Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
36. Mencoba Membujuk Kembali



Hampir sebulan sudah Agatha dan Xavier tidak bertemu, berkabar pun hanya lewat media sosial saja, terkadang mereka melakukan panggilan vidio. Tetapi itu sangat jarang, jalan sudah ada hampir dua Minggu ini Xavier tidak ada menghubungi Agatha, mengirim pesan pun tidak ada. Agatha jadi overthinking akibat dari respon Xavier yang tidak sehangat biasanya saat panggilan vidio terakhir mereka, minggu lalu.


"Apa dia punya cewe lain?"


"Kalau iya, tega banget,"


"Pertama kali ngerasain cinta, eh malah potek gara-gara diselingkuhin. Nggak siap gue, tapi takdir siapa yang tahu?"


"****! Kalau gini gue nggak bisa always gwenchana T_T. Udah hampir dua Minggu nggak ada kabar? Gue tanya ke Mama juga katanya Xavier enggak ada ngabarin Mama,"


"Jujur sebenernya gue kangen. Tapi mau gimana lagi? Gue udah bujuk Bang Kol Minggu lalu tetep nggak diijinin,"


"Bisa-bisa depresot, depresi, stress, prustasional gue, gara-gara Xavier nggak ngasih kabar,"


"Huaaaa! Mark! Tolongin ayang mu!"


"Sebaiknya Nona mencoba lagi untuk membujuk Calvin, agar diperbolehkan untuk bertemu dan tinggal bersama dengan Xavier kembali,"


Sebenarnya sistem kasihan kepada Nona-nya yang seminggu ini sering melamun memikirkan suaminya yang tidak ada kabar. Sistem ingin memberi tahu namun ia tidak ingin membuat Nona-nya sedih, walaupun pada akhirnya Nona-nya akan sedih.


"Oke, gue bakal coba."


Agatha saat ini telah berada di depan pintu kamar dnaga Abang. Kepala pelayan bilang bahwa Abang nya sedang berada di kamarnya. Tanpa mengetuk Agatha langsung membuka pintunya dan terlihatlah Abang nya yang sedang duduk di sofa dengan ditemani oleh tablet dan beberapa berkas.  Padahal ini adalah hari libur tetapi Abangnya tetap bekerja.


"Abang~" panggil Agatha.


"Hm,"


"Abang tega, masa Agatha nggak boleh ketemu sama suami Agatha sendiri, Agatha kangen tahu sama Xavier," cicit Agatha.


"Nggak ada, waktu kamu masih seminggu lagi. Selepas itu Abang balikin kamu ke Xavier," balas Calvin.


"Abang~" rengek Agatha pada Calvin. "Pliss lah, boleh ya, ya, ya. Agatha kangen tahu sama Xavier." Agatha mengeluarkan jurus andalannya, yaitu wajah imutnya walaupun tak terlalu imut. Candyaaaa~


"Nggak." Agatha mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan dari Abang nya. Agatha tidak menyerah ia terus membujuk Abang nya hingga tidak terasa Agatha telah membujuk Abang nya sangat lama, akibat dari Agatha yang mencoba membujuk Abang nya menggunakan minuman, makanan yang Abang nya suka, namun tetap saja, gagal. Sia-sia Agatha membujuk Abangnya selama beberapa jam ini.


"Tau ah, Agatha ngambek sama Abang."  Ucapan Agatha tersebut mampu membuat Calvin menolehkan kepalanya kearah Agatha yang berjalan pergi keluar kamarnya.


"Bisa puyeng gue kalau ni bocil ngambek," gumam Calvin.  Lalu segera Calvin mengejar Agatha yang telah berjalan keluar kamarnya.


"Agatha," panggil Calvin namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Agatha.


"Iya deh, Abang bolehin kamu ketemu sama Xavier," ucap Calvin membuat Agatha spontan berhenti. "Beneran?" tanya Agatha dengan mata berbinar.


"Iya, tapi Abang nggak bisa nganter ya, kamu dianterin sama Alaxia," jawab Calvin dengan mengusap lembut pucuk kepala Agatha.


***


Disalah satu ruangan kantor besar, lebih tepatnya di ruangan CEO terlihat dua orang dewasa berbeda gender.


"Tumben kamu kemari, ada apa?" tanya pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Aku kemari karena merindukan mu, honey," jawab wanita itu.


"Kemarilah," suruh pria itu kepada wanita tadi. Wanita tadi menurut dan berjalan menuju sang pria dan duduk di pangkuannya.


"Bagaimana dengan dia?" tanya wanita itu pada sang pria setelah sekian lama terdiam.


"Aku tidak mencintainya, itu hanya angan-nagan saja, aku tidak Benar-benar mencintainya," jawab sang pria yang membuat sang wanita tersenyum miring.


"Bila dia sakit hati aku sama sekali tidak peduli karena dirinya sangat bodoh tidak menyadari semuanya, haha," ucap pria itu dengan terkekeh diakhir.


"Apakah benar kau ingin meninggalkan nya?" tanya wanita itu.


"Tentu saja, tetapi tunggu waktunya, ini belum saat nya. Aku ingin dirinya jatuh terlalu dalam lagi," jawab pria itu dengan tersenyum penuh arti.


"Aku jadi ragu, dia sangat pintar dalam berbagai hal, dia multitalenta. Namun, mengapa kau malah menyia-nyiakannya," ucap wanita itu.


"Aku tidak peduli, aku tidak mencintainya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintainya," katanya.


"Karena aku hanya mencintai dirimu, honey," ucap pria itu yang membuat sang wanita tersenyum manis. Sedangkan seorang gadis yang berada di pintu yang mendengar semua pembicaraan mereka berdua tersenyum kecut.


Hatinya hancur, sangat hancur saat tau pria yang dicintainya tidak benar-benar mencintainya. Dirinya menyesal telah pergi kemari tanpa memberi kabar, tetapi ini lebih baik, ia tahu lebih awal.


Gadis itu pergi dari sana dengan air mata yang mengalir pelan dipipi nya. Gadis itu berjalan dengan menundukkan kepalanya ia tidak ingin para karyawan melihatnya. Hingga seorang lelaki memanggilnya yang mengharuskan dirinya menegakkan kepalanya, sebelum itu ia mengusap kasar jejak-jejak air mata nya lalu menegakkan kepalanya.


"Selamat siang Nyonya," sapa lelaki itu dengan senyum simpulnya.


"Selamat siang," balas gadis itu.


"Mengapa Nyonya terlihat sedih? Apakah ada sesuatu yang terjadi di atas?" tanya lelaki itu kepada sang gadis.


Sebelum gadis itu menjawab dirinya lebih dulu di panggil oleh seorang gadis cantik. "Ayo pulang, udah ketemu kan sama suami Lo," ajak gadis itu.


"Aku pulang dulu Bang, sampai ketemu lain waktu," ucap Agatha sebelum meninggalkan sang lelaki. Dapat lelaki itu lihat wajah Nyonya-nya sedih. Apakah Nyonya-nya


sudah mengetahui nya?


"Apakah wanita itu datang? Dan Nyonya tahu," gumam pria itu.