
Agatha merasa bosan, cookies dan cake yang ia ambil tadi pagi telah habis ia makan. Daripada kebosanan lebih baik ia turun dan mengambil beberapa bolu, brownies, cake dan cookies.
Agatha turun hanya dengan menggunakan kaos oversize setengah paha dan celana pendek diatas lutut dengan rambut yang di cepol sembarang.
"Bibi, bisa tolong untuk membantuku membawakan ini semua ke kamar ku?" tanya Agatha pada beberapa maid yang ada disana.
"Bisa Nona Muda," jawab salah satu dari mereka sengaja perwakilan.
"Baiklah, kalian bawalah terlebih dahulu. Aku ingin membuat minuman dingin," ucap Agatha.
Beberapa menit kemudian matcha dingin yang Agatha buat telah jadi, sebelum pergi ia juga mengambil satu botol air putih berukuran sedang. Saat Agatha membalikkan badannya berapa terkejutnya dia saat melihat seorang lelaki tampan yang tingginya diatas dirinya, bahkan tinggi Agatha hanya sebatas dada lelaki itu.
"Ngagetin aja," gerutu Agatha dengan wajah cemberutnya.
"Ah, jadi ini yang dibilang sama Tante Denia lagi merajuk, hm?" tanya lelaki itu dengan nada menyebalkan.
"Merajuk? Nggak ada tuh!" jawab Agatha ketus.
"Aku tidak percaya," balas lelaki itu.
"Yaudah terserah, mau percaya apa enggak. Itu bukan urusan gue," timpal Agatha menatap sinis lelaki itu. Lalu ia melangkahkan kakinya untuk Kemabli menuju kamarnya, tetapi lelaki menyebalkan itu malah menghalanginya.
"Minggir," suruh Agatha namun lelaki itu tidak juga minggir.
"Minggir nggak! gue mau ke kamar!" ketus Agatha. Lama-lama dirinya kesal juga dengan lelaki ini.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya lelaki itu dengan alis terangkat sebelah yang membuat nya bertambah tampan. Namun tidak menurut Agatha.
Agatha menghela nafasnya pelan lalu melangkahkan kakinya lagi untuk meninggalkan dapur tetapi lelaki itu tetep menghalangi dirinya yang membuat Agatha menginjak keras kaki lelaki itu. Dan berhasil Agatha bisa pergi meninggalkan dapur.
Agatha mengunci pintu kamarnya dan segera mendudukkan dirinya disofa yang ada di kamarnya itu. Ia mulai memakan cookies nya sembari menggulirkankan layar ponselnya. Karena disini tidak bisa membaca novel versi cetak jadinya Agatha membaca novel versi online saja.
Pintu kamar itu terbuka menampilkan seorang lelaki tampan. Lelaki itu mengedarkan pengelihatan ke penjuru kamar hingga ia melihat seorang gadis cantik yang tertidur dengan posisi duduk. Wajah itu begitu tenang saat tidur.
Lelaki itu mengangkat tubuh mungil itu dan dengan perlahan membaringkannya dikasur tidak lupa menyelimutinya.
Sebelum pergi meninggalkan kamar Agatha, lelaki itu berjalan menuju meja dekat sofa. Ia mengambil box-box kosong dan gelas kosong itu dan membuangnya ditempat sampah. Setelah itu barulah lelaki itu keluar.
Sore harinya, Agatha terbangun dari tidurnya, ia cukup terkejut saat sadar bahwa ia berada ditempat tidur, seingatnya ia berada disofa tadi sebelum ketiduran.
"Bomat lah. Mending gue mandi,"
Agatha melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, karena hari sudah sore. Lima belas menit kemudian Agatha telah keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Beberapa menit kemudian Agatha telah keluar menggunakan piyama bergambar beruang.
Saat sedang menyisir rambutnya tanpa ia sadari ada sesosok yang sedang berdiri didekat pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Agatha cuek.
"Manusia," jawab lelaki itu membuat Agatha sedikit kesal. Dirinya juga tahu bila lelaki itu adalah manusia.
"Gimana bisa masuk? Bukannya pintunya udah gue kunci ya?" gumam Agatha yang didengar oleh lelaki itu.
"Apa gunanya kunci cadangan?" celetuk lelaki itu.
"Terserah." Agatha mendudukkan dirinya disofa dan mulai membuka ponselnya.
"Sana pergi. Ngapain disini? Gue nggak kenal sama Lo," usir Agatha. Namun, bukannya pergi lelaki itu malah mendekat kearah Agatha dan ikut mendudukkan dirinya disofa yang sama.
"Gue disini, mau ketemu sama sepupu gue yang lagi ngambek," ucap lelaki itu.
"Nggak ada yang ngambek disini. Udah sana pergi," balas Agatha dengan wajah kesalnya.
"Kalau gue nggak mau? Gimana?" Lelaki itu bertnaya dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Terserah." Setelah mengucapkan kata itu Agatha pergi meninggalkan lelaki itu. Agatha saat ini pindah duduk dibalkon kamarnya. Lelaki itu juga mengikuti Agatha.
"Ngapain sih Lo ngikutin gue?" tanya Agatha.
"Pengen aja," jawab lelaki itu enteng.
Agatha diam tanpa menanggapi jawaban dari lelaki itu. Hingga suara lelaki lainnya datang memasuki indra pendengarannya, ia mengetahui suara siapa, ini adalah suara lelaki menyebalkan yang ia temui didapur siang tadi. Sialan sekali.
"Wah, belum selesai nih merajuknya?" tanya lelaki itu.
"Siapa yang merajuk? Lo kali!" balas Agatha ketus jangan lupakan matanya yang menatap sinis lelaki itu.
"Gue nggak pernah merajuk. Apalagi cuman gara-gara makanannya diambil," timpal lelaki itu.
"Kita nggak saling kenal. Jadi diem karena Lo nggak tahu apapun tentang hidup gue!" tekan Agatha kepada lelaki itu. Setelah nya gadis cantik dengan piyama bergambar berubah itu pergi meninggalkan kamarnya dengan sejuta kedongkolan dihatinya.
"Abang bego," sungut lelaki yang duduk itu.
"Darimana nya? Gue pinter ya, faktanya gue jadi CEO," balas lelaki itu.
"Seharusnya Lo nggak perlu bawa-bawa tentang itu Bang Zero! Harusnya enggak perlu! Jadi runyam kan!" Tentu kalian tidak asing dengan nama Zero. Dan sudah pasti yang emanggil Abang itu adalah sang adik, Elvis.
Zero menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Adiknya ini kalau soal mengomeli adalah orang paling terdepan setelah Mami, Tante serta Oma nya.