Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
14. Refleks



Hari ini adalah hari kedua setelah Agatha bangun dari koma nya. Sungguh demi dompet tebalnya Rafi Ahmad, Agatha saat ini sangat, sangat, sangat bosan. Mama dan bundanya pergi sebentar katanya.


"Boshannnn!" Seru Agatha.


"Cepat sekali anda bosannya, padahal baru dua hari berada di rumah sakit, setelah sadar,"


"Dua hari serasa dua tahun," ucap Agatha dramatis.


"Sangat lebay,"


"Bacot~ anjing~" balas Agatha bernada seraya membaringkan tubuhnya. Sedangkan sistem hanya bisa bersabar karena sudah biasa.


Lama berdiam diri sembari memandangi langit-langit kamar inapnya dan jendela yang menampilkan sebuah awan biru yang indah.


Saat sedang asik memandangi awan biru, pintu kamar inapnya terbuka menampilkan seorang pria dengan pakaian kantor khasnya.


"Sepertinya kamu bosan, padahal baru dua hari berada disini," ucapnya seraya mendudukkan dirinya.


"Bacot, Lo Xavier." Pria itu adalah Xavier, tentu nya Xavier tak ambil pusing akan balasan Agatha, karena Agatha kerap sekali berkata seperti itu.


"Ngapain Lo kesini?" tanya Agatha memandang Xavier sekilas lalu memandangi langit kembali.


"Apakah kamu lupa, bila aku sering kemari sebelum makan siang," jawabnya, ah benar juga ya.


Tidak lama lagi waktu makan siang. Dan benar tidak berapa lama kemudian datanglah seorang suster dengan membawa sebuah nampan berisi makan siang Agatha.


"Gamau makan," tolak Agatha saat Xavier akan menyuapkan makanan tersebut pada Agatha.


"Harus makan agar kamu cepat keluar dari ruang sakit," bujuk Xavier.


"Nggak mau, makanannya hambar," balas Agatha.


"Makan Agatha," bujuk Xavier berusaha sabar.


"Gue bilang nggak mau, ya nggak mau," balas Agatha melayangkan tatapan sinis pada Xavier.


"Baiklah, kau ingin apa?" tanya Xavier pasrah. Bukannya menjawab Agatha malah diam dan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu, seperti nya sedang berpikir untuk makan apa, pikir Xavier.


"Gue mau nasi Padang, seblak level empat, bakso, bakso bakar, cilor, cimol, basreng, sama martrabrak keju,  minumnya Boba rasa Gren tea dua," jawab Agatha yang membuat Xavier memelototkan matanya sebentar. Xavier tidak akan mengoreksi akan ketypoan Agatha, karena itu sudah sering terjadi.


"Blacklist seblak level empat, bakso bakar, bakso, cilor, cimol, basreng dan martabak," balas Xavier yang membuat Agatha mengerucut kan bibirnya.


"Nggak mau," ucap Agatha menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Harus mau," balas Xavier mendekatkan wajahnya pada wajah Agatha.


"Harus mau atau ku cium," ancam Xavier yang membuat Agatha berpikir sejenak.


"Yaudah deh, dari pada dicium yakan, mending nasi Padang sama Boba aja ya. Eh tapi tambah martrabrak keju lah," ucap Agatha.


"Tidak," balas Xavier.


"Tau ahk, ngambek gue sama Lo," setelah mengucapkan itu Agatha membaringkan dirinya lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


"Agatha, jangan seperti itu," ucap Xavier seraya membuka selimut Agatha, namun percuma.


"Nggak mau, sebelum dibolehin tambahin martrabrak keju," balas Agatha.


Xavier menghela napasnya sejenak, lalu mengangguk.


"Baiklah, boleh, tetapi hanya itu saja ya," putus Xavier. Agatha yang mendengar itupun membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya tadi.


"Beneran?" tanya Agatha dengan mata berbinar.


"Benar," jawab Xavier sembari mengeluarkan handphone dari sakunya.


"Andri, belikan diriku nasi Padang dua, martabak keju satu dan Boba green tea tiga,"  titah Xavier pada asisten pribadinya.


"Baiklah Tuan," balas Andri dari sebrang sana.


Tut


Panggilan singkat tersebut terputus dengan sepihak, tentunya yang memutuskan panggilan secara sepihak tersebut adalah Xavier. Andri mana berani, bisa bisa dipotong gaji nya.


"Sudah, sekarang kamu ingin apa, hm?" tanya Xavier pada Agatha yang diam.


"Ponsel gue mana?" tanya Agatha balik, jujur saja Agatha ingin guling-guling, karena ada kata 'hm'.


"Aku tidak tau, sepertinya dibawa oleh Bunda," jawab Xavier.


