
Kebetulan hari ini adalah hari libur sekolah para putra sambungnya jadi Agatha memutuskan untuk mengajak mereka pergi keluar, menghabiskan waktu bersama.
"Apakah kalian mau pergi keluar?" tanya Agatha pada ketiga putranya. Zaqiel yang tadi sedang sibuk menonton kartun favorit kini menolehkan kepalanya kea ha Agatha.
"Zaqiel mau Mommy," jawab Zaqiel antusias lalu disambut dengan suara Arshaka. "Shaka juga mau, Mommy."
"Baiklah, Xalzero bagaimana? Mau atau tidak?" tanya Agatha pada Xalzero yang sibuk pada ponsel nya.
Xalzero yang ditanya pun mengalihkan perhatiannya lalu menjawab. "Aku ikut saja."
"Baiklah, kalian tunggu Mommy ya. Mommy akan bersiap sebentar." Setelah mengatakan itu Agatha segera pergi naik kelantai tiga menggunakan lift.
15 menit kemudian Agatha telah turun, tentunya dengan pakaian yang berbeda dan sudah pastinya terlihat cocok ditubuh Agatha. Dress putih yang sedikit mengembang dibawah lutut berlengan pendek diatas siku, dipadukan dengan Sling bag hitam dan snikers putih kebanggaannya.
"Sepertinya kita tidak berjanjian untuk memakai pakaian berwana putih," ucap Agatha saat melihat ketiga putranya yang memakai pakaian putih. Xalzero dengan kaos putih polos lalu pada luarnya dilapisi oleh kemeja putih dan dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dan sepatu putih. Arshaka dengan kaos putih polos dipadukan dengan celana jeans hitam dan sepatu putih pula. Terakhir Zaqiel, kaos putih dengan clean jeans hitam dan sepatu putih pula.
Benar-benar couple yang tidak direncanakan.
"Aku memang sedari tadi telah memakai ini ya," ucap Zaqiel yang memang benar, Zaqiel hanya mengganti sendal rumahannya dengan sepatu.
"Baiklah ayo kita berangkat." Mereka bertiga mengangguk dan mengikuti Agatha.
****
Terlihat seorang gadis dikawal dengan tiga orang lelaki yang sedang berjalan menelusuri mall terbesar di kota Jakarta. Tentu kalian tahu mereka siapa.
Mereka adalah Agatha, Xalzero, Arshaka dan Zaqiel tentunya.
"Mommy, Mommy, Zaqiel ingin membeli cake itu." Tunjuk Zaqiel pada sebuah toko cake dengan varian rasa. Agatha pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju toko cake itu diikuti dengan ketiga putranya.
"Zaqiel ingin varian apa?" tanya Agatha pada Zaqiel.
"Zaqiel ingin varian cokelat saja, Mommy," jawab Zaqiel. Agatha menganggukkan kepalanya kemudian beralih menatap dua putranya yang sedari tadi diam.
"Kalian ingin varian apa?" tanya Agatha pada Xalzero dan Arshaka.
"Varian matcha saja Mom, aku dan Shaka samakan saja akan tidak lama nantinya," jawab Xalzero mewakili Arshaka. Agatha mengangguk dan memesan cake tersebut.
Saat sedang menunggu cake yang mereka pesan datang seorang wanita yang tidak Agatha kenali, namun sepertinya wanita itu kenal dengan salah satu putranya.
"Xalzero, kau apa kabar?" tanya wanita itu pada Xalzero yang menambah kadar kedataran wajahnya.
"Siapa dia?" tanya Agatha berbisik pada Arshaka yang kebetulan berada disampingnya. Arshaka terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan Agatha. "Wanita itu adalah mantan istri dari Daddy, Mom."
Jawaban dari Arshaka mampu membuat Agatha memelototkan matanya kaget. Apa! Dia adalah mantan istri Xavier?
Tetapi dilihat-lihat wanita didepannya ini sangat suka dengan barang-barang branded dan berdandan err menor ya wir.
"Gile, itu cincinnya bisa kalinya disumbangin buat gue satu." Pikir Agatha saat melihat ada dua cincin pada satu jari lalu disebelahnya lagi ada satu cincin yang sudah Agatha tebak harganya sangat-sangat mehong dan dompet tipis Agatha tidak dapat membelinya karena dompetnya tipis, kecuali kalau tidak tipis, pasti bisa kebeli. Lalu sebelah kiri terdapat tiga cincin dengan model berbeda dan posisi berbeda.
Agatha perhatikan sedari tadi Xalzero hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan yang wanita itu ajukan dan tetap berwajah datar melebihi tembok mansion.
"Mengapa Abang mu tidak menjawab pertanyaan perempuan itu?" Agatha kembali bertanya dengan berbisik.
"Bang Zero tidak akan pernah menyukai wanita itu Mommy. Karena wanita itu sangat munafik dan matre," jawab Arshaka berbisik juga. Sedangkan Zaqiel hanya diam.
"Arshaka dan Zaqiel, bagaimana kabar kalian?" tanya wanita itu pada Arshaka dan Zaqiel karena pertanyaannya pada Xalzero diabaikan dan hanya dianggap angin lalu.
