The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 8 - Kedatangan Dia



Hari keempat Hanna bekerja di Perusahaan Harrison.


Hanna berlari dari tempat pemberhentian bus yang ia naiki. Dengan tergesa-gesa ia merapihkan baju yang dua kancing teratas belum sempat ia kancing. Selain itu rok span miliknya yang belum ia benarkan dengan rapi.


Setiba di lift, ia menarik nafas dalam-dalam sambil menatap tampilan dari pantulan di dalam lift. Ia kaget melihat penampilan yang jauh dari kata rapi. Ia kembali mengsanggul rambut miliknya lalu merapihkan baju dengan memasukkan kemeja ke dalam rok span hitam.


Selain itu ia merapihkan riasan di wajah dengan memberi polesan lipstick dengan warna natural serta bedak tipis di wajah. Ia tidak begitu tahu tentang tata rias wajah karena waktu kecil ia terbilang anak tomboy.


Hanna melirik meja sekretaris milik Karlie. Karlie sedang memoles make-up pada wajah yang ia dambakan pada semua orang. Jika Arthur tau kalau Karlie bukan bekerja,mungkin ia terkena sanksi atau mungkin 'hukuman' yang biasa ada di setiap bacaan tentang boss dengan sekretaris?


Oh! Untuk apa Hanna memikirkan ini. Ia tidak peduli apa yang Karlie lakukan dengan Arthur, yang ia pedulikan sekarang adalah ia telat masuk kerja! Apa hukuman yang pikirkan tadi terjadi padanya?


"Saya tidak percaya punya sekretaris sering terlambat." Ucap Arthur saat Hanna masuk ke dalam ruangan. Hanna mengernyitkan dahi dan mengigit bibirnya untuk menutup kegugupannya. Ia berjalan mendekat ke meja Arthur dengan mentautkan jemari tangan mungilnya.


"Maaf Pak Arthur, saya sudah bangun tepat waktu tadi, tapi saya ketiduran di kamar mandi. Maaf sekali lagi, Pak Arthur." Kata Hanna sambil menunduk beberapa kali. Ia tidak akan mengulangi kejadian tadi pagi. Ia tengah menggosok gigi dan duduk di atas closet namun ia tertidur disana.


Seseorang dari belakang Hanna tertawa kecil mendengar perkataan Hanna. Ia bingung kenapa ada yang bisa tidur di dalam kamar mandi. "Bagaimana bisa kamu ketiduran di kamar mandi, Hanna?"


Hanna hanya tersenyum kecil. "Err...aku terlalu lelah kemarin sehingga aku telat bangun tadi pagi."


"Alasan saja dia. Dan untuk apa kau kemari, Fred?" Alfred mendekat dengan kedua tangan yang ia masukkan ke kedua saku celana. Arthur memainkan pulpen yang ada di tangan dengan mencetek-cetekkannya.


"Pekerjaanku sudah selesai di kantor. Lalu aku bosan dan entah kenapa aku ingin bermain disini." Jawab Alfred. Sekarang Alfred dan Hanna berdiri berdampingan, jika di lihat dari postur tinggi badan antara keduanya. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat cocok.


"Sudah sana kamu balik kerja!" Suruh Arthur pada Hanna dengan nada kesal. Yang di suruh pun hanya mengangguk dan berjalan ke meja kerjanya.


"Maklumin Arthur, Hanna. Dia memang sering membetak orang kalau lagi kesal, tapi dalam lubuk hati, Arthur adalah lelaki yang baik." Alfred tersenyum pada Hanna. Hanna mengangguk kecil dengan senyuman kecil lalu pergi ke meja kerja.


"Thur, kalau dilihat Hanna baik. Jangan sia-siain dia. Kalau kamu nggak mau bisa kasih aku, lumayan untuk mengisi posisi sekretarisku yang ingin ku ganti."


"Engga ya, Fred. Waktu itu aku pernah kasih sekretarisku yang terbaik menurutku padamu karena aku menginginkan penthousemu di Jepang waktu itu."


Biasanya Arthur dan Alfred akan bertukaran sekretaris jika mereka ingin, dan yang di minta untuk tukar pun setuju-setuju aja asalkan ada taruhan. Karena kedua perusahaan ini sukses dan masuk dalam jajaran 10 besar dengan predikat terbaik.


Termasuk dulu Karlie adalah sekretaris Alfred. Namun karena taruhan penthouse milik Alfred yang berada di Jepang, Arthur menyetujuinya.


"Gimana kalau kita taruhan pulau? Kamu kasih Hanna lalu kamu dapat pulau." Tawar Alfred. Sesekali Hanna mendengar percakapana mereka. Rasanya ia ingin marah karena namanya selalu di sebut.


"Sekretarisku untuk yang ini tidak masuk ke list untuk di tukar. Hanna keluar dari taruhan ini. Dia special dalam list sekretaris dan untukku. Jika mau kau bisa ambil kembali Karlie dan aku akan kembalikan Penthousemu di Jepang. Lagi pula aku sudah punya Penthouse di Alaska yang lebih bagus dari milikmu." Arthur menyunggingkan bibirnya dan menyombongkan diri. Alfred tertawa menanggapinya.


