Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
24. Terciduk



Sedari tadi Agatha selalu menyingkirkan tangan kekar Xavier yang terus saja melingkari pinggangnya posesif. Entah kenapa beruang kutub ini bertingkah aneh seperti ini, kesambet jin Tomang kali.


"Xavier, bisa lepaskan tangan mu dari pinggang ku, aku tak bisa bergerak leluasa bila seperti ini," ucap Agatha yang kesekian kalinya.


"Tidak," balas Xavier enteng dengan meletakkan dagunya pada baju Agatha.


"Baiklah, terserah dirimu saja." Agatha pasrah dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Lama terjadi keheningan diantara mereka hingga Agatha merasa bosan karena tak melakukan apa-apa, dan memutuskan untuk mengambil beberapa jajanan yang sempat ia beli kemarin bersama Zaqiel.


"Bisa kau lepaskan sebentar? Aku ingin mengambil cokelat di dapur." Xavier menyingkirkan dagu nya dari bahu Agatha lalu mengangguk.


"Sebentar saja," ucap Xavier yang diangguki oleh Agatha.


Didepan kulkas terlihat Agatha yang sedang mengambil dua batang cokelat matcha.


"Nona! Anda mendapatkan misi,"


Suara sistem dalam dirinya mampu membuat Agatha terkejut. "Aba-aba dulu kek, biar gue nggak kaget," ucap Agatha mengambil asal varian Pocky.


"Hehe, maafkan saya Nona,"


"iya, iya, jadi apa misinya?" tanya Agatha dengan mendudukkan dirinya di kursi mini bar yang ada disana.


"Misi Nona adalah membuatkan Xavier minuman yang dia sukai. Anda akan mendapatkan 450 poin bila benar itu adalah minuman yang di sukai oleh Xavier,"


Jawaban dari sistem mampu membuat Agatha mengerutkan dahinya bingung dan senang karena mendapatkan poin, seingat nya selama disini Agatha tidak pernah diminta untuk membuatkan Xavier minuman.


Daebak! Bukankah di novel pernah tertulis bahwa Xavier menyukai sebuah teh hijau hangat. Baiklah, sepertinya kemarin Agatha sempat membeli teh hijau. Hingga beberapa saat teh hijau yang Agatha cari dapat, segera Agatha membuat teh hijaunya lalu kembali ke kamar. Tetapi sebelum itu Agatha juga membuat satu cangkir matcha dingin untuk dirinya sendiri.


"Maaf lama," ucap Agatha sembari meletakkan nampan berisi dua cangkir minuman dan beberapa cemilan. Xavier tersenyum kecil lalu mengambil satu kotak pocky varian matcha. "Tidak apa," balas Xavier.


"Darimana kamu tahu aku menyukai teh hijau?" tanya Xavier dengan menyeruput teh hijau nya. Sejenak Agatha terdiam memikirkan alasan yang akan keluar. "Aku hanya menebak." Dasar mulut sialan, otakku telah berpikir untuk mencari alasan mengapa kau malah menjawab seperti itu.


"Selamat misi anda berhasil Nona, anda mendapatkan 450 poin,"


Xavier mengangguk dan memakan Pocky dengan sesekali meminum teh hijaunya. Sedangkan Agatha diam dengan memakan cokelat matcha nya.


Hingga tiba-tiba Agatha dikagetkan oleh Xavier yang berbaring dengan bantalan pahanya, dan yang membuatnya lebih kaget adalah Xavier memiringkan tubuhnya yang tentu saja membuat wajahnya menghadap kearah perut rata Agatha.


"Apakah sudah ada bayi nya?" gumam Xavier yang didengar jelas oleh Agatha.


"Ayo kita lakukan, agar ada bayi didalamnya," ucap Xavier polos yang membuat Agatha berhenti mengunyah. Sialan, aku belum siap bila harus lepas perawan.


"Aku tidak---"


Sebelum agatha menyelesaikan ucapannya, Xavier lebih dulu mengukung tubuh mungil Agatha. Hal tersebut mampu membuat Agatha membeku untuk beberapa saat.


"Mengapa tidak mau, hm?" bisik Xavier dengan menggigit kecil telinga Agatha.


"Apakah kau telah mencintai Pria lain honey? Setampan apakah pria yang membuat mu mencintainya?" ucap Xavier masih dengan mengukung tubuh Agatha.


"Dia sangat tam—hmpp"


Belum sempat Agatha menyelesaikan ucapannya Xavier lebih dulu membungkam bibir merah muda itu dengan bibirnya. Tidak tahu kenapa Xavier kesal saat mendengar Agatha memuji pria lain.


Agatha lumayan kualahan dengan ciuman Xavier yang menggebu-gebu, lelaki itu melahap habis bibirnya seakan-akan ingin memakan habis bibirnya. Agatha mencoba untuk memberontak namun sebelah tangan Xavier melilit pinggangnya, dan sebelahnya menahan kepalnya agar tak bergerak. Xavier baru melepaskan tautan mereka saat Agatha memukul dada pria itu.


Napas Agatha terengah-engah, terlebih lagi jantungnya yang berdegup kencang. Akibat ditatap dalam oleh manik hitam itu seakan mengajak Agatha untuk menyelam kedalam lautan hitam. Jujur ini adalah pengalaman pertama Agatha, karena di kehidupan sebelumnya maupun sekarang Agatha tidak pernah berciuman.


Dengan lembut Xavier mengusap pipi chubby seputih susu yang terlihat sedikit merona. Agatha yang diperlakukan seperti itu bertambah merona dari sebelumnya.


Hening terjadi diantara mereka berdua, hingga Xavier perlahan memajukan wajahnya dan siap untuk mencium bibir yang mulai sekarang akan membuatnya candu. Tetapi suara cempreng dari seorang gadis mampu membuat aksi mereka berdua terhenti.


"Mataku tidak suci lagi!"


*


*


*


*


*


*


Bisa kalian tebak siapakah gadis itu?