
Kenzo merangkul Arthur dihadapan Jess. "Kau terpanah melihatnya, Jess? Kau bisa mengambilnya dengan bebas." Kenzo memang selalu suka bercanda jika bersangkut dengan Arthur. Dulu tiada hari jika kedua bersaudara ini tidak bertengkar, hanya karena masalah kecil, mereka selalu saja bertengkar. Hanya satu yang menjadi masalah, Arthur tidak suka diusili dan Kenzo yang suka mengusili Arthur.
Hubungan mereka seperti film animasi kucing dan tikus. Mereka bersama namun tiada hari jika tidak ada pertengkaran.
Kenzo menatap Jess sambil menyengir lalu beralih kepada Arthur tanpa menghilangkan cengiran usilnya itu. Namun cengiran itu langsung hilang sesaat melihat tatapan dingin dari Arthur. "Easy, Bro. Kau tidak merindukanku? Kita sudah lama tidak bertemu, tanpa videocall, tanpa mengirim kabar. Kau tidak ingin menanyakan kabar adikmu semata wayang ini?" Tutur Kenzo panjang lebar.
Arthur hanya menanggapi dengan helaan nafas kesal dan memilih pergi dari Kenzo. "Kenz, Kenz. Kau terlalu bawel untuk ukuran cowok. Aku baru menyadari itu." Jess menepuk bahu Kenzo berkali-kali sembari menggelengkan kepala.
"Tidak, aku hanya ingin seorang kakak memperhatikan adiknya. Seorang kakak harusnya menanyakan bagaimana kabar adiknya setelah lama tidak bertemu bahkan berkomunikasi. Apa aku salah?" Jess mengambil nafas dan memebetulkan. Memang benar jika Kenzo berpikiran seperti itu, tapi mungkin saat ini kondisi Arthur yang tidak bersahabat atau memang dia mempunyai sikap yang seperti itu.
"Terima kasih atas nasihatmu, Jessica Correlin. Tapi lebih baik jika aku harus pergi menyusul kakakku karena aku akan pulang bersamanya."
"Baiklah, kalau begitu aku juga harus pulang. Jangan lupa untuk berbicara dengan kakakku soal makan malam kita besok bersama yang lain, dan pakai cara apapun untuk memperbolehkan Hanna ikut kita besok." Pinta Jess sebelum gadis itu pergi dari hadapan Kenzo setelah melambaikan tangan pada lelaki itu.
"Semoga aku berhasil." Gumam Kenzo dalam hati. Ia sedikit ragu untuk membuat Arthur bisa menerima permintaan untuk memperbolehkan Hanna pergi makan malam besok.
•••
Sepanjang perjalanan Kenzo dan Arthur tidak membuka suara apapun. Sial, Kenzo benci dengan keheningan, keadaan seperti ini membuat rasa canggung muncul di dalam mobil ini. "Apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Arthur tiba-tiba.
Kenzo menggaruk tengkuk leher. "Besok aku akan merayakan kedatanganku kembali bersama teman-teman sekolahku dulu-"
"Langsung ke intinya, Kenzo." Arthur memotong ucapan Kenzo yang menurutnya hanyalah basa-basi dan sangat tidak penting.
"Biarkan Hanna untuk ikut makan malam-"
"Tidak, dia banyak urusan bersamaku."
"Ayolah Kak, aku sudah lama tidak berkumpul-"
"Jika aku bilang tidak, maka tidak bisa!"
"Kenapa kau selalu memotong pembicaraanku?!" Kenzo merasa tidak adil disini. Kenapa Arthur selalu memotong setiap pembicaraannya, apa itu hobi baru milik Arthur selama Kenzo pergi ke London.
Arthur tidak menjawab tetapi ia menelpon seseorang. Setelah panggilan itu terhubung, Lelaki itu baru membuka suara. "Ada perubahan jadwal, aku menginginkan kau sudah memberikan data tentang jalan-jalan karyawan pertengahan tahun di perusahaan kita dalam 2 hari." Kenzo mendengar dengan jelas ucapan Arthur yang memerintah bawahannya. Sial, bahkan sikap persuasifnya tidak bisa hilang karena keras kepalanya.
