
...•...
...•...
...•...
...🌹 Berbohong mungkin adalah jalan yang terbaik untuk sementara waktu, hingga sementara waktu itu telah habis dan kebohongan itu terbongkar dan berhasil membuat dirimu sangat amat menyesal karena telah berbohong🌹...
...~STEP MOTHER TRANSMIGRATION~...
...***...
Tiga Minggu kemudian kondisi jahitan pada luka tusuk Agatha sudah lumayan mengering. Dan hari ini Agatha telah diperbolehkan pulang, dengan pesan tidak boleh terlalu banyak beraktivitas yang mampu membuat jahitan pada luka terbuka, mau bagaimanapun luka jahitan itu masih hampir mengering bisa saja terbuka bila terlalu banyak beraktivitas.
"Seperti yang Abang bila, bahwa kamu akan tinggal di mansion Abang untuk beberapa waktu," ucap Calvin untuk yang kesekian kalinya, bahkan Agatha saja sudah bosan mendengarkannya.
"Iya Bang Kol, iya," balas Agatha jengah. Di Ruangan ini hanya ada dirinya, Abang nya dan kedua orang tua serta ibu mertuanya, ayah mertuanya sedang ada urusan dengan perusahaan makanya tidak ada. Dan Xavier tidak ada kabar sejak kemarin.
"Baiklah sudah siap, ayo pulang." Agatha menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan mengikuti kedua orang tua serta ibu mertuanya.
"Apakah Bunda dan Ayah akan tinggal di mansion Abang?" tanya Agatha saat dalam perjalanan menuju mansion Calvin.
"Tentu tidak, Bunda dan Ayah lebih nyaman tinggal di sebuah perumahan dari pada mansion," jawab Denia. Memang benar bahwa dia tidak terlalu nyaman bila tinggal di mansion, apalagi mansion itu besar. Karena menurut Denia kalo tinggal di mansion itu sangat menguras tenaga. Lihat saja ruang tamu dan ruang santai berbeda, ruang tamu di mansion putranya tidak hanya satu melainkan tiga dan lantai yang berbeda. Sangat menyusahkan ditambah lagi kamarnya yang berada dilantai dua, untuk lantai pertama sudah pasti hanya ruang tamu biasa dapur dan para kamar maid.
"Lalu? Hanya aku dan Abang saja?" tanya Agatha.
"Benar, tetapi Ayah dan Bunda akan mencoba untuk sering berkunjung," jawab Denia lagi.
"Benar kami akan sering berkunjung agar kamu tidak bosan," timpal Geisha.
"Ah iya, nanti akan ada kakak sepupu mu juga yang tinggal disana," ucap Denia yang mampu membuat fokus Calvin teralihkan.
"Jangan bilang gadis menyebalkan itu," gumam Calvin.
"Kakak sepupu? Siapa?"
"Tentu saja Alaxia." Kan apa Calvin bilang sudah pasti gadis menyebalkan itu, karena di keluarganya anak perempuan yang sudah beranjak dewasa hanyalah Alaxia selainnya masih berada dibawah umur. Terlebih lagi Nenek serta kakeknya hanya memiliki tiga orang anak, dua putra dan satu putri yaitu ibunya. Sedangkan ayahnya adalah seorang anak tunggal dan pewaris tunggal tentunya.
"Mengapa harus ada gadis menyebalkan itu?" tanya Calvin. Bisa Calvin bayangkan betapa buruknya hari-harinya bila ada gadis menyebalkan itu.
"Tentu saja untuk teman Agatha," jawab Denia.
Sudahlah, lebih baik dirinya diam.
Tidak terasa perjalanan dari rumah sakit hingga mansion Calvin terlah sampai. Kebetulan jalanan tidak terlalu macet jadi cepat.
Pintu utama terbuka menampilkan sebuah lorong panjang dengan interior putih tulang dipadukan dengan warna coklat pada beberapa sisi yang berbeda. Dinding lorong tidak terdapat banyak gambar. Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka telah sampai pada pintu kedua dimana pintu tersebut langsung menghubungkan menuju ruang tamu umum.
"Ayo Abang antar menuju kamar mu," ajak Calvin. Agatha menganggukkan kepalanya dan mengikuti Calvin menuju lift.
Sedangkan kedua orang tua serta mertua Agatha duduk disofa menunggu keduanya.
"Kemana Xavier? Dia tidak ada kabar sedari kemarin?" tanya Denia pada Geisha.
"Aku juga tidak tahu, sedari kemarin juga dia tidak memberikan ku kabar," jawab Geisha.
"Apakah dia sering seperti ini, Gei?" Arsen yang diam pun kini bertanya.
"Tidak Arsen, bila ia akan keluar kota maupun perjalanan bisnis pasti akan memberikan kabar," jawab Geisha.
"Berpikir positif saja mungkin dia sangat sibuk sehingga tidak sempat untuk mengabari mu." Kata-kata dari Denia membuat Geisha tersenyum sendu.
"Maafkan aku. Aku terpaksa berbohong, aku takut kamu kecewa, walau pada akhirnya akan kecewa." Batin salah satu dari mereka.
Terlihat dua orang maid yang membawakan nampan berisi minuman serta makanan ringan. Tidak lama dari itu terlihat dua bersaudara turun, dengan si gadis yang berwajah kesal.
"Bundaa~ lihatlah Abang, dia tidak mau mengembalikan jepit rambut ku," Adu Agatha pada Bundanya, Denia.
Denia yang melihat itu tersenyum, akhir-akhir ini hubungan dua bersaudara itu mulai membaik seiring berjalannya waktu.
"Hanya jepit seperti ini saja kau adukan pada Bunda, dasar pengaduan," ejek Calvin. Agatha maju dan mencoba mengambil jepit nya dari tangan Calvin.
"Huaa, Bunda jepit bulan sabit ku," rengek Agatha saat jepit bulan sabitnya tidak bisa ia ambil dari tangan Calvin.
"Calvin berikan jepit itu pada adik mu. Lihatlah matanya sudah mulai berkaca-kaca," ucap Arsen saat melihat mata Agatha yang mulai berkaca-kaca.
Calvin melihat kearah Agatha dan benar. Segera ia memberikan jepit itu pada adiknya sebelum menangis, akan susah bila adik nya itu sudah menangis dan berkahir merajuk. Sangat susah untuk membujuknya.
"Sangat menyukai bulan sabit hingga gelang, kalung, jepit serta kaos mu bertema bulan sabit," ucap Calvin saat menyadari bahwa adiknya saat ini memakai tema bulan sabit. Jepit rambut bulan sabit, kalung bulan sabit yang senantiasa berada dileher putih Agatha, lalu gelang bukan sabit yang juga senantiasa berada dipergelangan tangannya, dan kaos nya yang senantiasa berada di almarinya dan akan ia pakai sewaktu-waktu.
"Kak Alaxia kapan akan datang?" tanya Agatha pada Bundanya.
"Mungkin lusa Alaxia akan datang," jawab Denia.
"Ck, akan sangat ribut mansion ini bila ada gadis menyebalkan itu," gumam Calvin yang didengar oleh Arsen.
"Dia menyebalkan sama seperti mu. Bahkan kau lebih menyebalkan dari Alaxia," timpal Arsen yang diangguki oleh Agatha.
"Mengapa kau mengangguk?" tanya Calvin ketus.
"Karena memang benar, apa yang dikatakan oleh Ayah, kau lebih menyebalkan. Walaupun aku tidak tahu seberapa menyebalkan kak Alaxia." Agatha menjawab dengan menjulurkan lidahnya pada Xavier.
...***...