Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
41. Lebih Berat Dari Dilan



Terhitung sudah dua minggu lebih Agatha berada di Amerika. Agatha menjalani hari-hari nya dengan santai, lambat laun pun Agatha melupakan Xavier. Saat ini Agatha sedang berada di balkon kamarnya membaca novel lewat sebuah aplikasi online.


"Si anjir, kok bisa sih?"


"Gue udah baca smpe akhir loh! Gue kirain bakal happy end! Taunya malah sad end!" seru Agatha dengan air mata mengalir.


"Gara-gara novel doang masa nangis sih, lebay banget," ucap seorang gadis di belakang Agatha.


"Lebay pala Lo, coba deh Lo yang baca Kak. Pasti nangis juga kalau kebawa suasana," balas Agatha pada gadis itu. Tentu dari panggilan Kak kalian sudah tahu siapa gadis itu, Alaxia lah gadis itu.


"Udahlah dari pada galau mending kita keluar kuy, bosen nih gue," ajak Alaxia. Kebetulan sekali Agatha sedang bosan nyerempet sedih jadi terima sajalah.


"Ayo lah!" seru Agatha.


"Si anjir, yaudah sono siap-siap gue mau manasin mobil dulu. Bye sayang!" ucap Alaxia sebelum pergi meninggalkan Agatha.


Agatha segera masuk ke ruang ganti. Setelah lima belas menit kemudian Agatha keluar dengan menggunakan stelan yang biasa ia pakai. Kaos oversize hitam dan kemeja hitam sebagai lapisan luarnya dipadukan dengan celana panjang putih, sepatu kets putih polos serta sling bag hitam.


"Perfect," gumam Agatha saat melihat outfitnya hari ini. Tanpa berkata lagi Agatha pun turun kebawah menyusul kakak sepupunya.


Terlihat dua saudara sepupu yang tengah bermain air ditepian pantai. Terdengar tawa lepas dari salah satunya saat berhasil melemparkan serangan.


"Nggak adil Lo Kak! Sini nggak?!" teriak gadis yang diketahui adalah adik sepupunya.


"Nggak mau wleee!" teriak sang kakak sepupu yang tengah dikejar oleh sang adik.


"Kak Alaxia!" teriak sang adik saat mendapatkan serangan air dari sang kakak sepupu.


"Apa Agatha?" tanya Alaxia seolah-olah tak melakukan apapun.


Tanpa mereka berdua sadari ada seorang gadis cantik yang tengah duduk ditepian pantai memperhatikan mereka berdua sedari tadi hingga saat alah satu dari mereka menyebut sebuah nama yang mampu membuat gadis cantik tersebut meneteskan air matanya.


"Nggak mungkin, mungkin aja namanya sama," gumam gadis itu seraya menyeka buliran bening yang hendak menetes. Namun sia-sia air buliran bening itu tetap menetes dan bertambah deras.


Tanpa sengaja Agatha melihat kearah gadis tersebut, tanpa mengatakan apapun lagi Agatha pun segera berjalan menuju gadis tersebut. Sebelum nya Agatha juga tidak sengaja melihat gadis itu yang sedang memandangi dirinya saat sedang bermain dengan kakak Sepupunya.


"Permisi," ucap Agatha.


"Kakak nya kenapa nangis?" tanya Agatha dengan bahasa Indonesia, sepertinya gadis cantik didepannya orang Indonesia.


Gadis itu mendongakkan wajahnya, hal tersebut mampu membuat Agatha tertegun.


"Celsia," gumam Agatha pelan saat melihat wajah gadis tersebut. Gumaman Agatha terdengar oleh gadis tersebut.


"Ini beneran elo?" tanya Agatha dengan memegang kedua pundak gadis itu.


"Maksud? Aku tidak mengenal dirimu," tanya gadis yang Agatha panggil Celsia.


Agatha tidak peduli yang terpenting ia ingin memberitahukan bahwa dirinya masih hidup.


"Gausah pura-pura nggak kenal, gue Agatha. Sahabat karib bin ajaib Lo," jawab Agatha dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak mungkin, jangan mengaku-ngaku sebagai sahabat ku. Sahabat ku telah pergi," lirih gadis itu dengan buliran bening yang menetes.


"Gue nggak pergi Aella, gue nggak pergi. Gue masih ada di sini." Gadis itu tertegun saat mendengar nama panggilan kecil yang hanya dipakai oleh keluarga serta sahabat nya.


"Bener anjir, gue Agatha. Cuman beda tubuh," jawab Agatha seraya mengajak jejak-jejak air mata gadis itu.


"Kalo nggak percaya parah sih, gue udah manggil Lo pake Aella loh," lanjut Agatha.


"Jadi beneran Agatha?" tanya gadis itu dengan air mata yang mengalir.


"Beneran!" jawab Agatha. Tanpa aba-aba gadis itu segera memeluk erat tubuhnya. Agatha pun membalas pelukan dari sahabatnya tak kalah erat.


Apakah ia bertransmigrasi ke dunia novel? Tetapi mengapa ia bisa bertemu dengan sahabatnya?


"Gue kangen banget sama Lo, Tata," gumam Celsia.


"Gue juga bahkan lebih dari rindunya Dilan," balas Agatha yang membuat Celsia melepaskan pelukannya dan memukul pelan baju Agatha.


"Lagi mewek padahal malah bercanda," kesal Celsia.


"Yaelah, biar nggak sedih-sedih amat El," timpal sang empu dengan senyum lebar nya.


Terlihat Alaxia yang mendekati mereka berdua dengan membawakan tiga cup es kelapa. Wah tahu saja kakak sepupu nya ini bila adik nya sedang kehausan.


"Ini buat Lo dan buat Lo," ucap Alaxia dengan memberikan satu cup es kelapa pada Agatha. Lalu memberikan satu lagi pada Celsia.


"Thanks, Kak," ucap Agatha dengan menyedot es nya.


"Thanks," ucap Celsia.


"Btw kalian udah lama nggak ketemu ya? Sampe mewek gitu," tanya Alaxia.


"Sekitar 3 atau 4 bulan sih. Tapi tetep aja, kangen berat,"  jawab Celsia.


"Emang kalau udah sohib sebulan berasa satu abad," timpal Alaxia dengan tawa kecil.


"Btw Lo tinggal di New York atau cuman liburan doang?" tanya Alaxia.


"Eumm gimana ya, gue pindah kesini setelah kecelakaan Agatha,"  jawab Celsia.


"Ngapai pindah coba, kan cuman kecelakaan,"


"Lo nggak tau Kak kalau Agatha ini cuman jiwa nyasar," celetuk Celsia yang membuat Agatha melotot.


"Teman dakjal memang! Teman dakjal! Kebiasaan nya nggak pernah hilang. Dasar anak sethann!"   umpat Agatha dalam hati.


"Jiwa nyasar, emang ada?" tanya Alaxia dengan ekspresi bingung.


"Lo tahu transmigrasi? Kalau tau begitulah Agatha, jiwa yang ada ditubuh ini adalah jiwa lain, gitu," jelas Celsia pendek.


"Tanpa kalian beritahu pun aku tahu."


"Jangan bilang-bilang orang ya," ucap Agatha dengan tatapan memohon.


"Iya-iya nggak bakal bilang sama orang," balas Alaxia.


"Ok, thanks." Alaxia mengangguk.