
Disebuah perusahaan besar yang berada di negeri Paman Sam. Terlihat seorang lelaki yang tengah mengetuk-ngetuk sebelah jari telunjuknya di meja, lelaki itu sedang berpikir.
"Masuk!" ucapnya keras saat mendengar ketukan pintu. Pintu itu terbuka menampilkan lelaki tampan namun lebih tampan lelaki yang sedang duduk pada kursi kebesarannya.
Lelaki itu membungkuk singkat lalu kembali berdiri tegak. "Katakan," titah lelaki yang sedang duduk pada meja kebesarannya.
"Selamat siang, Tuan Muda Zelagro. Jadwal anda hari ini hanya akan bertemu dengan pemilik perusahaan Gurdawa Group pada pukul 09.30 pagi, lalu pukul 13.00 siang nanti anda akan bertemu dengan pemilik perusahaan Vasilius Corp. Terakhir, pukul 16.30 sore nanti meeting bersama divisi perusahaan," jelasnya.
Zelgaro memijat dahinya. Walaupun tidak terlalu padat, namun bertemu dengan pemilik perusahaan Gurdawa Company itu sangat memuakkan. Pemilik perusahaan itu sangat cerewet, bahkan sering menahannya agar duduk lebih lama lagi.
"Baiklah. Tolong bilang pada Zalex untuk mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawa untuk pertemuan nanti," ucap Zelgaro.
"Baik, Tuan Muda. Bila begitu saya permisi," pamit Alex yang diangguki oleh Zelgaro.
Zelgaro segera berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu bercat putih yang ada di ruangannya. Zelgaro menuju tempat penyimpanan makanan yang memang ia sediakan sewaktu-waktu untuk ia makan sengaja ganjal perutnya bila tidak sempat untuk makan di luar tepat waktu. Ia mengambil dua roti tawar lalu mengolesnya dengan selai blueberry.
"Pukul 08.45," gumam Zelgaro. Tidak lama lagi ia akan berangkat.
"Rasaku, akhir-akhir ini banyak sekali jadwal. Sungguh melelahkan," ucapnya sebelum keluar dari ruangan itu. Ia mengambil jas hitam yang tadi sempat ia lepas dan memakainya. Sembari berjalan CEO muda itu memperbaiki letak jam tangannya dan juga merapikan jas serta dasinya.
"Dimana Zalex?" tanya Zelgaro saat hanya melihat Alex saja yang berada di loby perusahaan.
"Dia sedang mengambil ponselnya yang tertinggal," jawab Alex seadanya. Tidak lama dari itu muncullah lelaki dengan balutan kemeja dan celana kain yang sedang berlari pelan kearah keduanya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Tadi ponsel saya tertinggi," ucap Zalex.
"Tidak apa. Ayo kita pergi sekarang, lokasinya berada di restoran yang cukup jauh dari perusahaan," ajak Zelgaro.
25 menit kemudian ketiganya telah sampai di sebuah restoran yang telah ditentukan untuk tempat pertemuannya. Beberapa menit berjalan dengan panduan pegawai yang akhirnya mereka sampai pada lantai dua restoran. Tentunya room private.
"Selamat pagi, maafkan kami yang terlambat," ucap Alex dengan senyum tipis yang terlukis pada bibir tebalnya.
"Tidak apa. Kami juga baru sampai. Silahkan duduk," balasnya mempersilahkan ketiganya duduk.
Mereka memulai membahas tentang kerjasama yang sudah lama terjalin. Pertemuan kali ini tentang perkembangan salah satu gedung apartemen yang dikelola oleh Gurdawa Group. Perlu diketahui bahwa Ellard Company adalah perusahaan yang mengelola sebuah apartemen, hotel dan perumahan.
"Baiklah. Hanya itu yang dibahas bukan, saya akhiri pertemuan siang ini, Tuan Alton Gurdawa," ucap Zelgaro tanpa ekspresi. Tuan Alton hanya tersenyum tipis, ia sudah biasa dengan hal ini.
"Apakah Tuan Muda tidak ingin tinggal sedikit lama lagi? Sebentar lagi akan siang tiba," tanya Tuan Alton. Benar bukan? Pria ini mencoba menahannya.
"Terimakasih atas tawarannya Tuan. Tetapi saya masih memiliki jadwal pertemuan dengan clien lain," jawab Zelgaro. Hanya alasan karena setelah ini ia tidak menemui siapapun kecuali nanti. Jam tangannya juga masih menunjukkan pukul 11.45 yang berarti ia masih punya waktu untuk beristirahat sebelum pertemuannya dengan pemilik perusahaan Vasilius Corp.
