Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
12. Pks (Pahlawan Kesiangan)



Saat ini Agatha telah berada dijalan Melati yang dibilang oleh sistem, ya emang dibilang ama siape lagi, kalau bukan sistem?


"Tem. mana anjir, kaga ada nih," tanya Agatha pada sistem dengan memperhatikan sekitar.


"Tunggu saja Nona, sebentar lagi,"


"Lo dari tadi bilang sebentar lagi loh, sampe sekarang nggak ada apa-apa," cetus Agatha.


"Maaf Nona, tetapi atasan saya yang bilang, bukan saya,"


"Iye dah," balas Agatha.


Lama menunggu sembari ditemani dengan beberapa cemilan yang kebetulan ada di salah satu warung disana, Agatha juga nongkrong disana ya.


"Bu, semuanya berapa?" tanya Agatha pada Bu Ida, pemilik warung yang Agatha buat tempat menunggu.


"Dua puluh ribu aja Neng," jawab Bu Ida. Agatha mengeluarkan satu uang kertas berwana merah lalu memberikannya pada Bu Ida.


"Kembaliannya, ambil aja Bu," ucap Agatha saat Bu Ida menyodorkan kembalian.


"Beneran Neng?" tanya Bu Ida merasa tak percaya.


"Beneran dong Bu," jawab Agatha dengan senyum tipis.


"Makasih ya Neng, Ibu doain semoga rezekinya lancar terus ya," ucap Bu Ida.


"Aamiin, sama-sama Bu," balas Agatha, lalu setelah itu berpamitan.


Saat Agatha akan menyebrang ia tidak sengaja melihat sebuah motor melaju kencang dari arah kiri, kebetulan juga disana ada seorang lelaki dan perempuan yang sepertinya sedang bertengkar atau apalah. Hingga tiba saat motor yang melaju itu telah semakin dekat, sang perempuan tidak sengaja atau sengaja mendorong sang lelaki. Agatha berteriak sembari berlari menyelamatkan lelaki itu dengan mendorong nya ketepian, namun sayangnya saat Agatha akan ikut ketepian dia lebih dulu tertabrak.


Agatha terlempar lumayan jauh dari lokasi. Tubuhnya terasa remuk semua, Agatha juga merasakan bila dahinya mengeluarkan darah, ini sungguh sakit, Agatha sangat tidak kuat rasanya.


Setelah tersadar dari shock nya, lelaki tadi segera menghampiri Agatha yang terbaring lemah.


"Hei," panggil lelaki itu pada Agatha yang masih setengah sadar.


"To-lo-ng, sa-kit," lirih Agatha dengan terbata, perlahan juga mata Agatha mulai tertutup yang membuat lelaki itu panik.


"Hei, jangan menutup mata, aku akan membawa mu kerumah sakit terdekat," ucap lelaki itu seraya menggendong Agatha menuju mobilnya.


      ***


Dilain tempat, disebuah mansion besar mewah dan megah terlihat seorang pria yang tengah duduk santai dengan ditemani oleh secangkir kopi, dia Xavier. Saat akan meminumnya, gelas kopi yang berada dalam genggaman Xavier terjatuh ke lantai, seakan ada yang mendorongnya untuk jatuh, bersamaan dengan itu, firasatnya sedikit tidak enak, seakan ada yang akan terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Xavier pada dirinya sendiri.


"Xavier," panggil Geisha dengan air mata mengalir, yang membuat Xavier bingung.


"Ada apa, Ma?" tanya Xavier mencoba tenang saat melihat Mama-nya memanggilnya, tambah lagi ini Geisha memanggilnya dengan air mata yang mengalir lumayan deras, terakhir seperti ini saat sebulan lalu, dimana Agatha juga kecelakaan.


"Agatha, Agatha," ucap Geisha terpotong. Saat mendengar nama Agatha Xavier mulai khawatir.


"Agatha kenapa Ma?" tanya Xavier tambah khawatir.


"Agatha, Agatha kecelakaan," jawab Geisha dengan air mata mengalir deras.


"Ma, tau dari mana? Tadi Agatha baru saja keluar, tidak mungkin bukan?" tanya Xavier lirih.


"Mama, dihubungi oleh seorang lelaki tadi, dia memberi tahu bila Agatha kecelakaan, ayo kita kerumah sakit," jawab Geisha dengan manarik Xavier.


Singkatnya, Reiga, Geisha dan Xavier telah sampai di rumah sakit tempat Agatha. Saat bertanya pada resepsionis ternyata Agatha masih berada di ruang IGD. Mereka pun segera menuju ruang IGD, saat sampai disana, mereka melihat seorang lelaki yang tengah mondar mandir bak setrika didepan pintu.


"Apakah kalian keluarganya?" tanya lelaki itu pada mereka. Sebelumnya lelaki itu sedikit terkejut saat melihat keluarga Amalaric, keluarga terkaya nomor satu di dunia datang kearahnya.


