The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 14 - Mirror, Please.



Hanna merasa jika hari ini adalah hariĀ  yang membuat dirinya dapat bernafas saat memulai pekerjaan. Tebak apa yang terjadi?


Well, jika setiap pagi seorang Arthur akan memulai pekerjaan dengan melakukan hal yang menjijikan bagi Hanna namun hal yang wajar bagi Jess. Seperti yang gadis itu katakan kemarin saat Hanna membicarakan tentang Arthur itu.


Mungkin ini yang dinamakan progress untuk seorang Arhur, tapi Hanna masih tidak percaya dengan apa yang berbeda dengan Arthur pagi ini. Wait, apa itu sebuah progress atau hanya karena lelaki itu sudah bosan dengan Karlie dan ingin berganti yang lain?


Sekarang untuk apa Hanna berpikir tentang kegiatan yang biasa dilakukan oleh Arthur itu? Harusnya ia merasa senang dan menghindari pemikiran tentang Arthur yang selalu menghantuinya.


"Kau sedang bepikir tentangku atau kau memikirkan hal lain, Hanna?" Suara Arthur menginstrupsi lamunan Hanna. Perempuan itu menggeleng dan kembali melanjutkan pekerjaan yang membuat kepalanya sakit. Oh sekarang Hanna menarik perkataan jika ia bisa menarik nafas. Ia melupakan tugas yang baru diberikan Arthur karena memikirkan lelaki itu.


Arthur menatap Hanna setelah selesai membaca dokumen dan menyunggingkan bibirnya. Lelaki itu berdiri dan melonggarkan dasi lalu menggulung lengan kemeja hingga ke siku. "Aku tidak menginginkan gelenganmu sebagai jawaban, Hanna," Arthur berjalan ke Hanna.


"Kau tau bukan kalau pertanyaan akan di jawaba oleh 'ya' atau 'tidak' atau mungkin kau punya alasan lain. Dan setiap kau menjawab pertayaan kau harus bersuara agar lebih jelas." Tambah Arthur. Hanna membasahi bibirnya.


Tidak, menurutku gelengan kepalaku sudah menjawab semuanya dengan jelas.


-Hanna.


"Ku tau apa yang kau pikirkan sekarang, Hanna. Tapi aku bukan orang yang akan menerima jawaban dengan gerakan tubuh. Kau masih mempunyai mulut dan kau tau fungsi mulut itu bukan, Hanna?" Arthur menumpuh kedua tangan pada sisi meja kerja Hanna. Gadis itu menatap Arthur dan sedikit menjauh dari Arthur.


"Maaf, Pak Arthur. Kau tidak berpikir jika ini berlebihan? Saya tidak sedang memikirkan anda." Oh ini adalah sebuah kebohongan untuk Hanna.


Arthur tersenyum miring ke Hanna. Lelaki itu beputar dan berjalan menuju sofa. "Kau tidak pintar berbohong, Hanna. Jelas-jelas aku melihat kamu menatapku."


"Saya melamun dan jika mata saya menatap anda tidak menutup kemungkinan jika saya bisa saja sedang melamun menatap lampu yang disebelah anda atau kaca yang dibelakang anda, Pak Arthur." Jelas Hanna panjang lebar. Ini kebohongan untuk kedua kalinya. Sial, apa yang akan terjadi jika kebohongan ini terbongkar oleh Arthur?


Hanna tau sifat Arthur walaupun ia baru menjadi sekretaris beberapa bulan. "Kemari, Hanna." Panggil Arthur untuk mendekat. Hanna ragu untuk mendekat.


"Kau ragu padahal kau bilang tidak menatapku?"


"Tidak, Pak Arthur."


Hanna sudah berdiri di hadapan Arthur. Lelaki itu menyuruh untuk lebih mendekat dan Hanna semakin ragu untuk mendekat. Apa sekarang dia akan menjadi Karlie kedua? Damn! Tidak mungkin!


Jika memang benar, ia akan menendang masa depan lelaki itu sehingga masa depan Arthur suram. Hanna berani melakukannya walaupun ragu karena menendang atasannya. "Kau sedang berpikir apa, Hanna?" Arthur kembali menghancurkan lamunan Hanna.


"Kau jalan selangkah lagi." Pinta Arthur dan Hanna hanya melangkah sedikit dan itu membuat Arthur gemas. Arthur langsung berdiri dan posisi mereka sangat dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan sehingga Hanna dapat merasakan nafas lelaki didepannya.


Arthur menatap mata Hanna yang menatap ke matanya juga. Lelaki itu menatap bergantian dari bibir dan kembali ke mata milik Hanna yang indah menurutnya. Hanna tidak bisa berpikir dan tubuhnya seakan beku serta nafastnya tercekat.


