
...💐Niat ku ingin memberikan sebuah kejutan manis kepadanya. Tetapi malah sebaliknya dirinya yang memberikan ku sebuah kejutan yang pahit dan menyakitkan💐...
...💐Aozora Agatha Amalaric💐...
...•...
...•...
...•...
...•...
Agatha turun dengan dress putih gading dibawah lutut berlengan panjang dipadukan dengan sepatu sneakers putih polos dan tas kecil pink dusty.
"Wih, mau ketemu paksu nih, makanya rapi, cantik, harum membahana," ucap Alaxia. Agatha hanya menanggapinya dengan tawa kecil lalu mengajak Alaxia untuk segera ke kantor Xavier.
Tidak membutuhkan waktu lama mungkin hanya sekitar 30 menitan Agatha dan Alaxia telah sampai di depan gedung perusahaan Amalaric's Corp.
"Lo mau ikut nggak Kak?" tanya Agatha pada Alaxia. Sang empu yang ditanya menggeleng pertanda tak mau. "Lo aja sendiri, gue tunggu disini."
Agatha mengangguk dan melangkahkan kaki jenjang putih nya masuk ke dalam loby perusahaan.
"Selamat siang," sapa resepsionis pada Agatha.
"Selamat siang juga," balas Agatha dengan senyum manisnya.
"Xavier nya ada, Mbak Lita?" tanya Agatha pada resepsionis, memang Agatha memanggil Lita dengan panggilan Mbak. Bila hanya nama Agatha menjadi tidak enak hati karena usia Lita lebih tua beberapa tahun dari umurnya yang saat ini.
"Ada, naik aja," jawab Mbak Lita.
Agatha saat ini telah berada di depan pintu ruangan Xavier, samar-samar dirinya mendengar pembicaraan Xavier dan seorang wanita. Dapat Agatha lihat dari pintu yang tidak tertutup rapat itu bahwa wanita itu adalah mantan istri dari Xavier, yang tidak lain adalah Angel.
Hati Agatha sakit saat melihat Angel duduk di pangkuan Xavier, dapat Agatha dengar juga bahwa mereka membicarakan dirinya. Yang lebih membuat hati Agatha sakit adalah saat Xavier mengatakan bahwa tidak mencintai dirinya dengan benar-benar tulus.
"Niatku ingin memberikannya sebuah kejutan manis, tetapi malah sebaliknya dirinya memberikan ku sebuah kejutan yang pahit dan menyakitkan," gumam Agatha dengan senyum getirnya.
"Ini sungguh sakit."
Agatha tersenyum kecut dan menjatuhkan paper bag berisi makanan kesukaan Xavier didepan pintu itu dan berlalu pergi dengan air mata yang tak dapat di bendung. Saat dibawah Agatha tidak sengaja bertemu dengan Andri. Agatha menundukkan kepalanya sembari menghapus jejak-jejak air matanya.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Andri kepada Agatha. Sebenarnya Andri tahu bahwa saat knia Agatha tengah menahan air mata yang akan keluar, terlihat sekali dari matanya yang berkaca-kaca. Sekali berkedip saja air mata kepedihan itu akan mengalir deras.
"Selamat siang." Agatha membalas dengan senyuman simpul nya.
"Mengapa Nyonya terlihat sedih? Apakah ada sesuatu yang terjadi di atas?" tanya Andri kepada Agatha.
Sebelum Agatha menjawab dirinya lebih dulu di panggil oleh seorang gadis cantik. "Ayo pulang, udah ketemu kan sama suami Lo," ajak gadis itu, jujur saja Andri tidak mengenali gadis itu.
"Kalau gitu aku pulang dulu Bang, sampai ketemu lain waktu," ucap Agatha sebelum meninggalkan Andri tidak lupa juga dengan senyum manisnya.
"Apakah wanita itu datang? Dan Nyonya tahu," gumam Andri yang ternyata tepat sasaran.
"Lita, apakah tadi ada seorang wanita yang datang sebelum Nyonya Agatha?" tanya Andri kepada Lita untuk memastikan.
"Ada, katanya ada hal penting yang mau dibicarain, terus juga katanya udah ada janji ketemuan," jawab Lita.
"Oh, makasih. Saya naik dulu."
Andri telah sampai di lantai 8 dimana letaknya ruangan CEO dan juga ruangannya, serta beberapa ruangan lainnya.
Dapat Andri lihat bahwa pintu ruangan CEO tidak tertutup rapat masih ada celah untuk melihat ruangan tersebut.