"Oh okay. Penthousemu lebih bagus daripada milikku. Namun apa aku tidak salah dengar jika ada kata 'special'? Seberapa special kata itu?" Tawa Alfred terdengar.


"Limited Edition." Jawab Arthur singkat.


"Kamu kira Hanna adalah barang?"


"Iya barang yang susah untuk di dapat."


Hanna yang dari tadi mendengar namanya di sebut-sebut mulai penasaran. Ia ingin mendekat dan menanyakan lebih, namun tidak mungkin ia melajukan hal itu.


"Udah kamu balik sana ke perusahaanmu." Ucap Arthur dengan nada mengusir. Alfred mendengus kesal.


"Hanna, lihat atasan kamu mengusir-" Arthur langsung berdiri dan memukul pantat Alfred dengan menggunakan kakinya. Yang di pukul pun hanya tertawa sambil memegang pantatnya yang kesakitan.


"Hais kita hanya beda 1 tahun dan aku bukan adikmu." Ucap Arthur.


"Dasar bocah. Udah aku pergi dulu." Ucap Alfred lalu pergi, tapi dia mampir ke meja Hanna dulu.


"Hanna, kalau kamu sudah bosan kerja di sini pindah ke perusahaan saya aja. Langsung saya jadikan sekretaris pribadi saya." Ucap Alfred dengan nada yang cukup besar sehingga Arthur bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa dosaku punya teman seperti ini. Udah sana pergi!" Setelah Arthur mengucapkan itu, Alfred langsung pergi dengan di sertai tawa yang cukup besar.


Arthur kembali ke meja kerjanya dan mengambil kertas yang merupakan dokumen penting untuk perusahaan ini. Bukan hanya selembar tapi tumpukan tinggi.


"Maaf Pak. Jadwal hari ini tidak terlalu padat. Pada pagi hari Pak Arthur tidak ada acara penting. Pada siang hari akan ada rapat dengan perusahaan milik Delacour. Pada sore sampai malam hari, anda akan jalan bersama Nona Charlotte."


"Hilangkan yang terakhir, lebih baik saya jalan dengan kamu daripada dengan perempuan materialistik sepertinya."


"Tapi Pak, dia selalu mendesak saya dari-"


"Turuti ucapan saya saja. Dia tidak penting untuk saya." Setelah itu Hanna hanya mengangguk dan kembali meja kerjanya.


-Sore Hari, Perusahaan Harrison-


"Sudah saya katakan, Tuan Arthur tidak ingin menerima tamu." Ucap resepsionis kepada seorang perempuan berambut pirang dan tinggi. Tubuhnya bak model dengan kaki jenjangnya.


"Kamu ingin saya pecat?! Saya tunangan pemilik perusahaan ini! Cepat katakan saya akan langsung bertemu dengannya!" Ucap perempuan itu dan langsung berjalan ke lift yang akan membawanya ke lantai CEO.


Perempuan itu melewati meja sekretaris yang berada di luar dan membuka pintu tanpa aba-aba. Arthur yang berada di dalam hanya tenang karna ia akan tau kalau hal ini akan terjadi.


Hanna yang berada meja kerjanya hanya tenang namun hatinya berlawanan dengan sikapnya. Dari kemarin, wanita yang berada tidak jauh darinya selalu meminta untuk memasukkan acara dia dengan Arthur.


"Arthur sayang, kenapa kamu selalu menolak acara kita?"


"Kita? Kau saja. Lagi pula kau tidak penting bagiku."


"Kamu kok gitu." Charlotte mempoutkan bibirnya.


"Charlotte, harus berapa kali aku harus bilang jauhi aku dan jangan pernah berharap kalau aku akan menjadi milikmu. Karena aku lebih memilih sekretaris saya,Hanna, daripada kamu yang hanya memanfaatkan uangku."


Charlotte menatap Arthur lalu berpindah ke Hanna. Dia menatap Hanna dengan tatapan seperti ingin menikam dia.


Hanna yang dari tadi tau namanya di sebut-sebut semakin risih. Gadis ini hanya tidak ingin dirinya terkait dengan masalah mereka.


"Aku akan berubah sayang, kita juga akan segera tunangan. Kau tidak-" ucapan Charlotte terpotong oleh Arthur.


"Tunangan? Berubah? Cih! Kalau memang sejatinya busuk dia akan selamanya busuk." Charlotte yang mendengar ucapan Arthur semakin kesal. Ia tidak terima jika lelaki ini menginjak-injak harga dirinya. Tidak hanya itu, ia tidak terima jika seorang sekretaris bisa mengalahkan dirinya.


Ia langsung pergi keluar namun berhenti saat ia di depan meja Hanna. Gadis itu menatap tajam Hanna lalu keluar ruangan.


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


2020.09.08