"Yahh, padahal pengen main ponsel," ucap Agatha menghela napasnya berat.


"Kamu bisa memainkan ponsel ku," ucap Xavier mengerjakan ponselnya pada Agatha.


"Beneran?" tanya Agatha.


"Iya, mainkanlah sesuka hatimu," jawab Xavier dengan mengusap lembut pucuk kepala Agatha.


Ya Agatha yang tidak pernah diperlakukan seperti ini sama cowok selain papahnya pun salting. Xavier menaikkan alisnya sebelah tanda bertanya 'kenapa?'


"Nggak papa," jawab Agatha yang mengerti.


"Tetapi pipi mu merah," balas Xavier mengusap pelan pipi Agatha yang memerah.


Ingin rasanya Agatha berteriak, mungkin ini sangat lebay tetapi mau bagaimana lagi.


"Pipi mu tambah memerah, aku panggilkan David ya," ucap Xavier menatap Agatha khawatir.


"Nggak papa, gue nggak papa," balas Agatha sedikit tergagap.


"Benar, kau tidak berbohong kan?" tanya Xavier pada Agatha.


"Enggak, Xavier," jawab Agatha.


"Baiklah bila begitu."


Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka, hanya ada suara ponsel yang Agatha mainkan. Hingga tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki dengan perawakan tinggi, tetapi masih tinggian Xavier, membawa dua paper bag dan satu kantung plastik.


"Ini makanan yang anda minta, Tuan Xavier," ucap nya dengan meletakkan dua paper bag dan satu kantung plastik di meja.


"Baiklah, kau boleh pergi," balas Xavier tanpa menatap Andri.


Setelah kepergian Andri, Xavier segera mengambil dua paper bag dan satu plastik itu dan memberikannya pada Agatha.


"Makasihhh," ucap Agatha ruang hingga tanpa sadar Agatha memeluk Xavier, yang membuat Xavier membeku.


"Eh, sorry, reflek," kata Agatha setelah itu dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa," balas Xavier dengan tersenyum kecil.


"Loh kok nasi padangnya dua? Terus Boba nya tiga," ucap Agatha bingung.


"Untuk saya satu," sahut Xavier.


"Terus boba nya kan tiga. Satunya buat siapa?" tanya Agatha.


"Bukannya tadi kamu mau Boba dua," jawab Xavier yang membuat Agatha menganggukkan kepala pelan.


Siang itu mereka habiskan berdua, hingga saat pukul dua Xavier berpamitan untuk menemui clien nya. Jadilah Agatha sendiri, namun, tidak lama dari itu Arshaka dan Zaqiel datang.


"Mommy," panggil Zaqiel.


"Duduklah," suruh Agatha.


"Bagaimana keadaan Mommy?" tanya Zaqiel, jujur saja setiap Zaqiel kemari pasti selalu menanyakan hal seperti ini.


"Keadaan Mommy baik, besok mungkin sudah boleh pulang," jawab Agatha.


"Baguslah, jadi kalau di mansion Zaqiel tidak sendiri lagi," balas Zaqiel.


"Bukankah ada Bang Xalzero dan Arshaka?" tanya Agatha.


"Mereka kalau siang selalu pergi terus malemnya di kamar aja," jawab Zaqiel dengan wajah masamnya.


"Mungkin mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka," balas Agatha.


"Tidak mungkin Mommy, masa selama seminggu, guru mereka selalu memberikan tugas, oh tentu saja tidak mungkin, apalagi hari Minggu," jelas Zaqiel dengan mimik wajah yang lucu.


Agatha tertawa pelan mendengarkan penjelasan dari Zaqiel.


"Benarkah, mungkin mereka sedang belajar," balas Agatha.


"Mungkin lah, mereka itu sangat obsesi dengan nilai soalnya," gumam Zaqiel yang menurut nya hanya bisa didengar oleh dirinya dan Mommy saja, namun tidak gumaman itu bisa didengar oleh Arshaka juga.


"Dasar adik durhaka," cetus Arshaka.


"Bila bukan aku yang menemani mu, sudah pasti kau tidak akan disini," ucap Arshaka dengan ketus.


Sedangkan Zaqiel hanya menyengir kuda, dan Agatha yang geleng-geleng melihat tingkah kedua anak sambungnya. Sore itu mereka habiskan bersama hingga kedatangan Xavier, sebelum Xavier Mama dan Bunda nya, sudah datang.


*


*


*


*


*


*


***


1069


***


Haii, semoga suka dan nggak bisa bosen sama alurnya. makasih buat yang udah baca ceritanya.


bila ada kesalahan dalam perkataan dan kepenulisan tolong dikomen.


bantu ramein kak, bang.


See you next part