Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
52. Calvin dan Zero



Setelah kepergian Alaxia ruan keluarga itu terjadi keheningan yang lama. Hingga Opa Nagara mengangkat bicara.


"Kalian kembalilah ke kamar masing-masing, untuk ini biar Opa yang akan mengerjakan para bodyguard untuk mencari Agatha," ucap Opa Nagara. Sepertinya tidak perlu menunggu selepas makan malam untuk mencari cucu nya setelah mendengar ucapan cucu nya beberapa saat yang lalu.


"Baiklah, Opa. Sampai jumpa saat makan malam nanti," ucap Tante Fara mewakili yang lain. Disaat semua orang kembali pada kamarnya masing-masing, disana tinggal lah Zero seorang diri.


"Mengapa kau tidak kembali, Zero?" tanya Opa Nagara kepada cucu sulungnya.


"Ada yang ingin aku tanyakan," jawab Zero.


"Tanyakan saja,"


"Apakah jiwa sebenarnya telah kembali?" tanya Zero yang membuat Opa Nagara tersenyum tipis. Ah, sepertinya cucu nya ini sedikit menyadari perubahan dari cucu bungsunya.


"Jiwa sebenarnya telah kembali dari beberapa bulan yang lalu. Tepatnya saat bangun dari koma akibat kecelakaan itu," jawab Opa Nagara. Hal ini telah terdengar hingga keluarga besar Vasilius. Tetapi sepertinya Zero, si lelaki dingin berhati beku yang gila kerja ini tidak mengetahuinya.


"Mengapa tidak ada yang mengatakannya padaku?" tanya Zero dengan meraup wajahnya kasar. Ini kesalahan besar.


"Bukan tidak ada yang mengatakannya, tetapi kau sendiri yang menarik dirimu." Benar, disaat ada pertemuan keluarga dua bulan lalu, ia tidak menghadiri nya dengan alasan memiliki jadwal yang padat.


"Aku akan pergi keluar mencarinya." Sebelum Opa Nagara mencegahnya, Zero sudah lebih dulu berlari.


"Kau tidak berubah, Zero. Hanya saja kau menyembunyikannya. Semoga dengan ini kau bisa kembali seperti dulu," gumam Opa Nagara.


Setelah itu Opa Nagara pergi meninggalkan ruang keluarga, ia akan pergi ke kamar nya sendiri. Satu jam lagi makan malam jadi ia harus membersihkan dirinya.


Dilain tempat terlihat Agatha yang tengah terbaring dengan ponsel yang diletakkan tepat pada bagian perutnya. "Bosen anjay." Itulah kata-kata yang sedari tadi selalu keluar dari bibir mungil itu. Bahkan Zelagro yang sedari tadi duduk disofa kamar sudah jengah mendengarnya.


"Ini adalah yang ke tiga puluh lima kalinya kamu mengucapkan dua kata itu, Agatha. Apakah kamu tidak bosan? Aku yang mendengarnya saja bosan," ucap Zelgaro pada akhirnya. Agatha menatap Zelagro tajam. "Yakan emang bosen," balas nya.


"Kamu bisa kedapur dan mengambil beberapa makanan serta camilan," timpalnya.


"Tidak mau,"


"Terserah mu saja, Agatha." Jalan satu-satu nya adalah pasrah. Ia sudah menyarankan hal ini sengaja tiga kali namun tetap tidak mau.


"Jadi? Kamu mau pulang?" tanya Zelagro seraya meletakkan tabletnya. Agatha menggelengkan kepalanya.


Zelgaro menghela nafasnya pelan sembari melihat kearah ponselnya. Disana tertera pesan bahwa Tuan Muda Zeroun Stewart mengirim pesan kepadanya.


"Tuan Muda Zelgaro, apakah anda sedang berada di New York sekarang? Bila iya, saya ingin meminta bantuan anda untuk mencari adik sepupu saya yang menghilang."  Sekiranya itulah pesan yang dikirim oleh Zero. Tanpa dipertanyakan pun Zelagro tahu bahwa Zero adalah saudara sepupu dari Agatha. Untuk pesan itu Zelagro akan membalasnya nanti saja.


"Setelah makan malam aku akan mengantarkan kamu pulang. Bagiamana?"


"Nggak mau!" Zelgaro menghela nafasnya pelan.


"Ayolah. Aku sudah diteror oleh Calvin dan sekarang oleh Zero, Abang sepupu kamu. Agatha," ucap Zelgaro. Tidak adakah orang lain selain dirinya yang dimintakan bantuan? Tidak masalah sebenarnya, tetapi ... Ah, sudahlah.


"Zero? Bukankah itu Abang sepupu ku yang akan datang Minggu depan?" tanya Agatha kepada Zelgaro.


"Dia datang tadi siang," jawab Zelgaro. Sepertinya efek merajuk tidak keluar kamar membuatnya tidak tahu bahwa ada saudara sepupunya yang datang.


"Jadi? Bagaimana?" Ia kembali bertanya.


"Bagaimana apa nya?" Bukannya menjawab Agatha malah bertanya kembali kepadanya.


"Apakah kamu mau setelah makan malam aku antarkan pulang ke mansion Calvin?"


"Atau jika mau pulang ke mansion ku saja, disana ada Celsia dan Mommy-ku," lanjut Zelgaro memberikan pilihan untuk Agatha.


"Eumm, ke mansion kamu aja," jawab Agatha. Lebih baik ia pulang ke mansion Zelgaro saja, ia tidak mau bertemu dengan lelaki menyebalkan itu.


"Baiklah. Setelah makan malam atau sekarang?"


"Sekarang saja."


Zelagro berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja dekat tempat tidur untuk mengambil kunci mobilnya.


"Ayo,"