Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
31. Kumohon Bertahanlah



Selama 20 menit lamanya menunggu Andri datang bersama pilot pribadi keluarga Amalaric. Akhirnya merek berdua datang. Segera Xavier membawa Agatha masuk ke helikopter tersebut.


"Cepat! Istriku bisa kehabisan banyak darah bila kalian lelet!" desak Xavier pada pilot tersebut.


"Tidak lama lagi kita akan sampai di rumah sakit terdekat. Tolong bertahanlah," pinta Xavier pada Agatha yang kini berada dalam dekapannya.


Dapat Agatha lihat bahwa mata hitam legam itu memancarkan sebuah kekhawatiran yang dalam serta kekecewaan.


"Jangan berkecil hati, masih ada Alex, Vadlan serta Richard yang akan menjadi sahabat terbaik mu," ucap Agatha pelan namun dapat terdengar oleh Xavier.


Xavier tersenyum lembut, bahkan disaat kondisinya yang sedang seperti ini Agatha sempat-sempatnya memahaminya. "Jangan hanya memahami diriku, tetapi pahami juga dirimu yang sedang tidak baik-baik saja."


"Aku baik-baik saja Xavier." Balas Agatha. Xavier menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Hingga beberapa saat kemudian Xavier merasakan bahwa tubuh mungil yang berada dalam dekapannya tambah melemah dari sebelumnya.


"Agatha," panggil Xavier.


"Aku tidak pa-pa. A-ku baik-baik sa-jha, kamu jangan khawatir," ucap Agatha dengan senyum tipisnya.


"Aku ingin tidur sebentar," itu adalah ucapan Agatha yang sukses membuat Xavier kembali menitihkan air matanya.


"Agatha, ku mohon bertahanlah. Kita sebentar lagi akan sampai. Ku mohon, jangan menutup mata mu." Namun permohonan dari Xavier tidak terkabulkan, mata indah yang selalu menatapnya lembut selama ini tertutup.


"Agatha, ku mohon, buka mata mu kembali."


"Agatha,"


"Agatha! Agatha! Jangan seperti ini!" Xavier berucap dengan menepuk pelan pipi Agatha yang tidak terdapat luka lebam.


Xavier bernapas lega saat helikopter yang dinaikinya mendarat didepan loby rumah sakit. Segera Xavier turun dan membaringkan Agatha pada brankar pasien yang telah dipersiapkan sedari tadi sebelum mereka datang.


"Ku mohon bertahanlah, " bisik Xavier sebelum Agatha masuk keruang IGD.


Denia datang dengan buliran air mata yang terus mengalir. Xavier yang melihat Denia pun segera menghampiri dan memeluknya. "Bunda, maafkan Xavier yang gagal menjaga Agatha," ucap Xavier dengan isakannya.


Denia membalas pelukan Xavier. "Kamu tidak salah, ini semua sudah takdir."


Reiga dan Geisha baru kali ini melihat Xavier menangis setelah sekian lama tidak menangis.


"Kamu tidak salah, ini sudah menjadi takdir Agatha. Disini tidak ada yang salah," ucap Arsen. Xavier tambah terisak dalam pelukan Denia, perlahan Geisha maju ikut memeluk Denia dan Xavier.


"Sudah ya jangan bersedih, Agatha pasti akan baik-baik saja, dia adalah gadis yang kuat." Kata-kata yang diberikan oleh Geisha mungkin mampu untuk Denia, namun tidak untuk Xavier.


"Sudah, ayo duduk," ajak Geisha.


Xavier menurut dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu ruang IGD yang telah disiapkan. Terdengar derap langkah yang menuju kearah mereka, Xavier kira itu adalah mereka semua yang dari pinggiran kota ternyata salah derap langkah itu berasal dari seorang lelaki tampan tetapi masih lebih tampan Xavier.


"Bunda, bagaimana dengan keadaan Adikku?" Dari kata adikku tentu kalian tahu siapa lelaki itu. Yap! Lelaki itu adalah Calvin, satu-satunya saudara Agatha.


"Adikmu masih berada di dalam, Cal," jawab Denia.


"Ini semua karena mu!" Calvin berucap dengan menunjuk Xavier yang tengah menunduk.


"Ya, ini semua salah ku, aku tidak becus menjaga Agatha, hingga dia menjadi seperti ini," lirih Xavier dengan diiringi oleh buliran bening yang berjatuhan.


"Setelah Agatha keluar dari rumah sakit, dia tidak akan tinggal di mansion mu lagi melainkan di mansion ku." Ucapan dari Calvin mampu membuat Xavier mendongakkan wajahnya menatap Calvin yang tengah berdiri didepannya.


