
Agatha berjalan pelan menuju ruang makan, ia sedikit terlambat bukan karena ada sesuatu tetapi sengaja. Saat akan sampai di ruang makan, sayup-sayup Agatha mendengar suara Zaqiel yang tengah merengek.
"Daddy, Qiel tidak ingin makan, bila bukan masakan Mommy!"
"Tetapi dia tidak memasak, Qiel,"
"Pokonya Zaqiel nggak mau makan! Kalau nggak masakan Mommy,"
Agatha menambah kecepatan berjalannya untuk menuju ruang makan. Saat sampai disana, Zaqiel segera berjalan kearah Agatha dan memeluk pinggangnya.
"Mommy kenapa nggak masak?" tanya Zaqiel dengan mendongakkan kepalnya.
Agatha berjongkok menyamakan tingginya dengan Zaqiel dan menjawab. "Maaf El, Mommy lupa karena nyusun PC."
"PC? Apa itu, Mom?" tanya Zaqiel dengan memiringkan kepalanya.
"Nanti Mommy kasih tau apa itu PC, sekrang Zaqiel ingin dimasakkan apa, hm? Biar Mommy masakkan," tanya Agatha dengan mencubit pelan pipi gembul Zaqiel.
"Qiel ingin dimasakkan ayam goreng dan nugget saja, Mommy," jawab Zaqiel.
"Baiklah. El tunggu saja di meja makan, Mommy masakkan dulu oke," ucap Agatha sebelum meninggalkan Zaqiel.
Agatha berjalan menuju dapur dengan bersenandung kecil. Sesampai di dapur segera Agatha mengambil ayam dan nugget favorit Zaqiel. Agatha mulai membuat bumbu untuk ayam gorengnya, untuk nugget, Agatha menyuruh salah satu maid untuk menggorengnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mungkin hanya sekitar 30 menitan, ayam goreng favorit Zaqiel telah jadi. Saat Samapi di meja makan, Agatha masih melihat Xavier, Vadlan, Richard, Galen, Alex, Xalzero dan Arshaka, yang belum makan.
"Ayam goreng Zaqiel udah jadi~" ucap Agatha Seraya meletakkan satu piring ayam goreng di hadapan Zaqiel.
"Terimakasih, Mommy," ucap Zaqiel dengan senyuman manisnya.
"Sama-sama, El," balas Agatha mencubit pelan pipi Zaqiel.
"Kenapa kalian belum makan?" tanya Agatha pada mereka.
"Daddy tidak ada memerintah untuk makan," jawab Arshaka dengan wajah masamnya.
"Nungguin gue ya?" tanya Agatha dengan menaik turunkan alisnya.
"Tidak, silahkan makan," jawab Xavier dingin.
Mereka semua mulai makan, hingga saat ditengah-tengah acara makan, Arshaka merengek meminta ayam goreng milik Zaqiel.
"Ayolah Qiel, aku minta satu," rengek Arshaka kepada Zaqiel yang sedang asik memakan ayam gorengnya.
"Tidak mau," balas Zaqiel dengan menggigit paha ayam yang ada di tangannya.
"Pelit sekali kau ini," cetus Arshaka.
"El, berikan satu untuk Abangmu," ucap Agatha yang membuat Zaqiel memasang wajah memelasnya.
"Tapi---" Sebelum Zaqiel menyelesaikan ucapannya, Agatha segera memotongnya.
"Tidak ada tapi, atau Mommy tidak akan memasakkan mu ayam goreng lagi," potong Agatha yang membuat Zaqiel memberikan satu dada ayam pada Arshaka.
"Aku terpaksa," ucap Zaqiel dengan wajah masamnya.
"Anak pinter," puji Agatha dengan mengusap lembut pucuk kepala Zaqiel.
Diam-diam Xavier melihat interaksi manis antara Zaqiel dan Agatha. Sesaat Xavier tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan tidak ada yang menyadarinya.
Setelah makan Agatha mengajak Zaqiel ke kamarnya untuk memperlihatkan apa itu yang namanya PC. Saat memasuki kamar Agatha segera mengambil album khusus yang berisi PC biasnya.
"Ini dia yang namanya PC," ucap Agatha memperlihatkan album yang tidak penuh, ya karena 500 PC tadi belum Agatha masukkan semua kedalam album.
"Wajahnya sangat tampan," puji Zaqiel pada salah satu PC.
"Ah, Dia memang tampan. Selain tampan dia juga sangat ramah, baik dan sabar, diantara semua member, Mommy paling ingin mendapatkan lelaki yang seperti dia," ucap Agatha.
"Mengapa mommy ingin mendapatkan lelaki itu?" tanya Zaqiel dengan wajah polosnya.
"Seperti yang Mommy bilang tadi, bahwa dia adalah orang yang ramah, baik dan sabar. Dia adalah seseorang yang tidak bisa marah, karena marahnya dia adalah menangis," jawab Agatha. Zaqiel diam mencerna jawaban Agatha.
"Dia sangat berbeda dengan, Daddy. Bila Daddy marah pasti akan melemparkan sesuatu yang ada di dekatnya," ucap Zaqiel.
"Jauh malahan," sahut Agatha.