Tangan Arthur pun terangkat dan mengelus rambut Hanna lalu mendekat ke wajah mulus milik gadis itu dan turun ke bagian leher jenjangnya. Lelaki itu mendekatkan bibirnya sedikit demi sedikit tanpa mengalihkan tatapan dari mata Hanna.


Degup jantung Hanna yang mulai tidak karuan karena hembusan nafas dari Arthur yang selalu ia rasakan di wajahnya. Oh! Pemikiran tentang ia ingin menendang masa depan lelaki itu bahkan sirnah dalam sedetik ketika nafas Arthur terasa jelas di wajahnya.


Arthur menghapus jarak dirinya dengan Hanna sedikit demi sedikit dan membuka mulutnya perlahan. Sudah lama ia ingin melakukan ini kepada Hanna namun membuat gadis itu bisa bersamanya sangat sulit. Beruntung hari ini jadwal dirinya tidak sibuk dan Karlie juga sedang pergi sehingga tidak ada parasit yang akan mengganggu.


"HEY!! YOU LITTLE *****! MENJAUHLAH DARI ARTHUR!"


"Maafkan saya-"


"Tidak kau tidak salah, Hanna. Dia yang bersalah," ucap Arthur ke Hanna. Lelaki itu mendekat ke arah pintu yang disana ada seorang perempuan dengan pakaian minim. "Kau bersekolah bertahun-tahun, apa kau tidak tau cara bagaimana untuk mengetuk pintu?" Sinis Arthur ke perempuan itu.


"Untuk apa aku harus mengetuk pintu dahulu jika ini adalah ruangan tunanganku?"


"Well, kau pasti tinggal kelas sewaktu kau masih duduk di bangku sekolah atau kau memang tidak pernah disekolahkan sehingga tata krama yang sopan tidak kau ketahui, uh!"


Hanna masih setia mendengar percakapan Arthur dengan perempuan didepannya.


"Kau bilang apa?! Semua pasangan akan seperti itu kepada pasangannya. Aku tau kesopanan dan-"


"Aku hanya ingin mengingatkan, apa aku menyetujui dirimu untuk menjadi tunanganku? Terlebih aku tidak pernah menganggap kau adalah pasanganku. Jadi ucapan yang baru kau ucapkan tidak berlaku padaku, dan kau adalah orang asing yang tidak memiliki tata cara berpakain yang baik!" Arthur meninggikan suara pada di akhir ucapannya.


"Perempuan dengan tata cara berpakaian sepertimu seharusnya menjadi penghuni club dan memuaskan para lelaki di luar sana, Charlotte!" Tambah Arthur dan wajahnya memerah. Hanna bahkan takut melihatnya, ia tidak tau jika Arthur menjadi marah hanya karena masalah perempuan itu tidak mengetuk pintu.


"Arthur! Keluargamu dan keluargaku sudah menyetujui pertunangan kita."


"Oh bahkan aku tidak menganggap pertunangan itu ada karena memang aku tidak menyetujuinya. Sekarang sebelum aku memanggil security, lebih kau pergi sendiri!"


"Kenapa kau tidak mengusir perempuan itu?! Oh jangan bilang kalau karena perempuan itu kamu mempermalukan aku seperti ini?!" Charlotte menunjuk Hanna yang sekarang mematung serta bingung. Kenapa sekarang dirinya ikut terlibat?


"Aku akan pergi sendiri tanpa kau suruh, Nona." Kata Hanna.


"Kau tidak bisa pergi sebelum aku menyuruhmu pergi, Hanna."


"Kau harus mengusirnya! Aku ini tunangan kamu, Arthur! Dia cuman seorang ****** yang ingin tidur bersamamu!" Arthur tersulut emosi. Seberapa emosi yang Arthur rasakan, ia tidak bisa melukai seorang perempuan.


Hanna tidak terima karena perempuan itu menginjak harga dirinya. Ia melangkahkan kakinya mendekat ke Charlotte. Namun Arthur meminta Hanna untuk tetap pada posisi, Hanna kesal mendengar perintah itu.


"Apa kau tidak punya cermin atau kau tidak pernah berkaca? Bahkan cermin pun bisa mengatakan jika kau hanya seorang perempuan yang haus akan hasrat seorang lelaki, yang tidak lain adalah seorang ******." Arthur menarik tangan Charlotte keluar dari ruangan lalu Arthur mengunci ruangan dari dalam.


"Kenapa anda menguncinya?"


"Hanya tidak ingin diganggu." Hanna memutarkan kedua matanya dan kembali duduk di kursi miliknya. Arthur kembali mengerjakan perkerjaan miliknya dan mood untuk meneruskan keinginan bersama Hanna seakan hilang.


Mungkin Arthur akan melakukannya kembali saat moodnya baik dan ia bisa mendapatkan kondisi seperti tadi. Hanya berdua dan tidak ada parasit.


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


2020.09.09