
"Malam ini, temani aku makan malam bersama keluargaku." Ucap Arthur dengan posisi yang sama, dagu menyentuh bahu Hanna. Hanna memutar setengah badannya sehingga berhadapan dengan wajah bak dewa yunani milik Arthur. Arthur tidak melepaskan lingkaran yang mengurung Hanna untuk tetap di pelukannya. "Bagaimana?" Tanya Arthur sekali lagi.
Hanna mengigit bibir bawahanya dan sedikit menghela nafas. Kemudian ia mendorong Arthur agar melepaskan pekukannya dan bangkit bediri dari pangkuannya. "Maafkan saya." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hanna. Bukan kata itu yang harus ia keluarkan saat ini, hatinya sudah kalah dengan pikirannya. Arthur menarik Hanna untuk lebih dekat. Posisi Arthur yang masih duduk di kursi dan Hanna yang berdiri di hadapannya. Arthur menaikkan kepalanya agar bisa melihat Hanna, ia menatap gadis yang ia sayangi itu dengan lekat dan hangat. "Pikirkan kembali ucapanku. Aku benar-benar ingin menjadikanmu wanitaku." Kata Arthur, ia tersenyum dan meremas sedikit tangan Hanna yang ia tarik.
Hanna mengangguk pelan. Benar. Ia tidak bisa betumpuh pada pikirannya terus-menerus. Ia sudah lama tidak merasakan kehadiran seorang lelaki di hidupnya selain Kenzo yang ia kenal sebelum lelaki itu pergi bersekolah di luar negeri. Apa sudah waktunya ia mencoba mengizinkan Arthur untuk berlabuh di hidupnya? Walaupun ia tau, jika ia menerima sosok lelaki itu maka bukan hanya satu yang ia lawan nanti.
"Thankyou, Han." Kata Arthur, ia bangkit berdiri dan memeluk Hanna erat. Gadis itu bahka tidak bisa bernafas. "Pak, saya gak bisa bernafas." Kata Hanna, ia menepuk-nepuk dada Arthur agar lelaki itu melepaskannya. Ia menarik nafas setelah pelukan itu terlepas.
"Sekarang coba kamu panggil aku dengan Arthur, tidak ada embel-embel Pak atau panggil diri kamu dengan saya. Sekarang pakai aku-kamu denganku." Pinta Arthur.
"Kalau hubungan sudah resmi, baru saya pakai aku-kamu." Kata Hanna. Arthur menaikkan satu alisnya, dan melihat Hanna dengan senyuman hangat. "Kalau begitu resmikan sekarang!" Balas Arthur dan menarik Hanna ke dalam pelukannya lagi dengan satu tangan di pinggang.
"No! Sabar, Pak." Ucap Hanna, ia tersenyum jahil dan melepaskan pelukan Arthur pada pinggangnya. "Saya masih ada pekerjaan, jadi mari kita bersikap profesional." Tambahnya.
"Kita?" Ucap Arthur. Lelaki itu melihat Hanna yang berjalan ke meja kerjanya. "Kerjakan setengah saja, nanti kau tidak ada waktu untuk bersiap-siap untuk makan malam nanti. Ini perintah dari atasanmu." Kata Arthur dengan dagu bertumpuh pada kedua tangannya.
"Apa saya sudah menyetujui acara makan malam, Pak?"
Arthur benar-benar dibuat gemas dengan Hanna. Ia ingin menyeret gadis itu yang sudah berani mempermainkannya. Tidak seperti Hanna yang diam dan dingin seperti kemarin. Bukan juga Hanna yang ia temui pertama kali. Hari ini Hanna sangat jahil dan sudah berani dengannya. Jadi, apa Hanna sudah menerimanya?
•••
Menjelang malam hari, Hanna melakukan perawatan terbaik yang ia miliki untuk tubuhnya. Ia bahkan sangat lama di kamar mandi. Tidak hanya itu, dia juga cukup lama memilih pakaian hingga bunyi bel menghentikan aktivitasnya. Kakinya berjalan menuju pintu rumah dengan kedua anjing yang sudah besar mengekori dari belakang.
