
Beberapa tahun kemudian, di awal musim panas, Hanna lulus dari sekolahnya setahun lalu dan melanjutkan kuliah di salah satu Universitas ternama di kota Seattle ini.
Ia keluar setelah memakai topi dan juga jaket kesukaaannya. Hanna mengeluh karena betapa panasnya hari ini, terkadang ia menginginkan musim semi terjadi sepanjang masa.
Ia benci dengan dingin dan juga panas. So, musim semi bukankah pilihan yang cocok?
Hanna melangkahkan kakinya dan melewati beberapa toko yang berjualan di sepanjang jalan. Ia bisa melihat beberapa pasangan berciuman dan terkadang berpelukan. Hanna tidak habis pikir kenapa pasangan sekarang sering mengumbar kemesraan mereka di public?
Ia selalu berpikir kalau hal itu sangat tidak memiliki etika. Rasanya ia ingin menendang semua pasangan atau perlu ia memakai kacamata kuda agar ia hanya melihat lurus tidak melihat samping.
Woa. Mereka tidak menghargai bagi yang tidak memiliki pasangan. Mereka selalu merasa kalau dunia adalah milik mereka berdua dan yang lain hanya akan menjadi barang atau yang tidak berguna, maybe like a trash?
Hanna memilih terus melangkahkan kakinya dan memasuki sebuah toko cafe yang menjual roti. Ia membelinya sebagai sarapan paginya.
"Oh my god, kenapa hari ini aku bertemu banyak pasangan?"
•••
KRING KRING
"MELLY!! TUGAS KITA KENAPA BANYAK BANGET YA?" Teriak Hanna saat ia berada di rooftop tempat kuliah mereka.
"YA BENAR!! Padahal kita baru saja masuk dan...WOAA...dosen kita sangat pengertian kepada kita." Kata Melly sambil bertepuk tangan.
"Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini dan mulai bekerja." Kata Hanna sambil mendudukkan dirinya pada sisi rooftop sehingga kakinya mengantung bebas.
Tidak lama Melly bergabung dengan Hanna. Mereka berbincang-bincang sembari memakan roti. Hal yang penting sampai tidak penting, mereka bicarakan hanya untuk mengusir kebosanan.
Setelah istirahat ini mereka tidak ada kelas lagi dan pada sore hari, kelas yang paling membosankan harus mereka datangi. "Tahun depan kita ada tugas magang di sebuah perusahaan 'kan?" Tanya Melly.
"Yeah. Aku sudah mencari beberapa perusahaan dan ada dua perusahaan yang menarik perhatianku. Pertama Harrison dan Heaton."
"Kau yakin bisa masuk di sana? Sistem penerimaan kerja mereka sangat susah dan jika kau sampai tidak di terima, kau akan mendapat nilai rendah di tugasmu."
"Tenang, aku sudah melakukan penelitian tentang kedua perusahaan itu dan aku yakin, aku pasti bisa masuk ke sana. Hanya saja aku bingung harus memilih Harrison atau Heaton." Kata Hanna dan memainkan kakinya.
"Aku pasti tidak bisa masuk ke kedua perusahaan itu."
"Pasti bisa! Jangan menjadi pesimis!"
Hanna tersenyum sambil merangkul Melly dan Melly ikut tersenyum. Selanjutnya, mereka menghabiskan waktu dengan menonton film yang sebelumnya mereka unduh di web langganan mereka.
•••
1 tahun kemudian,
Los Angeles.
Hanna melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang akan menjadi tempat ia bertugas sebagai karyawan magang. Ia menghela nafas saat mendudukkan dirinya.
Ia dan Melly berpisah karena Melly memutuskan untuk bekerja di perusahaan lain. Hanna bekerja di Harrison setelah melihat perusahaan tersebut lebih unggul dari pada Heaton.
Walaupun berbeda perusahaan, mereka—Hanna dan Melly—tetap berkomunikasi. Kegiatan kuliah tidak ada karena memang hari libur, tapi liburan mereka diisi oleh tugas sebagai karyawan magang. Intinya tidak ada hati libur untuk mereka—yang bertugas.
-SKIP-
Tidak di sangka, waktu berjalan dengan cepat. Hanna sudah selesai dengan kuliahnya dan sekarang ia menjadi karyawan tetap di Perusahaan Harrison.
Ia juga satu perusahaan dengan Melly. Temannya itu akhirnya memilih pindah setelah kurang nyaman di perusahaan dulunya. Hari sudah menjadi malam dan ia pulang dengan kendaraan miliknya.
Setibanya di rumah, ia melihat ada surat berkertas coklat dengan pita yang mengikatnya. Gadis itu menghela nafas dan membawa surat itu dalam genggamannya.
Sudah lama ia tidak menerima surat sejak beberapa tahun lamanya, bukan sangat lama, mungkin 2 tahun atau 3 tahun. Maybe, aku sudah lupa.
