
Hari sudah malam dan tinggal Arthur bersama Hanna di ruangan kerjanya. Sebenarnya tugas Hanna sudah selesai beberapa jam yang lalu jadi ia menunggu Arthur hingga selesai. Tidak di sangka, Hanna tertidur di sofa karna menunggu Arthur yang cukup lama. Akhirnya Arthur selesai tidak lama kemudian dan ia melihat kekasihnya tertidur di sofa dengan wajah yang cukup lelah.
Lelaki itu tidak tega untuk membangunkannya, oleh karena itu dia menggendong Hanna hingga ke mobilnya yang berada di parkiran. Arthur meletakkan Hanma di sebelah kursi pengemudi dan setelahnya ia masuk ke dalam mobil lalu membawa Hanna pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Hanna, ia langsung membawa Hanna ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Tidak lupa lelaki itu mengecup ringan dahi Hanna lalu pergi meninggalkan Hanna.
Di lantai bawah, ia melihat kedua anak anjing milik Hanna sedang tidur bertumpuk. Namun tiba-tiba terbangun karna Arthur menginjak sesuatu. Beruntungnya kedua anak anjingnya itu tidak berisik dan lelaki itu berniat untuk memberikan mereka makanan mengingat Hanna belum memberi makan malam.
"Majikanmu belum memberimu makan, bukan?" Arthur langsung memberikan mangkuk berisi makanan untuk Mogi dan Moka. Kedua anjing itu menyelesaikannya dengan cepat dan Arthur langsung membersihkannya lalu pergi pulang.
•••
Cahaya memasuki ruangan yang sebelumnya gelap dan terang saat ia datang. Gadis itu bergelut di ranjangnya dengan selimut yang menghangatkan dirinya. Kicauan burung dari luar dan juga suara anjing dari lantai bawah membuat gadis itu bangun dari tidurnya yang nyenyak. Hanna melirik jam yang berada di dinding di hadapannya dan matanya langsung membulat dengan sempurna. Sial! Gadis itu langsung bangun dan membersihkan dirinya dengan cepat.
Sekitar 6 menit ia selesai mandi dan langsung memakai pakaian kerjanya lalu berlari turun memberi makan anjingnya, setelahnya ia pergi menaiki mobilnya.
Sial!
Mobilnya tidak bisa nyala dan ia baru ingat kalau dirinya lupa membeli bahan bakar. Hanna langsung berlari dan ke halte dekat perumahan.
Mengapa hari ini begitu sial?!
Bus yang harus ia naiki itu sudah pergi dan lagi-lagi Hanna harus mencari taksi karna kalau menunggu bus berikutnya harus menunggu lebih lama. Hanna melambaikan tangannya ke sisi jalan berharap ada taksi yang melihat dan menghampirinya namun hasilnya nihil. Gadis itu langsung melirik jam tangannya yang sekarang menunjukkan jam 8 pagi.
Tin! Tin!
Hanna melihat ke arah mobil yang sedang mendekati dirinya dan Gadis itu sedikit menjauh. Kaca mobil tersebut terbuka dan menampakkan seorang lelaki. Dia Alfred.
"Masuklah aku tau kau terlambat kerja." Kata Alfred dan Hanna langsung memasuki mobil.
Memakai mobil atau tidak, aku pasti sudah telat. Astaga...bersiaplah aku akan mendapat hukuman. Kata Hanna dalam hati.
"Tenanglah, kau kekasihnya bukan? Dia tidak akan memperlakukan kekasihnya dengan buruk, paling dia hanya mempermainkanmu sebentar." Alfred mulai menghibur Hanna namun Hanna hanya menanggapinya dengan senyuman.
Ya, permainan panas! Kata Hanna merutuki dalam hatinya.
"Itu lah Arthur, mana mungkin dia tidak melakukan itu haha." Hanna menatap Alfred dengan kesal dan Alfred hanya tertawa.
Hanna langsung turun dari mobil saat sampai di Perusahaan Harrison. "Thankyou, Alfred. Kapan-kapan jadi pengantar-ke perusahaan-lagi, Okay?"
"Kau kira aku supir, huh?!" Hanna langsung tertawa dan meninggalkan Alfred yang juga pergi meninggalkan Perusahaan Harrison.
Seenaknya saja karena ia pacar tuan Arthur bisa sebebasnya ia datang telat untuk kerja. Bisik seorang pegawai yang tertangkap oleh pendengaran Hanna.
Hey! Aku juga pasti dihukum nanti. Ingin rasanya Hanna membalas perkataan para pegawai. Cuman tidak penting sekarang. Hanna mulai mempercepat jalannya menuju lift. Ketika bunyi lift berbunyi, ia keluar dan berlari kecil ke dalam ruang kerjanya. Hanna tersenyum sebentar saat ia melewati meja Sarah.
"Morning!" Seru Hanna cepat dan disambut oleh Sarah sebaliknya.
Knock! Knock!
Hanna mengetuk pintu dan melihat sebuah pemandangan seperti yang ia lihat setiap paginya, Arthur tengah berdiri di dekat kaca dengan kedua tangan di dalam saku celananya sembari membelakangi Hanna. Lelaki itu mempunyai kebiasaan melihat pemandangan kota setiap pagi dengan segelas kopi. Namun hari ini tidak ada kopi karena tidak ada Hanna yang membuatnya. Meskipun ia bisa meminta Sarah cuman buatan kopi milik kekasihnya lebih enak.
"Arthur..maaf aku telat." Ujar Hanna sambil melangkahkan kakinya ke dekat meja kerjanya.
"Harusnya kamu hafal apa yang aku lakukan selanjutnya, sayang." Arthur membalikkan tubuhnya dan menghadap Hanna yang sedang berdiri di sisi meja. Lelaki itu mendekatkan dirinya ke Hanna selangkah demi selanglah. Hanna mulai salah tingkah. Diruangan ini terdapat sofa panjang dan apa dirinya akan berakhir di sana?
"Ap-apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Hanna sedikit gugup. Arthur semakin tersenyum nakal. "You know me so well, Hanna." Balasnya.
Hah? Apa? Aku tau dia? Astaga, Arthur masih sangalah misterius bagi Hanna. Lelaki itu sangatlah susah di tebak setiap saat. Kadang dia manis, kadang dia bisa membuat Hanna kesal. Namun bisa membuat Hanna kembali luluh dengan sikap romatisnya.
Lelaki itu menyunggingkan bibirnya satu ke atas. "Well, bisa kita bermain sekarang?" Hanna menelan salivanya. Arthur menarik pinggang Hanna dan menaikkan dagu kekasihnya.
Well, hari ini adalah hari buruk untukku. Namun apa aku harus berterima kasih? Kata Hanna dalam hati. Ia pun membalas ciuman Arthur yang membuatnya kehabisan akal hingga ia tidak sadar jika lelaki itu sudah menidurkannya di sofa panjang.
Tangan Hanna terarah mengelus dada bidang Arthur. Sedangkan lelaki itu menahan tubuhnya agar tidak menindih Hanna. Ciuman Arthur tidak hanya di bibir, namun juga berjalan ke leher dan membuat tanda kepemilikan disana. Hingga suara ketukan pintu membuat Arthur berdecak kesal. Hanna tertawa karena ia tahu kalau Arthur tidak suka pekerjaannya dilakukan hanya setengah-setengah.
TO BE CONTINUE