"Sepertinya Mommy banyak mengoleksi PC seperti ini ya," ucap Zaqiel yang di balas anggukan kecil oleh Agatha. Ya memang benar, ini belum seberapa dari pada di kehidupannya dulu.
Agatha jadi rindu kehidupannya dulu :)
Sudah, no galau-galau, harus happy kayak Nana 🐰
Back to topic
Di lain ruangan di mansion yang sama, terlihat empat pria yang sedang meminum beberapa botol Wiski. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Xavier, Vadlan, Richard, Galen dan Alex.
"Apakah kau memenangkan tander itu, Galen?" tanya Vadlan pada Galen.
"Tentu saja aku memenangkannya, itu sangat mudah," jawab Galen dnegan meminum Wiskinya.
"Seperti nya gadis itu berubah," celetuk Alex.
"Benar, auranya sangat positif dari sebelumnya," Alex ikut menyahut.
"Bahkan gadis itu membeli sebuah kertas yang bergambar seorang lelaki, sangat banyak," timpal Richard lagi yang membuat Xavier menolehkan kepalnya kearah Richard.
"Benarkah?" tanya Xavier datar namun tersirat sesuatu pada pertanyaannya.
"Benar, bila kau tidak percaya tanyalah pada Vadlan," jawab Richard menunjuk Vadlan yang sedang meneguk Wiski nya.
"****, mengapa aku merasa cemburu?" batin salah satu pria.
"Sudahlah tidak perlu membahas gadis itu," ucap Alex yang merasa jenuh dengan pembahasan.
"Mari kita minum yang banyak, untuk merayakan kemenangan Galen," ucap Alex.
"Bukankah semua Wiski ini milik Xavier?" tanya Richard.
"Tidak, ini Galen yang membelinya," jawab Xavier.
Setelah itu mereka menghabis semua Wiski yang dibeli oleh Galen hingga mabuk berat. Disela-sela kesadarannya, Xavier Berjalan keluar dari bar pribadinya. Selang beberapa menit menaiki tangga, Xavier sampai disebuah kamar seseorang. Tanpa mengetuk dan izin dari si pemilik kamar, Xavier masuk kesana dan ikut membaringkan tubuhnya disamping gadis itu.
*
*
*
*
*
*
Pagi hari telah tiba, namun terlihat dua insan berbeda gender yang masih terlelap dengan posisi saling memeluk, mereka adalah Xavier dan Agatha. Hingga beberapa saat Agatha terbangun dari tidurnya, sebelum membuka mata dia merasakan sebuah tangan kekar yang memeluk pinggangnya.
Perlahan Agatha membuka matanya mencerna cahaya yang memasuki indra penglihatannya. Betapa kagetnya Agatha saat melihat siapa yang memeluknya.
"Aaaakkk!" pekik Agatha yang membuat Xavier terusik dari terlelap nya.
"BANGUN HEH!" teriak Agatha.
"Berisik sekali," gumam Xavier sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang Agatha.
"Xavierrr! Bangun nggak Lo!" seru Agatha yang membuat Xavier membuka matanya. Betapa pusingnya saat Xavier membuka matanya, sepertinya ini karena dirinya terlalu banyak minum wiski semalam.
Tunggu, Xavier baru sadar bila dia memeluk pinggang seseorang dan sesuatu yang empuk di depannya. Tetapi siapa yang dia peluk?
"Lepasin, woyyy!" ketus Agatha yang membuat Xavier menolehkan kepalanya keatas.
"Mengapa kau berada di kamar ku?" tanya Xavier dnegan nada sedikit tinggi.
"Kamar Lo dari mana, Udin? jelas-jelas ini kamar gue," jawab Agatha ketus.
Benar juga, ini adalah kamar Agatha, terlihat dari banyaknya buku-buku yang sudah pasti adalah novel.
"Sekarang lepasin," ucap Agatha dengan melepas paksa tangan Xavier dari pinggangnya. Xavier segera melepaskan tangannya dari pinggang Agatha.
"Kenapa Lo bisa tidur di kamar gue?" tanya Agatha dengan mendelikkan matanya.
"Aku tidak tahu," jawab Xavier.
"Nggak tempe atau nggak tahu?" tanya Agatha yang mampu membuat Xavier menoleh kearah Agatha dengan alis naik sebelah.
"Intinya aku tidak tahu, mengapa bisa tidur di kamar mu," ucap Xavier seraya beranjak dari tempat tidur Agatha.
"Lah si tembok, mau kemana Lo?" tanya Agatha saat melihat Xavier melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Tentu saja ingin kembali ke kamarku," jawab Xavier sebelum menutup pintu kamar Agatha.
"Berarti yang gue peluk semaleman bukan guling dong, tapi si Xapier," gumam Agatha.
"Udahlah, mending mandi," ucap Agatha.
Agatha segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelahnya barulah Agatha turun untuk sarapan. Sehabis sarapan Agatha melakukan aktivitas yang sering ia lakukan selama di dunia novel ini.
***
1168
***
Hayyy, semoga suka dan nggak bosen sama alur ceritanya.
bantu ramein ya kak.
Bila ada kesalahan atau typo dalam penulisan tolong komen ya kak.
See you next part