Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
53. Nggak Pekaan



Setelah melakauakn perjalanan selama 40 menit lamanya, kini mobil Bugatti La Voiture Noire berwarna hitam itu memasuki halaman mansion kediaman Ellard.


Seorang lelaki keluar lagi pintu kemudi dan berjalan mengitari mobil membukakan pintu samping kemudi. Dan keluarlah seorang gadis cantik dengan piyama bergambar beruang. Tentu kalian tahu siapa gadis berpiyama beruang itu?


"Agatha!" Yap! Gadis itu adalah Agatha dan lelaki itu tentu saja adalah Zelagro. Dan yang memanggil Agatha adalah Celsia.


"Ih! Lo kok nggak bilang sama gue, kalau sama Kak Zelgaro!" ucap Celsia dengan nada kesalnya tidak lupa dengan bibirnya yang maju beberapa senti.


"Kalau gue bilang ke Lo, pasti Lo bakal bilang ke mereka," balas Agatha yang dapat menebak hal itu.


"Yaudah ayo masuk," ajak Celsia dengan merangkul tubuh Agatha yang sedikit lebih pendek darinya. Sedangkan Zelagro hanya diam ditempat sejenak sembari tersenyum tipis melihat kedekatan keduanya.


"Bila begini, peluang untuk dekat dengan Agatha akan semakin mudah," gumam Zelagro. Tetapi ia seketika mengingat perkataan dari Calvin tempo hari. Huft, ia membutuhkan banyak usaha untuk membuat kepercayaan keluarga Vasilius terutama kepala keluarga itu, Nagara Vasilius.


Mengembuskan nafasnya kasar lalu melangkahkan kakinya menyusul adik sepupu serta Agatha.


"Lo bakal nginep?" tanya Celsia kepada Agatha. Snaga empu yang ditanyai pun menganggukkan kepalanya pelan. Hal tersebut mampu membuat Celsia melompat kegirangan.


"Yes! Yes! Kita berdua bisa ngedrakor bareng sampe pagi!" seru Celsia dengan senyum manisnya. Hingga senyum manis itu luntur saat mendengar perkataan sosok lelaki. "Awas kalau aku tahu kamu ngajak Agatha ngedrakor sampai pagi. Aku bakal bawa Agatha buat tidur sama aku."


"Anak Mommy udah pinter ya sekrang. Mau bawa anak gadis orang buat tidur berdua!" celetuk Tante Delsya sembari menjewer sebelah telinga Zelgaro yang membuat sang empu merintih kesakitan. Mommy-nya ini kalau jewer sakitnya minta ampun sampe keubun-ubun.


"Aduh, duh, duh, Mom. Lepasin, sakit," rintih Zelgaro.


"Mom~" Bukannya melepaskannya, Tante Delsya malah menguatkan jewerannya yang membuat Zelgaro hampir menangis.


"Udah Tante. Lepasin aja, kasian, mukanya udah merah tuh," ucap Agatha yang kasihan saat melihat wajah serta telinga Zelgaro yang telah memerah. Bahkan mata lelaki itu sudah berkaca-kaca.


Tante Delsya melepaskan tangannya dari telinga Zelagro. Sang empu kemudian berjalan menuju kearah Agatha dan bersembunyi dibelakang Agatha.


"Sakit tau," bisiknya. Agatha membalikkan badannya menghadap kearah Zelgaro. Rasanya ingin Agatha tertawa, namun ia juga merasa kasihan pada lelaki ini.


"Udah ih. Jangan nangis, masa laki nangis," ejek Agatha pelan sembari menghapus jejak-jejak air mata Zelgaro. Posisinya saat ini Zelgaro menundukkan badannya agar lebih pendek dari Agatha, walaupun begitu kedua perempuan berbeda usia dibelakang Agatha dapat melihat bahwa Zelgaro menangis. Dasar bayi gede, pikir keduanya.


Tanpa keduanya sadari, Tante Delsya dan Celsia meninggalkan keduanya diaula itu. Dan tinggal lah keduanya. Zelgaro yang mengetahui hal itu pun memeluk tubuh mungil itu dan meletakkan wajahnya pada pindah gadisnya.