"Ah, seperti itu. Baiklah saya tidak memaksa. Sampai berjumpa kembali di lain waktu," ucap nya.
Dilain negara terlihat seorang pria tampan yang tengah duduk terdiam di ruang kerjanya dengan selembar kertas yang ada di tangannya.
"Menyesal pun tiada gunanya, surat ini telah ku tanda tangani," gumam nya memandangi surat perceraian itu. Ia sungguh menyesal, menyesal sekali.
"Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan diri mu. Sungguh aku baru menyadari perasaan ini,"
"Aku ... Mencintai mu, meski aku menyadari setelah kau pergi jauh dariku,"
Tentu kalian tahu siapa pria itu? Xavier. Pria itu adalah Xavier. Tepat sebulan setelah ia menandatangani surat perceraian itu. Ia menyadari bahwa ia telah mencintai gadis yang telah ia sia-siakan. Menyesal pun tiada gunanya karena gadis tersebut sudah terlanjur sakit hati oleh perbuatannya.
"Sudahlah Kak, jangan terlalu di pikirkan, nanti Kakak bisa sakit," ucap Zeline. Sang kakak mengangguk.
"Ayo makanlah terlebih dahulu, lihatlah badan Kakak mulai mengurus," ucap Zeline lagi yang memang benar.
"Bagaimana kabar Xalzero, Arshaka dan Zaqiel?" tanya Xavier disela-sela makannya. "Mereka baik-baik saja, mereka juga tinggal di mansion Opa dan Oma," jawab Zeline.
"Baguslah," balas Xavier.
Rasanya sangat melelahkan bagi Zelgaro. Ia baru pulang ke mansion saat pukul sepuluh malam lewat empat puluh lima menit yang berarti hampir jam sebelas malam.
"Hari yang melelahkan," gumamnya. Pasalnya setelah meeting dengan para divisi perusahaan ia melanjutkan memeriksa dokumen-dokumen dan laporan para karyawan.
"Baru pulang?" tanya Celsia yang baru saja kembali dari dapur.
"Iya," jawab Zelgaro tanpa menatap kearah Celsia.
"Celsia!" seru seorang gadis dengan kaos putih oversize setengah paha dibelakang adik sepupunya. Zelgaro tentu sangat amat mengenali siapa gadis itu, karena gadis itu adalah pujaan hatinya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Mungkin sekitar dua minggu.
Zelgaro sontak mengalihkan perhatiannya kearah gadis itu. Gadis itu tidak menggunakan celana panjang ataupun pendek, seperti Celsia yang menggunakan celana pendek sepaha.
"Main tinggal aja Lo, takut tahu sendirian, apalagi mansion nya gede gini," ucap gadis itu dengan mengerucutkan bibirnya.
"Sorry, Ta," ucap Celsia.
Zelgaro diam ditempat memandangi wajah cantik gadis pujaan hatinya lalu tidak lama kemudian melangkahkan kakinya mendekati gadisnya. Zelgaro mengikat jasnya pada pinggang kecil gadis itu yang membuat setengah paha yang terekspos tadi tertutup tidak hanya itu lututnya pun tertutup.
"Lain kali pake celana pendek, Agatha," bisik Zelgaro. Sang empu yang dibisikkan pun hanya mampu menganggukkan kepalanya kaku karena wajah Zelgaro saat ini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Menoleh kesamping dikit langsung cup.
"Udah dulu mesra-mesraan nya," ucap Celsia.
"Siapa yang mesra-mesraan?" tanya Agatha.
"Lah tu tadi apaan?" tanya Celsia balik. Agatha meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.
"Enggak ada ya," jawabnya.
"Udah, sana naik. Udah malem gini belum tidur," suruh Zelgaro.
"Lo nggak liat Bang?" tanya Celsia. Dalam beberapa detik saja Zelgaro sudah memahami pertanyaan dari adik sepupunya itu. Cemilan yang ada ditangan Celsia dan empat botol minuman di tangan Agatha.
"Jangan begadang," ucap Zelgaro. "Kenapa kalian berdua susah banget dibilangin? Begadang juga ada resikonya," ucap Zelgaro. Ia hanya tidak ingin kedua gadis ini sakit nantinya.
"Sesekali Bang, masa nggak boleh sih," balas Celsia.
"Jam satu udah harus tidur, kalau nggak tidur Abang sita laptopnya," ucap Zelgaro yang diangguki oleh keduanya.