"Benar kami keluarganya," jawab Reiga.


"Memangnya mengapa?" tanya Xavier dingin.


"Tidak apa," jawab lelaki itu.


Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka dengan Geisha yang selalu saja mondar mandir nak setrika dengan air mata yang sesekali Geisha seka.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Rouvin," ucap nya memecah keheningan.


"Tanpa kami beri tahu, kau juga pasti mengetahui nama kami," balas Xavier.


"Mengapa bisa Agatha kecelakaan?" tanya Reiga pada Rouvin.


"Sebelumnya maaf, ini semua karena ku. Jadi, tadi saat aku sedang bertengkar lalu diriku di dorong, disaat itu juga kebetulan ada sebuah motor yang melaju kearah ku, tetapi sebelum motor tersebut menabrak ku, ada seseorang yang menolongku, dan itu Agatha. Saat Agatha akan berjalan kearah ku, dia lebih dulu ditabrak oleh motor itu, yang menyebabkan Agatha terlempar sedikit jauh dari tempat kejadian," jelas Rouvin rinci.


"Sekali lagi aku minta maaf, ini semua karena ku," ucap Rouvin.


"Tidak apa, ini semua sudah takdir, bukan karena mu," balas Reiga dengan menepuk pelan bahu Rouvin.


"Pa, Mama takut," ucap Geisha diiringi dengan lelehan air mata di pipinya.


"Mama tau kan, kalau Agatha itu kuat," balas Reiga guna menenangkan sang istri.


Tiga jam menunggu akhirnya pintu IGD yang tadi tertutup kini terbuka menampilkan seorang lelaki berjas putih yang sedang membuka maskernya. Dia adalah dokter David, ingat bukan? (Bab 1)


"Vid, bagaimana dengan keadaan istri ku?" tanya Xavier dulu.


Hal tersebut juga mampu membuat Rouvin sedikit kaget saat mendengar kata 'istri' dari bibir Xavier. Rouvin kira, Agatha adalah anak perempuan dari keluarga Amalaric yang tidak di publikasikan.


"Vid, gimana keadaan mantu Tante?" tanya Geisha dengan sisa isakannya.


"Cepat, jangan diam saja," desak Geisha.


"Nyonya Agatha---" Ucapan David terpotong oleh ucapan Xavier.


"Bisakah kau tidak lelet dan bertele-tele untuk berbicara? Dan wajah mu juga jangan seperti itu, hal itu malah membuat kami tambah khawatir," ucap Xavier dingin.


"Maaf, Tuan muda,"


"Cepat katakan," titah Xavier.


"Keadaan Nyonya Agatha sempat kritis, tetapi hanya sebentar, setelah itu kembali normal. Keadaan Nyonya Agatha juga tidak bisa terbilang baik karena benturan yang cukup keras pada bagian belakang kepalanya," jelas Dokter David terpotong sejenak mengambil oksigen yang ada disekitar.


"Lalu?" tanya Geisha.


"Nyonya Agatha dinyatakan koma untuk beberapa waktu, untuk kapan sadar, saya pun tidak tahu kapan Nyonya Agatha akan sadar, hanya tuhan yang tahu," jawab Dokter David.


Koma? Untuk yang kedua kalinya, bahkan belum ada sebulan Agatha keluar dari rumah sakit, sekarang sudah masuk lagi.


"Koma? Akhhh, harusnya tadi aku tidak mengizinkannya saja untuk keluar," ucap Xavier dengan menjambak rambut nya sendiri.


"Ini semua salahku," lirih Xavier.


"Ini bukan salah mu, ini sudah takdir, jadi jangan menyalahkan dirimu, Nak," balas Xavier yang mendengar lirihan dari Xavier.


"Tapi, Pa---" Belum selesai Xavier berkata, Reiga lebih dulu memotongnya.


"Ini takdir," potong Reiga.


"Boleh kita masuk?" tanya Geisha.


"Boleh Tan, silahkan,"  jawab Dokter David mempersilahkan mereka masuk.


Saat masuk hal pertama kali yang mereka lihat adalah seorang gadis yang sedang terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya. Hal itu dapat membuat Geisha isakan Geisha yang tadi telah reda kembali lagi, ini memang tidak separah sebelumnya, tetapi tetap saja, antara hidup dan mati. Mereka tadi juga telah memberi tahu kedua orang tua Agatha, dan sekrang mereka masih melakukan penerbangan menuju Indonesia.


"Pa, Agatha," ucap Geisha.


"Agatha kuat, dia pasti bakal bangun," balas Reiga dengan mengusap pelan air mata yang mengalir pada pipi Geisha.


"Sudah, mereka sekarang sedang dalam penerbangan," jawab Xavier.


"Maafkan saya, ini semua karena saya," ucap Rouvin merasa sangat bersalah.


"Tidak perlu merasa bersalah, ini semua sudah takdir," balas Reiga.


"Benar, kau jangan merasa bersalah," sahut Geisha.


