Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
21. Trauma Agatha



"Akhhh, Mamah, Tata takut!" pekik Agatha saat suara petir kembali terdengar. Hal itu mampu membuat ketakutan Agatha bertambah apalagi saat ini sedang gelap tidak ada penerangan akibat padam nya listrik.


Ketakutan Agatha kembali, samar-samar bayangan belasan tahun lalu kembali teringat yang membuat Agatha meracau ketakutan.


"Mamah, Tata takut. Papah tolongin Tata," racau Agatha dengan isakan nya. Agatha tidak berani keluar karena takut akan kegelapan.


Agatha semakin menutup kuat telinganya saat mendengar suara petir yang menggelegar diikuti oleh cahayanya yang terkadang masuk melewati jendela balkon yang tidak tertutup sempurna oleh gorden.


    ***


Terlihat seorang gadis kecil berusia tujuh tahun yang sedang meringkuk ketakutan, dia adalah Agatha kecil.


"Papah, Mamah, Tata takut," racau nya. Hingga suara petir terdengar yang membuat Agatha menutup telinga nya.


"Tata takut,"


"Tolongin Tata, disini gelap,"


"Tolongin Tata, Mamah, Papah,"


"Tata takut, disini gelap, nggak ada lampu,"


"Tata takut, ada petir,"


Agatha kecil yang semalaman dikurung di gudang tanpa penerangan ditambah dengan suara petir dan guntur yang saling bersahutan membuat nya trauma akan hal itu.


Disaat anak seusianya yang sibuk bermain dengan teman sebayanya, berbeda dengan Agatha yang sibuk dengan kesembuhan mentalnya. Agatha kecil harus pergi ke psikiater setiap dua Minggu sekali, semua itu Agatha kecil lakukan selama satu tahun lamanya. Akibat dorongan dari Papah, Mamah, orang tua dari Mama dan Papanya Agatha pun sembuh dari traumanya.


Hingga pada saat Agatha menduduki sekolah menengah atas trauma itu kembali akibat penculikan yang dilakukan oleh musuh bisnis keluarga nya, yang membuat traumanya kembali hingga sekarang, untung saja trauma itu tidak separah saat sebelumnya. Tetapi tetap saja trauma itu sangat berbahaya.


    ****


Terlihat Xavier yang berjalan pelan menuju kamar anak-anaknya. Xavier takut terjadi sesuatu pada mereka apalagi Zaqiel. Pertama-tama Xavier menuju kamar Zaqiel sebelum itu Xavier sudah menyuruh Xalzero untuk mendatangi kamar Arshaka yang berada di sebelah kamar Zaqiel.


Setelah berhasil membawa Zaqiel keluar dari kamarnya Xavier membawa Zaqiel menuju ruang santai yang ada di lantai tiga.


"Dimana Mommy kalian?"


"Dimana Mommy?"


Tanya Xavier, Xalzero, Arshaka dan Zaqiel bersamaan. "Dimana Mommy kalian?" tanya Xavier lagi dengan wajah yang kentara khawatir.


"Xalzero kau disini temani adik mu, Daddy akan pergi ke kamar Mommy mu," ucap Xavier sebelum meninggalkan mereka dengan langkah yang tergesa-gesa.


Beberapa saat kemudian Xavier telah sampai di kamar Agatha, dapat xavier dengar dari luar sini suara Isak tangis ketakutan.


"Mamah, Papah, Tata takut,"


Dapat Xavier dengar bahwa isakan diiringi dengan pekikan ketakutan saat kembali terdengar suara petir. Tanpa mengetuk lagi Xavier segera membuka pintu kamar tersebut.


Dapat dia lihat dari pencahayaan ponselnya Agatha yang sedang terduduk dengan menutup telinganya jangan lupakan juga bibir nya yang terus mengeluarkan racauan.


"Tolong,"


"Ta-kut, ini gelap, terus ada pe-tir juga," lirih Agatha dengan terputus-putus. Xavier segera mendekati Agatha namun Agatha malah menjauh dari nya.


"Agatha," panggil Xavier.


"Jangan, jangan, jangan, ka-mu ja-hat," racau nya. Xavier memandang Agatha dengan raut khawatir. "Kamu penjahat!" Agatha berteriak histeris dan menjauh dari Xavier.


