
"Kau ingin makanan cepat saji atau makanan restoran?" Tanya Arthur sambil melihat Hanna. Gadis itu tanpa berpikir ulang, ia langsung memilih makanan cepat saji. Karena jika ia memilih makanan dari sebuah restoran, pasti Arthur akan membawanya ke sebuah restoran berbintang lima. Pada akhirnya, Hanna akan mempunyai utang dari Arthur.
Masih ingat dengan baju yang pernah Arthur belikan untuknya? Hanna hanya memakainya selama dua kali dan ia tidak pernah memakainya kembali karena takut kotor atau rusak.
"Kalau saya pikir ulang, sekarang sudah malam. Biasanya perempuan akan menjauhkan makanan cepat saji pada malam hari karena akan menaikkan berat badan-" Hanna langsung memotong pendapat Arthur tentang penyebab masalah berat badan itu. Well, sejak kapan seorang Arthur mengurusi dan membahas masalah berat badan seorang perempuan? Aneh.
"Tidak, tidak. Saya tidak mempersalahkan itu, Pak. Jika Pak Arthur menginginkan makanan cepat saji, tidak masalah. Pak Arthur-" Arthur memotong pembicaraan.
"Kau yang meminta, Hanna. Jelas-jelas tadi saya bertanya pada kamu dan kamu menjawab jika kamu menginginkan makanan cepat saji." Hanna benar-benar menginginkan untuk menarik rambut Arthur dan mencakar wajah tampan sehingga ketampanannya berkurang.
Setiap pertanyaan akan selalu ada jawaban. Terlebih dia hanya memberi dua pilihan yang antara lain adalah makanan saji dan makanan restoran. "Jika begitu, Pak Arthur tidak perlu memusingkan saya dan sekarang waktu semakin malam, lebih baik saya turun disini dan biarkan saya pulang sendiri."
Arthur menarik tangan Hanna untuk menahan gadis itu keluar. "Saya bahkan belum menyuruhmu keluar, Hanna," Hanna menatap ke arah tangan Arthur yang memegang pergelangan tangannya.
Hal ini tidak menjadikan Arthur untuk melepaskannya. Matanya masih menatap Hanna. "Oke, kita makan ke sebuah restoran. Jangan banyak tanya, dan ikut saya saja. Kau tidak perlu memusingkan harga, biar saya yang tanggung." Lanjut Arthur.
Well, tidak mungkin lelaki itu akan memilih makanan cepat saji karena tidaklah sehat. Dia pasti akan memilih sajian makanan dari restoran berbintang dan harganya setinggi langit jika dibandingkan dari harga makanan yang Hanna beli.
"Kemanapun kau pergi bersama saya, maka anggap semuanya adalah gratis." Ucap Arthur yang membuat Hanna tidak mengerti. Apa maksud perkataan Arthur?
Dia akan membayar semua akomodasi dari transportasi, makanan, dan lainnya? Well, Hanna tidak terkejut mendengarnya. Tetapi, Hanna bukanlah seorang perempuan yang mudah menerima hal seperti ini walaupun terdengar menggiurkan baginya.
"Anda pasti bercanda, Pak Arthur. Saya tidak ingin membebani anda dan lagipula saya bukan orang yang mudah menerima tawaran seperti itu, Pak Arthur." Tolak Hanna yang menerima senyuman dari Arthur.
"Saya tidak memberikan kamu tawaran, saya hanya ingin kamu menganggap itu dengan gratis."
"Maka saya tidak akan menganggap itu gratis, Pak Arthur. Ini seperti saya yang merasa di untungkan dan Pak Arthur yang di rugikan karena telah mengeluargan biaya yang besar untuk saya. Padahal biaya yang dikeluarkan masih bisa saya tanggung."
"Baiklah kau menolaknya, tetapi saya masih akan melakukannya. Dari seluruh sekretaris yang pernah saya pekerjakan, hanya kamu yang berbeda," kata Arthur. Hanna tidak merasa istimewa saat mendengar pujian dari Arthur. "Apa yang barusan kamu tolak, biasanya sekretaris terdahulu akan menerima dan bahkan saya yakin Karlie akan senang menerimanya. Oleh karena itu, apa yang kamu tolak masih akan saya lakukan untuk membalas semua kerja keras kamu, Hanna."
"Apa yang saya kerjakan, sudah menjadi tanggung jawab saya, Pak. Jadi Pak Arthur, tidak perlu memberi saya sebuah hadiah dengan apa yang Pak Arthur tawarkan tadi." Hanna tersenyum kecil.
"Terserah apa yang kamu bilang, tapi saya masih tetap melakukannya."
Hanna mengehela nafas dan memilih untuk mundur. Bagaimana pun sebuah benteng yang dimiliki dia, sangat susah untuk di masuki oleh siapapun. Mungkin hanya ada satu cara yaitu memilih mundur dan perlahan mendekati atau memilih putus asa lalu pergi.
