Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
18. Mimpi Buruk



"Kau tidak bisa pulang, karena ini adalah tempat asal mu," ucap seseorang dari pintu balkon.


Dia adalah Denia, bunda dari Agatha tentunya.


"Anak Bunda ni, senggol lah, slwbwwwwtretetetet," ~ Tata


"Maksud Bunda apa ya? Agatha ... Nggak ngeh." Agatha melayangkan pertanyaan nya pada Denia.


"Ini raga mu Agatha, bukan raga orang lain, jiwa mu hanya tertukar," jawab Denia yang Agatha respon dengan gelengan pelan.


"Raga ku?" beo Agatha.


"Maksud kalian apa sih? Aku nggak ngerti," tanya Agatha dengan wajah bingung nya.


"Mau Bunda jelasin?" tanya Denia pada Agatha yang dijawab anggukan kecil oleh sang empu.


"14 tahun lalu, kamu pernah mengalami kecelakaan yang membuat mu koma selama beberapa bulan, hingga kamu bangun dan sikap mu berubah pada kami. Beberapa bulan setelah keluar dari rumah sakit, Bunda ketemu sama seorang ibu tua yang akan menyebrang jalan, kebetulan kendaraan sedang banyak uang berlalu lalang jadi Bunda bantu, setelah Bunda bantu ibu tua itu berkata bahwa jiwa tertukar, lalu saat Bunda akan bertanya ibu tua itu sudah tidak ada," jelas nya.


"Beneran?" tanya Agatha yang dijawab anggukan oleh Denia.


"Tapi nggak mungkin," gumam Agatha.


"Nggak, ini nggak mungkin," gumam nya.


"Ini nggak mungkin!"


****


"Nggak mungkin!" teriak Agatha yang sukses membuat Xavier yang sedang memeriksa beberapa email dari asistennya kaget.


"Ada apa Agatha?" tanya Xavier setelah mendudukkan dirinya di samping Agatha.


"Nggak mungkin kan, Xavier?" tanya Agatha pada Xavier.


"Nggak mungkin apa?" tanya Xavier balik.


"Nggak jadi," jawab Agatha.


"Ini minum," ucap Xavier seraya memberikan segelas air pada Agatha. Setelah minum Agatha memberikan gelas kosong tersebut pada Xavier.


Agatha menghela napas nya pelan lalu bergumam. " Ternyata hanya mimpi,"


"Apakah kamu mengalami mimpi buruk, hingga berteriak seperti itu?" tanya Xavier yang dijawab anggukan pelan oleh Agatha.


Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka berdua. Hingga pertanyaan dari Xavier memecah keheningan diantara mereka.


"Tadi aku membeli beberapa makanan pedagang kaki lima, apakah kau mau?" tanya Xavier.


"Mau dong," jawab Agatha.


"Cuci dulu wajah mu lalu kita turun," suruh Xavier yang langsung dilakukan oleh Agatha.


Saat ini Xavier dan Agatha telah berada di balkon kamar Agatha. Dengan di temani oleh beberapa makanan dan dua minuman.


"Makanan favorit ini," ucap Agatha memasukkan satu tusuk telur gulung.


"Selain itu apa lagi yang kau sukai?" tanya Xavier.


"Bakso bakar, martrabrak sama makanan yang pedes-pedes," jawab Agatha.


"Selain itu?" tanya Xavier.


"Selain apaan lagi dah?" tanya Agatha balik.


"Seperti minuman dan hobi," jawab Xavier, sungguh Xavier sangat penasaran akan hal itu.


"Oh, kalau minuman ya coklat sama green tea, terus kalau hobi baca, makan, masak, halu dan gangguin anak orang." Sungguh jawaban Agatha yang terakhir mampu membuat Xavier terkekeh.


"Aku tidak pernah melihat mu mengganggu anak orang," ucap Xavier.


"Disini nggak ada bocil," balas Agatha.


"Benar juga," timpal Xavier.


"Cepatlah habiskan makanan mu, lalu kita pergi jalan-jalan," ucap Xavier.


"Jalan-jalan kemana?" tanya Agatha pada Xavier.


"Kemana saja yang diri mu mau," jawab Xavier memandang wajah cantik dan imut Agatha.


"Tapi ajak juga anak-anak ya," pinta Agatha.


"Hm, baiklah, nanti mereka akan menyusul bersama supir," ucap Xavier.


"Baiklah, aku ingin ke pantai, boleh kan?" tanya Agatha.


"Boleh, bukanlah sudah ku bilang bahwa kemana saja yang diri mu mau," jawab Xavier dengan mengelus lembut pucuk kepala Agatha.


Tanpa mengatakan apapun Agatha segera pergi meninggalkan Xavier yang sedang tersenyum kecil.


*


*


*


*


*


*


*