"Kau tau bukan tentang perjanjian kita. Kita sama-sama beruntung dalam perjanjian ini." Arthur memutuskan panggilan setelah mengucapkan kalimat terakhir itu.
Kenzo memulai membujuk Arthur untuk memperbolehkan Hanna pergi makan malam bersamanya. "Ayolah Kak, biarkan Hanna pergi dan kumpul bersama teman lamanya. Kau juga sering berkumpul dengan Kak Alfred, dan ya siapapun yang dekat denganmu-"
"Terserah, coba kau tanya pada Hanna sendiri. Apa dia bisa atau tidak." Arthur menatap kaca sambil tersenyum kecil. Bahkan senyumnya tidak bisa di lihat.
Kenzo melirik dengan perasaan ragu pada Arthur. Sial! Kenzo tau betul bagaimana sifat Arthur yang tidak mungkin dengan mudah melontarkan pertanyaan seperti itu. Arthur pasti akan memberi jawaban pasti jika ia memang tidak suka.
"Berhenti melirikku, Kenzo." Kenzo langsung menatap jendela di samping yang menampilkan deretan toko-toko yang mulai tutup.
•••
Harrison's Mansion
Sesampainya di kediaman Harrison. Arthur turun dari mobil setelah pintu mobil dibuka oleh petugas di depan pintu utama. Lelaki itu melenggang melewati deretan pelayan yang ditugaskan untuk membawa jas dan tas lalu sisanya untuk menyambut.
Kenzo tidak heran melihat mereka—pelayan—karena dari ia kecil memang sudah diberlakukan sistem ini. "Hi, Mona. Aku kira kau sudah berhenti." Ujar Kenzo pada seorang pelayan yang sudah berusia.
"Tidak mungkin, Tuan kecil. Keluarga anda sangat baik pada saya, tidak mungkin jika saya tidak membalasnya." Kenzo mengangguk.
"Hais panggilan itu masih ada di ingatanmu. Memang aku yang terkecil di keluarga ini, tapi berhentilah memanggilku tuan kecil. Aku sudah besar sekarang," Mona tertawa ringan menanggapi Kenzo.
"Panggil aku Kenzo."
"Baiklah, Kenzo." Kenzo tersenyum mendengar nya. Akhirnya panggilan dengan embelan 'kecil' itu hilang mulai sekarang. Ia benci dengan panggilan itu walaupun ia memang paling terkecil di keluarga ini.
"Kak, dimana Mama dan Papa?"
"Aku tidak tau. Mungkin mereka sedang ada urusan penting diluar sana." Arthur menaikkan kedua bahu dengan tampang muka tidak minat untuk membicarakan mereka. Ia sangat tau apa yang sedang Keyna dan Vincent bicarakan. Tidak jauh dari pertunangan dengan Charlotte.
"Bahkan mereka sama sepertimu? Astaga, apa kalian tidak tau dengan kedatanganku?!"
"Ya. Kami sedang sibuk. Mom and Dad sedang berurusan dengan sesuatu yang tidak penting dan aku sedang sibuk...juga." Kenzo mendengus kesal.
"Padahal aku memberitahukan kepada kalian 2 hari sebelumnya. Apa kalian tidak melihat e-mail?" Arthur mengangguk sebagai bentuk membenarkan. Kenzo menatap kosong Arthur dan membuka mulutnya berbentuk 'O'.
"Kenz, kau terlalu melebih-lebihkan. Kau tau kenyataannya." Arthur meninggalkan Kenzo dan beralih ke kamar di lantai 2. Kenzo memilih duduk di sofa ruang tamu.
Dilain sisi, Arthur melepas dasi dan duduk di sofa dekat ranjang. Ia berpikir tentang Hanna dan bagaimana cara menakhlukkan Gadis itu. Ia tertarik pada Hanna tapi ia begitu susah karena perempuan itu seperti ingin menjauh.
Beruntung karena perjanjian itu dan Arthur bisa menggunakannya untuk membuat gadis itu lebih dekat dengan dirinya. Selanjutnya, ia beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
•••
Kenzo masih di ruang tamu dan masih pada posisi yang sama. Ia mengeluarkan ponsel dan mendial seseorang.
"Kenapa?"
"Kau tidak berniat menyapaku dulu dengan hello atau hi, or something?" Kenzo tertawa ringan di akhir.
