengan Melly, ia mungkin akan menceritakan panjang lebar semua yang ia lalui 2 hari ini.


"Melelahkan." Jawab Hanna singkat dan padat. Ia tidak punya banyak waktu karena lift ini akan berhenti di lantai yang di tuju oleh Melly. Melly menunjukkan wajah sedih namun kesedihan itu terganti dengan cepat dengan senyum semangat. Perempuan itu menepuk beberapa kali pada bahu Hanna tanpa menghilangkan senyuman itu.


"Kau hanya belum terbiasa, Hanna. Semangat! Aku keluar dulu, bye!" Kata Melly lalu keluar dari lift. Hanna mengangguk lemah dengan wajah sedihnya. Dirinya bersorak untuk bersemangat namun tidak bisa, ini melelahkan.


Ketika bunyi dentingan pintu lift terdengar, Hanna keluar dari sana dengan senampan berisi kopi milik Arthur, ia membawa nampan itu dengan hati-hati hingga ke depan pintu bertuliskan 'CEO'.


Namun tiba-tiba pintu terbuka dan Hanna tidak sigap untuk menghindar. Alhasil, nampan yang ia bawa tersenggol oleh pintu dan jatuh mengotori baju miliknya.


"Ups! Sorry, kalau jalan tuh pake mata, *****!" Ucap Wanita yang kemarin habis melakukan hal menjijikkan menurut Hanna. Ia ingin marah padanya saat mendengar penuturan 'maaf' darinya.


"Ups! Sepertinya apa yang anda ucapkan adalah cerminan diri anda. Saran saya, lebih baik lihat diri anda dulu sebelum bilang orang *****!" Hanna menyeringai sinis namun dirinya terbakar amarah. Baru dua hari bekerja menjadi sekretaris saja sudah ada masalah saja! Bagaimana kedepannya?


"Kopi saya mana? Dan kenapa kemeja kamu kotor?" Tanya Arthur saat melihat kemeja Hanna yang kotor karna tumpahan kopi tadi. Hanna menghela nafas pelan.


"Tadi saya-"


"Kemari." Ucap Arthur lalu menarik tangan Hanna pergi keluar kantor. Lelaki itu membawa Hanna ke sebuah toko baju yang menjual baju dengan harga tinggi.


"Pilih lah, saya akan menunggu kamu disini." Hanna mengerutkan dahinya menandakan jika perempuan itu sedang bingung. Bagaimana tidak lelaki itu langsung menarik tangannya dan membawa dirinya pergi ke sebuah toko baju yang menjual baju dengan harga tinggi. Bahkan harga satu baju adalah gajinya dalam 6 bulan.


"Tunggu apa lagi?" Arthur kembali membuka suaranya. Hanna dengan cepat mencari baju yang pas namun setelah melihat harganya ia menelan salivanya. Ia tidak mungkin membelinya!


"Eh Pak Arthur..bagaimana mana yah..sepertinya tidak usah. Lagi pula baju saya tidak begitu kotor." Pinta Hanna, ia berharap jika Arthur mengiyakan ucapannya dan membawa dirinya pergi dari toko baju ini.


"Tidak usah pedulikan harganya, cepat pilih baju kesukaanmu." Hanna merasa tidak enak hati. Ia tidak mungkin membeli baju ini dengan uang Arthur yang notabene adalah CEO dari perusahaan tempat ia bekerja. Apa kata orang nanti?


Namun ia tidak mungkin menolak permintaan Arthur. Dua hari ia bekerja dengan Arthur, ia sudah kenal dengan sifat yang tidak suka di bantah. Lelaki ini ingin apa yang ia pinta dilakukan, jika tidak, ia akan tetap memaksanya.


Hanna berkeliling dan melihat harganya. Tidak ada baju yang murah disini. Ia biasanya hanya membeli baju di toko baju murah bukan tempat ini. Terlebih jika ia bisa memilih, ia akan memilih untuk makan sepuasnya daripada membeli baju dengan harga sebesar ini.


"Sepertinya tidak cocok." Ucap Arthur dan berjalan untuk mencari baju yang lain. Lelaki itu mengambil dress bukan atasan. Hanna mengernyitkan dahinya karna bingung. Ia tidak memerlukan dress, ia hanya butuh atasan untuk ia berganti.


"Maaf Pak, tapi saya tidak tau kenapa Pak Arthur membawa saya ke toko ini." Ujar Hanna. Arthur tersenyum kecil dan berjalan mendekati Hanna dengan dress yang ia pilih di tangannya.


"Nanti saya akan bertemu dengan teman saya, dan tidak mungkin jika saya datang dengan seorang diri. Jadi saya memilih membawa sekretaris saya untuk mendampingi saya, belum lagi jika di lihat wajah kamu juga cantik." Jawab Arthur dengan panjang lebarnya. Hanna hanya menelan salivanya dan diam tidak bisa berkata.


"Tapi bukannya Pak Arthur ada tunangan?"


"Bukankah saya sudah bilang sebelumnya."


"Iya Pak." Hanna langsung mengganti dress tadi dengan baju kantornya yang kotor. Arthur yang melihatnya langsung menggelengkan kepalanya dan tangannya kembali memilih baju atasan.


"Kamu pakai ini, saya tidak suka jika ada yang memakai pakaian kotor di dekat saya." Ucap Arthur dan melempar pakaiannya ke Hanna, lalu gadis itu menangkapnya.


-Perusahaan Harrison-


Semua mata langsung tertuju kepada dua orang yang baru turun dari mobil. Gosip akan cepat tersebar karena satu, akhirnya mereka bisa melihat atasan mereka. Dua, pertama atasannya keluar dan terlihat ada seorang perempuan di sampingnya. Tiga, semua perempuan terpanah dengan ketampanan atasan mereka.


"Apa mereka baru mengenal saya seperti pertama kali kamu mengenal saya?"


"Maaf jika saya membenarkan ucapan anda. Kami-pegawai-disini sudah mencoba mencari wajah anda di internet namun gambar yang ada di internet tidak bisa di lihat atau tidak jelas," Hanna menunduk mengucapkannya. Ia melihat ke seluruh pegawai yang sedang menatap ke dirinya dan Arthur.


"Dan dari yang saya dengar. Jika mereka ingin menyampaikan langsung kepada anda, pasti ada yang menghalangi mereka. Sekretaris pertama anda yang selalu menghalangi mereka. Sebab itu jika banyak pegawai yang tidak mengenal wajah anda secara langsung maupun tidak." Jelas Hanna ke Arthur. Arthur tidak tau tentang ini. Memang benar apa keperluan untuk perusahaan ini pasti selalu sekretaris pertama yang menyampaikannya.


"Apa begitu?" Hanna menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan Arthur sebagai jawaban yang benar.


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupe like & comment, ya!


2020.08.20