Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
30. Penghianat



"Xalzero!" Agatha sedikit keras memanggil Xalzero. Sebelum pisau itu menusuk bagian belakang Xalzero, Agatha lebih dulu menahan pisau tajam itu yang membuat tangannya berdarah, Agatha menendang pria itu dan mengambil pisau tersebut dari tangannya dan menusukkannya pas pada bagian jantung.


Blash


Agatha mendesis pelan saat merasakan sedikit perih pada telapak tangannya yang menahan pisau tersebut.


Xalzero berbalik, begitupun dengan Levon.  Mereka berdua terkejut saat melihat Agatha dengan santai menusuk pria itu tepat pada jantungnya.


"Aku baru melihat sisi lainnya setelah selama ini selalu mengirim informasi tentang nya padamu," bisik Levon pada Xalzero.


"Jangan kau, aku saja baru kali ini melihat sisi lain dari Mommy-ku," balas Xalzero berbisik.


"Aku kira Nyonya Agatha hanyalah gadis yang anggun dan multitalenta, ternyata Nyonya Agatha juga bisa seberani dan sekejam ini," bisik salah satu bodyguard. "Kau benar, aku juga mengiranya seperti itu,"


Dan masih banyak bisikan-bisikan lainnya yang Agatha dengar. Agatha tak peduli, yang terpenting putranya selamat bahkan bila harus mengorbankan nyawanya Agatha pun rela bila itu demi keselamatan putranya.


Tanpa memperdulikan luka pada telapak tangannya Agatha melanjutkan langkahnya menuju pintu terkakhir yang sedikit agak jauh dan mungkin membutuhkan waktu.


"Mengapa kalian hanya diam disana?" tanya Agatha datar namun tersirat akan kekhawatiran dan amarah. Mereka diam dan segera berjalan menyusul Agatha yang sudah berjalan duluan. 


Baru beberapa langkah mereka berjalan, kini mereka dihalangi kembali oleh beberapa pria berbadan kekar, walaupun tak sebanyak tadi tetap saja menguras tenaga.


"Sialan! Mengapa banyak sekali bodyguardnya," umpat Agatha disela-sela ia melawan serangan dari salah satu lelaki berbadan kekar.


Setelah pria itu Agatha tumbangkan segera Agatha pergi meninggalkan mereka yang masih melawan para pria kekar itu. Tanpa Agatha sadari bahwa Levon mengetahui bahwa Agatha pergi duluan.


"Zero, hanya tinggal mereka bukan? Sekarang ayo kita ikuti Mommy-mu yang telah berjalan jauh didepan sana," bisik Levon pada Xalzero.


"Baiklah, ayo." Xalzero serta Levon berjalan mengikuti Agatha yang sudah jauh didepan sana.


"Mommy, mengapa kamu sangat nekat?" batin Xalzero cemas.


"Sepertinya Mommy-mu pergi menuju pintu terkahir," ucap Levon. Xalzero melirik Levon sekilas. "Sepertinya, kita harus cepat karena kita telah tertinggal jauh."


Agatha tidak sadar bahwa keduanya mengikutinya, ia semakin berjalan cepat sembari berjaga-jaga apabila ada yang menyerang. Setelah beberapa menit berlahan dengan langkah cepatnya Agatha telah sampai didekat pintu terakhir itu. Samar-samar Agatha mendengar pembicaraan dari pintu sebelah tepat Zaqiel disekap.


"Apakah anak itu telah sadar?"


"Belum, Tuan,"


"Ck, tambahkan bodyguard lagi agar kita bisa menyiksa kembali,"


"Baik, Tuan. Saya akan menambah beberapa bodyguard,"


Mendengar kata menyiksa Agatha menjadi naik pitam. Tetapi ia tidak boleh gegabah dengan menendang pintu yang sedikit terbuka itu. Dengan menahan amarah yang membuncah Agatha membuka pelan pintu terkahir dekat jendela itu.


Sabar membuka pintunya Agatha tidak melihat ada seorang pun kecuali seorang anak kecil yang sedang terduduk di kursi dengan kondisi yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja.


"Zaqiel ..."


Segera Agatha melangkahkan kakinya menuju Zaqiel, tetapi sebelum sampai didekat Zaqiel, dirinya lebih dulu dikejutkan akan kedatangan tiga pria dan Agatha mengenali salah satu dari mereka.


"Ahh, aku kira kau sedang bertarung melawan bodyguard ku bersama orang-orang bodoh itu. Ternyata dugaan ku salah," ucap pria itu dengan senyum miringnya.


"Kau tiba sangat tepat dari yang ku perkirakan," lanjut pria itu.


"Dasar penghianat! Munafik!" sarkas Agatha dengan keras. Bukannya marah pria itu malah tertawa bak iblis.


"Aku tidak peduli, Agatha. Aku mendekati Xavier selama ini karena memiliki niat terselubung bukan murni karena ingin berteman hingga bersahabat," ucap pria itu.


Pria itu mengisyaratkan salah satu bodyguardnya maju menyerah Agatha. Agatha yang merasa diserang pun menyerang bodyguard itu balik.


"****!" umpat Agatha saat rahang nya terkena pukulan keras dari bodyguard itu. Agatha memukul pria itu dengan brutal dan kasar, Agatha tidak akan menggunakan belatinya untuk saat ini.


Brugh


Pria itu terjatuh akibat pukulan pada punggung serta bagian depan tepat pada dada nya.


"Lepasin anak gue," ucap Agatha.


"Tidak semudah itu," balas pria itu.


"Ah, kau benar aku sangat bodoh karena baru sekarang aku baru melakukan rencana yang sudah aku susun sedari lama."


