
Di pagi hari yang cerah namun tidak dengan Agatha yang sedang berusaha melepaskan tangan kekar seorang pria yang sedari tadi tidak mau lepas dari pinggangnya.
"Sat, ni tangan gede banget, susah lagi dilepasnya," dumel Agatha untuk kesekian sekian kalinya.
"Bisakah Nona berhenti mendumel? Sedari tadi anda selalu mendumel, saya saja bosan mendengarkan nya,"
"Kalau bosen nggak usah didenger," balas Agatha sewot.
"Baiklah, Nona,"
"Ini gimana cara lepasnya?" tanya Agatha entah pada siapa.
"Xavier, bangun woyy," kata Agatha sembari menepuk-nepuk lengan pria itu kuat.
"Sat, bangun, gue mau mandi, jancok!" Teriak Agatha kesal. Bagaimana tidak kesal coba, biasanya kan, kalau bangun langsung bangun nggak kayak sekarang.
"Bisakah kau diam, ini masih pagi," gumam Xavier dengan perlahan membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Lepas, gue mau mandi," sewot Agatha dengan wajah kentara kesal. Bila tau begini, dari tadi aja Agatha teriakin ini orang.
"Ini masih sangat pagi, nanti saja. Aku juga masih mengantuk," balas Xavier sembari menutup matanya kembali dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Agatha.
"Masih sangat pagi mata Lo, ini udah jam enam lewat tiga puluh menit," timpal Agatha yang membuat Xavier langsung terbangun dari tidurnya.
"Benarkah?" tanya Xavier pelan.
"Bener, ngapain gue boong," jawab Agatha.
"Udah, sana Lo mandi, gue juga mau mandi, byee," suruh Agatha, lalu setelahnya pergi meninggalkan Xavier yang sedang duduk mengumpulkan nyawanya.
"Apakah dia sedari tadi membangunkan ku? Hingga wajahnya terlihat kesal?" tanya Xavier yang entah tertuju pada siapa, karena saat ini Xavier hanya seorang diri di kamarnya.
Setelah nyawanya terkumpul penuh Xavier segera menjalankan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak membutuhkan waktu yang lama Xavier telah keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggang lalu masuk ke pintu sebelah.
Beberapa saat kemudian Xavier telah keluar dari walk in closet dengan pakaian santainya, hari ini Xavier tidak bekerja karena hari minggu.
"Mana Agatha?" tanya Geisha pada Xavier yang baru saja datang.
"Dia masih berada di kamar," jawab Xavier antara benar dan tidak. Karena jujur saja Xavier tidak tau.
Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis dan anak lelaki yang bergandengan satu sama lain. Mereka adalah Agatha dan Zaqiel, memang di ruang makan saat ini hanya terisi Reiga dan Geisha saja.
"Selamat pagi, maaf terlambat," sapa Agatha pada mereka yang ada di meja makan.
"Juga, tidak apa-apa," balas Geisha.
"Ah iya, dimana Xalzero dan Arshaka, aku tidak melihatnya?" tanya Agatha saat tidak ada melihat Xalzero dan Arshaka. Biasanya juga kedua anak itu lebih dulu datang darinya. Agatha akui bahwa dirinya memang suka terlambat untuk ke meja makan saat sarapan, makan siang dan makan malam tiba.
"Tidak tau, sepertinya mereka juga akan sedikit terlambat," jawab Geisha. Tidak lama setelah Geisha menjawab, kedua anak yang mereka bicarakan datang.
"Selamat pagi, Opa, Oma, Daddy dan Mommy," sapa Xalzero dan Arshaka.
"Selamat pagi juga," balas Geisha dan Reiga.
"Too," balas Agatha.
"Juga," balas Xavier.
Setelah itu ruang makan menjadi senyap karena mereka semua sibuk pada sarapannya masing-masing.
Setelah sarapan Agatha kembali ke kamarnya untuk mengambil handphone kesayangannya. Setelah mengambil handphone dan dua buku novel Agatha pergi turun, ia berencana akan membaca novel di tepian kolam renang. Sepertinya bila membaca disana sangat enak, apalagikan disana sepi.
\*\*\*
Saat sedang asik membaca Agatha dikejutkan oleh sebuah suara seruan Zaqiel hingga terjengkang ke depan yang mengakibatkan Agatha terjatuh kedalam kolam berenang yang lumayan dalam untuk Agatha yang pendek dan tidak bisa berenang.
"Mommy!" seru Zaqiel yang membuat Agatha terkejut.
"To-lo-ng, Zaqiel," ucap Agatha terbata.
"Sebentar, Qiel panggilkan Daddy," ucap Zaqiel lalu pergi dari sana dengan berlari kencang. Tidak lama dari itu Zaqiel datang lagi dengan seorang pria yang tidak lain adalah Xavier.
