Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
48. Jalan-Jalan



Hari ini Agatha akan pergi keluar bersama dengan Opa dan Omanya. Kalau jalan sama Alaxia atau Celsia dia sudah bosan makanya ngajak Opa sama Oma buat jalan-jalan ke mall.


Style Agatha hari ini. Dress pink dusty selutut. Sepatu kets kets putih dan Sling bag cream. Untuk rambut Agatha menggerainya dengan satu jepit rambut mutiara pada bagian kanan. Untuk make up Agatha hanya memoles wajahnya dengan sunscreen lalu bedak tipis dengan sedikit liptin agar bibirnya tidak pucat.


"Siap untuk pergi!" seru Agatha.


Saat sampai dilantai bawah sudah ada Opa dan Oma nya yang sedang menunggu dirinya. "Ya ampun. Cucu Oma cantik banget deh,", puji Oma Zena yang membuat Agatha tersenyum malu.


"Pake malu-malu kambing segala Lo," celetuk Alaxia yang sukses membuat Agatha langsung memasang wajah lempengnya.


"Udah ayo pergi, biar kita bisa ngabisin duit Opa mu," ajak Oma Zena. Kedua perempuan berbeda usia itu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Kini terlihat Opa Nagara yang sedang menunggu kedua perempuan berbeda usia itu memilih pakaian. Opa Nagara telah menunggu sekitsr tiga puluh menitan, tetapi Opa Nagara hanya melihat satu set Hoodie dan sweater yang dibawa oleh cucu nya, sedangkan istrinya sudah membawa beberapa pakaian seperti dress, baju atasan dan celana.


"Sudah?" tanya Opa Nagara saat melihat kedua perempuan itu menghampiri dirinya. "Sudah Opa," jawaba Agatha.


"Kenapa kamu hanya membeli sedikit pakaian, sayang? Uang Opa tidak akan habis hanya dengan membeli banyak pakaian." Agatha meringis mendengar ucapan Opa Nagara. Apakah ini kurang banyak? Dua Hoodie, tiga sweater, dua baju rajut, dua cardigan, celana panjang satu dan celana pendek satu dan terakhir satu dress. Apakah itu masih kurang? Tetapi sepertinya iya, jika dilihat belanjaan milik Omanya lebih banyak daripada dirinya.


"Ini udah cukup bagi Agatha, Opa," jawab Agatha yang memang benar.


"Beneran, sayang?" tanya Oma Zena.


"Beneran Oma," jawab Agatha.


"Yaudah, ayo bayar terus kita pergi cari makanan," ajak Agatha dengan semangat 45 nya.


"Sepertinya dia lebih menyukai makanan daripada pakaian," ucap Oma Zena yang diangguki oleh Opa Nagara.


Setelah membayar semua belanjaan. Ketiganya menuju toko yang memiliki berbagai macam kue ataupun makanan manis.


"Kalian bisa menunggu disini saja. Agatha akan pergi membeli kue," ucapa Agatha lalu meninggalkan keduanya.


Agatha berjalan mengitari toko kue itu. Empat puluh menit kemudian Agatha telah kembali dengan membawa empat keranjang yang berisi bolu, brownies, cookies, cake dan dan banyak lagi.


"Astaga. Untuk apa semua ini?" tanya Oma Zena. Pasalnya semua makanan yang dipilih oleh cucunya memiliki aneka ragam varian.


"Makan, Oma," jawab Agatha dengan senyum pepsodentnya.


"Yaudah ayo bayar, tersu kita lanjut jalan-jalan," ucap Opa Nagara.


Setelah membayar semua itu mereka kembali berjalan entah akan kemana, bila ingin pergi ke toko buku, sudah pasti buku yang ada berbahasa inggris ataupun Amerika, Agatha tidak kan mengerti.


"Ingin pergi kemana?" tanya Opa Nagara.


"Baiklah ayo."


Kini Opa Nagara, Oma Zena dan Agatha telah berada di restoran yang ada didalam mall itu.


"Ingin pesan apa?"


"Eum, burger dua sama potato wedge. Minumnya matcha late sama air putih." Waiters itu mencatat apa yang dipesan oleha Agatha.


"Baik. Pesanan akan datang beberapa saat lagi, saya permisi," ucap waiters itu sebelum pergi.


"Oma. Agatha punya sepupu lagi nggak selain Kak Xia?" tanya Agatha. Pasalnya selama ini hanya Alaxia yang ia tahu.


"Ada, cuman dia nggak di New York. Dia tinggal di Canada," jawab Oma Zena.


"Dia perempuan atau laki-laki dan siapa namanya, Oma?" tanya Agatha dengan binar diwajahnya.


"Dia laki-laki. Namanya Zero, dia lebih tua delapan tahun dari kamu, terus adiknya juga ada namanya Elvis, dia lebih tua empat tahun dari kamu," jawab Oma Zena.


"Kenapa Bang Zero sama Elvis nggak ke New York?" tanya Agatha.


"Belum. Kata Tante Keira mereka bakal ke New York Minggu depan, karena Bang Zero lagi sibuk." Agatha menganggukkan kepalanya mengerti. Tidak lama kemudian pesanan makanan ketiganya datang.


Setelah menghabiskan makanan yang dipesan, Opa Nagara segera membayarnya lalu mereka pulang. Selama perjalanan pulang bukan keheningan yang mengisi melainkan canda dan tawa dari Agatha yang membuat ketiganya terkadang tertawa.


Sesampainya di mansion, mata Agatha berbinar terang saat melihat banyak sekali box-box kue yang ia beli tadi.


Agatha menghitung box-box itu sesuai dengan varian yang ia beli tadi. Tetapi disini brownies cokelat dan cake nya masing-masing kurang dua. Air wajah Agatha seketika berubah menjadi muram. Apakah ada yang memakannya? Sebenarnya tidak masalah, tetapi mengapa tidak minta kepadanya dahulu sebum memakannya? Agatha tidak suka ini.


Oma Zena dan Opa Zena yang menyadari hal itu pun saling pandang. "Ada apa, Agatha?" tanya Oma Zena.


"Ini brownies nya kurang dua terus cake nya juga kurang dua," jawab Agatha.


"Agatha nggak masalah sebenarnya. Setidaknya minta dulu sama Agatha, jangan makan gitu aja," lanjut Agatha.


"Nanti Opa beliin lagi brownies sama cake nya yang kurang, sekarang Agatha naik gih. Istirahat," ujar Oma Zena lembut sembari mengusap pelan pucuk kepala Agatha.


"Yaudah kalo gitu Agatha naik dulu ya Oma," balas Agatha.


"Bibi, tolong masukkan semua itu kedalam pendingin," pesan Agatha sebelum menaiki lift. Bibi itu pun menganggukkan kepalanya.