The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 7 - Berbeda dari Arthur



Hanna sampai di rumah dengan selamat. Ia pun berterima kasih kepada Alfred yang sudah mengantarkan dirinya. Sebenarnya ada kejadian dramatis sebelum Alfred yang memenangkan Hanna untuk diantar pulang.


Arthur tidak terima jika Alfred yang mengantar. Sehingga tadi ada perdebatan sebentar antara kedua lelaki itu. Jika Hanna yang tidak memilih langsung Alfred mungkin perdebatan itu masih berjalan sampai sekarang.


Kalian tau bukan bagaimana seorang yang dalam keadaan mabuk berdebat atau bertengkar? Bukankah sangat susah di kendalikan?


Terlebih bagaimana jika Arthur yang mengantar ia pulang? Lelaki itu masih dalam keadaan mabuk dan Hanna masih menyayangi dirinya untuk tetap hidup dan tidak mati sia-sia karena seorang Arthur.


"Terima kasih Pak, maaf merepotkan. Seharusnya Pak Alfred tidak perlu mengantar saya." Ucap Hanna ke Alfred. Alfred tertawa mendengarnya, Hanna tersenyum malu.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Hanna. Bagaimana mungkin saya akan membiarkan seorang yang tengah mabuk mengantar perempuan cantik seperti kamu. Jika tidak ada keperluan lagi saya pergi dulu, dan jika ada kesempatan saya harap kita bisa bertemu lagi." Alfred sedikit melambaikan tangannya sebelum memasuki mobilnya.


Hanna tersenyum dan membalas lambaiannya. Walaupun lelaki itu sudah melajukan mobilnya menjauh.


"Jelas dia berbeda dengan Arthur." Gumam Hanna sambil berjalan masuk ke rumahnya. Gadis ini bersenandung ria saat membuka pintu rumah tercintanya.


Kedua anak anjing miliknya langsung lari mendekati Hanna dan Hanna mengambilnya lalu menggendongnya. Saat di dapur ia turunkan dan mengambil makanan anjing lalu menyiapkan tempat. Setelahnya ia letakan tempat makanannya di lantai.


"Mogi dan Moka, maafkan aku karena belum memberimu makan dari tadi siang. Kau boleh marah padaku atau kau boleh meminta apapun dariku." Ucap Hanna sambil mengelus bulu Mogi dan Moka yang sedang makan.


"Hei...hari sabtu aku harus memanjakan kalian. Aku akan membawa kalian ke salon, lihatlah bulu kalian sudah jelek dan tidak teratur." Ucap Hanna sambil tertawa kecil. Ia bisa di bilang gila karena berbicara dengan hewan tapi biasanya hewan akan mengerti majikannya.


•••


6.00 AM


Hanna bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Selesainya ia berganti pakaian menjadi baju olahraga dan berjalan keluar rumah lalu lari pagi di taman.


"Kamu sering olahraga disini ya?" Hanna langsung terhentak kaget dan hampir melompat. Ia sedikit berteriak tadi.


Orang yang mengkagetkannya tadi hanya tertawa kecil dan tersenyum. "Eh..iya Pak." Ucap Hanna sambil tertawa kecil di akhirnya.


"Pak Alfred juga tinggal di daerah sini?" Tanya Hanna. Alfred mengangguk.


"Aku tinggal di blok D. Tidak begitu jauh dari rumahmu, bukan?" Kata Alfred dengan tawa.


Blok D adalah kawasan rumah yang elit dan besar. Kebayakan yang tinggal disana itu adalah konglomerat atau dengan penghasilan tinggi.


"Haha iya benar, Pak." Ucap Hanna dengan tersenyum. Alfred juga tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu saya harus kembali kerumah saya dulu Pak, saya permisi." Kata Hanna. Alfred lagi-lagi tersenyum.


"Sampai jumpa, lain kali kita harus bertemu lagi." Hanna hanya tersenyum dan kembali ke rumahnya.


-Perusahaan Harrison-


Hanna lagi-lagi mendengus kesal. Saat ia ingin masuk ke ruang kerjanya, ia mendengar suara desahan kembali. Gadis ini belum ada seminggu bekerja sebagai sekretaris dan ia merasa ingin kembali ke pekerjaan sebelumnya.


Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menuju lift dan menekan lantai tempat sebelumnya ia bekerja. Ia keluar saat bunyi lift terdengar dan betapa kaget saat ia melihat seorang lelaki tinggi.


