Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
44. Surat Cerai



Tidak sampai satu jam melakukan perjalanan Arsen dan Denia telah sampai di gerbang mansion keluarga Amalaric. Tanpa ditanyai apapun oleh penjaga gerbang  mobil yang dikendarai keduanya segera melesat masuk saat gerbang terbuka. Beberapa menit kemudian mereka sampai di halaman depan mansion.  Keduanya turun dan memasuki mansion megah nan mewah itu dengan wajah datar.


"Selamat malam," sapa Arsen dan Denia.


"Selamat malam. Dan silahkan duduk," balas Reiga dengan mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Maaf bila kami datang terlambat," ucap Arsen.


"Tidak apa, lagipula hidangan makan malam belum sampai ke mereka makan," ujar Reiga dengan senyum wibawanya.


Tidak lama dari itu datanglah beberapa pelayan dengan membawa troli berisi hidangan makan malam.  Selesai menghidangkan lauk pauk makan malam itu mereka pun memulai acara makan malam ini.


Selang 30 menit kemudian makan malam telah selesa. Setelah memakan makanan penutup ruangan itu masih terjadi keheningan. Arsen mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan menyodorkannya pada Reiga.


"Apa ini, Arsen?" tanya Reiga bingung.


"Buka saja amplop nya maka kau akan tahu isinya," jawab Arsen.


Reiga pun membuka amplop itu dan terlihatlah sebuah kertas. Reiga membaca kata-kata demi kata yang ada dalam kertas itu. "Ini adalah yang terbaik Reiga. Selama ini Xavier hanya mempermainkan putriku," ucap Arsen.


"Ya, ini adalah jalan yang terbaik. Kami berdua tidak keberatan," balas Reiga.


"Tenang saja, kita akan tetap bersahabat baik," ucap Denia takut bahwa keduanya mengira bahwa keluarga mereka kan memusuhi keluarga Amalaric.


"Kami sebagai kedua orang tua Xavier meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian. Karena putra kami putri kalian tersakiti," ucap Geisha.


"Kami sudah memaafkan putramu, sudah jangan difikirkan lagi, mungkin mereka berdua tidak berjodoh," balas Denia.


"Baiklah. Besok kamu akan memberikannya pada Xavier, terimakasih telah ingin menjadi besan kami selama beberapa bulan ini," ujar Reiga.


"Baiklah. Bila begitu kami pamit untuk pulang. Karena hari sudah akan larut malam," ucap Arsen karena memang hari sudah akan larut malam, perjalanan yang ditempuh dari mansion utama Amalaric tidaklah dekat. Membutuhkan waktu yang sedikit lama bila terjadi kemacetan. Untuk saja tadi saat pergi tidak terjadi kemacetan jadinya janya membutuhkan waktu 30 menit saja.


"Baiklah bila begitu, kami akan mengantarkan kalian hingga pintu utama.",


Keempat paruh baya itupun berjalan beriringan menuju pintu utama yang sedikit jauh dari ruang makan, karena setelah ruang makan ada ruang keluarga kalau setelah ruang keluarga ada ruang tamu setelah ruang tamu terdapat aula besar dan setelahnya lorong lebar atau jalan utama menuju pintu utama. Sangat membuang tenaga namun apalah daya.


"Terimakasih sudah mau mengantarkan kami. Sekali lagi kami pamit pulang, selamat malam," ucap Arsen sebelum meninggalkan pintu utama.


Terlihat seorang gadis cantik dengan piyama bergambar panda sedang memandangi langit malam yang indah dengan bulan dan bintang yang menambah  kesan indah dari langit malam itu. Sedari tadi sang gadis hanya diam saja tanpa mengucapkan kata apapun. Sepertinya pikiran dari sang gadis sedang kacau akan masalah hidupnya yang berdatangan.


"Ini semua kapan berakhirnya?" Entah kepada siapa gadis itu bertanya.


"Yang pertama tentang kehidupan gue yang masih nggak jelas. Dimulai dari mimpi dua bulan lalu, dan sekarang gue ketemu sama Celsia? Apa semua yang diucapkan sama Audra bener?"


"Tapi nggak mungkin. Gue itu cuman transmigrasi, ini bukan raga gue."


"Tapi ... Arrghhh! Gajelas! Sialan!" umpat gadis itu.


Gadis itu menghela nafasnya pelan. "Okey Agatha. Percaya aja lambat laun pasti bakal tau semua masalah saat ini, dengan seiring waktu yang berjalan." Ya gadis itu adalah Agatha, yang sedang pusing dengan puzzle-puzzle hidupnya.


"Udah malem, gue tidur ah," gumam Agatha. Segera Agatha masuk ke dalam kamarnya tidak lupa menutup pintu dan menutupinya dengan gorden yang telah disediakan.