Hanna tidak bisa memilih putus asa karena ia masih membutuhkan pekerjaan ini untuk membayar semua kebutuhan miliknya. Jikapun ada pekerjaan lain, pasti Hanna akan memilih pekerjaan barunya itu. Well, sampai sekarang ia belum mendapatkan pekerjaan baru karena tidak punya waktu untuk mencari pekerjaan yang memiliki gaji besar seperti ini.
Beruntungnya Hanna cukup sabar untuk menghadapi seorang Arthur, tapi bagaimanapun kesabaran ada batasnya.
Tidak disadari oleh mereka—Hanna dan Arthur—karena terlalu asik berdebat, perlahan mobil yang mereka naiki telah sampai di depan sebuah restoran jepang. Arthur turun terlebih dahulu dan Hanna pun melakukan hal yang sama.
Hanna menunggu Arthur untuk jalan terlebih dahulu untuk memasuki restoran yang akan menghidangkan sejumlah makanan khas Jepang. Sejujurnya, Hanna tidak terlalu suka makanan Jepang karena ia memang kurang cocok. "Kau pernah memakan makanan Jepang, bukan?" Tanya Arthur setelah mereka telah mendapat tempat duduk.
"Kau bisa memakannya? Jika tidak kita bisa pergi sekarang dan mencari restoran lainnya." Hanna ingin mengajukan jika ia ingin mengganti restoran lain, tapi ia tidak bisa karena ini restoran yang Arthur pilih untuk makan. Hanna yakin jika Arthur pasti sedang menginginkan untuk memakan makanan Jepang.
"Saya bisa memakannya, Pak. Kita tidak perlu pindah ke restoran lain, lagi pula tidak ada restoran yang buka di jam semalam ini." Kata Hanna. Arthur mengangguk kecil.
Ini kedua kalinya Hanna makan malam bersama Arthur. Masih ingat makan malam pertama Hanna dengan Arthur pada saar acara pertemuan kedua keluarga yang ingin menjodohkan kedua anaknya? Lebih tepatnya Arthur dengan Charlotte.
Jika dihitung sudah hampir dua minggu sejak makan malam tersebut. Bahkan komentar pedas Keyna masih diingat oleh Hanna dengan jelas saat itu. Well, sebenarnya Hanna tidak ingin mengingatnya tapi karena makan malam saat ini, ia kembali mengingatnya.
"Kau berpikir tentang makan malam saat itu?"
Hanna mengerutkan dahi. Bagaimana Arthur dapat mengetahui apa yang dipikirannya? Apa dia seorang cenayang? Ini bukan pertama kali Arthur selalu dapat mengetahui apa yang Hanna pikirkan. Aneh!
"Ya, tapi saya tidak ingin memikirkannya sekarang." Arthur mengangguk mengerti.
Hari ini Hanna merasa Arthur selalu ada di setiap kegiatannya. Pagi hari, siang hari, sore hari, hingga malam hari, semuanya penuh dengan nama Arthur. Bahkan jika dulu Mogi dan Moka yang selalu mengisi harinya, berbeda dengan sekarang yang selalu ada Arthur disana.
Hanna yakin besok tidak jauh berbeda dengan hari ini. Bagaimanapun dimana Hanna pasti selalu ada Arthur, karena lelaki itu seakan mengurung Hanna untuk selalu disisinya. Padahal Hanna dan Arthur tidak memiliki hubungan khusus.
•••
Harrison's mansion
Kenzo baru selesai membersihkan diri dan ia berjalan ke closet room miliknya. Dengan rambut basah yang menetes ke kulit wajah dan handuk putih melingkar di pinggang, Kenzo terlihat sangat sexy dan menggoda disaat itu. Well, tidak hanya 'saat itu' namun dimanapun lelaki itu berada pasti selalu ada komentar sexy untuknya.
Tapi lebih tepatnya, disaat lelaki itu bermain di tempat yang selalu menjadi favoritnya. Jangan kalian pikir tempat favoritnya adalah sebuah ranjang untuk 'bermain' disana. Tempat Gym adalah tempat favoritnya dan disana perut yang disebut sixpack selalu menjadi pusat untuk dilihat.
Kenzo menggeser beberapa pakaian sambil mencari sebuah hoodie yang akan ia pakai untuk pergi ke sebuah supermarket. Kenapa tidak menyuruh supir saja? Karena Jess bilang jika malam hari adalah waktu untuk para pekerja beristirahat.
Bruk!
Sebuah kotak berwarna biru yang telah pudar dan berdebu. Kenzo mengingat kotak apa itu. Itu adalah kotak semasa ia remaja dan ia pakai untuk menaruh semua barang yang pernah diberi oleh seseorang.
Kenzo mengambil sambil tersenyum dalam hati. Ia duduk sofa yang ada di closet room dan membuka kotak biru yang telah usang tersebut. Sejumlah surat yang sudah ia baca dan beberapa barang yang selalu ia jaga.
Setelah melihat semua barang yang ada di kotak berwarna biru tersebut. Ia kembali menaruh kotak tersebut ke tempat awal, namun ia menemukan sebuah kotak yang asing. Kotak berwarna merah dengan sedikit motif garis berwarna putih.
Ia mengambil dan membuka dengan rasa penasaran.
"Surat?"
TO BE CONTINUE