
"Huaaa! Bunda! Ayah! Opa! Oma!" teriak seorang gadis yang digendong bak karung beras oleh seorang lelaki.
"Ssstt, diem sayang," ucap sang lelaki sembari terus berjalan menuju lift.
"Nggak mau!" balas sang gadis.
"Abang! Kak Alaxia!" teriaknya.
"Agatha." panggil lelaki itu.
"Apa?!" jawab Agatha. Lelaki itu diam tanpa membalas jawaban dari Agatha.
"Bang Zero. Aku mau dibawa kemana sih?" tanya Agatha pada Zero. Pasalnya saat ia sedang asik menonton tiktok diruang santai tiba-tiba tubuhnya melayang akibat digendong oleh Zero.
Sang empu yang ditanya hanya diam tanpa menjawab. Beberapa menit berada dalam lift keduanya sampai di lantai empat.
"Ngapain kita disini?" tanya Agatha pada Zero.
"Ngadem," jawab Zero sembari mengeluarkan satu batang rokok.
"Jangan ngerokok kalau lagi sama aku, kalau bisa berhenti aja sih," ucap Agatha. Ia sangat tidak suka dengan asap rokok. Selain bah rokok yang tak enak, asapnya juga bikin batuk-batuk.
"Oke," balas Zero memasukkan kembali satu batang rokok itu.
"Ngerokok dari kapan?" tanya Agatha tanpa menatap kearah Zero.
"Satu SMA," jawab Zero.
"Alasannya?"
"Kamu. Semenjak kecelakaan itu sikap kamu berubah. Awalnya emang biasa aja tapi semakin lama, semakin menjadi," jawab Zero dengan menatap lembut wajah Agatha.
"Buat sekarang kalau mau ngerokok jangan di deket aku lagi. Aku nggak suka sama yang namanya asap rokok. Tapi kalau semisal bisa berhenti aja ngerokok nya, aku nggak maksa cuman saran aja," ucap Agatha. Zero menganggukkan kepalanya.
"Ta. Abang minta maaf buat kejadian yang waktu itu," ucap Zero dengan menundukkan kepalanya.
"Nggak papa. Lagian waktu itu aku lagi nggak mood, jadinya gitu deh, hehe," balas Agatha dengan mengusap pelan rambut hitam legam itu.
"Iya,"
Setelah itu keduanya terdiam sembari memandangi objek indah dibawah sana.
Sangat indah sekali pemandangannya bila dilihat dari atas mansion. Pohon-pohon yang berjejer rapi, tanaman bunga dengan macam yang berbeda dan warna berbeda, air mancur, dan lain-lain.
Saat sedang asik menikmati pemandangan dibawah sana, Agatha melihat sebuah mobil BMW hitam yang memasuki pekarangan mansion. Saat sang pemilik mobil keluar segera Agatha berlari menuju lift. Ah, ia sangat rindu pada tiga anak lelaki itu.
Beberapa menit kemudian Agatha telah sampai di lantai dasar, sesegera mungkin Agatha menuju ruang tamu.
"Zaqiel!" panggil Agatha pada anak lelaki yang sedang duduk bersama dengan Bunda Denia.
"Mommy!" ucap Zaqiel sembari berlari kearah Agatha yang saat ini merentangkan tangannya.
Zaqiel masuk ke dalam dekapan Agatha yang sudah lama tidak dirasakan oleh Zaqiel. "Zaqiel kangen! Kangen banget sama Mommy," ucap Zaqiel dalam dekapan Agatha.
"Sama, Mommy juga kangen sama Zaqiel," balas Agatha tambah mengeratkan pelukannya.
Bunda Denia yang melihat hal itu hanya tersenyum.
"Kenapa baru sekarang dateng ke mansion?" tanya Bunda Denia pada Xalzero.
"Baru balik dari Canada, Oma. Kebetulan Opa sama Uncle ada ada urusan bisnis disana," jawab Xalzero.
"Ooh, jadi udah mulai belajar bisnis nih?" tanya Bunda Denia yang diangguki oleh Xalzero. "Wah, bagus tuh," celetuk Agatha.
"Mommy apa kabar?" tanya Xalzero dan Arshaka sembari mendekat kearah Agatha dan memeluknya secara bergantian.
"Seperti yang kalian lihat. Mommy baik-baik aja," jawab Agatha.
"Kalian nginep disini aja, gimana?" tanya Agatha.
"Arshaka sama Zaqiel sih ngikut sama Bang Xalzero, Mom," jawab Arshaka.
"Abang udah izin tadi sama Opa kalau mau nginep disini," sahut Xalzero yang emmbaut kedua anak elaki itu bersorak gembira.