"Sakit," lirih Zelgaro.


"Nanti juga sembuh," ucap Agatha sembari mengusap-usap punggung lebar itu dengan pelan.


Sepuluh menit kemudian, isakan Zelgaro reda. Saat Zelgaro mengangkat wajahnya dari bahu Agatha, terlihat wajah Zelgaro yang lucu dan imut. Wajah yang semulanya memerah kini sudah putih kembali namun tidak dengan hidungnya yang merah akibat manangis, ah jangan lupakan matanya juga yang merah sehabis menangis. Bibirnya yang sedikit melengkung kebawah.  Perlahan jari lentik itu menghapus jejak-jejak air mata yang masih ada di kedua pipi Zelgaro.


"Lucu deh kalau gini," ucap Agatha dengan senyum manisnya. Zelgaro segera menutupi wajahnya.


"Enggak," balasnya.


"Iya," sahut Agatha.


"Yaudah sana, balik ke kamar kamu. Aku mau ke kamar Celsia," ucapa Agatha. Namun, sebelum itu lengannya lebih dulu dicekal oleh Zelgaro.


"Nanti aja bisa nggak? Temenin aku dulu di kamar sampe makan malem tiba. Please," pinta Zelgaro.


"Nggak bisa," ucap Agatha dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kok gitu sih?"


"Apanya?" tanya Agatha kurang mengerti.


"Nggak!" ketus Zelgaro lalu pergi meninggalkan Agatha sendirian di aula yang luasnya lumayan buat hajatan satu provinsi.


"Dia kenapa? Ngambek?" entahlah kepada siapa Agatha bertanya.


Saat ini makan malam sedang berlangsung, sekarang tidak hanya ada Tante Delsya, Zelgaro dan Celsia saja tetapi ada juga Om Caiden, Daddy Zelgaro. Suami Tante Delsya dan Om nya Celsia.


Setelah makan malam selesai Agatha diajak menuju ruang keluarga yang letaknya sedikit jauh dari ruang makan.


Agatha mendudukkan dirinya disamping Celsia. Sedangkan Zelgaro duduk diseberang mereka, bila diperhatikan lagi raut wajah lelaki itu terlihat kesal. Terlihat bila wajahnya yang terkadang cemberut dneagn bibir yang maju beberapa senti.


"Ada apa, Zelga?" tanya Om Caiden pada akhirnya, tidak biasanya putra semata wayangnya ini bertingkah seperti ini.


"Nggak," jawab Zelgaro tanpa menatap lawan bicaranya.


"Beneran? Nggak bisanya kamu gini. Ada masalah?" tanya Tante Delsya. Kini Zelgaro menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lo ada masalah sama dia tadi?" tanya Celsia berbisik.


"Enggak, cuman dia keknya kesel deh," jawab Agatha dengan berbisik juga, namun dapat didengar oleh Kedua paruh baya itu. Sontak paruh baya itu saling berpandangan lalu menaikkan alis dan tersenyum penuh arti.


"Kesel kenapa?" masih dengan kondisi berbisik Celsia bertanya. Jujur saja dia sangat penasaran.


"Dia minta buat nemenin dia sampe makan malem tiba, tapi gue nggak mau." Sepertinya Agatha tidak bisa berbisik hingga suaranya dapat didengar oleh kedua paruh baya itu.


"Gitu toh, kronologinya," balas Celsia.


"Dia abis nangis tadi. Makanya mood nya berubah-ubah dan gampang ngambek," ucap Celsia tanpa diminta. Agatha menganggukkan kepalanya mengerti.


"Nggak dulu, nggak sekarang, Lo tetep jadi cewe yang nggak pekaan kalo udah soal ginian mah," celetuk Celsia yang membuat Agatha bingung. Apa maksud budak satu ini, ma? Agatha tidak ngerti lah.


"Maksud Lo?"


"Nggak, kerbau lewat,"


Agatha memasang wajah lempengnya saat mendengar jawaban dari gadis menyebalkan disampingnya.