Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
38. Keyakinan Xalzero



...“Jika ingin terlihat baik-baik saja, maka hiasilah wajah mu dengan senyuman manis yang biasa kau tunjukkan pada orang-orang disekitar mu”...


...🪷 Aozora Agatha Amalaric...


...•...


...•...


...•...


...•...


Saat sampai di mansion Agatha langsung berlari menuju Abang nya yang kebetulan berada diruang tamu. Agatha memeluk Calvin erat sembari menangis tersedu-sedu.


"Abangg, sakit, sakitt banget," lirih Agatha disela-sela tangisnya. Calvin yang mendengar kata sakit pun segera membalas memeluk adiknya.


"Sabar ya," ucap Calvin.


"Abang udah tahu?" tanya Agatha dengan menatap Calvin. Sang empu yang ditanya pun menganggukkan kepalanya.


"Kenapa nggak bilang Bang kalau udah tahu? Kenapa!" teriak Agatha pada Calvin.


"Abang nggak mau Kamu sakit dek, walaupun pada akhirnya kamu sakit," ucap Calvin dengan menitihkan air mata.


"Xavier jahat ya Bang. Agatha kurang apa sih? Kurang baik? Cantik? Atau apa?" tanya Agatha kepada Calvin.


"Tahu kok kalo Agatha nggak bisa renang, tahu kok kalau Agatha nggak bisa sama yang namanya kucing, mungkin gara-gara itu kali ya," ucap Agatha.


"Enggak, Xavier nya aja yang bego. Nyia-nyiain Lo, setelah apa yang Lo korabanin selama ini," ujar Alaxia.


"Bener apa yang dibilang Alaxia, Xavier nya aja yang bego," sahut Calvin.


"Udah ya jangan ditangisin lagi, pria seperti Xavier nggak pantes kamu tangisin. Air mata kamu terlalu berharga buat dia yang brengsek," ucap Calvin dengan menghapus jejak-jejak air mata Agatha.


Sekitar 30 menit Agatha menangis akhirnya kini terdengar dengkuran halus dari gadis dalam dekapannya, ah ternyata adiknya tertidur.


"Kita berangkat ke Amerika hari ini," ucap Calvin yang membuat Alaxia menoleh.


"Gue mah ngikut aja," balas Alaxia.


"Zaqiel sama Arshaka ikut!" seru dua orang lelaki yang tidak lain adalah Zaqiel dan Arshaka.


"Mereka nggak salah," ucap Alaxia.


"Kami bertiga bolehkan ikut?" tanya Xalzero yang berada di belakang kedua anak laki-laki tersebut.


"Boleh, kalian nggak perlu balik kemansion itu, kita langsung berangkat sore ini ke Amerika. Soal pakaian biar asisten Abang yang siapin," ucap Calvin.


"Yeey! Kita bisa sama Mommy setiap hari!" seru Arshaka dan Zaqiel.


"Yaudah kalo gitu saya mau bawa Agatha keatas dulu," ucap Calvin yang diangguki oleh Xalzero.


"Zaqiel sama bang Shaka ikut," ucap Zaqiel. Calvin menganggukkan kepalanya. Keduanya pun ikut Calvin.


Setelah kepergian Calvin keduanya berdiam diri, hingga Alaxia bersuara.


"Lo udah tahu semuanya?" tanya Alaxia.


"Dari awal gue udah tahu, cuman gue diem, gue nggak mau Mommy sakit," jawab Xalzero dengan menunduk.


"Tapi sekarang Agatha udah sakit Zer," ucap Alaxia.


"Daddy jahat banget, padahal Mommy udah baik banget selama ini. Mommy rela terluka demi kami termasuk Daddy, Mommy diem-diem ternyata nukar surat sama dokumen penting perusahaan, jadi yang dibawa sama Galen waktu itu adalah yang palsu sedangkan yang asli ada sama gue, kurang baik apa Mommy? Gue tahu ada pengorbanan lain, tapi belum dikasih tahu ke kita,"  ucap Xalzero.


"Gue baru tahu," gumam Alaxia.