"Oh kau lagi." Ucap lelaki itu dengan senyumannya. Hanna membalas senyumannya.


"Iya, Pak Alfred. Ada apa kesini?"


"Biasa urusan kerja." Jawabnya dengan sedikit tawa di akhirnya. Hanna mengangguk mengerti.


"Kau kerja disini?"


"Saya kira kamu kekasih Arthur."


Hanna hanya tertawa garing. Setelahnya ia meminta izin untuk pergi karena ia ingin bertemu dengan temannya.


•••


"Melly! Udah lama banget kita nggak ketemu huhuhu." Ucap Hanna sambil memeluk sahabatnya ini.


"Salah kau sendiri dengan pekerjaanmu. Ayo ceritakan selama kau jadi sekretaris? Aku dengar atasan kita sangat tampan." Ucap Melly dengan senyum senang di akhirnya.


"Ya memang dia tampan hanya saja, sikapnya yang menurutku membuat ketampanannya berkurang."


"Maksudmu apa?"


"Kau tahu ya tentang itu...sexual. Something like that,uh."


"What? Aku kira atasan kita orang baik. Ternyata dia sama saja seperti lelaki yang suka bermain di atas ranjang. Kau tidak pernah di sentuh olehnya, bukan?"


Hanna menggeleng.


"Ya tentu tidak! Berdekatan dengannya saja hampir membuatku tidak nyaman. Ia selalu melontarkan ucapan manis dan blablabla...."


"Kau masih sama seperti dulu ternyata. Bagaimana dengan berita yang bilang jika kau dekat dengan Pak Arthur?"


"Oh itu hoax! Kau tidak seperti mereka bukan yang mempercayai berita sampah seperti itu?"


"Tapi ku dengar, kau bahkan turun dari mobil milik Pak Arthur." Hanna mengambil nafas dalam sambil memutar kedua mata dengan malas. Melly tertawa melihatnya.


"Dia hanya membelikanku baju dengan paksaan. Hanya karena bajuku kotor dan dia tidak suka melihat ada seorang yang bersamanya dengan baju kotor. Oh tebak siapa yang mengotori bajuku?"


Melly mentautkan kedua alis yang berarti ia menunggu jawaban gadis di depannya. "Dia Karlie, perempuan yang sama menjijikannya! Dia bahkan memanggilku *****, padahal ia tidak melihat cerminan diri dia terlebih dahulu,uh!" Hanna menggantungkan ucapannya. Ia mengambil nafas.


"Dan terlebih Karlie adalah perempuan yang selalu melakukan hal yang menjijikan dengan Pak Arthur itu!" Melly membulatkan matanya. Ia kaget mendengar ini. Ia kira jika bukan Karlie yang notabene adalah sekretaris yang cukup lama bekerja disini. Tetapi setelah mendengar ini, ia membenarkan jika Karlie memang sering memakai pakaian yang mengundang lelaki serta menggoda semua lelaki yang bekerja disini.


"Han, menurutku Pak Arthur akan berubah karenamu. Kau yang pertama kali turun dari mobil Pak Arthur dan ia belum menyentuhmu sama sekali. Oh satu lagi, bahkan berkat dirimu juga, Pak Arthur menunjukkan dirinya."


"Tidak mungkin! Aku yakin sekretaris sebelum-sebelumnya juga melakukan hal yang menjijikan. Mungkin karena aku tidak menarik di mata dia, sehingga aku tidak mendapat itu. Jika pun dapat-"


"Well, aku tidak yakin itu. Dia tertarik denganmu dengan cara yang beda. Tidak seperti yang biasa ia perlakukan kepada sekretaris lainnya." Hanna memutar kedua matanya.


"Sepertinya aku harus keatas sekarang. Aku berharap kalau 'kegiatan' atasan kita sudah selesai. Kau tau aku tersiksa mendengar suara menjijikan mereka setiap pagi, uh! Kalau begitu nanti waktu istirahat kita harus makan bareng. Bye!"


Hanna langsung pergi ke lantai atas dan ia bisa melihat sekretaris pertama Arthur sedang marapihkan bajunya yang tidak rapih dan membenarkan make-up nya.


"Ya *****! Ambilkan aku minuman."


"Kalau tangan dan kaki masih berfungsi lebih baik di gunakan. Jika tidak, lebih baik berikan kepada yang lebih membutuhkan." Ucap Hanna dengan sinis dan langsung memasuki ruangannya.


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa like & comment, ya!


2020.08.20