
"Mataku tidak suci lagi!"
Disana tampak Zeline yang tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun anehnya Zeline membuka satu cela jari nya. Tentunya itu masih bisa melihat nya bukan?
Agatha sontak menolehkan kepalanya kearah Zeline berada dan mendorong pelan dada Xavier. Memalukan sekali.
"Omo, omo, sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan!" Zeline berseru cukup keras, hal tersebut mampu membuat kedua mertuanya yang tidak lain adalah Geisha dan Reiga datang.
"Maksud mu?" tanya Reiga kepada Zeline.
"Itu tadi Kak Agatha dan Kak Vier ber—" Ucapan Zeline terpotong akibat bekapan dari Agatha. Agatha tersenyum paksa kepada mertuanya. "Kau diam," bisik Agatha.
"Sudah tidak ada Pa, Ma," ucap Xavier meyakinkan. Lihatlah wajah istrinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Bekapan pada mulut Zeline telah di lepas.
"Baiklah kalau begitu, tidak lama lagi akan makan siang. Jadi jangan lupa," pesan Geisha sebelum meninggalkan mereka bertiga, Xavier, Zeline dan Agatha.
Agatha bernapas lega saat kedua mertuanya telah pergi.
"Lain kali ketuk dulu sebelum masuk ke kamar orang," celetuk Xavier datar.
"Hehe, maaf Kak. Zeline kira Kakak tidak ada di kamar Kak Agatha dan sedang eumm itu." Zeline berucap dengan menyengir lebar yang menampilkan deretan gigi rapinya.
"Jadi mau apa Kau kemari?" tanya Xavier lagi. Posisi mereka saat ini masih berada di dekat pintu.
"Aku ingin mengajak Kak Agatha untuk menonton sebuah drakor sebelum makan siang tiba," jawab Zeline dengan tersenyum tengil kearah Xavier, karena selain mengajak Agatha menonton ia juga ingin menganggu waktu berdua antara kakak ipar dan kakak nya.
"Bocah ini walaupun sudah berusia 23 tahun tetap saja menyebalkan. Dia kira aku tidak tahu apa maksud nya?" batin Xavier.
Mengapa Zeline memanggil Agatha kakak? Padahal kan usia Zeline lebih tua tiga tahun dari Agatha, yang berarti usia Agatha baru 20 tahun. Itu karena Zeline menghargai Agatha sebagai kakak iparnya, begitu.
Back to topic
"Benarkah? Apakah ada drama baru?" tanya Agatha kepada Zeline. "Tentu saja ada," jawab Zeline.
"Baiklah, tapi maaf ya, sepertinya nontonnya selepas makan siang saja," ucap Agatha.
"Ah, tidak apa aku mengerti. Baiklah bila begitu aku kembali ke bawah. Sampai bertemu nanti Kakak," ucap Zeline.
Setelah kepergian Zeline, Xavier manarik pinggang Agatha dan menghimpitnya pada dinding. Sebelumnya Xavier menutup dahulu pintu nya.
"Eh, mau apa kau?" tanya Agatha sedikit panik. Xavier tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahnya kepada wajah gadis yang ada didepannya dan ...
Menempelkan bibirnya pada bibir merah muda yang sedikit membengkak itu akibat ciuman mereka sebelumnya. Sesaat kemudian Xavier mulai ******* lembut bibir merah muda itu, karena sebelumnya Xavier hanya menempelkannya saja. Refleks Agatha mengalungkan tangannya pada leher Xavier.
Agatha diam memejamkan matanya menikmati ******* lembut dari Xavier hingga tidak menyadari bahwa satu tangan Xavier melingkari pinggangnya. Sedangkan satunya lagi menahan tengkuk Agatha.
Tautan mereka terlepas kala Agatha memukul pelan dada Xavier. Agatha menghirup rakus oksigen untuk mengisi paru-parunya.
"Kau hampir membuatku kehabisan napas," ucap Agatha dengan menatap tajam Xavier. Yang ditatap hanya cengengesan saja.
"Tapi kamu suka bukan?" goda Xavier yang membuat pipi chubby itu merona.
"T-tidak," ucap Agatha gagap.
"Ah, yang benar?" tanya Xavier semakin gencar menggoda Agatha yang pipinya tambah merona, bah
"Sudahlah, sebaiknya kita turun, sudah waktunya makan siang," ucap Agatha mengalihkan arah pembicaraan mereka.
Xavier tersenyum kecil lalu mengacak rambut Agatha yang membuat sang empu merona dan kesal. "Yasudah ayo," ajak Xavier.
Setelah makan siang rencana untuk nonton drakor bersama di cancel, karena Zeline lupa bahwa ia ada pertemuan dengan temannya.
Jadi sekarang ini Agatha tengah duduk berdua dibalkon bersama Xavier. Lama-lama bosan juga ya.
"Aku ingin keluar mencari angin," ucap Agatha tiba-tiba. Ia sungguh bosan.
"Aku ikut." Xavier berucap dengan memandang wajah Agatha.
Agatha menghela napasnya pelan dengan memijat pangkal hidungnya. "Baiklah, aku bersiap dulu." Setelah mengucapkan itu Agatha pergi masuk. Xavier pun ikut masuk, malas juga bila dia hanya sendiri di balkon.