Saat ia membuka pintu, dirinya sudah di sambut oleh gonggongan kedua anak anjingnya.
Ia mengangkat kedua anak anjingnya dan membawanya ke pangkuannya. Gadis itu mengambil surat yang membuatnya penasaran.
"Mogi, Moka, menurutmu apa isi surat ini?" Tanya Hanna kepada kedua anak anjingnya.
Kedua anak anjingnya menggonggong. Hanna membuka surat itu dan melihat ratusan kata yang tertulis.
•••
Keesokan harinya,
Perusahaan Harrison
'Kringg'
Lelaki itu langsung mengambil gagang telpon setelah mendengar bunyi yang terdengar keras. Ia langsung menyahut dengan keras pada panggilan tersebut karena hari ini kerjaan dia sangat menumpuk seperti gunung.
Puluhan kertas menumpuk di atas meja kerjanya bahkan ada banyaknya kertas yang berserakan di lantai. "CEPAT KAU INGIN BILANG APA?!" Teriaknya di telpon.
"...."
"Maaf, maaf, Pak, saya benar-benar tidak tau jika anda yang menelpon. Ada urusan apa anda menelpon?"
"...."
"Baiklah Pak, saya akan mencari pegawai dengan kerja yang baik di devisi ini," kata Jeremy—si Manager devisi keuangan—sambil membungkuk beberapa kali. Padahal mereka berbicara di telpon dan tidak mungkin ada yang melihat, tapi kenapa si Manager itu membungkuk.
"...."
"Hanna? Ya dia ada di devisi kami," Muka Jeremy langsung bingung saat mendengar nama si gadis yang selalu membuat ia marah karena kelambatan kerjanya.
"...."
"Ah baiklah, Pak. Iya, Pak. Secepatanya saya memberitahunya," ujar Jeremy sambil membungkuk kembali.
Kemudian sambungan terputus dan ia menghela nafas panjang. Ia tidak habis pikir kenapa nama gadis itu bisa keluar dari mulut pemimpin perusahaan ini. Jikapun gadis itu mendapat pekerjaan yang lebih baik darinya, ia akan benar-benar cemburu.
Tidak menunggu lama ia mengambil handphonenya untuk mengirim pesan ke Hanna agar ia cepat datang ke kantornya. Jeremy memegang kepalanya yang pusing karena tugasnya belum selesai dan ia kembali memikirkan bagaimana sikapnya kepada pemimpin saat pertama kali membuka panggilan. Uh memalukan!
Singkat cerita, hari keesokannya seorang lelaki sedang berusaha agar tugasnya cepat selesai. Sejak tadi pagi, dia sudah memulai pekerjaannya dengan terburu-buru. Hari ini adalah hari yang sudah ia tunggu karena sudah bertahun-tahun ia menunggu hal ini terjadi, bertemu dengan perempuan yang ia sukai.
Kemudian, 2 jam berlalu, dan tugasnya sudah selesai semua. Ia melirik jam tangannya dan sebentar lagi orang yang ia tunggu akan datang.
Knock knock
"Come in!," teriaknya dari dalam. Seorang perempuan masuk dengan beberapa file di tangannya.
"Apa dia sudah datang?" Tanya lelaki itu. Perempuan di depannya pun menggeleng sebagai jawaban ia belum datang.
Lelaki itu menghela nafas karena ia gugup harus bertemu dengan perempuan yang sudah ia sukai sejak dulu. "Baiklah, hari ini aku ada jadwal apa?"
Perempuan itu adalah sekretarisnya dan ia menyebutkan urutan jadwal yang penting untuk lelaki itu. Oh omong-omong, lelaki itu adalah pemimpin perusahaan ini, perusahaan Harrison. Namanya Arthur Harrison.
"Kau bisa pergi, kabari aku jika dia sudah datang," ujar Arthur dan sekretaris itu mengangguk sebelum ia pergi.
•••
Knock knock
"Come in!," teriak Arthur kembali.
"Dia sudah datang," kata Sekretarisnya itu. Arthur langsung berdiri dan menyuruh sekretarisnya agar perempuan yang di tunggu itu masuk. Lelaki itu mencari posisi yang keren dan ia memutuskan untuk berdiri di depan kaca dengan tangan yang di masukkan ke saku celananya.
Suara ketukan pintu terdengar dan di saat itu ia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang.
"Ekhm," perempuan itu berdeham. Arthur merasa suasana sekarang sangat hening dan canggung, mungkin perempuan itu berdeham untuk menghilangkan keheningannya.
"Kenapa harus berdiri jika kau bisa duduk?" Kata Arthur setelah ia berhadapan dengan perempuan yang sudah ia tunggu.
Dia tetap seperti dulu, hanya saja lebih cantik. Arthur membatin.
"Cepat kau kenalkan dirimu," Arthur duduk di kursi kebesarannya dan menumpuh kedua tangannya pada meja kerjanya.
"Saya Hanna dari Devisi keuangan...."
THE END.