"Mungkinkah Nyonya melihatnya, tetapi seperti iya," monolog Andri.
Disebuah mobil mewah terlihat Agatha yang tengah terisak pelan. Alaxia yang berada di sebelahnya merasa heran akan adik sepupunya, ingin bertanya situasinya tidak pas.
"Ta Lo kenapa?" tanya Alaxia pada akhirnya.
"Nggak papa, ayo jalan. Sebelum pulang kita ke taman yang biasanya ya." Alaxia menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan mobilnya menuju taman yang sering Agatha kunjungi. Tidak membutuhkan waktu yang lama keduanya telah sampai disana, sebelum menuju tempat biasanya duduk Agatha membeli beberapa cemilan dan minuman.
"Lo ngapain sih kesini segala?" tanya Alaxia yang tidak dijawab oleh Agatha. Sanga empu yang ditanyai hanya diam dengan pandangan kosong lurus kedepan.
Hingga tiba-tiba Agatha mengucapkan sebuah kata-kata yang membuat Alaxia mengerutkan dahinya bingung.
"Pengorbanan gue selama ini ternyata sia-sia, nggak nyesel kok cuman kecewa aja," ucap Agatha dengan tersenyum getir tetapi tidak lama kemudian senyum getir itu berubah menjadi manis saat seorang gadis kecil datang menghampiri Agatha.
"Kak Tata!" panggil gadis kecil itu.
"Hai Arshala, lama nggak ketemu, makin gemes dan cantik aja kamu," puji Agatha dengan wajah seperti biasanya, ramah, ceria tanpa beban.
Tetapi itu tidak bisa untuk membohongi pria yang berada di belakang Arshala. Pria itu tahu bahwa gadis didepannya sendang memiliki masalah, gadis didepannya mencoba untuk berpura-pura ceria tanpa beban padahal kenyataannya sedang bersedih dan memikul beban yang berat.
"Bisa saya berbicara dengan mu sebentar?" tanya pria itu pada Alaxia. Sang empu yang ditanya pun menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti arah pria itu berjalan.
Dirasa sudah sedikit jauh dari tempat mereka tadi pria itupun memberhentikan langkahnya. Alaxia yang berada di belakangnya pun memberhentikan langkahnya spontan.
"Kalau berhenti bisa kasih aba-aba dulu nggak? Kalau numbur punggung Lo bisa-bisa benjol tiga bulan gue," ucap Alaxia sedikit kesal, pasalnya pria didepannya ini sering sekali membuatnya kesal bila bertemu.
"To the poin aja, saya mau tanya Agatha sedang ada masalah apa?" tanya pria itu pada Alaxia.
"Mana gue tahu Delix! Gue nanya tadi aja nggak dijawab malah diem bae," jawab Alaxia.
Tentu kalian tahu siapa Delix, masa nggak tahu. Kalau nggak tahu pasti bacanya melangkah-langkah nih. Hayoo ngaku~
Delix menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sebelum kemari kalian berdua dari mana?" tanya Delix.
"Dari kantornya Xavier," jawab Alaxia.
"Apakah ada terjadi sesuatu disana?" tanya Delix lagi.
"Tadi pas gue datengin dia kek nahan tangis gitu, terus pas sampe di mobil dia nangis. Terus tadi pas sebelum Lo Dateng sama Arshala dia sempet bilang gini 'Pengorbanan gue selama ini ternyata sia-sia, nggak nyesel kok cuman kecewa aja' gitu terus nggak lama Lo dateng sama Arshala," jawab Alaxia panjang kali lebar.
Delix menganggu dan pergi meninggalkan Alaxia tanpa mengucapkan satu kata pun. "****** tu cowo," umpat Alaxia sebelum menyusul Delix yang sudah jauh didepannya.
"Loh, kemana Agatha?" tanya Alaxia saat sampai di tempat Agatha duduk tadi. Delix hanya mengedikkkan bahunya acuh dan mendudukkan dirinya pada kursi besi yang tidak jauh dari tempat duduk Agatha.
Tidak lama dari itu Agatha datang bersama Arshala dengan membawa dua cup ice cream di tangan masing-masing.
"Ini untuk Abang," Arshala memberikan satu cup ice cream rasa vanilla pada Delix. Sedangkan Agatha memberikan satu cup ice cream rasa cokelat pada Alaxia.
"Thanks," ucap Alaxia.
Agatha mulai mendudukkan dirinya di kursi nya tadi dan memakan ice cream rasa favorit nya, matcha.
*
*
*
*
*
*