"Kamu baik," jawab Zaqiel seadanya, jujur saja Zaqiel sangat tidak nyaman saat ini karena banyak pengunjung yang memperhatikan mereka akibat kedatangan wanita itu kemari.
"Mommy apakah cake nya masih lama?" tanya Arshaka yang sama seperti Zaqiel.
"Sepertinya sebentar lagi," jawab Agatha seadanya karna dirinya tidak tahu. Sebenarnya Agatha juga sedikit tak nyaman akibat banyak sekali orang yang memandang kearah dirinya sejak wanita disamping nya datang dan Agatha telah menyadari nya sekarang karena awalnya Agatha kira bukan dirinya.
"Apakah kau adalah perempuan yang telah merebut suami ku?!" tanya wanita itu sedikit lantang, walaupun begitu tetap saja terdengar oleh beberapa orang yang membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian sekarang. Terlebih lagi Agatha mendengar beberapa bisikan yang membuatnya telinga panas melebihi air panas tapi kalau api seperti nya sepuluh dua belas.
"Maksud mu? Aku merebut suami mu? Sejak kapan? Aku merasa juga tidak pernah merebut suami orang," tanya Agatha balik dengan tenang. Ia tidak ingin terlalu terbawa emosi untuk saat ini.
"Cih, jangan pura-pura tidak tahu, karena mu suami ku menceraikan ku! Dan jangan berpura-pura!" ucap wanita itu lantang diringi dengan air mata buayanya. Agatha mengetahui itu.
"Karena mu aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Itu semua karena mu! Karena mu *****!" teriak wanita itu lantang.
Habis sudah Agatha tidak bisa menahan bila sudah dikatai seperti itu. "Iya! Suami Lo siapa bangsat!" teriak Agatha lantang.
"Ini jatuhnya gue yang bingung anjim! Dari tadi Lo bilang gue ngerebut suami Lo!"
"Jangan berpura-pura tidak tahu btch! Karena mu Xavier menceraikan ku!" balas wanita itu.
Sekarang Agatha tahu darimana akar kesalahannya, ternyata ada di Xavier.
"Jadi kau adalah mantan istri dari Xavier?" tanya Agatha dengan menelisik penampilan wanita itu dari bawah hingga atas.
"Xavier menceraikan mu bukan karena aku. Tetapi karena dirimu yang sangat menor, matre dan ... Munafik!" sarkas Agatha dengan smirk nya.
"Dasar jelek, bahkan parasmu lebih jauh dibawahku! Tetapi mengapa Xavier suka padamu!" Teriak wanita itu. Kehabisan kata-kata ye kaks? Sampe-sampe Agatha yang imoet dan cantik aduhay bohay ini di bilang jelek?
"Apakah tidak terbalik? Lihatlah wajahmu yang tebal akan make up 5 inci, maka dari itu Xavier menceraikan mu. Nggak sadar diri yeouu." Sarkas Agatha.
Sarkasan dari Agatha mampu membuat wanita itu tambah tersulut. "Kau!" tujuk wanita itu pada Agatha.
"Apa?!" tanya Agatha dengan wajah wajah angkuhnya. Tanpa berkata apapun wanita itu segera melayangkan tangannya dan menampar pipi Agatha. Namun sebelum itu tangannya lebih dulu dicekal oleh seorang pemuda.
"Jangan menyentuh Mommy-ku, sialan!" ucap lelaki itu dingin dan penuh penekanan, jangan lupakan tatapan tajam dan aura dinginnya yang kentara.
Sebenarnya Xalzero telah sampai saat ditengah-tengah Agatha dan wanita itu bertengkar. Tetapi ia hanya diam saja mengamati hingga pada akhirnya ia maju saat tangan wanita itu akan menampar Agatha.
"Tangan kotor mu itu tidak pantas untuk menyentuh Mommy-ku. Angel!" tekan Xalzero. Ia tidak peduli bahwa wanita didepannya ini lebih tua darinya. Dia sama sekali tidak peduli.
"Kau! Urusan kita belum selesai!" ucap Angel sebelum meninggalkan mereka.
"Mengapa tidak bubar?! Bubar!" sarkas Xalzero pada orang-orang yang masih berkerumun.
Agatha bernapas lega saat wanita itu telah pergi. Agatha mencari Zaqiel uang tadi ia titipkan pada salah satu pegawai toko cake itu.
"Mommy tidak apa-apa?" tanya Zaqiel khawatir. Agatha tersenyum lembut saat mendengar pertanyaan dari Zaqiel. "Mommy tidak apa-apa, Qiel tidak perlu khawatir, okey," jawab Agatha.
"Syukurlah bila Mommy tidak apa-apa," ucap Zaqiel memeluk Agatha.
"Kak ini pesanan cake nya," ucap seorang pegawai. Agatha menerima cake itu membayarnya lalu pergi dari sana.
Agatha berencana untuk mengajak para putrnaya pulang saja, terlalu sebelum itu Agatha akan mampir ke Gramedia yang ada didalam mall tersebut untuk membeli beberapa novel. Setelahnya barulah pulang.
*
*
*
*
*
*