Saat sampai di kolam renang, segera Xavier segera menceburkan dirinya menolong Agatha yang badannya mulai tenggelam. Xavier segera membawa tubuh mungil itu ketepian kolam, terlihat disana sudah ada Xalzero, Arshaka dan Zaqiel. Untung saja kedua orang tuanya tadi sedang pergi keluar, jadi tidak terlalu heboh.
"Agatha, bangun," panggil Xavier dengan menepuk-nepuk pelan pipi chubby Agatha.
"Coba Daddy tekan dadanya," saran Xalzero yang di turuti oleh Xavier, tetapi nihil, cara itu tak berhasil. Kehabisan cara, Xavier menjepit hidung Agatha dan menempelkan bibirnya pada bibir Agatha. Selang beberapa detik Agatha terbangun dengan terbatuk-batuk yang mengeluarkan air dari mulut Agatha.
"Mommy, apakah Mommy tidak apa-apa?" tanya Zaqiel dengan wajah bersalahnya, ini juga karenanya yang mengagetkan Mommy-nya.
"Mommy tidak apa-apa, jadi jangan merasa bersalah," jawab Agatha saat melihat wajah Zaqiel yang kentara bersalah.
"Tetapi ini semua karena ku," ucap Zaqiel yang di balas gelengan pelan oleh Agatha.
"Maafkan aku, Mommy," ucap Zaqiel masih bersalah.
"Iya Mommy maafkan," balas Agatha.
Setelah itu terjadi keheningan hingga pertanyaan Agatha yang memecah keheningan itu.
"Siapa yang menyelamatkanku?" tanya Agatha yang dijawab oleh Arshaka.
"Oleh Daddy," jawab Arshaka menunjuk Xavier.
"Terimakasih telah menyelamatkan ku," ucap Agatha lalu perlahan berdiri tegak, ia sungguh kedinginan.
"Biar aku bantu," ucap Xavier.
"Tid---" Sebelum Agatha menyelesaikan ucapannya Xavier lebih dulu menggendongnya ala brydal style, yang membuat Agatha memekik kaget dan reflek mengalungkan tangannya pada leher Xavier.
"Xavier, turunin elah, gue udah gede, bisa jalan sendiri," ucap Agatha pada Xavier.
"Tidak," balas Xavier.
"Ngambek nih gue," ucap Agatha yang tidak dihiraukan oleh Xavier, karena Xavier tidak tau apa itu artinya ngambek.
Setelah menaiki lift selama beberapa menit, akhirnya Xavier sampai di kamar Agatha, Xavier menurunkan Agatha di depan pintu kamar mandi, setelah itu Xavier segera melenggang pergi dari kamar Agatha, karena dirinya juga kedinginan.
Sedangkan Agatha tidak menghiraukan hal itu, dia itu lagi ngambek sama Xavier. Tidak tahu saja Agatha, bila Xavier itu tidak tau apa arti ngambek.
Setelah membersihkan dirinya, Agatha tidak turun. Agatha malah membaringkan dirinya di kasur, karena bosan Agatha pun memanggil sistemnya.
"Tem," panggil Agatha pada sistem.
"Ada apa Nona,"
"Nggak papa sih, manggil doang," jawab Agatha.
"Lah iya tem, sebulan lagi novelnya bakal mulai kan?" tanya Agatha pada sistem.
"Benar Nona, sebulan lagi novel akan di mulai, jadi Nona harus persiapkan saja diri anda, karena alur novel akan berubah, walaupun tidak sepenuhnya tetapi tetap saja, Nona harus mempersiapkan diri,"
"Baiklah,"
"Ah iya, seingat ku aku belum bertemu dengan Protargornis wanita, antargornis pria kedua dan ketiga," ucap Agatha yang memang benar.
Abaikan typo berkepanjangan itu, karena Nonanya memang memiliki lidah keseleo dari lahir.
"Benar Nona. Kebetulan hari ini ada misi, yang bersangkutan dengan tokoh Antagonis pria kedua,"
"Beneran tem?" tanya Agatha.
"Benar Nona, sistem tidak pernah bohong,"
"Oke, apa coba misinya," tanya Agatha
"Baiklah, misi Nona adalah menyelamatkan Antagonis pria kedua yang tidak lain adalah Rouvin Tristan Lexander yang akan tertabrak oleh sebuah mobil saat akan menyebrang, di jalan Melati,"
"Gampang itu mah tem," balas Agatha.
Agatha segera menegakkan dirinya untuk menuju Walk in closet, tidak mungkin bukan Agatha akan memakai pakaian santai untuk menyelamatkan Rouvin.
Setelah menganti pakaiannya Agatha segera turun menuju garasi mengambil mobilnya untuk menuju jalan Melati.
*
*
*
*
*
***
1124
***
Hai, semoga suka sama alur novelnya dan nggak bosen hahaha.
bila ada kesalahan atau typo dalam penulisan tolong di komen.
Bantu ramein ya kak, bang.
See you next part