"Mengapa begitu? Agatha adalah istriku," tanya Xavier.


"Dia adalah adikku, biarkan aku saja yang menjaganya, ini adalah yang ketiga kalinya adikku masuk rumah sakit!"


"Tidak bisa! Agatha akan tetap tinggal bersama ku,"


"Tidak! Agatha akan bersama ku!"


"Aku akan membawanya, tanpa persetujuan mu!"


"Hei! Sudah! Jangan bertengkar ini rumah sakit!" lerai Denia. Keduanya pun terdiam dan mendudukkan diri masing-masing. Hingga beberapa waktu kemudian mereka semua datang.


Xavier tersenyum kecil. "Mommy masih berada didalam ditangani oleh dokter," jawab Xavier.


"Maafkan Zaqiel. Ini semua salah Zaqiel," ucap Zaqiel dengan menundukkan kepalnya.


"Tidak, ini bukan salah Zaqiel. Ini murni takdir yang diberikan oleh tuhan untuk ciptaannya yang kuat, contohnya Mommy-mu," balas Xavier.


"Tapi Dad—"


"Sstt, ini bukan salah Zaqiel." Xavier memotong ucapan Zaqiel.


     ****


Setelah 4 jam lamanya menunggu akhirnya pintu yang tertutup itu terbuka menampilkan seorang Dokter tampan, tetapi masih lebih tampan Xavier kemana-mana. Dokter yang menangani Agatha kali ini berbeda karena berbeda rumah sakit.


"Keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.


"Saya suaminya,"


"Saya abangnya,"


Xavier dan Calvin menjawab dengan bersamaan, hal tersebut membuat keduanya bersamaan menolehkan kepalnya mereka lalu melemparkan tatapan tajam, melebihi tajamnya omongan tetangga.


"Mengapa kau mengikuti ku?" tanya Xavier dingin.


"Untuk apa aku mengikuti mu? Dia adikku, aku juga berhak atas dirinya," jawab Calvin tak mau kalah.


"Dasar Kakak ipar jahanam,"


"Dasar adik ipar biadab,"


Dokter serta kedua orang tua Xavier dan Calvin menghela nafas kasar melihat kelakuan kekanakan keduanya. Dokter itu baru tahu bahwa CEO yang selama ini terkenal dingin dan irit bicara bisa seperti ini. Sungguh sisi lain yang sangat jauh.


"Jadi bagaimana keadaan putri kami dok?" Denia yang jengah pun mengajukan pertanyaan itu kepada sang dokter.


"Kondisi pasien telah sedikit membaik setelah diberikan tiga kantung darah. Luka tusuk pada pasien juga telah dijahit, untuk sementara pasien tidak diperbolehkan untuk banyak gerak hingga jahitan pada luka mengering," jelas Dokter tersebut.


"Baiklah, apakah kami boleh masuk?" tanya Geisha.


"Boleh, tetapi hanya sebentar karena pasien akan dipindahkan keruang rawat." Dokter tersebut menjawab dengan senyum simpulnya.


"Bila tidak ada lagi yang akan ditanya, saya permisi karena masih ada operasi," ucapnya sebelum pergi.


Mereka semua masuk dan terlihatlah seorang gadis yang sedang memejamkan mata dengan posisi duduk. Gadis tersebut adalah Agatha. Untuk sementara Agatha tidak akan bisa berbaring akibat luka pada punggung serta kedua bahunya.


Denia, Geisha dan Zaqiel tidak dapat menahan isakan mereka melihat kondisi Agatha yang sekarang. Sedangkan yang lainnya juga begitu hanya saja mereka tahan.


"Mommy," lirih Zaqiel yang berada disamping brankar Agatha.


"Karena Zaqiel diculik, Mommy jadi begini, maafin Qiel ya," gumamnya lirih yang didengar oleh Geisha.


"Sayang, ini semua bukan karena Zaqiel. Mommy  kamu rela berkorban dan berkahir terluka karena dia sayang sama kamu," ucap Geisha lembut. Zaqiel terdiam saat mendengar ucapan dari sang Oma.


"Jadi, sekarang jangan nyalahin diri kamu sendiri ya," lanjut Geisha dengan senyum sendunya. Zaiql menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap Agatha yang masih setia menutup mata.


Hingga beberapa saat kemudian tiga orang suster datang, mereka berkata akan membawa Agatha menuju ruang rawatnya yang ditempatkan di ruangan VVI tentunya.


*


*


*


*


*