"Paket anda, Nona." Kata pengirim itu, Hanna mengerutkan dahi. Ia tidak memesan apapun. Paket dari siapa ini? Apa dari Arthur? Ketika ia menerima paket itu, ia bisa melihat nama pengirim, sama seperti yang ia pikirkan. Dia adalah Arthur. Senyuman di wajah Hanna tidak bisa di hindarkan ketika ia membuka paket dan menemuka surat disana. Ia membuka dan disana hanya tertulis, "Aku akan menjemputmu nanti jam 6."
Arthur akan menjemputnya?! Lelaki itu bahkan tidak pernah mengantarnya. Apa dia memeriksa CV miliknya? Tunggu, apa Hanna sudah menganti alamat pada CV itu? Seingat dia sudah.
Hanna : kau tau rumahku?
Kemudian Hanna menutup telpon pintar miliknya setelah mengirim pesan kepada Arthur. Tidak lama, ponselnya kembali berbunyi. Namun itu panggilan telpon.
"Kau tau rumahku?"
"Tentu saja! Rumahmu yang di xxx, bukan?"
"Iya benar. Tapi aku belom selesai bersiap-siap, bagaimana jika Pak Arthur berkeliling dulu selama 20 menit?" Tanya Hanna.
"Tidak perlu, aku bisa menunggu di rumahmu. Tidak ada tolakkan!" Setelah itu sambungan terputus. Hanna mengedipkan mata berkali-kali dan kemudian ia langsung meluncur ke kamarnya untuk bersiap-siap setelah mengirim pesan ke Arthur.
Hanna : langsung masuk saja nanti, aku tidak mengunci pintuku.
Setelah membaca pesan dari Hanna, Arthur tidak bisa berhenti tersenyum. Apa dia tidak sadar sudah memakai aku-kamu selama perbincangan ini? Apa memang dia sudah sengaja? Sungguh! Hanna mampu membuat Arthur terkesima seperti ini. Ah, dia sangat gemas! Bagaimana penampilan Hanna nanti? Apa gaun yang ia pilih terlihat cantik di tubuhnya? Membayangkannya saja sudah membuat Arthur berpikir yang tidak-tidak.
Mobil mewah miliknya terparkir di halaman rumah Hanna. Dengan tubuh tegapnya yang dibalut dengan kemeja hitam dan celana putih, ia terlihat begitu tampan. Lengan kemeja yang tergulung rapih memperlihatkan urat-urat tangan yang terlihat sangat keren. Ia membuka pintu rumah Hanna dan ia disambut dengan dua ekor anjing.
"Hello, dimana pemilikmu?" Tanya Arthur pada dua ekor anjing itu. Dua ekor anjing itu menjawab dengan howling mereka. Arthur hanya tersenyum menanggapi dan mengelus kepala anjing itu.
"Oh, Pak Arthur sudah datang. Maaf jika saya membuat anda menunggu lama," kata Hanna. Arthur menelan salivanya dan dirinya dibuat tertegun dengan penampilan Hanna. Arthur ingin sekali membawa Hanna ke ranjang dan melakukan adengan yang panas. Oh, Arthur bahkan sudah puasa melakukan hal itu karena Hanna bukan perempuan yang suka melakukannya. Ah, sekarang dia menyesal kenapa memilih pakaian ini.
Kaki Hanna yang mulus terpajang jelas di depan mata Arthur. Ketika perempuan itu mendekat, dan mendahuluinya untuk berbicara sebentar kepada Mogi dan Moka. Lagi-lagi Arthur dibuat tidak bisa berpikir jernih. Punggung halus Hanna terlihat sangat jelas dan ia memikirkan adengan dimana tangannya bisa mengelus punggung itu dengan bebas. Ah, sialan.
"Apa penampilan saya ada yang kurang? Atau tidak bagus?" Tanya Hanna.
"Tidak, sudah sangat bagus." Tidak bagus untukku. Arthur tersenyum dan kemudian mengulurkan tangan ke Hanna untuk ia bawa ke mobil.
Sesampainya di tempat makan, Arthur menggandeng Hanna ke meja makan yang sudah diatas namakan Arthur. Disana ia bisa melihat jika sudah ada Keyna dan Vincent, kemudian Charlotte bersama orangtuanya. Hanna meremas lengan Arthur yang ia pegang. Berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan agar rasa gugupnya menghilang.
"Aku disini," bisik Arthur. Hanna menatap Arthur sebentar dan mengangguk.
TO BE CONTINUE