"Asal Lo tahu, selama ini Mommy udah tahu kalau Galen penghianat, dia deketin Daddy cuman karena mau balas dendam, dan gue baru tahu ini sebulan lalu," ucap Xalzero.


"Sampe sekarang gue, Levon dan Mommy masih nyari Galen," lanjut Xalzero.


"Masalah pertema belum selesai dan sekarang muncul masalah baru lagi," gumam Alaxia yang didengar jelas oleh Xalzero.


Sore harinya Calvin telah bersiap untuk keberangkatannya ke Amerika hari ini. Ia juga sudah memberitahukan ini pada adiknya, Agatha. Tentu nya Calvin menyuruh Agatha untuk meninggalkan semua aset-aset yang bersangkutan dengan Xavier, bisa saja pria itu mencari ketiga putranya melalui koneksi Agatha ataupun koneksi lainnya.


"Kalian semua sudah siap?" tanya Calvin pada mereka semua. Mereka semua pun menganggukkan kepalanya.


Tiga mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara tempat jet pribadi milik keluarga Vasilius berada. Bandara milik keluarga Vasilius berdekatan dengan bandara Soekarno-Hatta.


Sebelum pergi tadi Calvin juga telah mewanti-wanti para pekerja mansion untuk tidak membuka mulut bila ada yang bertanya tentang Agatha maupun ketiga putra sambungnya.


Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit lamanya Calvin dan yang lainnya telah sampai di bandara. Mereka harus cepat karena perjalanan dari Indonesia menuju Amerika membutuhkan waktu sekitar 22 jam.


Selama di pesawat Agatha hanya diam sembari memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi warna oranye. Agatha tidak lupa untuk memotret pemandangan indah ini, tanpa semua orang ketahui Agatha sangatlah suka dengan yang namanya langit, apalagi langit senja Agatha sangat menyukainya.


"Walaupun senja hanya sementara dan tidak seindah pelangi, tetapi kalian akan datang kembali pada esok hari hari dan berbeda dengan pelangi yang akan datang disaat-saat tertentu," ucap Agatha dengan memandangi langit oranye itu dengan pandangan yang rumit dan jangan lupakan senyum tipisnya yang menghiasi wajah cantik itu.


"Jangan terlalu bersedih Mom. Masih ada Aku, Zaqiel dan Arshaka yang akan selalu berada di samping Mommy," ucap Xalzero dengan memegang pundak Agatha. Sang empu menolehkan kepalanya dengan senyum simpul yang menghiasi wajah cantiknya.


"Mommy tenang saja, aku dan kedua adik akan selalu berada di pihak Mommy," ucap Xalzero dengan sungguh-sungguh, Agatha dapat melihat kesungguhan itu dari mata Xalzero yang menatapnya penuh keyakinan.


"Terimakasih," ucap Agatha setelah terdiam lama dengan senyum simpul yang setia menghiasi bibir nya.


"Mommy tidak perlu berterimakasih," balas Xalzero.


"Ah iya, aku sampai lupa. Ini coklat matcha kesukaan Mommy," ujar Xalzero dengan memberikan satu batang coklat matcha berlogo Silverqueen.


"Terimakasih sudah memberikan coklat ini pada Mommy," ucap Agatha pada Xalzero.


"Sama-sama Mom." Setelahnya terjadi keheningan diantara keduanya. Agatha yang sibuk memakan coklat sembari memandangi indahnya langit sore, sedangkan Xalzero sibuk mengetik pada ponselnya.


22 jam telah berlalu, kini mereka semua telah sampai di Amerika atau lebih tepatnya kota New York. Tidak disangka bahwa Calvin akan kemari, karena sebelumnya Calvin tak mengatakan apapun pada mereka semua. Saat sampai di bandara mereka langsung masuk ke mobil yang memang sudah disiapkan untuk menjemput mereka semua.


...***...


...🪷...


...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


...🪷...


...“Walaupun senja hanya datang sementara dan tidak seindah pelangi. Tetapi apa? Senja akan datang kembali pada keesokan harinya. berbeda dengan pelangi yang akan datang diwaktu-waktu tertentu”...