"Terserah." Tanpa menghiraukan pria itu Agatha segera melangkahkan kakinya menuju Zaqiel berada. Terlihat Zaqiel yang terduduk tidak sadarkan diri.


"Zaqiel, bangun sayang." Agatha mencoba membangunkan Zaqiel dengan menepuk pelan pipinya yang merah, sepertinya mereka memberikan beberapa tamparan kepada putra tampannya.


Tanpa Agatha sadari bahwa ada seorang pria yang akan menusukkan dari belakang. Akibat terlalu fokus membangunkan Zaqiel, hingga Zaqiel dengan perlahan membuka matanya pada saat itu pula pria itu menusuk Agatha.


"Akhhh!" teriak Agatha saat merasakan sakit pada bahu sebelah kanannya. "Mommy," lirih Zaqiel.


Pakaian putih yang semula Agatha pakai kini terlihat noda darah merah pada tempat tusukan tadi.


"Sialan Lo!"


Tanpa basa-basi lagi Agatha memukul pria itu tidak lupa pula mengeluarkan belati beracunnya. Jujur saja Agatha sedikit kualahan akibat penghianat itu menambahkan satu pria lagi ditambah lagi luka tusuk pada punggungnya.


Saat ini Agatha dikepung oleh keduanya. Agatha mencoba menahan rasa sakit pada bahunya. Agatha memukul pria itu lalu menusukkan belati itu pada perut sebelah kanan. Tinggal satu lagi, ah keparat dua lagi dan sialnya satunya berada didekat Zaqiel dengan membawa sebuah belati juga.


Agatha menendang aset pribadi pria itu, lalu mendekat kearah Zaqiel dan menyelamatkannya dari tusukan belati dengan mengorbankan lengan nya, tidak berhenti hingga disana, bahu bagian kanan Agatha kembali ditusuk, yang berarti kini kedua baju Agatha terluka. Kaos putih yang semulanya hanya bernoda merah pada bahu kanan kini pada bagian bahu kirinya ternodai akan cairan merah yang mulai keluar.


"Mommy!"


"Agatha!" teriak Xalzero dan Xavier bersamaan. Mereka terkejut saat melihat kedua pria itu menusuk Agatha. Lebih terkejutnya lagi Xavier saat melihat sahabatnya. Begitu pula dengan Xalzero, Alex dan Vadlan yang terkejut. Tak terkecuali Levon serta lelaki disampingnya.


"Galen. Teganya dirimu berkhianat pada ku!" teriak Xavier dengan amarahnya.


"Kau baru tahu?"


"Haish, kau ini adalah Ceo tetapi mengapa sangat bodoh hah? Tidak menyadari semua niat terselubung ku selama ini," ucap Galen meremehkan Xavier.


"Jadi kau yang mengambil dokumen serta surat penting perusahaan?" tanya Xavier dengan intonasi yang tinggi.


"Benar sekali, yang mengambil dokumen serta surat penting itu adalah diriku." Xavier terkejut akan jawaban yang diberikan oleh Galen.


"Entah apa kesalahan ku hingga kau berkhianat kepada ku," ucap Xavier menurunkan intonasi suaranya.


"Kesalahan mu serta keluarga mu banyak Xavier! Karena keluarga mu, aku harus kehilangan ayah serta ibu ku!" balas Galen dengan intonasi yang tinggi.


"Itu buka kesalahan keluarga ku! Tetapi kesalahan ayah serta ibu mu!" Xavier membalas kembali dengan intonasi yang tak kalah tinggi.


Galen yang tidak terima ayah serta ibu nya disalahkan pun akan menusukkan sebuah belati pada Xavier, tetapi tidak tepat sasaran, belati itu bukan menusuk tepat pada bagian jantung Xavier bukan juga yang lainnya, melainkan belati itu menusuk pada punggung kecil seorang gadis yang kini tepat berada didepannya. Gadis itu berjinjit untuk menyelamatkan Xavier, sehingga punggungnya yang terkena. Xalzero, Levon, Alex, Richard serta Vadlan membulatkan matanya, ingin maju mereka tak berani akibat larangan dari Xavier.


Agatha memandang Xavier dengan senyum manis serta tatapan yang teduh. Untuk beberapa saat Xavier mematung hingga Xalzero menyadarkannya.


"Agatha," lirih Xavier seraya menarik belati yang tertancap di bagian punggung Agatha dan memeluk tubuh mungil Agatha yang dengan seiringnya waktu melemah akibat cairan kental merah yang terus mengalir dari kedua bahu, lengan, telapak tangan serta punggungnya.


"Tidak usah menangis, aku tidak apa-apa, ini ha-nya luka bia-sa. Aku akan baik-baik sa-jha," ucap Agatha sedikit terputus-putus. Tidak lupa dengan senyum manisnya yang membuat Xavier bertambah khawatir.


Perkataan dari Agatha tak mampu membuat Xavier tenang, hal itu semakin membuat Xavier khawatir.


"Alex cepat hubungi Andri untuk kemari menggunankan helikopter! Cepat!" titah Xavier kepada Alex. Dengan tangan yang sedikit gemetaran Alex menghubungi Andri.


"Tunggu pembalasanku, Galen! Kau telah melukai istri serta putra ku!" ucap Xavier dengan intonasi rendahnya, jangan lupakan aura gelap dan kelamnya yang kental. Yang membuat siapa saja takut.


Setelah diperhatikan Galen telah pergi, tidak ada yang menyadari hal ini. Selain Levon.


"Dasar bodoh." Levon bergumam pelan. "Kirim beberapa mata-mata untuk penghianat itu, Grissham," titah Levon pada lelaki bernama Grissham disebelah nya.


"Baik, Tuan Muda." Lelaki itu menganggukkan kepalanya.


*


*


*


*


*