
Dengan pelan gadis cantik itu melangkahkan kakinya menjauh dari bangunan besar megah nan mewah itu. Lima belas menit berjalan akhirnya ada sebuah mobil yang menghampirinya, segara gadis itu masuk.
Tiga puluh menit kemudian gadis itu telah sampai ditempat yang ditujunya. Segera ia melangkahkan kakinya memasuki gedung besar bertingkat itu. Menaiki lift dan menuju lantai yang ditujunya. Beberapa saat kemudian gadis tersebut telah sampai dilantai yang ditujunya.
Tanpa mengetuk pintu lagi gadis itu segera membuka pintu itu menggunakan password yang telah diberi tahukan oleh sang pemilik apartemen.
"Kenapa, hm? Ada masalah?" tanya lelaki itu kepada sang gadis.
"Nggak papa. Pengen aja," jawab gadis itu.
"Beneran? Nggak biasanya kaya gini. Apalagi buat nutup mulut kalau kamu lagi sama aku." balas lelaki itu.
"Udah, aku nggak papa," timpal gadis itu.
Tanpa mengatakan sepatah katapun lelaki itu pergi meninggalkan ruang tamu apartemennya. Tidak lama kemudian lelaki itu datang dengan membawa beberapa snack dan dua cokelat batang varian matcha. Tidak lupa juga lelaki itu membawakan satu kotak berukuran besar susu putih serta gelas untuk gadis itu.
"Thanks," ucap gadis itu.
"Sama-sama. Agatha." Bila Sang gadis adalah Agatha maka sang lelaki adalah? Tentu saja Zelgaro.
"Nanti makan malemnya mau apa?" tanya Zelgaro pada Agatha yang sedang sibuk memakan cokelat favoritnya. Maniak matcha.
"Samain aja," jawab Agatha. Zelgaro pun menganggukkan kepalanya.
Tanpa terasa langit berubah warna menjadi gelap. Kini mansion Calvin dihebohkan akan tidak adanya Agatha di kamarnya.
"Apa yang udah kalian lakuin sama, adik sepupu kalian?" tanya Oma Zena dengan tatapan penuh selidik kepada dua saudara lelaki itu.
"Abang Zero tuh Oma. Masa bawa-bawa tentang makanan itu, makanya Agatha pergi nggak tahu kemana," jawab Elvis menunjuk snaga Abang yang terlihat sangat santai.
"Lagian pake acara ngambek segala gitu, nggak jelas banget," sahut Zero. Sontak Celsia yang berada disitu melemparkan tatapan tajam pada Zero.
"Ingat Kan kata-kata yang Agatha ucapin sebelum pergi ninggalin kita? Kalau nggak inget biar aku ulangi. 'Kita nggak saling kenal. Jadi diem karena Lo nggak tahu apapun tentang hidup gue'. Bukan nggak jelas, tapi Bang Zero yang nggak tahu apapun." Elvis mengulangi kata-kata yang sempat Agatha ucapnya sebelum meninggalkan keduanya. Sebenarnya Elvis juga melihat bahwa Agatha pergi meninggalkan mansion.
"Gara-gara Lo. Padahal dikit lagi bakal selesai, tapi karena Lo. Semuanya gagal!" ucap Celsia dengan menekan kata akhirnya.
"Om, Tante, Opa, Oma, Alaxia dan Calvin. Aku pamit pulang dulu," pamit Celsia.
"Hati-hati dijalan," pesan Oma Zena.
"Siap, Oma," balas Celsia.
Ruangan itu hening setelah kepergian Celsia. Tidak ada yang membuka pembicaraan hingga ayah dari Alaxia mengangkat bicara.
"Sebaiknya kita jangan bertindak dulu. Setelah makan malam selesai dan Agatha belum kembali barulah kita bertindak,"
"Dia pasti hanya berjalan-jalan sekitar mansion saja. Para bodyguard belum dikerahkan untuk menelusuri mansion bukan?" sontak ucapan itu membuat Alaxia menggeram. Sialan skelai memang Abang sepupunya ini. Sungguh sialan, ingin rasanya ia menenggelamkan Abang sepupunya itu kedalam lautan yang dalam tak berdasar. Sedari dulu sifat nya selalu seperti ini, sangat tenang dan tidak merasa bersalah sama sekali. Pantas saja diusianya yang hampir tiga puluh tahun tidak memiliki pendamping hidup. Mungkin banyak yang menyumpah serampahi nya karena sifatnya itu.
"Dari semalem gue nyari solusi buat ngebujuk Agatha, tapi apa? Lo malah ngehancurin semuanya! Dari siang smape sore gue nyari makanan kesukaan dia buat bujuk dia, tapi apa? Lo malah ngerusak semuanya dan ngebuat dia pergi ninggalin mansion. Dan apa Lo bilang tadi? Dia ada disekitar mansion? Itu mustahil! Mustahil banget! Dia itu emang suka ketenangan tapi bukan berarti dia bakal ada di taman mansion ataupun disekitar mansion ini!" Alaxia mengeluarkan semua unek-unek nya sedari tadi yang ia pendam dengan berapi-api. Ia kesal sekarang, ia kesal. Ia tidak menyesal membuang waktunya, ia sama sekali tidak menyesal. Ia malah senang karena bisa mengetahui sedikit demi sedikit apa yang adik sepupunya sukai.
"Lo ngerusak semua nya! Karena lo! Agatha pergi!" teriak Alaxia.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Bang Zero, Kak. Tapi kesalahan aku juga," sela Elvis mencoba membela saudaranya. Ia tidak ingin kejadian tiga tahun lalu terulang kembal, dimana Alaxia yang pernah dingin dengan Zero. Walaupun sudah meminta maaf, akan tetapi hubungan keduanya tidak sedekat dulu.
"Jangan coba buat ngebela dia, Elvis! Kejadian hari ini dia yang buat!" Bila sudah begini maka akan rumit.
"Alaxia, tenanglah dirimu, nak," bujuk Tante Fara.
"Nggak bisa Mah. Dia udah buat Agatha pergi, kita nggak tahu sekarang Agatha gimana. Aku ... Aku takut dia kenapa-napa, bagaimana pun juga disini bukan wilayahnya, dia nggak terlalu kenal sama kota ini," lirih Alaxia. Setelah hidup hampir dua bulan bersama dengan Agatha ia mengetahui bagaimana gadis itu. Adiknya itu hanya berpura-pura! Senyuman manis, dan ketegarannya hanyalah topeng, dibalik itu semua ada kesedihan mendalam yang gadis itu simpan.
"Mah. Agatha nggak sekuat yang kita lihat selama ini. Bisa aja bibirnya ngucap nggak papa tapi hatinya malah sebaliknya. Walaupun Alaxia baru ngenal hampir dua bulan, tapi Alaxia cukup tahu. Alaxia pernah nggak sengaja ngeliat dia nangis dibalkon kamarnya sambil ngeluarin semua keluh kesahnya selama ini," lanjut Alaxia dengan air mata yang tidak dapat terbendung saat mengingat dimana ia melihat adik sepupunya menangis sembari mengeluarkan semua keluh kesahnya pada langit malam yang sedang hujan itu. Ah, seolah-olah mengerti langit itu mengeluarkan hujan untuk menutupi dan menemaninya.
"Sudahlah, ngejelasin sampai keujung dunia pun dia nggak bakalan ngerti! Karena hatinya udah beku!" ketus Alaxia sebelum pergi meninggalkan ruang keluarga yang hening itu.