"Agatha, ini aku, Xavier. Bukan penjahat." Xavier berucap lembut agar Agatha tidak menjauh darinya lagi.


"Xa-vier?" lirih Agatha dengan mendongakkan kepalnya menatap kearah Xavier. Saat mengetahui bahwa benar itu adalah Xavier segera Agatha memeluknya erat sontak Xavier yang belum siap pun sedikit terhuyung kebelakang dan hampir jatuh. Dengan perlahan Xavier membalas pelukan Agatha juga menepuk pelan punggung kecil rapuh tersebut.


"Xavi ... Tata takut," lirih Agatha didalam dekapan Xavier. Xavier semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh kecil rapuh Agatha.


"Tata tidak perlu takut, ada Xavi disini," ucap Xavier guna menenangkan Agatha. "Xavi ... Takutt, ayo keluar dari sini," ucap Agatha.


Xavier pun membantu Agatha berdiri, namun saat akan berjalan Agatha hampir terjatuh, tanpa berkata Xavier pun menggendong nya. Hingga sampai di ruang santai terlihat Xalzero, Arshaka dan Zaqiel disana.


"Daddy," ucap mereka bertiga saat melihat Xavier yang menggendong Agatha. "Daddy, ada apa dengan Mommy?" tanya Arshaka melihat Agatha yang berada di gendongan Xavier.


"Sepertinya Mommy kalian memiliki trauma akan kegelapan dan petir. Jadi bisa kau hidupkan lampu mu," ucap Xavier kepada Xalzero.


Tanpa mengatakan apapun Xalzero segera  menghidupkan lampu ponselnya lalu memberikan sebuah gelas kaca pas pada lampu ponselnya berada, alhasil lampu itu menjadi meremang namun cukup untuk melihat.


"Jangan menangis, sekarang sudah tidak gelap, bukalah mata mu," ucap Xavier lembut pada Agatha yang menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Xavier.


Perlahan Agatha mengeluarkan wajahnya dari ceruk leher Xavier dan benar sudah tidak gelap lagi tetapi hal itu tidak berpengaruh saat petir kembali terdengar yang membuat Agatha menahan pekikannya.


"Tenanglah, disini ada kami, kamu tidak perlu takut." Xavier bertutur lembut seraya mengusap pelan kepala belakang Agatha pelan.


"Xavi ... Ta-kut, pe-tir," lirih Agatha memeluk erat Xavier. Ya tuhan, bagaimana ini, kapankah hujan dan petir ini akan selesai? Pasalnya sedari tadi hujan dan petir ini tidak berhenti-henti yang membuat Agatha tidak tenang. "Tenang, disini ada Xavi, Tata tidak perlu takut," ucap Xavier lembut.


Beberapa saat kemudian tidak ada lagi suara petir terdengar hanya ada suara hujan yang tidak terlalu deras, hal tersebut mampu membuat Agatha lebih tenang dari sebelumnya, bahkan sekarang Agatha telah tertidur dalam dekapan Xavier. Tadi juga Xavier sempat menyuruh Xalzero untuk mengambilkan selimut cadangan yang ada di ruang santai.


"Apakah Mommy telah tidur Dad?" tanya Zaqiel pada Xavier yang menepuk-nepuk pelan punggung kecil Agatha.


"Mommy-mu telah tertidur sedari tadi," jawab Xavier masih dengan menepuk-nepuk pelan punggung kecil Agatha.


Tidak lama dari itu hujan mulai reda dan listrik pun telah hidup. Xavier menyuruh para putranya untuk kembali ke kamar mereka masing-masing, sedangkan dirinya kan menuju kamar Agatha.


Perlahan-lahan Xavier menurunkan Agatha dari gendongannya. Hingga saat Xavier akan menjauh Agatha menarik tangannya. "Jangan pergi, temenin Tata disini," ucap Agatha dengan mata terpejam.


Xavier pun perlahan melepaskan tangan Agatha dan mulai membaringkan tubuhnya di samping Agatha.


"Mimpi indah," ucapnya sebelum menyusul Agatha menuju alam mimpi.


*


*


*


*


*