
Hanna menghela nafas lagi dengan kasar. Ia lelah karna seharian ini dia disuruh ini dan itu oleh Arthur karna ini adalah hukumannya. Siapa yang berasumsi kalau hukumannya adalah hal 'itu'?
Arthur tidak mungkin melakukannya karna ia masih sayang dengan Hanna. Lelaki itu akan melakukannya ketika ia dan Hanna sudah menikah alias pada saat malam pertama. Maybe.
"Kalau sudah bersih nyusul aku di depan, ya." Kata Arthur lalu melenggang keluar dari kantornya, sedangkan Hanna masih membersihkan ruang kantornya.
Kertas berserakan karena tadi saat Arthur bekerja ada bebagai kesalahan jadi dia meremasnya lalu membuangnya sembarang tempat.
Dasar lelaki!
"Bantu aku 'kay?" Pinta Hanna dengan mata seperti puppy eyes. Arthur menyengir sebentar lalu mengggeleng.
Hanna mendengus kesal lalu membereskan kertas-kertas berserakan di lantai.
15 minutes later...
Arthur bersandar pada sisi pintu sambil menunggu kekasihnya selesai membersihkan. Sesekali ia mundar mandir di depan pintu atau bermain handphone untuk mengusir rasa bosan.
Saat Arthur tidak sabar dan ingin membuka pintu untuk menghampiri kekasihnya, pintunya sudah terbuka lebih dulu. "Kau-"
Hanna langsung melewati Arthur dengan kesal dan berjalan ke lift. Arthur yang tertinggal langsung menyusul Hanna yang sudah lebih dulu masuk ke lift.
"Kau marah?" Tanya Arthur hati-hati. Hanna tidak menjawabnya.
"Hanna, sayang."
"Baby."
"Ayolah."
"Sorry.."
"Please don't be mad.."
"Hanna.."
"Sorry..nanti aku kasih apapun deh buat kamu tapi maafin aku."
Hanna yang mendengar beberapa kata mohon dari mulut Arthur, tidak bisa menahan tawanya lagi. Entahlah seberapa kesal dan marah ke Arthur bisa di kalahkan dengan sikap Arthur yang lucu.
"Janji?" Tanya Hanna dengan mata berbinar-binar.
"Asal kamu jangan marah sama aku lagi. Tapi kalau di pikir lagi, itu salah kamu juga. Kamu telat dan itu adalah hukumannya. Jadi aku menarik omonganku tadi." Kata Arthur lalu langsung pergi dari lift setelah lift sampai di basement.
"ARTHUR!!! AKU GAK MAAFIN KAMU!! HUH!" Hanna menghentakkan kakinya setelah keluar dari lift.
Arthur tertawa hingga perutnya merasa sakit. "Oh my perutku Haha."
"RASAIN!!"
"Kau sudah berani?" Tanya Arthur sambil menyeringai. Hanna baru menyadari apa yang ia lakukan.
Hanna ingin kabur namun tangannya sudah di tarik oleh Arthur. Setelahnya lelaki itu menarik Hanna lebih dekat dan satu tangan lelaki yang bebas itu menarik tengkuk leher Hanna, lalu mencium benda kenyal itu dengan lembut, ********** dan Hanna membalas ciuman itu.
Arthur menyeringai kecil di sela ciuman mereka. Tangan Arthur yang menggenggam tangan Hanna, ia lepaskan dan beralih ke pinggang ramping Hanna lalu melingkarkan tangannya.
Hanna memukul kecil dada Arthur karna ia sudah kehabisan nafas. "Ciumanmu tidak buruk juga." Kata Arthur sambil tertawa kecil.
"Ini hal pertama bagiku untuk membalas ciumanmu." Arthur berjalan mendekat ke Hanna lalu menyikap sisa-sisa rambut Hanna ke bagian belakang telinga.
"Mau ku ajarkan? Biar kamu jadi-" Hanna langsung mencubit pinggang Arthur dan lelaki itu langsung meringis kesakitan.
"Kau mencuri kesempatan dalam kesempitan,uh!" Hanna langsung berjalan memasuki mobil, tidak lama Arthur juga menyusul.
"Hey, aku benar,kalau aku mengajarimu bagaimana ciuman yang benar, bukan hanya kau saja yang merasa nyaman, aku juga." Hanna langsung memukul Arthur.
"Aish, dosa apa aku bisa berpacaran dengan lelaki seperti ini." Arthur langsung tertawa setelah mendengar umpatan yang di lontarkan oleh bibir kecil itu.
10 minutes later...
"Hanna, aku lapar. Temani aku cari makan." Pinta Arthur sambil mengelus perutnya yang mulai berbunyi.
"Makan di rumah aku aja, aku harus memberi makan Mogi sama Moka juga."
"Baiklah."
15 minutes later...
Mereka sudah sampai di rumah Hanna dan sekarang Hanna sedang berkutat dengan alat dapur. Sedangkan Arthur, dia sesekali melirik Hanna dari ruang tamu dengan kedua tangan yang bermain dengan Mogi dan Moka.
"Kalian, bukankah kalian beruntung memiliki inu seperti dia? Dia selalu merawat kalian walaupun kalian hanya anjing tapi kalian juga bisa di anggap sebagai manusia alias anak juga sih." Ucap Arthur dengan nada kecil ke kedua anak anjingnya.
"Aish, dia benar-benar kriteria calon istri yang baik. Sikapnya, sifat, pintar masak, dan juga pintar dalam keuangan. Bukankah aku beruntung memiliki dia? Aku jadi benar-benar ingin menikahinya cepat." Tambah Arthur sambil berimajinasi bagaimana Hanna setelah mereka menikah.
•••
"Dia adalah teman dekat dari Kenzo, dan keluarga dia mempunyai perusahaan di London yang cukup besar namun sekarang sudah di pindahkan ke Los Angeles. Sarah juga pernah melahirkan namun keguguran karna tercatat di rumah sakit yang perempuan itu inap."
"Lalu apa ada lagi?"
"Ada lagi, Nyonya. Dari yang saya cari kehamilan Sarah itu adalah anak dari Kenzo, dan Sarah menyukai Kenzo namun itu masih saya selidiki lebih lanjut."
"Baiklah, yang terakhir bisa saja cari sendiri. Thankyou, nanti bayarannya saya tranfer seperti biasa."
TO BE CONTINUE