
..."Waktu emas yang menghasilkan kenangan manis dan mustahil bisa terulang kembali,...
...~ (Aozora Agatha Amalaric) ~...
...•••...
Terlihat seorang gadis yang tengah berlarian ditepian pantai bersama dengan seorang lelaki. Mereka berdua saling melempar air satu sama lain diselingi dengan tawaan puas dan sesekali menggeram kesal.
"Mommy," rengek lelaki itu saat mendapatkan lemparan air dari sang Mommy.
"Hahaha, wajah mu lucu Arshaka, saat kau sedang kesal." Tentu kalian tau siapa, mereka adalah Agatha dan Arshaka. " Jangan Mommy,"
"Jangan bagaimana, Shaka?" tanya Agatha dengan wajah tengil nya, yang membuat Arshaka memandang Agatha datar. "Hey, kau marah pada Mommy?" tanya Agatha saat mendapati wajah Arshaka yang datar.
"Tidak," jawab Arshaka.
"Sepertinya anak tampan Mommy sudah lelah, jadi mari kita ketepian," ajak Agatha dengan menarik lengan Arshaka pelan.
Mereka berdua telah sampai di tepian pantai dimana ada Xavier, Xalzero dan Zaqiel. "Sudah puas bermainnya?" tanya Xavier saat Agatha mendudukan dirinya di disebelahnya.
"Belum, tapi karena Shaka lelah, jadi biarlah dia istirahat," jawab Agatha tanpa memandang kearah Xavier melainkan kearah laut, dimana ombaknya yang naik turun.
Xavier mengangguk sebagai balasan.
****
Terlihat dua orang gadis yang tengah berlarian, yang satu dengan wajah kesal dan yang satu lagi dengan wajah puas karena berhasil membuat gadis yang mengejar nya kesal.
"Agatha! Mau kemana lo!" teriak seorang gadis sambil berlari mengejar gadis bernama Agatha yang sedang tertawa puas melihat tubuh basah dari sahabatnya, Celsia.
"Wleee, nggak bisa, nggak bisa," ejek Agatha dengan menjulurkan lidahnya kepada Celsia yang tengah menahan kesal. "Awas Lo ya."
Akhirnya terjadilah kejar mengejar dan lempar melempar satu sama lain antara Agatha dan Celsia.
"Udah dong, Cel, capek nih gue Lo kejar Mulu dari tadi," ucap Agatha dengan nafas yang tidak beraturan. "Salah Lo sendiri."
****
"Waktu emas yang menghasilkan kenangan manis dan mustahil bisa terulang kembali," gumam Agatha dengan tersenyum kecut, yang dilihat oleh Xavier.
Tatapan Agatha kosong memandang kearah laut, tanpa permisi sebuah buliran bening mengalir pelan membasahi pipi putih dan mulus itu.
Xavier yang melihat itu hanya diam tanpa ingin menenangkan, hingga Arshaka datang dan memeluk Agatha dari samping. Sontak yang membuat Agatha segera menghapus jejak-jejak air matanya.
"Ada apa Shaka?" Lihatlah gadis itu, walaupun sedang bersedih dia tetap tersenyum. "Tidak aku hanya bosan, ayo berlarian kembali, Mommy," ajak Arshaka.
Tanpa berkata Arshaka menarik Agatha, sedangkan Agatha yang ditarik hanya menurut saja. Tidak jauh di belakang Agatha terlihat kedua anak nya yang mengikuti mereka.
"Kalian ingin ikut juga?" tanya Agatha pada mereka berdua yang dijawab dengan anggukan.
Dan terjadilah pertempuran saling melempar air satu sama lain, Agatha bersama Arshaka dan Xalzero bersmaa Zaqiel.
"Ayo kejar kami bila bisa," ucap Agatha dengan wajah tengil khas nya.
"Ayo kejar kami," sahut Arshaka. Sontak Xalzero dan Zaqiel mengejar mereka berdua, Arshaka dan Zaqiel.
Lama berkejar kejaran akhirnya mereka berempat beristirahat. Agatha mendudukan dirinya di samping Xavier diikuti Xalzero, Arshaka dan terakhir Zaqiel. Mereka berempat diam memandangi langit yang sudah mulai Oren.
"Sebentar lagi senja, jangan lupa dulu," ucap Agatha lalu setelahnya kembali diam.
****
Terlihat ada seorang gadis yang tengah duduk santai di temani oleh satu cangkir matcha hangat dan beberapa cemilan lainnya.
"Bego! Kenapa tokoh utamanya harus mati?" tanya Agatha entah pada siapa, karena disana tidak ada orang selain dirinya sendiri.
"Ni tokoh utamanya juga klemar-klemer terus bisanya nangis doang lagi." Lanjut nya sembari menyeruput matcha nya. "Ini novel kalau dibaca sama darah rendah pasti bakal langsung darting tuh."
"Handphone gue mana ya," ucapnya dengan mencari-cari handphone nya lalu saat mendapatkannya Agatha menghidupkan sebuah musik cona favorit nya.
Setelah itu Agatha meletakkan novel yang ia baca tadi dan mengambil novel lainnya. Setelah nya tidak ada suara kesal ataupun marah dari Agatha akibat novel tersebut termasuk novel favorit Agatha.
Saat sedang asik membaca, novel yang Agatha baca diambil oleh sebuah tangan kekar seseorang.
"Xavier, balikin." Pria itu tentu saja adalah Xavier. Karena saat ini Agatha sedang berada di mansion milik Xavier bukan di rumah kedua orang tuanya.
"Bangsat, balikin nggak," ancam Agatha dengan memelototi Xavier. Bukannya terlihat seram malah sebaliknya, Agatha malah terlihat lucu dan menggemaskan Dimata Xavier.
"Ambil kalau bisa," ucap Xavier dengan menaikkan novel itu. Agatha segera mendekat dan berjinjit berusaha menggapai novel yang mustahil bisa ia gapai. Tingginya saja hanya sebatas dada Xavier.
"Lo makan apa sih, sampe bisa setinggi ini? Gue aja kalah," ucap Agatha dengan mendongakkan wajahnya memandangi wajah Xavier.
"Semua keturunan Amalaric rata-rata memiliki tinggi badan sekitar 185 atau pun lebih," balas Xavier memberikan novel nya.
Setelah itu ia mendudukkan dirinya di kursi yang ada disana, setelah mendudukkan dirinya sendiri Xavier menarik pinggang ramping Agatha lalu ia dudukkan pada pangkuannya.
"Turunin," pinta Agatha sembari memberontak turun.
"Diam, atau ... Kau harus bertanggung jawab untuk menidurkan adik kecilku," ancam Xavier dengan bisikan.
Bisikan tersebut mampu membuat Agatha berhenti memberontak. Agatha berdiam tanpa bergerak sembari memanggil kearah langit malam yang ditaburi oleh bintang-bintang yang indah.
Saat sedang asik pada dunianya, Xavier mengubah posisi Agatha yang tadinya menyamping menjadi menghadap kearah dirinya.
"Tidurlah," ucap Xavier dengan menepuk pelan punggung kecil Agatha.
Agatha yang diperlakukan seperti itupun perlahan-lahan tertidur, karena sudah mengantuk. Karena hari semakin larut dan dingin, Xavier membawa Agatha masuk dan membaringkan dirinya dan Agatha di kasur dengan perlahan. Setelah memakaikan selimut pada Agatha dan dirinya juga Xavier menyusul Agatha menyelami alam mimpi.