"Saya akan bertanggung jawab dengan membayar biaya rumah sakitnya," ucap Rouvin.


"Aku bisa membayarkan sendiri," balas Xavier.


"Xavier,"


"Baiklah,"


Setelah itu terjadi keheningan hingga seorang suster datang dan berkata bahwa Agatha akan dipindahkan keruangan yang telah di pesan oleh Xavier tadi.


      ***


Pukul telah menunjukkan pukul 20. 30 malam, kedua orang tua Agatha juga telah sampai di Indonesia tadi sore.


Hingga saat ini belum ada perkembangan dari kondisi Agatha, masih tetap sama seperti sebelumnya, hal tersebut mampu membuat Xavier, Rouvin, Xalzero, Arshaka dan Zaqiel, serata kedua mertua dan kedua orang tua Agatha tak tenang.


"Mommy, kapan Mommy akan bangun?" tanya Zaqiel dengan sedih.


"Zaqiel rindu dengan Mommy," lanjut Zaqiel dengan meletakkan wajahnya pada lengan Agatha.


"Bila nanti Mommy bangun, akan Zaqiel belikan PC yang banyak," ucap Zaqiel yang mampu mengalihkan perhatian Xavier.


"PC? Apa itu Zaqiel?" tanya Xavier yang merasa sangat asing dengan kata PC.


"Sebuah gambar lelaki tampan, yang banyak Mommy koleksi di kamarnya," jawab Zaqiel.


"Lelaki tampan?" beo Xavier.


"Udahlah, cowok mana tau," nimbrung seorang gadis yang sedang berdiri didekat pintu.


"Dasar, adik tidak berguna," gumam Xavier yang didengar oleh Zeline.


"Dasar Kakak durhaka," balas Zeline dengan watados.


(Wajah tak berdosa)


"Bisakah kalian diam? Kalian ini sangat berisik," tanya Xalzero datar.


"Ini lagi satu, sebelas dua belas sama bapaknya," ucap Zeline.


"Diamlah kalian," ucap Arshaka.


"Ini rumah sakit, bila ingin berdebat maka pergilah ke tengah jalan, jangan di ruangan Mommy-ku," ucap Zaqiel.


"Baiklah," balas Zeline.


"Apakah ada kemajuan dari Kakak ipar?" tanya Zeline pada Xavier.


Sebelum menjawab Xavier menghela napasnya pelan. "Tidak ada," jawab Xavier dengan wajah sedihnya.


"Dimana Mama dan Papa?" tanya Zeline.


"Mereka pulang ke mansion untuk mengambil barang-barang yang diperlukan," jawab Xavier fokus pada laptop nya.


"Apakah Kakak telah mencintainya?" tanya Zeline dengan memandangi wajah Xavier.


"Tidak," jawab Xavier sedikit gugup.


"Apakah iya, lihatlah telinga mu merah, Kak," balas Zeline dengan menunjuk kearah telinga Xavier yang merah.


"Wajahmu juga menunjukkan," lanjut Zeline menggiga Xavier.


"Aku bilang tidak, ya tidak, jadi diamlah," timpal Xavier dingin.


"Baiklah,"


Setelah itu Zeline melangkahkan kakinya Zaqiel yang sedang duduk disamping brankar Agatha.


"Zaqiel," panggil Zeline pada Zaqiel yang sedang berbicara sendiri.


"Ya, Aunty," jawab Zaqiel mengalihkan perhatiannya dari Agatha.


"Apakah kau benar-benar akan membelikan Kak Agatha PC, bila dia telah terbangun," tanya Zeline.


"Benar," jawab Zaqiel mantap.


"Kau akan membelinya dimana?" tanya Zeline, karena setahunya PC itu belinya di online.


"Tidak tau," jawab Zaqiel dengan menggelengkan kepalanya dua kali.


"Mau Aunty bantu?" tanya Zeline.


"Boleh, nanti aku akan memberikan uang nya pada Aunty," jawab Zaqiel semangat.


Walaupun Zaqiel hanya anak usia 10 tahun, uang jajannya sehari bisa mencapai lima ratus ribu, terkadang itupun tidak habis dan masih tersisa banyak. Dan sisa tersebut Zaqiel simpan.


"Nanti akan Aunty tanyakan pada teman Aunty yang juga sama dengan Kak Agatha," ucapnya.


"Bila bisa bawakan saja kemari teman Aunty itu," balas Zaqiel.


"Baiklah, bila dia ada waktu luang," timpal Zeline.


"Harus ada,"


"Iya, iya,"


Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Zaqiel pun berhenti berbicara dan memilih tidur dengan posisi duduk memeluk lengan Agatha.


*


*


*


*


*


***


1675 kata


***


Haii, mwhehe, semoga suka dan semoga nggak bosen sama alurnya yang makin lama makin makian gak jelas.


makasih buat yang udah baca,


Bila ada kesalahan dalam perkataan ataupun penulisan komen ya,


bantu ramein


See you next part