
"Huhhh..."
Hanna menghela nafas kasar. Hari ini adalah hari pertama ia akan menjadi sekretaris dan bertemu dengan CEO perusahaan ini. Sekedar informasi tempat Hanna bekerja adalah perusahaan yang terkenal bahkan sampai ke Asia. Perusahaannya masuk ke jajaran 10 besar perusahaan yang pastinya sangat bagus dalam bidang bisnis.
Harrison adalah nama perusahaannya sesuai dengan nama belakang yang diambil dari nama pemilik perusahaan. Arthur Harrison adalah CEO perushaan Harrison, dia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya adalah seorang laki-laki yang sekarang bekerja sebagai producer lagu dengan bayaran termahal.
Singkat informasi tentang Harrison. Hanna kembali menghela nafas kasar sambil menatap pintu besar di hadapannya yang bertuliskan 'CEO'.
"Saya Hanna dari devisi keuangan dan-Ahhhh tidak!!" Hanna menggelengkan kepalanya dan berusaha menyusun kalimat apa yang cocok untuk di ucapkan nanti.
"Ekhm...baiklah kau bisa melakukannya Hanna! Ini mudah...sangat mudah Hanna, kau hanya perlu mengetuk pintu dan memperkenalkan dirimu-AHHH!! Kenapa aku sangat gugup?" Monolog Hanna sambil memegang kepalanya sambil berjalan mondar-mandir.
"Tuan Arthur sudah menunggu anda di dalam." Ucap seorang wanita dengan rambut pirang kecoklatan.
Hanna mengambil nafas dan mengehembuskannya pelan. Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang bertuliskan 'CEO'. Rasa gugup menghantui Hanna karena ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja selama 1 setengah tahun ini. Terdengar aneh, bukan? Bekerja selama 1 setengah tahun tapi tidak bertemu dengan CEO perusahaan ini.
Hanna melihat sekeliling dan matanya menangkap seorang pria bertubuh lumayan besar namun sesuai karna ia tinggi. Seorang itu tengah berdiri menghadap jendela dengan kedua tangan yang dimasuki ke dalam saku celana. Terbesit pikiran jika lelaki ini sangat keren namun Hanna langsung menggelengkan kepalnya.
"Saya permisi dulu, Pak." Ucap perempuan yang mengantar Hanna masuk sebelumnya dan berjalan pergi keluar.
Suhu dingin di ruangan ini seakan menusuk kulit putih Hanna. Tinggal Hanna dengan lelaki tinggi yang tersisa di ruangan ini.
"Ekhm!" Hanna berdeham karena ini terlalu hening. Ia benci dengan keheningan.
Lelaki itu menolehkan kepalanya ke samping sehingga Hanna hanya dapat melihat sebagian wajahnya. "Kau bisa duduk kenapa harus berdiri?"
"Oh iya Pak." Balas Hanna dan dengan cepat ia berjalan mendekati kursi di hadapannya.
Mana mungkin aku langsung duduk jika belum di perbolehkan. Huh?! Dasar!
-Hanna
"Kau tidak harus mengumpat di pikiranmu."
What! Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia seorang cenayang?
-Hanna.
Lelaki itu memutar tubuhnya dan menduduki kursinya sehingga sekarang berhadapan dengan Hanna yang masih melihat wajah pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
Oh, ternyata wajahnya seperti ini. Aku tidak tau ternyata ada lelaki tampan di perusahaan ini.
-Hanna.
"Saya Hanna dari devisi keuangan dan saya sudah bekerja selama 1 setengah tahun di sini, dan saya baru pertama kali melihat Bapak. Ini surat dari Manager Jimmy." kata Hanna, ia memberikan surat yang kemarin di kasih oleh Jimmy.
"Cukup lama dan kau beruntung bisa melihat wajah saya. Tapi jangan panggil saya Bapak, apa aku terlihat setua itu?" Tanya Arthur sambil menatap ke Hanna. Lelaki itu sembari mengambil surat yang diberikan oleh Hanna tadi.
"Tidak Pak, bukan begitu maksud saya...jadi saya harus panggil anda dengan sebutan apa?"
"Arthur." Hanna mengerutkan dahinya, bagaimana mungkin dirinya akan memanggil atasan dengan nama depan! Ia akan di anggap tidak sopan!
"Tapi bukannya tidak sopan memanggil-" ucapan Hanna terputus karna Arthur memotongnya.
"Tidak untukmu, saya anggap kamu sopan." Hanna kembali mengerutkan dahinya, ia tidak habis pikir bagaimana CEO ini meminta ia memanggil dirinya dengan nama depannya. Lagi pula dengen memanggil Pak, bukan hal yang wajar? Beruntung saja jika Hanna tidak memanggil dia dengan sebutan Kakek.
"Baiklah...Arthur." Kata Hanna pelan. Ia masih ragu dengan panggil nama depannya.
"Meja kerjamu berada di sana." Arthur menunjuk meja yang berada dekat pintu. Hanna mengikuti arah telunjuk tangan dan mengangguk paham.
"Bukannya...harusnya di luar?"
"Ck...kau banyak tanya sekali." Arthur berdecak sedikit kesal sambil mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman lagi.
"Maafkan saya pak-eh Arthur."
"Kamu atur jadwal saya untuk hari ini dan besok. Satu lagi, untuk lusa kosongkan jadwalku pada malam hari." Perintah Arthur dengan santainya sambil mengambil handphonenya untuk ia mainkan.
"Baik Arthur." Ucap Hanna sambil menganggukkan kepalanya dan berbalik mengahadap meja kerjanya yang baru.
Arthur tersenyum kecil sambil menatap punggung yang berjalan mendekat ke meja kerjanya.
Sepertinya akan menyenangkan untuk kedepannya.
-Arthur.
TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like & Comment, ya!
2020.08.19