"Kau tidak ingin mengganti pakaian?" tanya Agatha pada Xavier yang berbaring di kasurnya. Xavier menggeleng.
***
"Sepertinya kau sangat menyukai pantai," celetuk Xavier memecah keheningan. Karena sedari tadi Agatha hanya memandangi ombak laut yang naik turun.
Agatha menolehkan wajahnya kearah Xavier. "Ya, aku dulu sering ke pantai entah itu sendiri ataupun ditemani."
"Agatha." Sang empu yang dipanggil pun menolehkan wajahnya kearah Xavier.
"Kenapa?" tanya Agatha kepada Xavier yang hanya diam saja memandangi wajahnya.
"Aku mencintaimu."
"Benarkah?" tanya Agatha masih dengan memandangi wajah serius Xavier. "Benar, untuk apa aku membohongi perasaanku." Xavier menjawab dengan menatap Agatha.
"Alasannya?"
Sebelum menjawab Xavier menghela napasnya pelan. "Aku mencintaimu tanpa alasan, karena aku tidak tahu apa alasan ku mencintai mu. Jadi, maukah kamu memulai rumah tangga kita dari awal?" tanya Xavier berharap Agatha menjawab mau.
Agatha terdiam beberapa saat. Agatha tahu bahwa Xavier telah lama mencintainya, tetapi Agatha hanya abai. Agatha juga bisa melihat betapa tulusnya cinta Xavier dari matanya yang memancarkan ketulusan yang dalam.
"Apakah kamu mencintai ku, juga?" tanya Xavier yang melihat Agatha diam.
Agatha diam, ia juga tidak tahu, bila dia pintar dalam segala hal maka dia tidak pintar dalam hal percintaan yang terlihat mudah namun banyak cobaan yang sulit.
"Maaf," lirih Agatha yang didengar oleh Xavier.
"Untuk memulai dari awal aku mau. Tetapi soal aku mencintai mu iya atau tidaknya aku tidak tahu," lanjut Agatha dengan menatap mata hitam legam menenangkan itu.
"Tidak apa, aku bisa membuat mu mencintai ku," balas Xavier dengan senyum manisnya yang akhir-akhir ini sering diperlihatkan untuk Agatha.
Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka berdua. Hingga Xavier kembali bersuara yang memecah keheningan diantara mereka.
"Apakah kau tahu bahwa Xalzero, Arshaka dan Zaqiel bukan putra kandungku?" tanya Xavier masih dengan menatap laut, berbeda dengan Agatha yang spontan menatap ke wajah Xavier.
"Benarkah? Mereka terlihat mirip dengan mu. Lalu kemana orang tua kandung mereka?" tanya Agatha penasaran. Karena seingatnya Xavier adalah ayah kandung dari ketiganya, Xalzero, Arshaka dan Zaqiel.
"Tentu saja mereka mirip denganku, Zaqiel adalah putra dari adik kembarku yang saat ini sedang berada Amerika Serikat mengurus perusahaan milik kakek ku, lalu Xalzero dan Arshaka adalah putra dari Kakak ku yang saat ini sedang berada di Amerika Serikat namun di kota yang berbeda. Dia juga sama seperti adik kembarku, meneruskan perusahaan," jawab Xavier enteng.
"Tidak mungkin di usia ku yang baru 27 tahun telah memiliki tiga putra," lanjut Xavier. Agatha baru tahu bahwa Xavier masih berusia 27 tahun yang berarti jarak usianya dengan Xavier dua tahun bila dengan jiwanya dan tujuh tahun bila dengan raga ini.
"Aku baru tahu bahwa kau memiliki kembaran," ucap Agatha.
"Apakah mereka berdua disana bersama istrinya?" tanya Agatha. Karena Xavier tidak membahas tentang istri dari adik kembarnya.
"Tentu saja mereka disana bersama istrinya. Kebetulan istrinya juga adalah penerus perusahaan milik ayahnya. Dan kakak ku adalah penerus perusahaan milik mertuanya." Xavier menjawab, lagian yang bertanya adalah istrinya bukan orang lain.
"Seperti fakta ini hanya diketahui oleh orang dalam saja, hingga aku tidak tahu," gumam Agatha. "Kau benar, yang orang tahu saat ini adik ku pergi ke luar negeri. Pernikahan mereka berdua pun diketahui oleh publik setelah lahirnya Xalzero, tentunya tanpa memberitahukan bahwa Xalzero adalah putra kandung dari adik kembar ku," jelas Xavier, sendang kan Agatha hanya mengangguk mengerti.
Bahkan dulu Xalzero sempat tinggal di London bersama kakak dari ibunya beberapa waktu.
"Fakta mengejutkan, setelah ini akan ada fakta mengejutkan apalagi? Apanya setelah aku masuk kedalam novel alurnya menjadi seberubah dan semelenceng ini?" batin Agatha.
Didalam novel tidak dijelaskan bahwa Xavier memiliki saudara kembar. Dan ketiga putranya adalah putra kandung.
Semua ini masih teka-teki yang membuat Agatha pening sendiri.
*
*
*
*
*