"Tidak, tidak. Aku terlalu malas untuk melakukannya, Kenz. Cepat aku ingin menonton serial film kesukaanku."
"Baik-baik. Berikan aku nomor ponsel Hanna. Aku lupa memintanya waktu kita bertemu."
Terdengar helaan nafas disana. "Kau hanya meminta itu? Kenapa harus menelpon? Kau benar-benar mengangguku." Kenzo hanya berdecak dan membuang nafas.
"Kenapa kau marah hanya karena aku mengganggumu walau hanya beberapa menit saja? Aku tidak membuatmu disini bersamaku selama satu jam!"
"Tidak, tidak. Aku tidak marah dan sekarang kenapa kau marah padaku?"
"Terserah, Jess. Lebih baik kau berikan aku nomor telepon Hanna." Kenzo mendadak tidak mood untuk berbicara dengan Jess. Ia bingung kenapa ia dan Jess sangat sering bertengkar hanya karena masalah kecil.
Jess memutus telponnya dengan sepihak. Namun tidak lama sebuah notifikasi muncul pada layar ponsel milik Kenzo. Lelaki itu membalas pesan Jess dengan singkat, ia masih tidak mood dengan gadis itu.
Tidak menunggu lama, Kenzo mendial nomor yang baru ia dapat dari Jess.
"Hi."
"Siapa ini?"
"Aku Kenzo. Apa aku menganggumu?"
"Tidak. Hmm sebenarnya ya sedikit. Aku sudah mau tidur dan tiba-tiba kau menelpon, dan ya begitu."
"Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin bertanya apa kau akan ikut besok malam?" Kenzo menggerakkan telunjuk jari tangan dan mengetuk-ngetukkannya pada paha miliknya.
Terdengar suara decakan disana. "Sebenarnya aku ingin ikut dengan kalian. Tapi kau tau, kakakmu baru saja merubah jadwal dan aku harus mengerjakannya dengan cepat. Dia memberiku waktu yang singkat." Kenzo menghela nafas diakhir. Sekarang ia benar-benar ingin membuat wajah Arthur menjadi tidak tampan.
Sial kau, Arthur! Sekarang aku benar-benar ingin datang ke kamarmu!
-Kenzo.
"Apa tugasmu itu sangat penting dari reuni kita?" Cukup lama Hanna menjawab pertanyaan ini.
"Begini, menurutku tidak penting tapi menurut kakakmu dan yang lain penting," Kenzo menyisir rambut dengan sela-sela jari tangannya. "Bagaimana kalau mengganti jadwal makan malam saja?"
"Aku bisa, tapi kita harus coba tanya dengan Jess dan Melly."
"Tapi, Kenz. Kemungkinan aku memiliki jadwal kosong bulan depan." Kenzo kembali menghela nafas. Ia bangkit berdiri dan mengambil nafas dalam. Ia benar-benar kesal pada Arthur. Kenapa Arthur selalu membuat Hanna kesulitan untuk bertemu dengan temannya?
"Hmm, baiklah. Maaf mengganggumu. Night, Han." Setelah mendengar balasan dari Hanna, telpon itupun terputus. Kenzo berjalan mendekati tangga dan naik ke lantai 2. Ia berjalan ke arah kamarnya yang berdekatan dengan milik Arthur.
Kenzo melewati kamar miliknya dan berdiri di hadapan pintu kamar milik Arthur. Keinginan untuk memukul Kakaknya semakin membesar. Ia menaikkan tangan kanan untuk membuka kenop pintu, namun belum sempat tangan Kenzo mengenai kenop pintu. Pintu tersebut sudah terbuka sendiri dan memunculkan sosok Arthur dengan rambut basah.
"Kenapa kau berdiri di kamarku?" Tanya Arthur.
"Hmm...aku lupa dengan letak kamarku." Arthur tertawa kecil.
"Kau tau kalau itu adalah jawaban yang bodoh, Kenz. Sekarang kau menyingkir dari hadapanku." Kenzo bergeser ke sebelah kanan dan Arthur melewatinya.
"Kau memang bodoh, Kenz. Bagaimana bisa kau menjawab seperti itu jika kau jelas-jelas masih melihat gantungan huruf 'K' di depan pintumu." Ucap Kenzo bermonolog.
TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
2020.09.09